Skip to content


Berkumpul kembali bersama dalam keadaan sehat dan bahagia.

Bandung, 20 Juli 2010. Tak banyak yang aku kerjakan hari ini. Kuliah biologi pagi hari dan dilanjutkan ujian sidang sarjana anak bimbingan yang meneliti tentang pengaruh daun Bangun-bangun terhadap konsumsi dan pertambahan bobot badan pra sapih. Menjelang siang diskusi dengan Camat Tomo, Camat  Jatinangor dan staf.  Satu keranjang Mangga Gedong Gintju  dari pak camat Tomo menjadi penutup diskusi siang ini.

Pagi hari ini di dekat pintu gerbang Unpad jatinangor banyak umbul-umbul dan satpam. Sepertinya akan ada  acara penting tapi ngga’ tahu tepatnya acara apa. Mungkin ada pejabat yang akan  berkunjung ke Unpad.

Besok ada  acara yang cukup penting disamping perkuliahan yaitu pertemuan dengan Tim PHKI untuk membahas percepatan implementasi program dan siangnya ada pertemuan dengan Tim LIPI Bogor,  diskusi dengan tema  “Menuju Domestikasi Hidupan Liar:  Penyatuan Sudut Pandang Aspek Legal”.

Tujuan diskusi adalah: (a) Diperolehnya pemahaman dari masing masing pemangku kepentingan (ilmu peternakan vs. Ilmu konservasi hidupan liar) atas pengertian ”stabil secara genetik” dan budidaya/domestikasi dan (b) Adanya masukan bagi pemangku kepentingan dalam penerbitan produk hukum yang bertalian dengan pemanfaatan hidupan liar untuk tujuan domestikasi melalui suatu ”batasan pengertian” mengenai stabil secara genetik atau pengertian budidaya/domestikasi.

Jadi ada baiknya hari ini santai sejenak, refreshing dulu supaya acara besok bisa lancar. Pilihan pertama tentu nonton film bergenre drama yang semalam belum tamat (keburu ngantuk, red): Everybody’s Fine.  Film ini dibintangi pekerja film yang cukup bagus Robert De Niro, Drew Barrymore, Kate Beckinsale, Samn Rockwell dan lain.

Pesan film ini adalah: Mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ayah selain melihat seluruh anak-anaknya berkumpul kembali bersamanya dalam keadaan sehat dan bahagia.

Hari itu Frank Goode nampak sibuk mempersiapkan diri kedatangan anak-anaknya yang lumayan cukup banyak untuk ukuran keluarga sekarang yaitu 4 orang.  Pria paruh baya itu mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan ke empat anaknya yang semenjak 8 bulan setelah kematian istrinya tidak pernah ia temui lagi. Mulai dari membersihkan rumah, memotong rumput perkarangan, sampai membeli daging, anggur mahal dan alat panggang baru. Semua tampaknya dipersiapkan dengan baik hanya tinggal menunggu kedatangan anak-anaknya yang ternyata pada menit-menit terakhir batal terjadi.

Satu demi satu anak-anaknya meneleponnya untuk membatalkan kunjungan mereka dengan berbagai alasan. Sudah barang tentu Frank yang sudah mengharapkan kedatangan mereka sangat kecewa dengan pembatalan tersebut. Tidak ingin dilanda oleh kesedihan dan kekecewaan lebih dalam, Frank memutuskan untuk memberi kejutan kepadan anak-anaknya dengan mengunjungi mereka di kota tempat tinggal mereka masing-masing.

Kondisi kesehatan Frank sebenarnya sedang kurang baik. Namun walupun sudah dilarang oleh dokternya karena kawatir dan  tidak memungkinkan untuk melalukan perjalanan jauh, Frank tetap saja ngotot untuk melakukannya. Perjalanan Frank ke rumah anak-anaknyapun dimulai.

Selama ini Frank tidak pernah mengetahui persis apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan anak-anaknya. Frank selalu mengira bahwa anak-anaknya itu berhasil mencapai cita-cita mereka dan hidup bahagia. Namun sebuah kenyataan berbeda harus ia dapati.  Kehidupan anak-anaknya tidaklah seperti yang ia bayangkan selama ini.

Dan, seperti orang tua pada umumnya. Frank adalah tipikal orangtua yang sangat berbesar hati. Sebuah cerita yang sebenarnya sangat jamak terjadi di lingkungan kita bahkan mungkin terjadi pada lingkungan terdekat kita.  Namun juga sebuah pesan moral bagi orangtua atau para calon orang tua, akan pentingnya komunikasi.

Usai nonton film, aku merenungi makna dan hakekat  kemanusiaan.  Banyak  orang atau anak  yang menginginkan agar  kesusahan atau penderitaannya tak perlu diketahui oleh orangtua. Cukup diri mereka sendiri.  Saya tidak tahu harus bagaimana kalau menghadapi kasus seperti itu, mungkin tergantung bagaimana kita mempersepsikan hal seperti itu. Tapi sesungguhnya kita bisa belajar banyak hal dari cerita film ini.

Menjelang azhar sebuah pesan singkat dari teman mengingatkan aku tentang implementasi PHKI subprogram B12. Terkait dengan energi. Baru beberapa hari yang lalu di tiga kabupaten (Indramayu, Subang dan Cirebon) kami melakukan FGD untuk mencari masukan untuk penyusunan Roadmap Pemanfaatan Sumberdaya dan Kearifan Lokal Terintegrasi di Bidang Pangan,Energi dan Kesehatan.

Tentu yang kami lakukan adalah hal-hal yang sederhana, serealitis mungkin. Dalam kontek energi tentunya energi yang dimaksud adalah energi baru dan terbarukan. Sebagai contoh waktu diskusi dengan teman-teman dari Dinas/OPD/SKPD Indramayu kami mendapat masukan tentang pemanfaatan gas biomassa.

Pemanfaatan gas biomassa skala kecil yang banyak diaplikasikan oleh masyarakat adalah pemanfaatan gas metana hasil fermentasil yang langsung dibakar untuk dimanfaatkan panasnya. Pada skala yang lebih maju pemanfaatan gas biomassa dilakukan melalui sistem gasifikasi menggunakan temperatur tinggi untuk mengubah biomassa menjadi gas (campuran dari hidrogen, CO dan metana).

Salah satu contoh pemanfaatan tersebut adalah penggunaan sekam padi pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) komersial pertama yang menggunakan. bahan bakar sekam padi berada di penggilingan padi milik PT (Persero) Pertani di Desa Haurgeulis, Keeamatan Haurgaulis, Kabupaten Indramayu. PLTD berkekuatan 1 x 100 kilowatt (kw) tersebut dibangun dan dikembangkan oleh PT Indonesia Power dan PT Pertani.

Prinsipnya PLTD berbahan bakar sekam padi itu adalah mencampurkan gas hasil gasifikasi sekam padi pada temperatur tinggi dengan bahan bakar minyak (BBM) di dalam ruang bakar motor diesel yang menggerakkan turbin untuk menghasii’kan tenaga listrik.  Pencampuran BBM dengan gas sekam padi dapat menghemat pemakaian BBIVi hingga 80 persen dari jumlah pemakaian semula, sehingga biaya operasional untuk membangkitkan listrik dengan daya yang sama dapat berkurang jauh. Sebagai gambaran, jika PLTD berkapasitas 100 kW dioperasikan penuh dengan menggunakan BBM, dibutuhkan 0,3 liter BBM per kWh (kilowatt hour). Sementara jika ditambahkan gas sekam padi, hanya dibutuhkan 0,06 liter per kWh ditambah sekam padi sebanyak 1,5 kg per kWh.

Melalui PHK Institusi Unpad, kami ingin merintis sisi lain energi baru dan terbarukan dalam konteks integrasi Pangan, Energi dan Kesehatan. Diantaranya biogas, teknologi energi surya seperti ( Teknologi energi surya fotovoltaik dan Teknologi energi surya termal) dan lain-lain. Tentu banyak pilihan teknologi madya yang bisa diterapkan  namun sasaran ke depan adalah pemanfaatan energi surya di daerah perdesaan dalam konsep integrasi. Tentunya untuk tahun-tahun pertama masih dalam pengembangan model.

Dengan penyusunan Roadmap terintegrasi diharapkan 3  kabupaten yang terkait dengan PHKI Unpad memiliki grand design dalam pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Keinginan Tim PHKI, tidak terlalu banyak rapat2 atau seminar2.  Program PHKI harus   berorientasi produk, apakah itu dalam bentuk roadmap ataupun model2 yang dapat dilihat untuk dijadikan contoh.

Harapan kami dengan PHK Institusi diharapkan akan meningkatkan akses masyarakat terhadap energi melalui (a) peningkatan keamanan pasokan energi, (b) mendapatkan  harga energi yang relatif murah sesuai dengan potensi sumberdaya lokal, (c) tersedianya infrastruktur energi yang memadai dan (d) peningkatan  efisiensi penggunaan energi.

Kami sangat beruntung, Tim PHKI Unpad didukung oleh teman-teman yang dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana saling bahu membahu menyukseskan program. Bukan untuk pencitraan Unpad namun lebih dari itu untuk membantu masyarakat pedesaan.  Thx.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.