Skip to content


A walk through time: bukan konsep atau ide semata tapi fakta dan faktual

Bandung, 23 April 2010. Kampus adalah sebuah dunia kecil yang sangat dinamis. Di sana setiap saat selalu ada orang datang  dan pergi,  membawa dan meninggalkan pemikiran. Ada yang tercatat dalam kalbu, ada yang tersimpan dalam memori dan sebagian lainnya memang terpaksa terlupakan. Waktulah yang menentukan. Waktu?

PPBS Unpad. Jam menunjukkan pukul 06.30. Saya sedang mulai memberes-bereskan dokumen untuk rapat nanti siang dan sore nanti. Seorang bibi (bagian cleaning service) dengan penuh semangat menyuguhkan secangkir kopi. Kebiasaan tiap hari, begitu melihat saya datang beberapa menit kemudian.

Bibi ini, sudah 3 tahun bekerja. Umurnya jelas jauh lebih muda dari saya, kurang lebih 34 tahun namun raut mukanya jauh lebih tua dari usia sesungguhnya.

Ibu muda ini bekerja seperti mesin, setidaknya itulah anggapan saya pada awal mengenalnya. Berasal dari Cileles Jatinangor. Orangtuanya, dulunya adalah buruh petani di tempat bangunan Unpad sekarang ini berdiri. Beberapa karyawan di tempat saya sekarang bekerja, adalah orang-orang asli jatinangor. Bahkan ada yang lahir beberapa tombak dari lokasi gedung PPBS berdiri. Mereka memiliki kenangan dan memori sendiri.

Tentunya rumah para karyawan sekarang tak lagi dekat dengan kawasan jatinangor karena pada umumnya keluarga mereka tergusur semakin menjauh ke atas. Sebagian besar karena masalah ekonomi.

Itulah sebabnya walaupun rumahnya di jatinangor, ibu muda itu perlu waktu 40 menit untuk jalan kaki menuju kantor PPBS. Setiap hari berangkat jam 05.30 dan tiba pukul 06.10. Untuk menyiapkan ruang.  Sekitar pukul 16.15, dia pulang setelah para pegawai lainnya pulang. Dan, bahkan lebih sering kesorean karena kalau kami lembur biasanya mereka juga ikutan lembur. Itu karena SOP kami menetapkan, ruang dibersihkan dan dirapikan kembali setelah digunakan. Bukan ketika akan digunakan. Jadi setiap pagi, ruangan kantor atau kelas tinggal dibuka untuk digunakan.

Ibu muda ini, beruntung mengerti dan memahami tupoksinya. Dan lebih beruntung lagi karena ia bekerja dengan semangat dan ikhlas dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Beruntung, karena bekerja tidak sekedar berurusan dengan salary, gaji atau uang semata. Bekerja untuk kebaikan dan kebajikan jauh lebih penting.

Pukul 07.30, aku menuju ruang kerja di fakultas, yang jaraknya tak lebih dari 40 meter dari PPBS. Pukul 07.45 ke ruang kelas untuk siap siap mengajar. Baik di gedung 3, 4 dan 5 setiap pagi bahkan beberapa detik sebelum kuliah pagi para pekerja masih sibuk membersihkan ruangan. Menyapu, menggeret menarik kursi kesana kemari. Bahkan kadang kita menunggu terlebih dahulu sebelum masuk ruangan kelas. Saya tidak paham dan kurang mengerti dimana salahnya. Tapi rasanya ada sesuatu masalah disini yaitu etos dan disiplin. Mungkin juga karena tidak jelas SOPnya.

Tepat pukul 08.00, ketika saatnya perkuliahan dimulai. Hmmm., baru ada 3 orang yang hadlir. Saya juga tidak paham dan kurang mengerti dimana salahnya. Pukul 08.15 saya sempat tanya ke salah satu mahasiswa, kenapa hari ini banyak yang ngga masuk?. Jawabannya sedikit mengejutkan: anak2 pada belajar untuk UTS mata kuliah … nanti jam 10.00. Kali ini saya paham. Mahasiswa sekarang barangkali lebih melihat nilai sebagai hasil pembelajaran. Bukan substansi yang ingin dipelajari. Sebagian besar diantara mahasiswa sekarang tidak mencari ilmu, tapi sekedar berburu gelar. Mungkin ini sebuah premis dan mungkin juga sebuah hipotesa semata.  Tapi salahkah kita menduga-duga?.

Dosen sebagai bagian dari sistem pendidikan harus bertanggungjawab pada produk pendidikan. Komitmen semua pihak sudah seharusnya dikajiulang dan dievaluasi. Karena ada hubungan antara satu mata rantai dengan mata rantai lainnya. Tanggung jawab moral sama pentingnya dengan tanggungjawab sosial.

Usai memberi kuliah di fakultas, aku bergegas kembali ke PPBS. Pukul 10 an di PPBS kami akan melakukan diskusi dengan ketua komisi A dan B DPRD Kab. Sumedang dan beberapa orang aktivis masyarakat jatinangor. Diskusinya ngalor ngidul tentang pendidikan dan daya beli masyarakat. Tentang hari bumi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Khususnya peran dan posisi masyarakat asli/lokal jatinangor dengan keberadaan Unpad di Jatinangor.

Saya jadi teringat dengan bibi muda yang saya ceritakan tadi di atas. Mungkin seandainya bibi muda tadi mendapat kesempatan belajar di perguruan tinggi pasti akan menjadi orang yang jauh lebih baik nasibnya dan jauh lebih memberikan manfaat bagi masyarakat luas nantinya.

Kuliah hari ini meninggalkan kegamangan. Dan ada sesuatu yang ambigu dalam menilainya. Kita serahkan saja kepada Allah SWT untuk menilai segala amalan itu. Karena kadang seseorang bisa salah menafsirkan tentang ridha Allah.

QS. Al-Kahfi: 103-104. “Qul hal nunabbi-ukum bil akhsariina a’maalaa. Alladziina dhalla sa’yuhum fil hayaatid dun-yaa wa hum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun’aa. Katakanlah, “apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang amat merugi perbuatannya?”. “Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedang mereka mengira bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang baik”.

Hari jum’at adalah hari yang istimewa bagi umat islam. Kita mestinya menggelorakn semangat pada hari itu dan mengisinya dengan kebaikan. Aku mencari-cari adakah keterkaitan antara etos kerja, mengisi hari dan budaya. Dan pertanyaan, adakah apa yang dinamakan kebudayaan islam itu, kalau ada bagaimana wujudnya. Bukan konsep atau ide semata tapi fakta dan faktual. Dan kalaupun ada, jangan-jangan telah semakin kabur dan luntur, ditelan sekularisme.

Usai sholat jumat, aku bergegas ke Bandung. Setiap ba’da jum’at, kami hampir selalu meeting di kampus Unpad Dipati Ukur. Hari ini jam 14.00 sd 17.00 akan diadakan diskusi antara tim PR 1 dengan Tim SPM (Sistem Penjaminan Mutu). Dalam perjalanan dari jatinangor ke DU. Aku baca buku “Orientalisme dan Orientalisten” karya Prof. Tk. H. Ismail Jakub. Bukan untuk mencari tahu kenapa orang2 timur (Jepang, Korea dan China) lebih maju daripada orang melayu. Tapi hanya sekedar mengisi waktu luang dalam perjalanan.

Oriental artinya bersifat timur. Jadi orientalisme adalah suatu paham atau ajaran tentang soal dan masalah Timur. Istilah ini dulunya digunakan untuk orang-orang barat yang mempelajari tentang dunia timur. Dan sejak lama orang atau kaum orientalisten telah mempelajari islam dan peradaban islam. Kini pastinya di jaman era globalisasi ini formatnya mestinya juga menjadi berubah. Istilah orientalisten mestinya juga berubah maknanya.

Dalam sejarah, banyak sekali orang Orientalisten yang namanya terkenal di Indonesia seperti Rapheleng, Scaliger dan lainnya apapun motivasi dan alasan mereka. Tapi aku tadinya cuman pengin tahu pemikiran khususnya mengenai falsafah M.J de Goeje. Ia dulu (abad 18) yang menyiarkan buku “Gharibul Hadits” karangan Abi ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam, buku arab bertuliskan tangan tertua di eropah. Dan setelah itu Goeje, yang banyak menulis buku untuk syiar islam. Sedangkan P.J. Veth (1814-1895), alumni Universitas Leiden, seorang dosen yang memberi kuliah tentang syariah islam. Veth juga menulis banyak buku tentang islam diantaranya Masuknya Islam ke Indonesia dan dakwah Muhammad SAW.

Well, alhamdulilah hari ini diskusi di DU lancar. Semoga hari-hari esok kami tetap bersemangat.  A walk to remember. A walk through time. Plan your work and work your plan.

Posted in FolkTale.

Tagged with , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.