Kehormatan bisa tetap membisu.


dwicipto.jpg

Sesungguhnya di dalam surga ada sebatang pohon yang apabila seorang penunggang kuda berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun maka ia akan mampu mengitarinya. Di dalam surga juga disediakan naungan yang ditinggikan, air yang dicucurkan dan buah-buahan yang melimpah tidak terputus-putus dan tidak terhalangi serta beberapa tikar yang dihamparkan. (Dalam: Kitab klasik Al Mawa izh al-Ushfuriyah).

Hari ini, hujan merata mengguyur membasahi semua kawasan Bandung. Di berbagai daerah bahkan banjir telah berhari-hari tidak surut dan membawa musibah bagi sebagian penduduk Bandung timur dan selatan. Kelihatannya malam ini, hujan masih akan berlanjut mengingat seperti tahun-tahun yang lalu, hujan selalu mengiringi perayaan hari raya tahun baru China atau Imlek 2561.

Kebanyakan warga Tionghoa di seluruh dunia besok akan memperingati hari raya imlek. Sebuah kebudayaan kuno yang telah berabad-abad tertanam dan terus tumbuh berkembang ke berbagai belahan dunia sejalan dengan pola migrasi mereka yang sangat ofensif ke daerah lain di dunia.

Di luar aspek ideologis yang tak menarik untuk diperdebatkan, orang Tionghoa dan khususnya China mengalami sejarah panjang sebelum mereka menjadi bangsa dan Negara terkemuka di dunia seperti sekarang ini. Sisi baik orang Tionghoa adalah etos, mereka pada umumnya pekerja keras. Dan, selain menghargai para tokoh-tokoh nasional kita, sepatutnya kitapun perlu belajar pada tokoh-tokoh dan pendiri China, khususnya tentang etos. Sebagai pembanding, untuk diambil sisi-sisi baiknya.

China tak bisa dipisahkan dengan nama-nama besar seperti Mao Tse Tung, Chiang Kai Shek, Deng Xiao Ping dan lain-lain. Dan melihat sejarahnya, semuanya ternyata dimulai dari bagaimana cara para orangtua mendidik dan memotivasi mereka. Misalnya orangtua Mao Tse Tung selalu menaamkan bahwa kerja keras dan kebiasaan membaca sangat penting untuk masa depan. Sejak usia dini, Mao Tse Tung sudah dididik untuk berjam-jam seharinya bekerja keras di ladang dan rajin membaca.

Pada usia muda pula ia merantau, mencari ilmu ke Chang Choi dan Beijing bahkan sempat bekerja di sebuah perpustakaan universitas di Beijing. Pergolakan monarki di China membuat dan mendorong orang-orang patriotic dan revolusioner seperti dia semakin terbentuk ideologinya. Paham komunis, marxis revolusioner menjadi pilihannya. Cerita tahun 1920 an yang dimulai dari pegunungan Jianxi, barangkali mengawali berdirinya China baru.

Hari ini, China adalah sedikit dari Negara di dunia yang bersikukuh pada paham komunis. Paham yang tadinya dinilai sudah kalah dan habis ini kelihatannya telah bermetamorfosis, menyesuaikan diri dengan jamannya. Kita bisa belajar dari mereka bagaimana cara membangun negaranya khususnya di bidang penegakan hukum. Tidak perlu alergi dan takut dengan paham komunis. Selamat merayakan Imlek.

Pagi sampai siang hari, kami berada di Cisral Unpad untuk merancang reakreditasi Unpad. Kerja yang semestinya harus dilakukan secara spartan, mengingat tuntutan dan harapan yang dibebankan pada tim cukup berat. Itulah yang membuat tim ini rela mengorbankan waktu libur untuk bekerja.

5 jam telah berlalu. Usai berdiskusi dan merancang rencana kerja reakreditasi, aku harus cepat-cepat cabut. Bukan untuk langsung pulang tapi menuju Toko Buku Gramedia, mencari buku bacaan untuk rencana malam mingguan. Disana banyak buku bagus tapi ngga’ ada yang sreg untuk dibeli kecuali buku kamus kedokteran.

Besok adalah hari raya imlek, sebelum pulang aku sempatkan mampir ke Giant, membeli buah nangka dan bahan untuk membuat sup hisit kepiting. Bahannya kira-kira daging kepiting, hisit kering, bawang, jamur, kacang polong, dan daun bawang. Kaldu ikan, telur dan tepung sudah ada di rumah. Kayaknya asyik, besok mau liburan di rumah saja sambil ngerjain PR yang numpuk.

Well, cuaca malam ini lumayan agak panas walaupun hujan gerimis mengguyur Bandung. Kelihatannya aku perlu waktu sejenak untuk mengistirahatkan otak. Segelas bajigur menemaniku menonton cerita komedi situasi di sebuah stasiun televisi. Dan tak terasa, hanya kurang dari 2 jam, aku sudah membaca cepat dua buku koleksi isteri saya yang berjudul The Brethern karya John Grisham dan Buku Omerta by Mario Puzo. Isteri saya kebetulan senang dengan buku-buku detektif, tentang perang, penjara, pelarian, mafia, keadilan, kejahatan, dan sejenisnya. Sedang aku lebih senang buku-buku folktail, sejarah, filsafat dan kebudayaan.

Perbedaan tak seharusnya menjadi menghalang untuk saling melengkapi dan berbagi. Makin banyak perbedaan dan keragaman makin banyak masalah tapi disitulah tantangannya. Kesetiaan dan keyakinan tidak semata-mata diukur dari status duniawi. Karena sebuah cita-cita pun bisa dibangun dari sebuah puing yang berserakan. Mau berbagi dan punya komitmen diatas landasan yang telah disepakati bersama mungkin lebih penting daripada sekedar modal dasar.

Mungkin ada baiknya kita merenungkan salah satu paragraph dalam buku The Brethern: “Inilah orang yang tidak main-main dengan omongannya yang tahu persis apa yang akan dilakukannya. Kita takkan mengorbankan orang-orang tak berdosa”.

Dan yang paling tidak aku sukai dalam buku Omerta karya Mario Puzo: “ Omerta, hukum tutup mulut Sisilia yang telah berabad-abad menjadi dasar ukuran kehormatan kalangan mafia. Omerta telah membawa kaum mafia melewati abad yang penuh perubahan. Namun kini, pada akhir abad hukum tersebut telah menjadi sisa-sisa peninggalan masa yang telah lalu. Kehormatan bisa tetap membisu, namun uanglah yang berbicara.

Aku jadi ingat masalah hukum yang carut marut di Negara kita. Banyak masalah di negeri ini. Masalah “markus”, mungkin tak lepas dari sisi lain sebuah budaya dan juga keimanan seseorang. Aah seandainya orang selalu mengingat dan mengamalkan apa yang telah menjadi petunjuk Allah SWT.

“ Wa lau taraa idzil mujrimuuna naakisuu ru-uusihim ‘inda rabbihim rabbanaa absharnaa wa sami’naa far ji’naa na’mal shaalihan innaa muuqinuun”. (QS. As Sajdah:12). Yang artinya: Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa menundukan kepada mereka di sisi Tuhannya, mereka berkata,” Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami agar kami mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”.

Wassalam, Bandung 13 Februari 2010.

  1. #1 by tania on February 13, 2010 - 11:27 pm

    Kehormatan bisa tetap membisu, namun uanglah yang berbicara.
    Gitu pak Ya?
    tapi
    Sip, deeh

(will not be published)