Skip to content


Itulah gunanya pembelajaran bersama. Agar kita tetap optimis menatap masa depan.

Cirebon, 15 Juli 2010. Lewat ba’da Isya kami bersembilan dari fakultas yang berbeda-beda sudah memasuki kawasan Patra Cirebon. Rencananya kami akan mempersiapkan dan mensetting ruang untuk kegiatan besok pagi yaitu FGD dengan teman-teman Bappeda dan OPD lain yang terkait dengan bidang pangan, energi dan kesehatan. Topik kali ini adalah Pengkajian dan Pengembangan Model Pemanfaatan Sumberdaya dan Kearifan Lokal Terintegrasi di Bidang Pangan, Energi dan Kesehatan.

Tapi ke empat ruang kedawung ternyata padat penuh orang. Ada banyak orang berseragam tentara, ormas maupun sekedar pakai batik. Ternyata malam ini ada acara serah terima jabatan Dandim Cirebon. Pantesan rame, seperti acara hajatan. Kami tanyakan sampai jam berapa acaranya?. Jam 23 malam pak selesainya, kata manajemen hotel.

Sambil menunggu, kami diskusi yang ringan-ringan saja di kamar. Pukul 21.30 kami keluar, mencari udara segar Cirebon di waktu malam, sampai akhirnya kami terdampar di RM Ampera. Lumayan juga untuk ganjal perut. Pukul 23 an kami masuk kembali ke Hotel. Tapi, acara seserahan jabatan ternyata belum juga selesai juga. Hmmm, yaa sudah istirahat saja di kamar. Chatting sama teman2 lama dan temen2 mahasiswa yang status dan commentnya kadang lebih lucu dari lawakan Srimulat atau acara Empat Matanya Tukul.

Hari ini, alhamdulillah acara FGD akhirnya bisa berlangsung baik walaupun ngaret. Cukup seru dibanding dengan acara-acara yang sejenis minggu lalu di Subang maupun Indramayu. Karakter orang Cirebon yang terbuka dan bicara apa adanya walaupun kadang membuat kening berdiri tapi sejatinya membuat kita mengelus dada dan mengisap nafas dalam-dalam. Setidaknya bagus untuk pembelajaran rohani dan ketahanan mental. Dan yang lebih penting solusinya. Mungkin harus dipikirkan jalan keluar dan kelanjutannya. so what gitu lho.

Banyak catatan dan oret-oretan yang kuperoleh. Yang aku bayangkan adalah saat-saat seperti beberapa tahun lalu waktu belajar osteologi. Struktur pemerintahan yang kuat mestinya bukan hanya sekedar memiliki visi, misi, proker. Diukur output dan outcomesnya. Apparat yang mengisi dan menyusun struktur mungkin bisa kita asosiasikan seperti skeleton makhluk hidup. Ada axial skeleton, appendicular skeleton, dan splanchnic atau visceral skeleton. Bisa saja tulang-tulangnya berbentuk ossa longa, ossa plana, ossa brevia dan ossa irregularia tapi pastinya ke empat jenis tulang tersebut saling topang menopang dan bersinergi. Tentunya dibantu dengan otot, syarat, pembuluh2 darah dan lainnya.

Hasil diskusi dengan teman-teman Bappeda, dinas/OPD-OPD yang terkait dengan bidang pangan, energi dan kesehatan semakin memperkuat teori arsitektur tulang yang berupa substantia compacta dan substantia spongiosa.

Banyak angan-angan yang kadang melayang terlalu cepat dan menguap sejalan berlalunya waktu. Kelihatannya masih banyak yang memandang dunia kampus seperti menara gading, hidup dalam bayang-bayang, penuh dan kaya akan teori namun miskin dengan pengetahuan empiris. Deduksi teoritis dan deduksi empiris sepertinya dua hal yang agak terpisah jauh dan sangat sulit untuk disinergikan.

FGD semacam ini, sebenarnya penting untuk menjembatani prasangka demikian karena justifikasi yang tidak tepat bila dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi “kebenaran”. Kesatuan obyektif, itulah barangkali salah satu kata kunci dalam sinergisme. Berbagai program pengembangan pada akhirnya harus menjadi tujuan bersama.

Di bidang energi, hari ini kami banyak diskusi tentang program-program pengembangan yang sudah dan akan dikembangkan, tentang energi baru dan terbarukan. Tentang biomassa yang berasal dari tanaman perkebunan atau pertanian, hutan, peternakan atau sampah. Biomassa (bahan organik) untuk menyediakan panas, membuat bahan bakar, dan membangkitkan listrik, atau yang sering disebut dengan bioenergi. Tentang tenaga air dalam produksi energi primer terbarukan. Tentang energi surya termal, fotovoltaik atau SHS (solar home system), bioethanol dan biodiesel dan lain-lain.

Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan, serta merupakan pendukung bagi kegiatan ekonomi regional. Penggunaan energi semakin meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Sedangkan, akses ke energi yang andal dan terjangkau merupakan pra-syarat utama untuk meningkatkan standar hidup masyarakat.

Dalam bidang pangan, Kabupaten Cirebon memiliki potensi sumberdaya yang bagus untuk akselerasi pembangunan. Hanya bagaimana memanfaatkan dan menggerakkannya agar lebih cepat dan dinamis. Seperti kata pimpinan Bappedanya, IPM hanyalah angka-angka yang bisa jadi pencapaiannya tidaklah seriil dengan kondisi sesungguhnya. Outcomes jauh lebih penting. Artinya biarlah masyarakat yang menilai keberhasilan birokrasi. Pembangunan berkelanjutan harus ditopang oleh partisipasi masyarakat. Lupakan para birokrat opportunis maupun LSM plat merah yang ngejar-ngejar proyek tanpa meninggalkan jejak yang berarti.

Tujuh jam diskusi jelas terlalu pendek untuk membicarakan dan memecahkan banyak hal. Cirebon hanyalah sebuah titik noktah dalam sebuah peta dunia. Namun persoalan didalamnya sesungguhnya sangat rumit. Dan 22 kali orang hadir yang mungkin memiliki setidaknya 10 milyar neuron dalam setiap kepala pasti tak berarti apa-apa untuk memecahkan segala keruwetan.

Bisa jadi ruang Kedawung tempat kami ber 22 orang berdiskusi hari ini hanya akan sedikit mengingatkan tentang biji kedawung yang hitam, lonjong dan bentuknya manis. Sekedar mengingatkan kedawung dulu adalah tumbuhan obat khas kabupaten Cirebon.

Kedawung (Parkia timoriana) termasuk satu diantara 30 spesies tumbuhan obat langka Indonesia dengan status kelangkaan dan ancaman “jarang”. Pohon kedawung merupakan pohon raksasa hutan, batangnya besar, lurus dan tinggi di hutan, pohon ini merupakan salah satu jenis pohon yang tertinggi dibanding dengan jenis-jenis pohon-pohon yang lain di hutan.

Dulu pohon ini umumnya pohon kedawung hidup di hutan pada lereng-lereng yang terjal, dan pohon kedawung raksasa ini memberi sinyal kepada kita bahwa dia diciptakan Tuhan tumbuh di lereng-lereng bukit yang terjal untuk melaksanakan tugas mulia melindungi tanah dari erosi dan longsor. Pohon kedawung mempunyai akar papan yang tingginya bisa mencapai 5 m, sehingga kalau ada erosi tanah dan longsor pohon kedawung langsung menangkap tanah, menahan dan menghentikan erosi dan longsor.

Pohon kedawung adalah tumbuhan polong-polongan yang akar dan guguran daunnya menyuburkan tanah di sekitar tempat tumbuhnya. Beranekaragam jenis-jenis tumbuhan obat lainnya bisa hidup dan tumbuh di sekitar pohon kedawung di hutan. Jadi pohon kedawung menunjukkan sikapnya yang sangat bersahabat dengan pohon dan tumbuhan lainnya, menjadi pohon pengayom dan pelindung terhadap beranekaragam jenis pohon dan tumbuhan lainnya.

Bagi teman-teman yang kebetulan “alergi” dengan obat-obatan modern. Konon daun kedawung berkhasiat sebagai obat sakit perut nyeri dan mulas; bijinya dapat digunakan sebagai obat untuk nyeri haid, kejang-kejang pada waktu haid, atau akan bersalin, demam nifas, kholera, mulas, masuk angin, antidiare, mencret, sakit perut, karminatif, borok, kudis, luka, sakit pinggang, sakit jantung, cacingan, radang usus, penguat lambung dan cacar air; dan kulitnya dapat digunakan sebagai obat kudis.

Jadi sungguh tepat, manajemen lama yang memberi nama ruang kedawung di hotel itu karena maknanya sangat mendalam dan bertujuan mulia. Produk diskusi di ruang itu harus beorientasi pada produk dan dampaknya harus bisa bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak. Mengayomi dan melindungi.

Well., walaupun diskusi FGD resminya sudah usai, pukul 14 lebih kami masih diskusi tentang mangga gedong gincu, mangga gedong apel sampai masalah rotan. Menjelang pukul 17.00 kami cabut dari Hotel Patra, thx ibu Anne (manajemen hotal) yang memberi kami oleh kaus dan Mug yang bagus gambarnya.

Pukul 17. 20 an kami sempatkan mampir ke BPPTU Jatiwangi, berkunjung ke anak-anak alumni Fapet yang bekerja di situ. Ada Amirudin, Maya dan Rudi. Acara santai dan hahahehe saja. Tapi sangat senang bertemu dengan mantan-mantan mahasiswa yang kelihatannya cukup berkerja keras memajukan institusinya yang baru. Memang begitulah seharusnya. Generasi muda harus jauh lebih baik karena tantangannya lebih berat. Semoga sukses.

Setelah singgah sebentar di sebuah masjid di daerah Tomo untuk Maghrib dan mampir di sebuah Rumah makan Sumedang. Pukul 23 an, kami akhirnya sampai rumah. Harus ada jeda untuk istirahat sejenak. Jalan ke depan masih panjang dan kelihatannya akan semakin rumit dan sulit. Tugas kita adalah memudahkan dan melapangkannya, itulah gunanya pembelajaran hari ini, agar kita tetap optimis menatap masa depan.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.