Skip to content


Jadi kemana nilai-nilai itu pergi?

image0018.jpg

25 tahun barangkali menunjukkan waktu yang cukup untuk dapat mengamati dan menghayati suatu pekerjaan aku di dunia peternakan. Namun kurun waktu sepanjang itu rasanya belum mampu membuatku mengerti dan memahami sepenuhnya makna dan arti peternakan sesungguhnya. Setidaknya dari konteks sosioekonomi. Peternakan di mata aku masih merupakan dunia yang agak abstrak dan absurd.

Animal Husbandry mengandung 2 suku kata yang memiliki arti dan makna sangat luas. Orang pasti paham dengan arti ternak. Dalam UU Nomor 18 tahun 2009, disebutkan bahwa ternak adalah hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian. Benarkah?.

“Husbandry”. Ini istilah yang merupakan perpaduan dari kata “husbonda” (Inggris kuno) dan Norse Kuno “bua”, yang berarti menetap. Dikisahkan dalam kebudayaan-kebudayaan kuno, seorang suami/pemelihara adalah penghuni rumah tangga yang merasakan ikatan yang kuat terhadap rumah dan tanahnya. Pemeliharaan mengandung makna menciptakan dan mempertahankan hubungan yang stabil dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, budaya dan alam.

Untuk mendapatkan arti dan peran pemeliharaan, teman2 di Fakultas Peternakan bisa mendapatkannya dari textbook-texbook peternakan. Namun ada baiknya kita pelajari, mencari sisi lain buku non peternakan. Kebudayaan tribal, catatan sejarah mengenai peran yang diajarkan oleh kebudayaan leluhur dan dari dialog-dialog komtemporer tentang nilai atau value bisa memperkaya pemahaman kita tentang makna “husbandry”.

Seorang pemikir yang sangat visioner bernama Kurt Vonnegue mengatakan: sebelum ini, manusia biasanya memiliki komunitas kekerabatan yang permanen. Mereka memiliki banyak rumah untuk pulang kembali. Sekarang, hal ini hampir mustahil. Setiap keluarga terkunci dalam kotak kecil. Tetangga bukanlah kerabat. Tidak ada rumah lain tempat orang bisa pergi dan merasa dicintai. Jadi kemana nilai-nilai itu pergi?”.

Pada suatu hari libur sekolah, di toko buku Gramedia saya mengantar anak saya mencari buku pelajaran. Memiliki seorang anak lelaki tunggal yang sedang tumbuh pasti memerlukan strategi untuk membesarkan dan mengantarkannya ke tempat yang lebih baik. Salah satu kebiasaan saya untuk menilai kualitas isi buku diantaranya adalah membaca komentar orang2 terhadap buku tersebut. Komentar itu kadang ada di halaman akhir namun kadang ada di sampul belakang buku. Salah satu komentar terhadap buku itu adalah: “ Penting bagi siapapun yang gelisah ingin mengubah bocah-bocah hari ini menjadi pria sejati. Mungkin, penting pula bagi masa depan bangsa kita dan dunia ini”. David Sawyer, Berea College, Presidential Points of Light winner.

Aku mendapatkan Buku The Wonder of Boys. Cara Membesarkan anak laki-laki menjadi pria sejati. Karya Michael Gurian itu sekitar 3 tahun yang lalu. Buku itu merupakan salah satu rujukan manakala aku “ragu atau kurang bisa” memahami perilaku anak tunggal kami yang kebetulan berkelamin lelaki. Di buku itu dijelaskan tentang mitos bahwa “masa kini menyatakan bahwa anak perempuan menjalani kehidupan yang lebih buruk ketimbang anak laki-laki”.

Faktanya adalah angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi 25% dibandingkan bayi perempuan, bayi laki-laki juga dua kali lebih rentan terserang autis, enam kali lebih berisiko mengidap hiperkinesis sekaligus lebih cenderung lahir cacat atau tidak normal. Mayoritas penderita skizofrenia adalah anak laki-laki. Mayoritas anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental adalah anak laki-laki. Gangguan emosional yang dialami anak laki-laki dan perempuan adalah 4 banding 1. Masalah gangguan belajar berasio 2 banding 1, anak laki-laki juga dua kali lipat lebih banyak menjadi korban penganiayaan. Bagi kebanyakan anak laki-laki, marah adalah cara terbaik untuk mengatasi rasa sakit, takut, sedih dan menderita.

Dan yang paling mengerikan adalah bahwa anak laki-laki empat kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan anak perempuan. Jadi saya setuju dengan pendapat Michael Gurian: Mitos masa kini menyatakan bahwa anak laki-laki bukanlah terlahir sebagai anak laki-laki; kitalah yang menjadikan mereka anak laki-laki. Ada apa dengan laki-laki, apa yang dibutuhkan anak laki-laki, bagaimana membesarkan anak laki-laki.

Thx Michael, sebuah karya yang bagus untuk menjadi salah satu tuntutan membesarkan anak. Aku tak pernah bosan membaca tentang “Disiplin pada Dekade Pertama Kehidupan”

Buku lain yang sangat layak untuk dibaca adalah the Litle Boy Book karangan Sheila Moore dan Roon Frost. Buku “What to expect” karangan Arlene Eisenberg, et all. Buku Parent Effectiveness Training karya Peter Wyden. The Moral Life of Children karangan Robert Coles, Buku Adolescence: the Survival Guide for Parents and Teenagers karangan Elizabeth Fenwick dan Tony Smith. Buku-buku itu bisa menjadi sisi lain dari pembelajaran anak kita selain tentunya Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sumber pembelajaran utama kita.

Kita sering terganggu dengan sisi gelap kehidupan sekarang dan berharap sisi gelap itu segera bisa pergi. Rasa takut adalah bagian dari sisi gelap itu. Melakukan yang terbaik sungguh sesuatu yang sangat sulit namun tetap harus diupayakan. Itulah yang membuat kita harus tetap belajar terus menerus. Termasuk belajar menjadi orang tua. Animal Husbandry adalah sebuah kumunitas yang tak lepas dari kehidupan kita sendiri. Sebuah komunitas yang menuntut kita untuk tetap komitmen dan selalu konsisten terhadap kehidupan. Sisi lain dari sebuah Black Box.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.