Skip to content


Kegelapan hanyalah sebuah perspektif, kadang kita pun perlu menikmati kegelapan.

image0013.jpg

Tepat pukul 11.45, KA Mutiara Timur yang aku tumpangi meninggalkan stasiun Jember. Hujan rintik-rintik hari ini membuat udara Jember sedikit lebih sejuk dibandingkan hari-hari biasanya. Aku sebenarnya masih ingin cukup lama untuk tinggal di sebuah kota yang menyenangkan ini. 3 hari tak cukup memuaskan untuk melihat dan menikmati kekhasan kota Jember. Esok pagi ada acara yang cukup penting di Bappeda Provinsi Jabar yang tak bisa diwakilkan dan itu mamaksaku pulang lebih cepat. Dan siangnya aku mesti ke Jakarta, tepatnya ke Dikti. Whe3x, 41%!.

Perlahan tapi pasti kami melewati Rambipuji, Tanggul, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Lapindo Sidoarjo sebelum akhirnya sampai ke Stasiun Gubeng, Surabaya. Jarak Jember ke Surabaya sebenarnya tak terlalu jauh. Namun walaupun jaraknya cukup pendek dan ditemani 8 gerbong yang padaty dengan penumpang, rasanya waktu berjalan sangat lambat. Pukul 16. 15 an KA tiba di stasiun Gubeng. Whe3x, Lumayan ada waktu sekitar 2 jam untuk santai di Sby sebelum melanjutkan perjalanan dengan KA Turangga yang akan berangkat pada pukul 18.00.

Udara panas Surabaya tidak terlalu menjadi masalah. Yang bikin kesal adalah gigitan nyamuk yang lumayan banyak dan badannya besar-besar. Nyamuk memang selalu mengganggu dan membuat masalah. Semoga nyamuk2 itu ngga bawa virus cikungunya.

Stasiun Gubeng di sore hari sebenarnya cukup menyenangkan. Beberapa pemusik dgn penyanyi yang entah sudah berapa tahun menjadi pelanggan tetap di situ selalu setia, menghibur para calon penumpang di Gubeng. Kebanyakan mereka melantunkan lagu2 nostalgia yang sangat dikenal banyak orang. Jadi Pas deH.

Tidak seperti bayangan semula, ternyata KA Turangga di hari ke 3 setelah lebaran tak sepadat yang aku duga. Setidaknya selama 3 jam pertama, aku tak punya teman sebangku. Baru di kota Madiun aku mendapatkan teman (cewek dari Pontianak) yang kebetulan berlibur di Madiun. Kelihatannya dia anak yang baik sekali, setidaknya mau berbagi cerita walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10 an malam.

Sebuah perjalanan perlu dinikmati. Aku selalu memperoleh pengalaman baru dari sebuah perjalanan ritual ini. Perjalanan panjang setiap semester, sudah menjadi rutinitas. Seberapa jauh nilai tambah yang bisa menjadi bahan renungan untuk perbaikan tidaklah terlalu penting, karena setiap langkah pasti meninggalkan jejak. Kadang kita tak menyadari jejak-jejak itu sampai akhirnya waktu menghapusnya dan orang lain mungkin memperoleh nilai tambah itu. Konon, orang berjalan di malam hari memberikan makna dan arti yang berbeda di siang hari. Begitu pula jejak yang ditinggalkan. Kegelapan hanyalah sebuah perspektif, kadang kita pun perlu menikmati kegelapan. Bukan untuk mencari wangsit namun untuk refleksi dan kontemplasi.

Kata orang: Silence is as full of potential wisdom and wit as the unhewn marble of great sculpture.

Sekitar pukul 11.15 KA Turangga sudah memasuki Yogya. Kota dimana aku pernah tinggal 5 tahun di sana selalu aku rindukan dan membuat dadaku agak bergetar. Tak banyak lagi teman2 yang ada dan setia tinggal di kota tua itu. Sebuah kota dengan arsitektur masyarakat dengan komunitas yang beragam, dinamis dan penuh dengan individu2 yang sangat artistic. Mungkin tak terlalu ekspresif namun justru nilai2 tradisionil lah yang membuat Yogya sebagai salah satu kota yang monumental secara pribadi.

Satu setengah jam kemudian kami sudah sampai di sebuah kota tempat aku dulu di awal tahun 80’an kami melaksanakan tugas KKN yaitu Kebumen. Aku pasti takkan pernah melupakan sebuah kota kecamatan yang bernama Kutowinangun, tepatnya di sebuah desa yang dipenuhi oleh masyarakat yang sangat agamis yang bernama Lumbu. Disanalah di hari ke 2 program KKN, aku sakit parah dan terpaksa dijemput oleh mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit. Sedih tapi aneh juga.

Melewati Kutowinangun di malam hari mengingatkan kami pada masa KKN dulu, yang untuk bisa makan malam agak mewah (minum kopi sambil makan pisang dan ayam goreng) harus turun gunung sejauh 5 KM. Warung pojok itu sudah lama tergusur. Itulah jalan hidup. Berlalu dengan cepat di telan waktu dan akan hilang dari ingatan jika kita tak pandai merawatnya.

Well, aku tak ingat jam berapa kami tidur malam, karena tahu2 kami sudah sampai Garut. Walaupun KA terlambat 1 jam tapi hari ini kami dapat memenuhi janji bertemu dengan teman2 di Bappeda dan sekaligus memperbaiki RIP untuk dibawa ke Jakarta.
image0043.jpg

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.