Skip to content


Kehidupan dan kematian di dunia yang sunyi. Komensalisma bisa ditunjukkan oleh makhluk ‘beradab’ yang tak pernah melalui jenjang pendidikan di sekolah.

diw.jpg

Steven Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People menuliskan: We may be very busy. We may be very efficient. But we will also be truly effective when we begin with the end in mind. Sebuah kalimat yang sarat makna dan penuh nilai.

Jujur, tak mudah memahami buku Small Scale Livestock Farming: A Grass-Based Approach for Health, Sustainability, and Profit. Buku Karangan Carol Ekarius itu didedikasikan untuk Doug Spear yang meninggal 10 tahun yang lalu tepatnya tanggal 2 Februari 1999. Buku untuk seorang kawan, yang ditulis untuk didedikasikan pada seorang sahabat. Itulah yang aku sukai, kado untuk sebuah persahabatan. A great friend, a craftsman and artisan, a chicken fancier and a person who taught us a lot about sustainability. His flame will burn on, in the hearts of his family and friends. Begitu kata Carol pada Doug.

Tafsir dan dedikasi bisa jadi adalah sebuah fakta namun bisa juga berarti metaphor bagi kehidupan orang lain. Konon ‘makna” dalam bahasa hanya menggambarkan masalah perbedaan. Proses pembedaan dalam bahasa dapat dilacak tanpa berkesudahan, namun demikian bahasa membentuk sebuah sistem yang tertutup dan stabil. Setidaknya itulah gagasan Saussure. Jika setiap tanda menjadi dirinya sendiri karena ia bukan tanda yang lain, setiap tanda akan terdiri dari jaringan perbedaan yang secara potensial tak terbatas. Makna merupakan produk sampingan dari permainan penanda yang secara potensial takkan berakhir dan bukan sebuah konsep yang terikat kuat pada ekor sebuah penanda tertentu.

Satu hal yang sangat menyenangkan dari belajar biologi adalah fakta bahwa kita bisa menghubungkan banyak hal dari faktor abiotik dan biotik di bumi ini. Dan aku juga sangat beruntung bisa mempelajari sisi lain dari kehidupan. Hubungan paling nyata antara berbagai hewan. Misalnya? Dalam ichthyology kita bisa mengenal hubungan antara pemangsa dan mangsa, hubungan antara ikan paling kecil yang jumlahnya sangat melimpah bahkan juga haring, sardine, ansowi, kilau emas sampai makerl, ikan biru, kakap dan sebagainya. Hubungan komensalisma sudah ditunjukkan oleh makhluk ‘beradab’ yang tak pernah melalui jenjang pendidikan di sekolah.

Lihatlah, ikan pandu yang hampir selalu menemani cucut perairan tropik. Ikan pandu panjangnya sekitar 30 sentimeter dan berwarna biru dengan lorek lebih gelap di sepanjang sisi tubuhnya. Ikan pandu berenang berdampingan dengan cucut tepat di bawah dan di belakang kepala cucut, gerakan ikan pandu selaras dengan gerakan pemangsa besar tersebut dengan ketepatan yang mengagumkan. Ikan pandu yang telah dikenal bangsa Yunani dan Romawi Kuno dan sejak dahulu diperkirakan bahwa ikan tersebut membimbing cucut ke tempat makanannya.

Namun yang benar adalah kebalikannya, sebab ikan pandu sebetulnya menantikan sisa makanan cucut. Dan ikan pandu tidak selalu mengiringi satu cucut saja seperti yang semula diperkirakan, justru sebaliknya apabila satu diantara sekelompok cucut makan sesuatu ikan pandu akan bergabung dengan cucut yang sedang makan itu. Untuk cucut, hubungan dengan ikan pandu tidaklah membawa keuntungan nyata, cucut hanya membiarkan kehadiran ikan pandu belaka. Frietz W Went, menggambarkan “kehidupan dan kematian di dunia yang sunyi” itu dengan bagus.

Dulu di jaman sekolah dasar, para guru pun sering menceritakan hubungan itu dalam cerita kuntul perak kecil di daerah tropic yang sering hinggap di atas punggung kerbau dan membersihkan kutu dengan paruhnya yang tajam. Ada juga cerita tentang burung kedidi Mesir yang suka membersihkan gigi buaya di pinggir sungai Nil.

Dan bagaimana dengan cerita tentang buaya dan cicak yang mengusik hari-hari terakhir di bumi pertiwi?. Kelihatannya revolusi ICT dan evolusi budaya tidak mengajarkan kita untuk menjadi bangsa yang semakin sehat secara rohani. Bangsa yang diisi oleh orang2 bijak dan santun. Bangsa yang lebih mengkedepankan nilai. Bangsa yang memaknai agama sebagai nilai-nilai sosial yang sangat hakiki. Tokoh2 budaya mulai tak santun lagi dalam berbicara, tokoh2 agama mulai tak bijak dalam menyuarakan nurani dan kebenaran. Hukum dipolitisir dan ruang public didominasi. Seperti hidup di hutan, yang berlaku hukum rimba. Semua pengin berteriak sekeras-kerasnya dan sekencang-kencangnya.

Kita bisa memaknai salah satu surat dalam Al Qur’an. “Wa qaalal ladzii aamana yaa qaumi innii akhaafu ‘alaikum mitsla yaumil ahzaab. Mitsla da’bi qaumi nuuhiw wa ‘aadiw wa tsamuuda wal ladziina mim ba’dihim wa mallaahu yuriidu zhulmal lil ‘ibaab. Wa yaa qaumi innii akhaafu ‘alaikum yaumat tanaad. Yauma tuwalluuna mudbiriina maa lakum minallaahi min ‘aashimiw wa may yudhlilillaahu fa maa lahuu min haad.” (QS Al Mu’min 40:30-33).

Semoga masalah buaya dan cicak segera usai. Tak ada yang beruntung dari melebarnya masalah itu, bahkan seorang koruptor pun tak akan diuntungkan, percayalah. Kita bisa belajar pada seekor ikan cucut, belajar pada kuntul perak, bahkan pada perilaku burung kedidi dan kerbau. Manusia adalah makhluk paling beradab masa’ kalah sama hewan?

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.