Skip to content


Co-option, Cooperation, Consultation, Collaboration, Co-learning dan Collective action.

Bandung, 2 April 2010. Menjelang pergantian hari ini, akhirnya usai sudah aku membaca paragraf terakhir Chapter XV Derelict. Sebuah buku tebal (801 halaman) berjudul Sons and Lover karya D. H. Lawrence itu sangat layak dibaca oleh para orangtua (terutama yang menikah agak dini) maupun para remaja karena mengandung banyak pembelajaran.

He wanted her to touch him, have him alongside with her. But no, he would not give in. Turning sharply, he walked towards the city’s gold phosphorescence. His fists were shut, his mouth set fast. He would not take that direction, to the darkness, to follow her. He walked
towards the faintly humming, glowing town, quickly.

Paragraf terakhir sebuah buku selalu menarik dan menyentuh perasaan. Para mengarang biasanya menuliskannya dengan segenap perasaan yang berkecamuk didadanya, dan kadang berbaur menyatu dengan tokoh sentral dalam cerita itu. Itulah yang membuat para pembaca seringkali menilai sebuah karya dari sisi akhir cerita. Dan, pembaca yang sensitif pasti ingin berinteraksi, mengembangkan nalar dan akhirnya masuk ke dalam pola pikirnya. Itulah pembelajaran utama seorang pembaca: ikut berpartisipasi. Berpartisipasi?.

Dalam kontek menikmati sebuah karya sastra. Partisipasi bisa diartikan sebagai proses tumbuhnya kesadaran terhadap kesalinghubungan diantara pembaca/penelaah/penikmat sebuah karya (yang sangat beragam status sosial dan komunitas) dengan sebuah karya yang mereka baca. Secara sederhana, “partisipasi” dapat dimaknai sebagai “the act of taking part or sharing in something”. Dua kata lain yang dekat dengan “partisipasi” barangkali adalah “engagement” dan “involvement”.

Prinsipnya adalah membaca pasti tidak sekedar untuk menikmati sebuah karya sastra. Nilai-nilai luhur dan pesan2 mulia yang ada dalam sebuah buku harus menjadi bahan pembelajaran bagi para pembaca. Itulah nilai hakiki, yang membuat seseorang bisa menikmati sebuah buku dan menghargainya.

Hari-hari terakhir ini di PPBS banyak kerjaan yang memerlukan intensitas dan komitmen yang lumayan menyita waktu. Itulah sebabnya kalau mendengar kata PHK Institusi dan partisipasi, jujur saja saya agak jengah dan langsung pening kepala. Dua hal yang membuat aku jengah yaitu pertama PHK Institusi yang dilaksanakan Unpad sangat rumit dan komplek. Melibatkan 6 OPD ditingkat propinsi dan 18 OPD ditingkat kabupaten (Kab. Subang, Indramayu dan Cirebon). Belum puluhan KUKM, Puskesmas dan para mahasiswa KKNM. Dan, yang kedua: partisipasi pengelola yang juga rumit dan penuh misteri. Unpad mengangkat Isu-isu pangan, energi dan kesehatan sebagai isu sentral dalam PHK Institusi 2010-2012. Dan, ternyata ruwet, sama rumitnya dengan pola partisipatif dalam pembangunan terintegratif di bidang pangan, energi dan kesehatan.

Dalam kontek pembangunan partisipasi didefinisikan sebagai proses dimana seluruh pihak dapat membentuk dan terlibat dalam seluruh inisiatiif pembangunan. Maka, pembangunan yang partisipatif (participatory development) adalah proses yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam seluruh keputusan substansial yang berkenaan dengan kehidupan mereka. Dalam bidang politik dan sosial, partisipasi bermakna sebagai upaya melawan ketersingkiran (opposite of marginality). Jadi, dalam partisipasi, siapapun dapat memainkan peranan secara aktif, memiliki kontrol terhadap kehidupannya sendiri, mengambil peran dalam masyarakat, serta menjadi lebih terlibat dalam pembangunan.

Hal lain yang juga menjadi sisi lemah dari pengembangan program adalah masalah kelembagaan dalam bidang pangan, energi dan kesehatan. Keberhasilan pembangunan juga ditentukan oleh jaringan yang ada atau seharusnya ada. Suatu jaringan terdiri dari sejumlah orang dan lembaga yang memiliki tujuan tertentu, memiliki aturan dan norma, serta memiliki struktur. Dalam konteks sistem agribisnis di pedesaan, dikenal delapan bentuk kelembagaan yaitu: (1) kelembagaan penyediaan input usahatani, (2) kelembagaan penyediaan permodalan, (3) kelembagaan pemenuhan tenaga kerja, (4) kelembagaan penyediaan lahan dan air irigasi, (5) kelembagaan usahatani/usahaternak, (6) kelembagaan pengolahan hasil pertanian, (7) kelembagaan pemasaran hasil pertanian, dan (8) kelembagaan penyediaan informasi (teknologi, pasar, dll). Setidaknya kelembagaan itu mestinya mulai ditata, dirapikan dan disinkronkan dengan program-program yang dikembangkan PHK Institusi.

Saatnya bagi kita mendorong partisipasi fungsional dan partisipasi interaktif. Sehingga pada akhirnya masyarakat mampu mengambil inisiatif sendiri secara bebas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk merubah sistem atau nilai-nilai yang mereka junjung. Mereka mengembangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan dan dukungan teknis serta sumber daya yang diperlukan. Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yanga ada dan atau digunakan, Itulah makna dari kemandirian atau (self mobilization).

Well, bagaimana dengan kita yang ada di Unpad?. Kadang terlalu sering mensosialisasikan Rapid Organizational Assessment (ROA) pada institusi atau lembaga lain namun seringkalikali lupa menerapkannya untuk diri sendiri. Selamat melaksanakan 6 C: Co-option, Cooperation, Consultation, Collaboration, Co-learning dan Collective action.

Seperti pesan dalam buku Sons and Lover: Sometimes they looked in each other’s eyes. Then they almost seemed to make an agreement. It was almost as if he were agreeing to bla.,bla.,bla. Why don’t you hold your shoulders straighter? Come down here. Maksudnya naon?

Bandung, 2 April 2010

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.