Skip to content


Entomophagy dan minilivestock

Bandung, Juli 2010. Kami sedang berdiskusi tentang CDM (Clean Development Mechanism) ketika seorang teman wartawan kebetulan menanyakan topik apa atau isu penting apa di bidang peternakan pada minggu terakhir ini. Saya mungkin agak iseng ketika saya mengatakan: Serangga dan Entomophagy sebagai minilivestock.

Asia tenggara dan khususnya Indonesia adalah tempat yang paling banyak memiliki jenis serangga. Selain jenis, cara hidupnyapun memiliki kekhususan. Kenapa kawasan ini memiliki aneka macam serangga, banyak teori yang bisa menjelaskannya. Asia tenggara memiliki kedekatan dengan benua Afrika dan Australia yang faunanya sangat jauh berbeda. Evolusi telah berlangsung lama dan didukung hutan dengan ribuan jenis pohon serta curah hujan yang tinggi sehingga menjadikan aneka jenis serangga berkembang biak dengan sangat sempurna.

Jadi apa hubungannya antara CDM dengan serangga?. Bagi para biolog, serangga merupakan indikator penting terhadap kerusakan lingkungan. Penggunaan pestisida, pengembangan tanaman transgenik, GMO dan lain-lain dipercayai memberi sumbangan penting terhadap berkurangnya keragaman sumberdaya genetik hewan dan tumbuhan. Dalam mata pelajaran biologi, kurikulum di sekolah dan bahkan di perguruan tinggi memberi porsi lebih besar terhadap bagaimana eradikasi dan pemberantasan serangga dibandingkan pemanfaatannya. Dalam seminar-seminar tentang serangga, nampak bahwa peranan obat pestisida dan herbisida jauh lebih menonjol.

Dan mungkin untuk menghindari musuh alaminya. Berbagai jenis serangga selain berevolusi yang ujung-ujungnya diikuti dengan perubahan morfologi. Beberapa belalang seperti keluarga Orthoptera, bentuknya mirip ranting atau tumbuhan merambat. Beberapa belalang lainnya berwarna hijau, coklat atau abu-abu sehingga membantu dalam melakukan penyamaran. Sekedar diketahui bahwa serangga berperan sangat penting dalam ekologi lingkungan khususnya hutan.

Contohnya larva kumbang yang sering hidup pada batang pohon yang sudah mati, melubangi batang pohon, membuat air masuk ke batang sehingga memudahkan pelapukan atau kelembaban dan menyebabkan jamur berkembang. Rayap dan semut membuat batang makin rapuh dan pada akhirnya membuat bakalan humus di tanah, sebagai pupuk.

Budidaya Serangga

Budidaya secara sengaja pada keluarga arthropoda untuk makanan manusia, yang sering disebut dengan istilah minilivestock, sekarang muncul dalam bentuk peternakan sebagai suatu konsep yang ramah lingkungan. Minilivestocking menunjukkan bahwa berbagai jenis binatang kecil, termasuk arthropoda, dapat dipelihara sebagai sumber makanan bergizi. Keuntungan utama adalah bahwa hewan tersebut tidak perlu diberi makan dalam bentuk butiran atau konsentrat sehingga menghemat banyak spesies tanaman untuk konsumsi manusia.

Di kalangan awam, entomologi barangkali adalah istilah yang sudah jamak dan banyak dikenal namun jarang orang yang paham dan mengerti tentang makna entomophagy. Entomophagy (dari [éntomos ἔντομος Yunani, yang artinya “serangga”, dan φᾰγεῖν phăgein, “makan”, yang bersama-sama berarti “makan serangga”). Makhluk pemakan serangga. Entomophagy ditemukan dalam kelompok taksonomi termasuk serangga yang memakan serangga lainnya, disamping burung, reptil, amfibi dan mamalia pemakan serangga. Lebih jauh, istilah ini juga untuk menggambarkan manusia pemakan serangga dalam budaya atau tradisi di belahan dunia termasuk Amerika Utara, Amerika Tengah dan Selatan, Afrika, Asia, Timur Tengah, Australia dan Selandia Baru.

Sebanyak 1.417 spesies serangga telah dicatat sebagai bahan makanan oleh lebih dari 3000 kelompok etnis. Ini termasuk diantaranya 235 jenis kupu-kupu dan ngengat, 344 jenis kumbang, 313 spesies semut, lebah dan tawon serta 239 spesies belalang, jangkrik dan kecoak.

Serangga dan invertebrata lainnya, telah menjadi sumber makanan bagi orang-orang selama puluhan ribu tahun, di seluruh planet ini. Barangkali makan serangga masih sesuatu yang baru di negara maju, tetapi serangga tetap menjadi makanan populer di negara-negara Amerika Selatan dan tengah, Afrika, dan Asia. Vietnam, Kamboja, Cina, Afrika, Meksiko, Kolombia dan New Guinea. Beberapa serangga yang populer dan araknida yang dimakan di seluruh dunia adalah: jangkrik, belalang, semut, berbagai ulat kumbang, seperti mealworm, larva Beetle Dark, serta berbagai jenis ulat, juga disebut sebagai “cacing,” seperti cacing bambu, cacing mopani, ulat sutera dan waxworms, serta kalajengking dan tarantula.

Sebelum manusia memiliki alat untuk berburu atau pertanian, serangga mungkin adalah bagian penting dari diet mereka. Bukti-bukti telah ditemukan dan dianalisis dari coprolites gua-gua di Amerika Serikat dan Meksiko. Coprolites di gua-gua di Pegunungan Ozark ditemukan berisi semut, larva kumbang, kutu, kutu, dan tungau. Lukisan gua di Altamira, utara Spanyol, sekitar 30.000 sampai 9.000 SM, menggambarkan koleksi sarang lebah liar. Pada waktu itu orang sudah makan pupa lebah dan larva dengan madu. Kepompong ulat sutra liar (Theophilia religiosae) ditemukan di reruntuhan di provinsi Shanxi di Cina, dari 2.000 sampai 2.500 tahun SM. Banyak praktek entomophagy kuno masih dilakukan sampai kini dalam bentuk entomophagy tradisional.

Serangga dapat menjadi sumber protein yang baik disamping vitamin, mineral, dan lemak. Sebagai contoh, jangkrik mengandung kalsium tinggi, rayap kaya akan zat besi. Seratus gram larva ngengat ulat raksasa menyediakan 100 persen dari kebutuhan harian untuk tembaga, seng, besi, thiamin, dan riboflavin. Semut juga dapat mengandung protein tergantung pada ukuran serangga. Semakin kecil spesies, semakin besar kesempatan untuk mengandung protein. Belatung dari bonggol pohon sagu (makanan pokok di Papua New Guinea) sarat dengan lemak tak jenuh.

Serangga juga bermanfaat untuk kesehatan bahkan sekarang ada serangga olahan untuk dijual sebagai camilan koktail, inago (belalang itu, Oxya velox F.), yang direbus dalam kecap namun serangga sebagai sumber kontaminasi penyakit bagi ternak dan manusia tetap harus dipahami.

Ada 108 keluarga Diptera berisi lebih dari 120.000 spesies, sekitar 350 spesies dalam 29 keluarga telah secara potensial berkaitan dengan penyebaran penyakit yang bertalian dengan makanan. Lebih dari 50 spesies lalat synanthropic telah dilaporkan dikaitkan dengan kondisi sehat dan terlibat dalam penyebaran patogen manusia di lingkungan.

Tentunya serangga sebagai sumber infeksi penyakit pada manusia dan ternak harus diwaspadai dan dieradikasi jika perlu. Lebih dari 50 spesies lalat synanthropic telah dilaporkan terkait dengan masalah kesehatan dan terlibat dalam penyebaran enteropathogens manusia dalam lingkungan. Dua puluh satu jenis lalat tercatat sebagai agen penyebab penyakit gastrointestinal berdasarkan synanthropy, endophily dan lain-lain. Wabah dan kasus-kasus penyakit diare yang bertalian dengan makanan di daerah perkotaan dan pedesaan sangat erat terkait dengan peningkatan musiman jumlah serangga synanthropic seperti lalat, kecoa, dan kumbang coprophagic khususnya sebagai vektor penyakit.

Transmisi mekanik parasit dan epidemiologi serangga synanthropic lain dalam penyakit yang bertalian dengan makanan manusia perlu mendapat perhatian. Efektivitas kotoran dalam meningkatkan transmisi agen infeksi oleh lalat jauh lebih besar dari setiap substrat atau media lain.

Jangan takut dengan serangga. Karena tergantung pada kita untuk melihatnya sebagai sahabat atau musuh. Dan silahkan mencoba ber Minilivestocking. Terimakasih pada Majalah Trobos yang menerbitkan artikel saya tentang: Serangga, Bahan Pangan Alternatif. No. 130 Juli 2010 Tahun XI.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.