Skip to content


Catatan akhir tahun 2009

image0017.jpg

Akhir Desember adalah hari-hari panjang yang terasa sangat pendek. Bandung, Semarang, Surabaya, dan Jember adalah kota-kota yang sangat rutin dilalui dari tahun ke tahun. Walaupun di Bandung kita bisa menemukan makanan-makanan tradisional. Namun di “kampung”, menikmati makanan seperti tahu campur, wedang ronde, wedang sekoteng, wedang bajigur, bandrek gula aren, pecel daun kenikir ataupun genjer rasa tauco tetaplah lebih menyenangkan. Makanan tidaklah sekedar mewakili masalah kenikmatan semata. Ada kehangatan rohani dan kenyamanan hati yang berbeda manakala kita menikmatinya di sebuah tempat yang merefleksikan masa lalu.

Pulang kampung tetaplah merupakan tradisi yang harus dihormati sebagai bagian ‘pendewasaan’ diri dari waktu ke waktu dan merawat rohani. Pendewasaan itu tak mengenal waktu. Bagi seorang anak tak cukup kita berkomunikasi melalui tilpon atau sms. Mengunjungi makam orangtua, bertemu langsung dan silaturahim dengan orangtua yang masih ada dan keluarga hukumnya adalah wajib.

Selama perjalanan pulang itu aku punya banyak waktu untuk kontemplasi, mengulas dan merenungi kisah balik, mengkaji moral dan bahkan harapan maupun impian yang telah tercapai maupun yang tidak dan belum tercapai di tahun 2009. Merenung adalah sebuah nikmat yang diberikan Tuhan sebagai proses awal untuk memperbaiki diri. Aku beruntung dapat melewatii tahun 2009, walaupun penuh rintangan Tuhan SWT selalu menyediakan ruang untuk memudahkan agar aku dapat melewatinya, dialah yang menyalakan lilin manakala kegelapan menyelimuti hati dan memberi petunjuk manakala aku ragu memutuskan sesuatu. Aku pasti mensyukurinya apa yang terjadi selama setahun terakhir. Namun kewajiban selanjutnya adalah merawat nilai-nilai itu.

Kesepakatan tidak mengikat

Di bulan desember 2009 ini aku menemukan sebuah kalimat yang memberi pengayaan bahasa yaitu Kesepakatan tidak mengikat setidaknya dari segi makna, arti dan kontektual. Ini adalah istilah yang mengacu pada hasil KTT Kopenhagen. Hasil KTT tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen tidaklah terlalu mengagetkan. Basis ideologis, orientasi politik dan kepentingan ekonomi berbagai Negara sangat heterogen dan tak mudah untuk diarahkan dalam satu tujuan bersama. Susah banget diajak kooperatif tapi mahir kalu berperilaku konfrontatif. Bumi terancam punah dan mereka masih bicara tentang identitas, itulah masalahnya.

Fakta bahwa kita hidup bersama dalam satu biosfer tak lantas memberi pencerahan dan pemahaman yang sama. Eksistensi kehidupan sudah lama direduksi dan tereduksi oleh pemikiran dan paham yang rakus, serakah dan egois. Hampir semua Negara di dunia ini pada dasarnya menjalankan kehidupan bernegaranya secara sekuler. Bahkan di Negara-negara yang secara konstitusional menggunakan agama sebagai landasan dasar bernegara, faktanya hanyalah sekedar ritual. Dalam praktek kehidupan sehari-hari agama tidak mampu memberi pencerahan pada mereka apalagi diamalkan. Agama dan politik semakin berbaur dan tambah cair.

Sejak kecil kita diajarkan untuk berbuat dan beramal selebihnya biar Tuhan yang menilai amalan itu. Sebagian orang mengintepretasikannya secara kuantitatif. Dan gejalanya adalah orang menjadi merasa punya hak yang melebihi kewajibannya. Merasa lebih penting dibandingkan yang lain. Merasa lebih bermartabat dibandingkan yang lain. Dan gema dan refleksinya tergambar dan terpantul dalam perilaku bernegara.

Sangat menarik artikel yang ditulis Jonas Gahr Store, Menteri Luar Negeri Norwegia. Sebuah seruan untuk bertindak. Tentang fakta, ancaman, dan tindakan segera yang harus dilakukan menyikapi perubahan iklim. Dibutuhkan kepemimpinan yang visioner, yang mau melihat di luar batas kepentingan sempit Negara atau saling salah menyalahkan dan mencari kompensasi, ke arah ancaman masa depan bagi planet kita yang semakin rapuh.

Semoga kita bisa memahami makna yang terkandung dalam QS An Naml ayat 88 dan 89:” Wa taral jibaala tahsabuhaa jaamidataw wa hiya tamurru marras sahaabi shun’allaahil ladzii atqana kulla syai-in innahuu khabiirum bi maa taf’aluun. Man jaa-a bil hasanati fa lahuu khairum minhaa wa hum min faza’iy yauma-idzin aaminuun”.

Kini tahun 2009 telah berlalu, kita. Crouch, walk, twitter, feed, walk, stand idle, preen, motionless and crouch. Banyak hal telah kita lalui, kita lewati dan kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri di tahun 2009. Aku tak bisa menilai karena tak ada seorangpun yang paham, tahu dan mengerti apa arti dan makna yang telah kita lalui hanya Tuhan yang tahu dan berhak menilai apa yang telah kita lakukan.

Banyak kejadian dan peristiwa yang tak aku pahami di tahun 2009. Banyak orang-orang hebat meninggalkan kita dan banyak ide-ide baru bermunculan. Dan puncaknya hanya sehari menjelang berakhirnya tahun 2009, kita dikejutkan dengan meninggalnya Gus Dur. Tokoh yang cukup kontroversial namun harus diakui beliau sangat gigih membela kaum minoritas, orang-orang tertindas. Kembali, seorang Bapak bangsa negeri ini berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT sesuai amal ibadah selama beliau mendharma baktikan pada ibu pertiwi.

Pulang adalah sebuah kata yang penuh misteri. Kita serasa sangat nyaman untuk dapat pulang kemanapun kita memang harus pulang. Rumah kita, orangtua-orangtua kita, kota-kota tempat di masa kecil bermain dan bersendau gurau. Tak semestinya kita meragukan kebesaran Tuhan SWT dan pulang pastinya tak identik dengan pasrah. “Innal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati kaanat lahum jannaatul Firdausi nuzulaa.” (QS Al Kahfi 18:107).

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.