Skip to content


Sebuah cerita yang bernama kerja kolektif

image0015.jpg

Hari nampak cerah walaupun udara sedikit mendung. Jam telah menunjukkan pukul 10. 20 pagi, ketika beberapa menit yang lalu kami meninggalkan Stasiun Tasikmalaya. Biasanya jam-jam seperti sekarang kami asyik belajar dan diskusi dengan para mahasiswa di kampus Jatinangor.

Kampus adalah area dan wahana menyenangkan untuk mewujudkan sebuah ide atau sebuah mimpi dapat diubah menjadi kenyataan. Kampus mestinya bukanlah sebuah bangunan yang menakutkan, bukan pula sebuah penjara yang mengekang kebebasan berpikir dan membatasi ruang gerak dan kreasi. Kampus adalah sebuah tempat dimana generasi kreatif dirancang dan dikembangkan untuk menjadi pilar penting pembangunan karakter bangsa.

Dengan apa dan bagaimana kita merancang generasi kreatif harus dipikirkan secara serius dan sistematis. PKM dan sejenisnya yang dirancang oleh Dikti sangat bagus untuk proses pembelajaran. Mungkin design yang lebih luas dapat ditingkatkan. Kreatifitas yang orisinal dan muncul karena kebutuhan masyarakat masih terlalu sedikit dan terbuka lebar untuk dikembangkan dan dilaksanakan.

Secara substansi dan ide, Teknologi kreatif baik melalui hardskill dan softskill diperlukan dan dapat diterapkan di semua sector. Peluang pengembangannya pun masih terbuka lebar. Kritik paling tidak enak yang sering kita dengar adalah kita termasuk bangsa yang miskin kreasi, bangsa yang hanya mau menikmati hasilnya namun kurang peduli terhadap proses. Pasti banyak yang tidak setuju dengan statemen di atas. Karena orang Bali, Yogya, Bandung dan beberapa daerah lain dikenal karena justru kreatifitasnya yang tinggi. Ekonomi mikro maju sangat pesat di daerah itu pasti karena tingginya kreativitas SDM di daerah tersebut.

Namun secara umum kreatifitas di sektor-sektor hulu memang masih harus ditingkatkan. Sektor budidaya kurang menarik untuk ditekuni oleh generasi muda. Itulah yang sangat mengkhawatirkan. Padahal mungkin disitulah akar masalah ketergantungan bangsa kita pada bangsa lain? Ketertinggalan kita pada bangsa-bangsa lain. Ketahanan pangan adalah masalah besar bangsa yang sedang kita hadapi. Di bidang2 dan sektor tertentu itulah yang harus dipacu secara sistematis. Dan pastinya kita sangat berharap banyak pada generasi muda. Pada merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Kita beruntung, daerah2 luar Jawa mulai menggeliat, menjadi sentra2 produksi bahan pangan. Propinsi Gorontalo, Propinsi Sulawesi Selatan dan bahkan banyak daerah seperti kota Kecil di Kalimantan Tengah yaitu Kotawaringin Barat mulai berbenah. Pangkalan Bun, salah satu yang selalu ada di memoriku sejak kanak2 termasuk didalamnya. Sangat menyenangkan, daerah itu menggeliat, tumbuh dan berkembang.

Jatinangor adalah sebuah kawasan yang pekat dan lekat dengan ide-ide besar. Ilmuwan dan juga calon-calon ilmuwan ada di kawasan itu. Beragam latar belakang suku dengan budaya yang berbeda, berbagai disiplin ilmu, berbagai aneka keinginan dan cita2 hanyalah sebagian kecil dari potensi yang ada. Dari merekalah kelak sebagian cita2 bangsa dipertaruhkan. Itulah yang membuat waktu yang semakin pendek ini benar2 ingin aku gunakan sebaik2nya untuk berinteraksi dengan komponen dan komunitas di situ. Jika memungkinkan aku sangat menikmati berada di kampus, pagi jam 06.15 sd 17.00 adalah hal rutin dan selebihnya memang sangat situasional.

Banyak anak2 mahasiswa dari berbagai daerah yang memiliki potensi bagus. Namun secara umum ada kesenjangan dalam pemahaman dari para mahasiswa terhadap program-program dan ide besar yang menjadi prioritas pembangunan manusia. Tak banyak yang paham dengan MDG, hanya sedikit yang mengerti dan paham IPM, dan sebagian besar acuh tak acuh dengan masa depan bumi dan kehidupan didalamnya. Semoga mereka sedikit paham tentang kemandirian dan hakekat sebuah pembelajaran. Tidak harus paham dan mengerti semuanya dari A sd Z namun setidaknya tahu kisi-kisinya.

Banyak hari-hari sulit yang harus aku lewati. Adalah sebuah keberuntungan aku dapat melewatinya. Kebesaran Tuhan sangat membantuku mengatasi sebagian besar masalah itu. Ke depan apakah Tuhan juga masih akan memberikan kesempatan ulang?, wallahualam. Keberuntungan tak akan terjadi terus menerus. Pada akhirnya pasti ada sebuah titik dimana kita mesti berhenti.

Suara lain yang juga muncul dari relung2 terdalam sel-sel neuronku mengajak untuk lebih menyederhanakan berbagai persoalan. Praktisnya, masalah muncul karena pemikiran dan kemauan secara kuantitatif tak cukup seimbang dengan kualitas pribadi seseorang. Walaupun kita percaya sebuah ide kerja kolektif namun pada dasarnya jika ada kesenjangan kualitas tanggung jawab maka akan menimbulkan masalah. Itulah barangkali yang menjadi sebuah inspirasi untuk memutuskan usainya sebuah cerita yang bernama kerja kolektif.

Well, banyak orang-orang hebat yang berusia pendek. JF Kennedy, Malcolm Little, So Hok Gie, dan sangat banyak lagi. Dengan usia yang relatif pendek mereka menghasilkan karya besar. Nama mereka dikenang generasi masa kini dan generasi masa depan karena karya-karyanya. Memang tidak mudah, namun teknologi kreatif, industri kreatif mungkin bisa menjadi salah satu alasan kenapa kita mesti hari ini membiasakan diri untuk belajar, bekerja dan berkarya. Ide besar harus dikerjakan secara kolektif dan bertanggungjawab dengan semangat dan etos yang maksimal.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.