Skip to content


Bekerja dengan semangat keikhlasan.

Ciater, Juli 2010. Malam sudah menunjukkan pukul 22.00. Namun suara teriakan orang di kolam renang masih terdengar cukup nyaring. Maklum jarak antara kolam renang air panas dengan pondok penginapan dimana hari ini kami menginap cuman berjarak kurang dari 20 meter. Teriakan-teriakan yang mengganggu keheningan malam. Apalagi saya sedang “serius” belajar.

Banyak yang mesti kugali lebih jauh tentang  hubungan antara ICT dan produktivitas. Itulah satu-satunya alasan kenapa aku baca buku the Beyond Productivity: Information, Technology, Innovation, and Creativity (National Academy of Sciences). Bahkan beberapa istilah yang menggelitik seperti information technology and creative practices (ITCP) terpaksa aku eja berulang-ulang.

“to be independent, nonconformist, unconventional, even bohemian, and . . . to have wide interests, greater openness to  new experiences, a more conspicuous behavioral and cognitive flexibility, and more risk-taking boldness.”

Sebenarnya aku pengin menikmati  suasana malam di  Cafe Kunang-kunang, Ciater Spa yang ada di sebelah kolam renang. Namun angin malam pastinya akan kurang bersahabat dengan kondisi tubuhku yang dari kemarin agak flu. Lagian tadi sore saya sudah mampir sebentar. Jadi lebih baik baca-baca buku sambil menyiapkan FGD besok dengan topik  Pengkajian dan Pengembangan Model Pemanfaatan Sumberdaya dan Kearifan Lokal Terintegrasi di Bidang Pangan, Energi dan Kesehatan. Apalagi besok yang menjadi partner diskusi lumayan kelas  berat: Kepala Bappeda dan para kepala dinas yang terkait dengan masalah pangan, energi dan kesehatan.

Cafe adalah sebuah tempat yang lumayan santai  untuk merelaksasi neuron.  Di beberapa kota di Indonesia selalu ada cafe yang bersih dan memiliki kekhasan menyuguhkan lagu-lagu lama dan lagu daerah.  Tempat seperti itu selalu menggodaku untuk mengunjunginya kembali?.

Kembali menengok sebuah tempat adalah perilaku sosial yang normal, dan kadang berangkat dari pilihan sederhana yaitu sebuah memori.  Bisa juga  karena kesengajaan,  karena ada kesempatan dan adanya semacam dorongan ego untuk menelusuri kilas balik atau sekedar  mendengar suara hati.

Dan itu seperti mendengarkan musik yang bagus atau barangkali membaca novel, yang kalau isinya bagus pasti akan mendorong kita untuk sesekali mendengar dan membacanya kembali. Banyak penulis nove handal menyisipkan pesan-pesan moral sehingga  dapat memberi inspirasi untuk pembelajaran hidup. Tentang persahabatan antara manusia dan hewan, saling menyemangati pada seseorang yang hampir kehilangan pegangan, dan lain-lain.

Banyak orang tak ingat kejadian karena memang tak punya maksud untuk mengingatnya. Kecuali orang yang kutu buku atau petualang sejati, yang tak perlu terlalu pintar untuk menghafal namun mampu menggunakan perasaannya untuk melihat sesuatu.

Seringkali orang bertanya sedang dimanakah kita, bahkan hal itu bisa beberapa kali dalam seharinya?. Kesulitan terbesar untuk memaknai sebenarnya bukanlah pada dimana posisi kita saat ini namun mengapa kita mau melakukannya, mengerjakannya atau sebaliknya melalaikannya?.

Seperti saat berenang, kadang dengan reflek kita menggerakkan anggota tubuh kita. Ada saatnya kita menikmati ayunan tangan dan kaki. Namun ada saatnya kita menepi sejenak ke tepi kolam. Bekerja bukanlah sebuah tujuan namun hanyalah alat agar ide-ide besar kita tetap terjaga. Istirahat sejenak dari kebisingan pun adalah bagian dari usaha meraih sebuah tujuan itu.

Banyak tempat menarik di sekitar kita. Kriterialah yang membedakannya. Di tempat yang bagus nan indahpun kita sering menemukan sebuah ironi.  Bukan bermaksud untuk menghadapkannya secara diametral. Faktanya memang masalah sosial ada dimana-mana,  tak peduli hal itu adalah tempat yang bagus atau indah secara fisik. Banyak orang yang peduli namun sedikit sekali yang rela berbagi. Fakta sosialnya seperti itu.

Barangkali kita bisa belajar pada pedagang eceran di pasar-pasar tradisional. Sekali-kali datanglah ke daerah urban, sekali-sekali  tengoklah kehidupan pada pagi menjelang shubuh sekitar jam 3 atau 4. Melihat para pedagang yang kebanyakan ibu-ibu. Sekali-sekali kita coba amati kehidupan malam di pabrik tekstil, kebanyakan adalah anak-anak remaja wanita. Sekali-sekali cobalah amati kehidupan para wanita pemetik teh yang kebanyakan nenek-nenek. Sekali-sekali lihatlah para pemburu tanaman obat, 90 persen lebih adalah nenek-nenek. Dan yang mungkin agak ekstrim adalah eksploitasi wanita malam.  Ikhlaskah mereka bekerja?.

Tentu masih banyak orang-orang hebat di dunia ini, di negeri tercinta ini yang memiliki kepedulian. Namun yang sering terjadi, saya mesti harus mengambil nafas panjang, menghisap dalam-dalam  dan mencoba pelan-pelan mengeluarkannya dari saluran pernafasan. Terlalu banyak yang tak kupahami dan tak kumengerti apa yang sedang terjadi. Mungkin tradisi menjaga etika, norma, dan kehormatan sedang mengalami kekalahan. Banyak hal diukur dengan materi. Dan naluri kemanusiaan semakin meredup.

Orang normal akan berpikir, bagaimana mungkin di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini kemiskinan hampir mencapai 33 juta.  Di negeri yang katanya 99% beragama ini ternyata toleransi terhadap kehidupan dan kemanusiaan tak sebagus yang tergambar di media.  Di negeri yang katanya negara demokrasi ke dua terbesar di dunia ini, ternyata lebih banyak terisi oleh orang-orang yang kalah. Dan, yang menyedihkan mereka adalah orang-orang pedesaan, kaum petani, peternak, nelayan dan sejenisnya.

Jadi jangankan untuk mendapatkan akses. Masalah mendasar mereka adalah masalah dasar yaitu pangan, kesehatan dan energi. ICT masih jauhlah dari jangkauan mereka.  Pemerintah dan para pakar harus sering-sering membaca dan memahami  buku  Ecological Indicators for the Nation.

Saya senang dengan bab yang membahas tentang The Empirical and Conceptual Foundations of Indicators (NRC):  Developing indicators and monitoring them over time can help to determine whether problems are developing, whether any action is desirable or necessary, what action might yield the best results, and how successful past actions have been. To develop and implement sound  environmental policies, data are needed that capture the essence of the  dynamics of environmental systems and changes in their functioning.

Dan saya selalu merinding setiap mendengarkan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Tanah airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta, tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa. Tanah airku aman dan makmur, pulau kelapa nan amat subur. Pulau melati pujaan bangsa, sejak dulu kala. Mimpikah saya?.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.