Skip to content


Proses juga tak kalah penting untuk pembelajaran dan penguatan spiritual

cartoon.jpg

It is not enough to just do your best or work hard. You must know what to work on. Dan sebenarnya kerja dan bekerja sangat berhubungan erat dengan hakikat ketulusan dan keikhlasan. Bertanya-tanya pada diri sendiri tentang apa yang telah kita lakukan pasti sangat berguna. Setidaknya sebagai hipotesis awal tentang sebuah gerak langkah ke depan. Dan juga untuk mengukur perspektif kita tentang keimanan.

Hari ini di fapet dilaksanakan acara rutin awal permulaan perkuliahan baru yaitu diskusi tentang evaluasi PBM di semester sebelumnya. Pada awalnya hanya sepertiga dosen yang hadir namun menjelang siang lumayan banyak yang datang, sekitar 80% dari jumlah dosen di Fapet. Lumayan panjang lebar juga evaluasi dan penjelasan dari para pimpinan Fapet. Walaupun bikin ngantuk, namun mungkin memang harus disampaikan agar ada perbaikan ke depan.

Di tengah keramaian, diskusi panjang lebar tentang evaluasi PBM sebelumnya dan apa yang mesti dikerjakan pada semester depan, ada satu hal yang patut direnungkan. Sepertinya ada sesuatu yang hilang dan tercerabut dari visi dan misi khususnya di Fapet dan umumnya di Unpad: yaitu evaluasi tentang etika akademika. Mungkin tak terlalu santun untuk dibicarakan di ruang public. Namun sesungguhnya ruang lingkup itulah yang mungkin perlu dikomunikasikan, didiskusikan dan tentunya merupakan komitmen bersama yang harus dilaksanakan.

If the skills which we would like students to learn have genuine utility in particular contexts, then one way to approach curriculum is to identify such contexts, and allow students to explore situations which they find most engaging and in which these skills naturally come into play.

Selama ini, mahasiswa dan stakeholders lainnya jarang diajak berbicara dan diskusi dari hati ke hati. Padahal merekalah sesungguhnya tolok ukur atau indicator penting keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Saya selalu percaya bahwa skill tumbuh dan berkembang dari hati, dari perasaan. Bekerja dengan ikhlas mungkin tak perlu ditonjolkan namun perlu dipahami bersama sebagai sebuah semangat.

Malam hari, di rumah pertanyaan itu muncul kembali. It is not enough to just do your best or work hard. You must know what to work on. Falsafah pembelajaran, falsafah pendidikan dan falsafah bekerja seiring dengan waktu kelihatannya sedikit demi sedikit tergeser oleh pragmatism. Sebuah rutinitas telah menjadi ancaman tujuan pendidikan. Semoga kekhawatiran itu sekedar sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di tengah ketidakyakinan akan sebuah keluhuran dan budi pekerti seorang pendidik.

Saya masih ingat apa kata Barbara Ward: “Janganlah terperangkap dalam ego sendiri, karena nanti akan menjadi penjara”. Saya masih memiliki mimpi yang bisa jadi sebentar lagi tinggal sebuah cerita. Namun saya tak ingin dipenjara oleh sebuah ilusi yang tak jelas ujung pangkalnya.

Seorang ibu bernama Harper Lee, pengarang To Kill a Mockingbird mengatakan: “Keberanian sejati adalah ketika anda telah mengetahui bahwa anda akan kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai, tapi anda terus saja bertanding”.

Banyak orang yang lebih mementingkan kepastian tanpa memahami bahwa proses juga tak kalah penting untuk pembelajaran dan penguatan spiritual. Jadi kadang-kadang kita perlu merenovasi ekspektasi-ekspektasi yang telah kita ramalkan sebelumnya dan menjadikannya sebagai sebuah tolok ukur sederhana agar kita tak tergoda dan puas dengan sebuah hasil.

Well.,kelihatannya kita harus belajar banyak dan mendefinisikan ulang tentang keberhasilan dan kegagalan. Keluhuran budi seorang pendidik biarlah diukur oleh mereka yang pernah bersentuhan secara rohani dengan kita. Karena secara teknis, ilmu tak seperti yang kita duga sebelumnya: ternyata sangat cepat berubah. Co-creation dan re-invent, kenapa tidak?

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.