Skip to content


Tumbuhan dan hewan membantu kita belajar tentang dasar-dasar moralitas. Dan, sesama manusia bisa belajar saling melengkapi sesuai kodratnya

image0028.jpg
Akhir-akhir ini hampir setiap hari terutama menjelang ba’da azhar, kampus Unpad Jatinangor seringkali diguyur hujan. Aneka spesies yang tadinya menghilang, pada musim penghujan mulai bermunculan. Pohon-pohon mulai tak layu lagi. Daun-daun merebak, menghijau tumbuh melebat. Aneka burung, cacing dan serangga jauh lebih banyak populasinya dibandingkan pada musim kemarau.

Dan di hari-hari seperti sekarang, bibi2 cleaning service yang biasanya agak sedikit santai bekerja. Di musim hujan seperti ini, harus bekerja lebih keras. Mahasiswa2 banyak yang menabur kotoran melalui sepatu-sepatu yang belepotan dengan lumpur basah. Koridor gedung 4 dan 5 Fapet yang biasanya agak sepi kalau sore hari nampak penuh oleh mahasiswa. Mereka bukannya sedang belajar, namun hanya sekedar berlindung, bersendau gurau sambil menunggu redanya hujan.

The basic information about the multiple (alternative) uses to which the scarce resources can be allocated is supplied by other physical & biological sciences. The research in these sciences should continually generate the relevant data on alternative technologies & practices whose profitability can be tested under actual farm situations. And these data are required for the farm organisation as a whole & not far for a single hectare, animal or tree.

Sedang kuliah Farm Manajemen?. Oh. Ngga’ koq?. Paragraf di atas hanyalah sekedar ilustrasi belaka untuk memberi gambaran apa yang akan dilakukan kelak oleh anak2 Fapet, mungkin 4 tahun ke depan [dan mungkin juga ngga akan pernah mereka lakukan]. Saya sedang berhadapan, berinteraksi dan berkolaborasi dengan anak2 yang sedang praktikum mengenai ekosistem. Kebetulan anak2 mahasiswa itu sedang praktikum biologi outdoor, melakukan pengamatan komponen abiotik dan biotik, dan ekosistem di daerah sekitar kampus: mulai dari daerah arboretum di depan fakultas Biologi sampai ke belakang kampus: di area kebun kemiri atau kebun Muntjang.

Berinteraksi dengan mahasiswa adalah suatu kegiatan yang sangat menyenangkan. Banyak pikiran2 rumit yang sedang saya hadapi menjadi cair setelah bertemu dan berdiskusi dengan anak2 mahasiswa. Dunia mahasiswa yang sangat abstrak, dinamis, inovatif dan kreatif, dengan latar belakang social budaya yang sangat beragam seringkali membantu dan memperkaya saya dengan aneka bentuk masukan pemikiran. Itulah yang membuat kehidupan yang abstrak ini sangat indah untuk dinikmati dan pastinya untuk disyukuri.

Hari ini anak2 mahasiswa 2009 Fapet Unpad melakukan praktikum biologi: outdoor. Observasi dan membuat film pendek tentang tumbuhan dan hewan. Seperti halnya hewan maka tumbuhan adalah makhluk Tuhan yang harus disyukuri keberadaannya. Generasi sekarang mestinya berterimakasih pada para ilmuwan terdahulu yang telah memberikan warisan ilmu yang luar biasa. Joseph Priestley sekitar 200 tahun yang lalu sudah menemukan bahwa tumbuhan menghasilkan oksigen. Tahun 1961, Melvin Calvin memenangkan hadiah Nobel dari hasil penelitiannya menggunakan pencatat radioaktif untuk mengetahui bagaimana tumbuhan mengubah karbondioksida menjadi gula. Jadi kalau anak2 Fapet 2009 tidak bisa menghapalkan 30 macam saja aneka tumbuhan di sekitar kebun Muntjang pastilah ada sesuatu yang salah dengan tujuan pendidikan?.

Saya selalu menyampaikan pesan pada mereka, bahwa apa yang mereka kerjakan pada hari ini harus dinikmati. Bukan karena hari ini mereka sedang menabung untuk mempersiapkan masa depan namun lebih dari itu. Setiap detik, setiap menit dan dari waktu harus dinikmati dan disyukuri. Nikmat dari Tuhan itu sewaktu-waktu dapat tercabut tanpa kita tahu kapan akan terjadi. Hewan dan tumbuhan pun memberikan pembelajaran tentang akhlak dan moral.

Belajar atau kuliah tidaklah sekedar untuk transfer teknologi atau teori. Proses pembelajaran sebaiknya juga memberikan nilai tambah berupa value atau nilai2 kebaikan. Harus membuat mahasiswa lebih pandai namun bijak, membuat mahasiswa kritis tapi tetap menghargai pendapat orang lain. Dan, mereka juga harus peka pada lingkungan. Barangkali kita bisa belajar dari Naidu dkk dari The University of Melbourne: Our pedagogy is based on the belief that learning is most efficient and effective when it is situated in realistic settings where learners are clear about, not only the reasons for learning but the context or the ecology of their learning environment. Atau seperti kata Brown: Learning in situated settings provides for richer sources of knowledge than does learning from didactic descriptions.

Di Kebun Muntjang, hari ini saya banyak mendapat pembelajaran lumayan banyak. Aneka tumbuhan dan hewan. Banyak yang tidak saya ketahui spesiesnya juga. Dan, cukup penting untuk dijadikan pembelajaran, ternyata untuk sekedar jalan2 yang tentunya penuh nuansa refreshing seperti ini, membutuhkan energy lumayan tinggi. Mungkinkah karena usia tua yang menggerogoti fisik? Mungkin yaa, mungkin juga tidak.

Namun sepertinya pada saat-saat seperti ini, kita perlu lebih memaknai QS Ar Ra’du. Surat 13: ayat 3. :” Dan Dialah Tuhan yang mendatangkan bumi dan menjadikan di atasnya gunung-gunung dan sungai-sungai. Dia jadikan dari tiap buah-buahan sepasang-sepasang. Dia menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum berfikir.

Terimakasih Tuhan. Hari ini bersama-sama dengan teman-teman mahasiswa, aku bisa jalan-jalan, menikmati kekuasaan dan kebesaranMu. Wa lahum fiihaa nmanaafi’u wa masyaaribu a fa laa yasykuruun.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.