Skip to content


Era untuk memudahkan kita bisa belajar lebih cepat, menembus ruang dan waktu.

image0034.jpg

Menikmati proses belajar mengajar adalah sesuatu yang harus dirawat dari waktu ke waktu. Semangat itulah yang akan membuat seorang pengajar tidak merasa terbebani oleh persiapan GBPP, pengembangan pokok bahasan dan metode pembelajaran yang ingin digunakan. Dan di sisi lain mahasiswa akan memperoleh bukan hanya output namun juga outcomes dari suatu perkuliahan. Mungkin dengan cara itu pulalah, mahasiswa tidak merasa jenuh dan mendapatkan sisi lain dari proses pembelajaran.

Era ICT benar-benar telah memberi peluang dan ruang yang sangat luas untuk mengembangkan dan mentransformasi metode pembelajaran konvensional ke arah metode yang lebih interaktif dan imajinatif. Kita sangat bersyukur dan berterimakasih pada Claude E Shannon seorang pakar digital teknologi informasi. Bukunya yang terkenal “A Mathematical Theory of Communication” memberi inspirasi banyak ilmuwan lain untuk pengembangan ICT dan software aplikasinya bisa dinikmati oleh kita semua.

Awal bulan oktober adalah hari-hari yang paling sangat ditunggu oleh para ilmuwan. Inilah hari-hari pengumuman dari Royal Swedish Academic of Sciences, tentang siapa saja yang beruntung menjadi pemenang hadiah Nobel pada tahun berjalan. Sebagai pengajar biologi dan kesehatan tentunya aku menunggu siapa ilmuwan di bidang itu yang menjadi jawara. Tentu tak semua ilmuwan berpikir dan bekerja untuk mendapatkan hadiah Nobel. Ilmuwan sejati bekerja dan meneliti untuk tujuan kemanusiaan, dan mencoba mengurai rahasia kehidupan.

Tahun ini yang beruntung mendapatkan hadiah Nobel di bidang kedokteran adalah Elizabeth Blacburn, Carol Greider dan Jack Szostak. Sebenarnya sudah sekitar 30 an tahun yang lalu mereka berusaha memecahkan dan mengurai masalah2 yang berkaitan dengan biologi molekuler. Bagaimana kromosom mampu mengkopi diri secara sempurna saat membelah diri dan bagaimana mereka melindungi diri dari degradasi. Dengan kata lain mereka memberikan pemahaman baru tentang teori penuaan sel, tentang kanker dan yang lebih penting masalah2 penyakit dan obat2an akan memanfaatkan karya mereka.

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat adalah penemuan mereka berupa enzim dan kerja enzim telomerase. Inilah enzim yang membuat kromosom sel tetap “muda”. Dengan diketahuinya cara telomere bekerja dan dikopi maka ke depan akan diktahui bagaimana cara mencegah penuaan, mengatasi stress, penyakit2 seperti gangguan kardiovaskuler, kebutaan dan lain-lainnya sehingga tentunya akan meningkatkan kualitas kesehatan dan mungkin juga umur kita.

Di bidang kimia, pemenang Nobel tahun 2009 ini juga ngga jauh-jauh amat dengan masalah kesehatan dan penyakit. Juri memutuskan 3 orang peneliti handal yaitu Venkatraman Ramakrisnan, Thomas A Steiz dan Ada Yonath menjadi pemenang hadiah nobel. Riset mereka menggunakan X ray crystallography untuk mengetahui tentang struktur 3 dimensi dan fungsi ribosom membuka peluang pengembangan obat-obatan khususnya antibiotic yang lebih manjur dan mujarab. Dan seperti halnya di bidang kedokteran, pengembangan obat-obat baru pastinya akan berkorelasi dengan prevalensi penyakit.

Bagaimana dengan kita? Para peneliti dan mahasiswa di Unpad? Ilmuwan dan budayawan bertugas merawat peradaban suatu bangsa. Hari ini aku merasa berada di lorong kegelapan, hanya ada sedikit cahaya dan pengap. Jarak atau gap penguasaan teknologi kita dengan para peneliti di luar secara umum relative sangat jauh. Proses pendidikan di negeri kita lebih banyak mengkedepankan hal2 yang bersifat transaksional, belum banyak institusi yang memiliki visi pengembangan yang substansional untuk mengatasi persoalan bangsa dan khususnya masyarakat.

Bagaimana dengan etos kerja kita?. Agak memprihatinkan. Fenomena dan gejala yang terlihat adalah semakin banyaknya “ilmuwan2” yang lebih senang dan larut ke dalam lembaga birokrasi. Dan yang lebih parah lagi tak sedikit yang bermental asal punya gelar tinggi, asal cepat naik pangkat/jabatan, klo bisa jam ngajarnya dikit dan menghindari yang namanya praktikum. Buku dan bahan2 ajarnya pun jarang di update, so bertahun-tahun ngga ganti2 dan jarang mau browsing karena gaptek ICT.

Salah satu cara memperpendek gap itu barangkali adalah dengan meningkatkan etos kerja dan berpikir konstruktif dan secara berkala memperbaiki metodologi pembelajaran. Metode konvensional dalam pembelajaran kadang diperlukan tapi ada baiknya mencoba metode lain yang lebih handal dan teruji. Masalah pedagogic sungguh sangat serius untuk mengurangi kesenjangan. ICT adalah pilihan untuk bisa memperpendek gap itu. Memotivasi para mahasiswa adalah satu hal tapi mempersiapkan mereka secara sistematis untuk mau masuk dan bertarung mengatasi ketertinggalan inovasi teknologi adalah satu hal lain yang harus dipikirkan dan diimplementasikan. Bukan sekedar wacana.

Well., semoga anak2 mahasiswa baru memiliki semangat untuk mau mencoba menikmati pembelajaran Biologi berbasis SCL. Mungkin dengan cara itulah mereka bisa mencari sisi lain sebuah perkuliahan. Setidaknya ada sesuatu yang berbeda dan memiliki nilai tambah. Era ICT memudahkan kita untuk belajar lebih cepat, menembus ruang dan waktu. Dari ICT itu pula kita bisa mendapatkan inspirasi baru bahwa belajar pun bisa menyenangkan bukan semata-mata untuk menambah beban. Semoga!.

images.jpeg

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.