Skip to content


Sepanjang yang kita ingat adalah kebaikannya, kita takkan pernah tercerai-berai.

image0024.jpg

Berbagai jalan di sudut kota Bandung hari ini macet total. Libur panjang pasti menjadi penyebabnya. Wabah virus influenza H1N1 dan maraknya terorisme akhir-akhir ini tak menjadi halangan bagi para pelancong untuk mengunjungi Bandung.

Sebuah kota dengan banyak kenangan, banyak harapan dan banyak perspektif memang selalu menarik siapa saja untuk datang. Virus dan terror, siapa takut?.

Well, hari ini adalah titik lain dari sebuah perjalanan waktu. Beberapa anak2 asisten Biologi dan Mankester, hari ini di wisuda (Sabtu, 15 agustus 2009). Menjadi seorang sarjana pastilah memiliki makna yang sangat berarti. Cita-cita adalah bagian penting dari sebuah harapan ke depan. Hari ini sebagian dari impian itu telah mereka gapai dan mewujudkan impian selanjutnya pastilah sesuatu yang mereka harapkan dapat segera tercapai.

Sebuah cerita melelahkan mungkin ada di hati anak2 (angkatan 2005). Disamping mengikuti perkuliahan, sepanjang tahun 2006 sd 2009 mereka selalu membantuku. 4 tahun mungkin bukanlah waktu yang pendek. Mungkin tak banyak yang mereka peroleh. Perlu waktu yang lebih panjang untuk membuat seseorang memiliki kesiapan memasuki area lain di luar. Semoga proses pembelajaran selama mereka mengikuti kuliah dari waktu ke waktu sedikit membantu mempercepat pendewasaan itu.

Mempersiapkan praktikum biologi dan mankester pasti menyita sebagian waktu dan juga hak previllage mereka. Praktikum hanyalah satu sisi dari banyak wajah pembelajaran. Namun juga bukanlah sebuah rutinitas. Merancang dan membuat materi pembelajaran memerlukan keseriusan. Dan SOP baku menjadi pegangan kita, untuk menjadikan proses pembelajaran sedikit lebih baik dari waktu ke waktu. Cita-cita kami tak muluk-muluk amat, yaitu agar selama mengikuti praktikum, mahasiswa memperoleh manfaat melalui pengembangan hardskill dan softskill.

Sekedar flashback. Selama ini anak2 asdos harus datang lebih pagi, setidaknya kurang dari pukul 07.00 dan pulang di sore hari pukul 17.00, setiap hari jumat dan kadang hari selasa. Dan jika ada memori yang terlewatkan, semoga kenangan itu bersemayam di hati mereka. Sebagian mungkin ada di diary book mereka masing2 dan sebagian aku yakin menempel di relung2 hati mereka. Itulah yang membuatku yakin bahwa perpisahan dengan anak2 asdos biologi tak kan mampu menceraiberaikan, bahkan akan semakin memperkuat, sepanjang yang kita ingat adalah kebaikannya.

Konon, belajar adalah untuk memerdekakan diri kita dan orang lain dari belenggu ketidaktahuan. Belajar dan memberi pembelajaran merupakan satu kesatuan. Mencoba mencari pemahaman akan suatu hakikat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari adalah esensi sebuah budaya ilmu. Jadi orang berbudaya adalah orang yang mau berbagi ilmu dan berempati terhadap sesama melalui ilmu.

Sejarah selalu berulang dari waktu ke waktu. Dari tahun ke tahun, salam perpisahan terpaksa harus aku sampaikan ke teman2 dan sahabat2 tercinta. Tak ada yang harus diingatkan karena mengingat-ingat sesuatu kadang lumayan melelahkan. Tak ada yang harus dikasihani karena belas kasihan menunjukkan suatu kelemahan. Dan tak ada yang mesti disesali karena sesal hanya akan membuat kita menjadi menertawakan diri sendiri atas segala kekurangan kita.

Waktu memang berkuasa, ia dengan sengaja terus berjalan dan memenggal semua perasaan yang mungkin telah terbina. Tanpa emosi waktu memperkenalkan ketidakpastian. Namun kita paham, waktu hanyalah sebuah persepsi, sebuah ruang dimana kita harus mengisinya dengan kebaikan, dengan kebajikan dan dengan bijak kita harus memanfaatkannya untuk kemanusiaan. Siapa tahu kita dapat kembali menemukan orang2 setangguh teman2 lama. Aku selalu mencoba mencari sisi baik sebuah lagu. ‘The end of the world’,nya the Skeeter dan ‘Where have all the flowers gone’ nya Kings Trio mungkin bisa mewakili perasaan itu.

Thx to:

Halita Purnamasari : anak asli Palembang yang selalu membawakan oleh2 klo pulang kampong. Kadang2 oleh2nya terlalu banyak Ta, sehingga anak2 asisten lainnya bertugas menghabiskannya.

Yudi Permana : Anak asli Sumedang. Aq pasti selalu mengingat rambutnya yang ngga pernah tidur. Cowok yang selama ini menjadi tumpuan untuk menyediakan preparat.

Ifa Nova : Anak Bandung. Yang selalu menjadi pikiran aku adalah karena aku terlalu sering lupa mengajak Ifa untuk berbagai acara di luar kampus. Maaf Ifa,

Indah Silva : Anak asli Sukabumi. Sangat struggle. Tuhan pasti mendengar apa yang menjadi harapan IndaH di hari2 ini. Cepat atau lambat, Tuhan akan segera mewujudkannya.

Mutia Primananda : Anak Padang Panjang Sumatra Barat. Sampai hari ini Mutia masih sibuk dengan marmutnya. Sebuah semangat tanpa jeda. Tuhan adalah pengamat yang baik Nda.,

Sebuah perspektif lahir karena adanya kesempatan. Waktulah yang menentukan apakah kita menjumpai kembali anak2 asisten sebaik mereka?. Tuhan mungkin menciptakan waktu agar kita dapat menemukan sahabat2 lain yang sekarang ini belum sempat berkenalan dengan kita.

Posted in Anak2 Biofapet.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.