Skip to content


It is too mighty for me to struggle with!

Minggu, 4 April 2010.  Usai berdiskusi hangat dengan puluhan petani-peternak Gapoktan Gebangsari di desa Longok, Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu, kami bertiga ditemani ketua Gapoktan setempat Pak Wardono dan kepala subdinas peternakan kabupaten Indramayu menyusuri Sungai Sriwadon, kira-kira 3 km dari tempat kami diskusi.

Dan, kami ke sana pastinya bukan untuk sekedar refreshing. Kami sedang mensurvei kondisi persawahan dan tegalan di sekitar sungai Sriwadon, dan sekaligus mencari tempat yang tepat untuk membuat pompa bertenaga panel surya. Salah satu bagian dari program hibah kompetisi Unpad. Sungai yang letaknya persis diujung bagian timur laut desa ini menjadi andalan warga setempat untuk kegiatan pertanian namun memasuki bulan Juli, sungai ini biasanya kering. Padahal ada kurang lebih 350 Ha tanaman padi dan tanaman sayuran yang terkait dengan sungai ini.

Tantangan kami diantaranya, mampukah PHK Institusi Unpad dan Gapoktan setempat dapat meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut?. Sebagai mana dengan aspek teknologi, maka aspek kelembagaan memiliki peran yang sama pentingnya dalam pengembangan agribisnis pedesaan. Untuk itu, permasalahan kelembagaan harus dipahami dalam seluruh tahapan kegiatan, yaitu mulai dari studi pendasaran dengan metode PRA), penyusunan rancangan pengembangan kelembagaan, implemenntasi di lapangan, dan sampai dengan kegiatan monitoring dan evaluasi.

1,5 jam kami ada bantaran sungai Sriwadon untuk mengamati dan mengukur sisi teknis sebelum kami mengamati potensi lainnya yaitu kelompok peternak sapi, domba dan itik (untuk lokasi pembuatan 10 paket biogas dan biodigester). Dan mitra lainnya yaitu BKB kemas, Tunas Harapan, Pusat Informasi dan Konseling Reproduksi Remaja Pringanti, Posyandu Andalan Mawar.

Ada 3 subprogram dalam kegiatan PHK Institusi Unpad. Untuk melaksanakan subprogram B PHK Institusi Unpad kami berusaha mensinergiskan program pangan, energi dan kesehatan di 3 kabupaten yaitu Indramayu, Cirebon dan Subang. Jadi variabel untuk subprogram B lumayan banyak. Terutama karena harus melibatkan kelompok masyarakat termasuk KUKM, desa siaga, gapoktan dan lain-lainnya dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan.

Hampir 4 jam kami ada di desa longok. Menjelang ashar kami sudah berada di desa Majasih. Sama seperti di desa Longok, kami berdiskusi di balai desa Majasih dengan Gapoktan Subur Makmur dan kelompok-kelompok lainnya terkait dengan PHK Institusi Unpad dan perencanaan pembangunan di bidang pertanian tanaman pangan, peternakan, kesehatan, energi dan kesehatan. Kali ini diskusinya lebih lancar dan lebih cepat. Di daerah berbasis lahan basah ini rencananya kami ingin mengembangkan perbibitan itik termasuk pengembangan mini feedmill dan pengolahannya, pengembangan tanaman pangan dan perbaikan kualitas kesehatan menuju pengembangan desa siaga.

Untuk mensukseskan PHK Institusi, kami sangat mengandalkan pada keberadaan kelembagaan setempat. Kelembagaan, yaitu suatu jaringan yang terdiri dari sejumlah orang dan lembaga untuk tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur.

Keberhasilan dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia sangat ditentukan oleh keberhasilan pemenuhan kecukupan pangan dan konsumsi gizi masyarakat. Ketahanan pangan merupakan pilar utama dalam mewujudkan ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional haruslah menjadi hal penting yang dapat mewarnai setiap kegiatan membangun bangsa ini.

Peran strategis tersebut tentu akan dapat diwujudkan apabila tiga sub sistem ketahanan pangan yaitu : Sub Sistem Ketersediaan Pangan, Sub Sistem Distribusi Pangan dan Sub Sistem Konsumsi saling terintegrasi dengan baik. Sub Sistem Ketersediaan Pangan yang mencakup aspek produksi, cadangan pangan serta keseimbangan sedemikian rupa sehingga pangan ditingkat masyarakat harus cukup jumlah dan jenisnya, serta stabil dalam penyediaan dari waktu ke waktu.

Kami senang dan mengikuti saran apa kata para ahli. Thus a society wanting to improve its food safety system can work on three distinct areas: (a) strengthening the drivers for change; (b) strengthening the food safety meta-rules; and (c) improving the institutional arrangements for food safety. Let us now consider each of these three areas in turn.

Menjelang maghrib usai sudah 2 acara utama kegiatan kami di Indramayu. Untuk membuang rasa lelah dan penat kami meluncur ke arah Balongan, bukan untuk mencari minyak namun mencari makan siang dan sekaligus malam di rumah makan tradisional khas aneka ikan laut di Mina Ayu. Letaknya yang diatas bantaran tepi laut, persis di sebelah pelabuhan kapal nelayan tradisional menjadi pilihan utama.

Aneka ikan bakar, udang, sepoi angin laut dan kerlap kerlip lampu kapal-kapal nelayan yang memasuki dan bersandar di hulu membuat kami lupa sejenak dengan kepulangan. Masih perlu waktu 3,5 jam untuk dapat sampai kembali pulang ke Bandung .

Well, sebuah tempat yang mengingatkan aku pada sebuah dialog dalam buku cerita lama nan legendaris: The Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne. … here, with a view from its front windows adown this not very enlivening prospect, and thence across the harbour, stands a spacious edifice of brick. ‘It is too mighty for me to struggle with!’

Indramayu. Bandung, 4 April 2010

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.