Skip to content


Seperti angin. Tak dapat dilihat namun bisa dirasakan.

image0029.jpg

Jam menunjukkan pukul 14 siang, awan putih masih terlihat berarak-arak menyelimuti langit biru di kawasan Wanasuka. Namun bukit-bukit nan indah disana tak lagi terjangkau oleh mata. Hanya hamparan luas hijauan kebun teh di kanan kiri jalan yang sedikit mengobati. Sepi menyelimuti sepanjang jalan yang licin dan berkerikil tajam, dan menjadi saksi bisu perjalanan spiritual yang rutin kujalani dari waktu ke waktu.

12 menit telah berlalu dan segala sesuatu yang tadinya nampak menakjubkan berubah menjadi sekedar jalinan bayang-bayang. Dan bukan hanya sejauh mata memandang namun juga apa yang ada dihati dan pikiran. Perjalanan ke Cihawuk tidak sekedar menorehkan sebuah kilasan tempat dan waktu. Tempat yang selalu membuat aku takjub akan keindahannya dan orang-orang yang luarbiasa daya survivalnya. Setiap kali menyusuri jalan-jalan di sana, selalu ada perasaan yang tertinggal, aku seakan ada di sebuah ruang penuh kenangan. Mungkin seperti manakala kita meninggalkan kampung halaman sendiri, keluar dari halaman rumah orang tua. Kesejukan dan keheningan adalah wahana penting untuk olah pikir dan bertalisilaturahim dengan Tuhan melalui alam.

Aku selalu meyakini bahwa perjalanan adalah sebuah waktu yang diciptakan Tuhan agar kita selalu mau berpikir dan mencerna manfaatnya. Tak ada hari yang tak memiliki makna. Tak ada waktu yang tak memiliki arti. Jadi alangkah beruntungnya jika kita memaknai hari dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan alangkah menyedihkan jika kita dipaksa memungut waktu dengan bersepi diri dan sekedar pasrah. Tuhan, adakah sebuah makna dari tingkah laku seekor sapi perah agar manusia bisa belajar banyak darinya?. Seekor ternak yang mampu menggugah seorang yang lembek menjadi jauh lebih kuat?.

Seekor ternak yang sociopath semestinya menjadi bahan pembelajaran dan petunjuk agar manusia menemukan jatidirinya sebagai manusia. Dan blackbox yang kita miliki, benar-benar dapat menjadi sensor yang baik menjadi manusia yang paripurna. Manusia yang tidak malu-malu memotivasi dirinya dengan cara melihat dan merasakan apa yang pernah dirasakan seekor pedet sekalipun. Crouch, walk, twitter, feed, walk, stand idle, preen, motionless and crouch.

Jadi, kebisingan yang terjadi di ruang publik akhir-akhir ini, aku rasa tidak semuanya harus ditimpakan dan menjadi tanggung jawab pemerintah. Kita pun harus belajar bertanggung jawab pada diri sendiri dan bersikap proporsional. Dan masyarakat sekitar kita, sudah baikkah kita-kita ini dihadapan Tuhan? Kalau sudah baik, barangkali kita tidak akan melihat antrian sangat panjang di hari raya Qurban untuk mendapatkan 1,5 kg daging. Ibu-ibu dan anak kecil saling berebutan jatuh bangun. Solidaritas social mungkin semakin rendah dan kita sangat permisif terhadap etika, moral dan agama. Pelanggaran hukum diawali dari situ, individu-individu yang kurang ramah pada lingkungan social. Kita pasti tak ingin semakin meluasnya masyarakat yang sosiopath dan mungkin juga anthropath.

A walk to remember.

Kali ini aku tidak sedang mengingat perjalanan ke Wanasuka ataupun Cihawuk. Dengan communicator 9500 yang setia menemaniku kesana kemari, aku hanya sedang memikirkan dan belajar tentang makna pulang. Sebagai seorang muslim aku percaya pada takdir sesuai dengan yang ada pada ayat-ayat suci Al Qur’an. Banyak hal yang kadang sulit dijelaskan namun sebenarnya dapat kita dirasakan.

Aku pernah membaca sebuah novel yang membuat hatiku tergetar, karya Nicholas Spark. Novel ini menceritakan kisah Jamie Sullivan, seorang penderita kanker leukemia, tipikal gadis sederhana namun sangat tangguh dan setia dalam komitmen. Novel yang menjadi best seller dan dalam bentuk seluloid filmnya diperankan oleh Mandy Moore. Sebuah film dengan setting sangat indah dan inspiratif. Sayang, perkawinan Jamie dan Landon Carter berakhir jauh lebih cepat yang aku duga semula. Leukemia memang sebuah penyakit yang susah diatasi. “She went with her unfailing faith. She taught me everything about life, hope and the long journey ahead”. Begitu kata Landon. Cinta memang seperti angin. Tak dapat dilihat namun dapat dirasakan.

Cepat atau lambat seseorang akan dan harus segera pulang. Kita tak tak tahu seberapa jauh kita akan melakukan perjalanan itu. Namun penting untuk dipahami bahwa selama perjalanan, harus ada asosiasi, apapun itu bentuknya. Mungkin aktivitas utama yang sangat dominan adalah eksplorasi. Membangun persepsi dengan mencoba memahami karakteristik lingkungan. Mengumpulkan informasi sangatlah penting untuk memahami tanggung jawab kita sekaligus untuk merespon dan akhirnya sebagai bagian untuk feedback ke lateral dan vertikal.

Dan kadang informasi itu menjelma menjadi sebuah memori. Tak ada yang salah dengan eksplorasi sejauh itu untuk tujuan jangka panjang. Bersiap diri menunggu jemputan malaikat. Jamie Sullivan, seorang gadis yang lugu, sejak dini telah mempersiapkan dirinya untuk dijemput malaikat setiap saat dan setiap waktu. Meninggal pada usia 22 tahun mungkin masih terlalu dini untuk orang sebaik Jamie.

Dan bagaimana dengan sikap seorang anak manusia terhadap hewan dan ternak sahabat manusia?. Tentang animal welfare: assessment and moral judgement?. Mungkinkah kita mau memikirkan sejenak, menyimak dan merenungi pesan singkat sebuah paragraph nan pendek ini: When scientific evaluation of welfare has been carried out, there remains the moral question of how poor welfare should be before it is regarded as unacceptable. Sebuah opini yang layak kita renungkan bersama. Itulah sisi lain perjalanan ke Wanasuka dan Cihawuk yang membuat dadaku serasa sesak, karena setiap orang yang belajar tentang ethologic pasti dipaksa untuk bertanya-tanya dan menjawab sendiri: Why does it happen?.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.