Skip to content


Sebagai bagian perifer dari sebuah peradaban.

folk3.jpg

Mendambakan sebuah kenyamanan di sebuah komunitas baru barangkali hanyalah sebuah impian. Takdir baiknya adalah kita akan mengalami pengayaan budaya dan takdir buruknya adalah perlu kerja keras dan adaptasi yang tak mudah. Manusia selalu mengklaim kaum merekalah yang paling berbudaya dan beradab. Sedangkan makhluk seperti aku, tak lebih hanyalah sebagai bagian perifer dari sebuah peradaban. Aku tak terlalu paham apa bedanya binatang buas dan manusia biadab.

Anak Pak Abdullah yang bernama Siti ternyata tak sejahat yang aku kira. Walaupun tak seramah adiknya yang bernama Sirah, lambat laun Siti mulai membuka diri dan kadang menggodaku. Sesekali sepulang sekolah Siti membawakan Rumput ilalang muda dan kadang memberiku Sarume, sejenis tanaman yang agak pahit namun membuat badanku lumayan agak enakan. Yang aku sukai dari Siti adalah kebiasaannya memanggilku dengan sebutan Noni. Mungkin maksudnya adalah Anoa betina kecil. Walaupun kadang-kadang berlebihan menggodaku, aku cukup paham Siti adalah anak yang baik dan humoris.

Nenek moyangku bahkan tak memperbolehkan aku memakan daging apapun. Mungkin karena kami tak memiliki gigi taring sehingga susah menggigit. Kami hanya diperkenankan memakan rumput dan tanaman lainnya karena dapat mengunyah dengan mudah. Itulah yang kadang membuat aku berpikir layakkah manusia menyebut dirinya sebagai makhluk berbudaya?. Tapi aku takkan tega untuk mengatakan keluarga Pak Abdullah terutama Sirah dan Siti sebagai makhluk asosial.

Walaupun belum genap tiga bulan aku terperangkap di keluarga Pak Abdullah aku mulai merasa agak kesepian. Barangkali kesendirianlah penyebabnya, tak seperti kambing-kambing PE yang memiliki banyak teman atau ayam-ayam yang cukup riang sepanjang pagi sampai sore. Namun aku mencoba berbesar hati, menahan diri dan pasrah. Setidaknya aku tidak terlalu cepat dijual, atau dikirim ke kebun binatang. Dan masih lebih bagus aku tidak dipotong untuk dijadikan sate gule atau hidangan di warung pojok.

Memasuki musim pancaroba seperti sekarang ini, induk ayam mulai pada gelisah. Di beberapa tempat, sudah puluhan ekor anak ayam terserang penyakit ND, tetelo atau cekak. Tak ada obat untuk mengatasi penyakit itu. Penyakit yang disebabkan Paramyxovirus itu sangat ganas sekali, kadang nyaris tanpa gejala-gejala dan tahu-tahu anak-anak ayam sudah mati. Beberapa ayam dewasa juga sudah mulai sakit tapi tampaknya yang dewasa lebih tahan penyakit.

Pada waktu masih berkumpul dengan saudara-saudaraku di lembah tepatnya di blok Rumesung, aku sering mendengar tentang perilaku orang-orang asing yang memasuki wilayah hutan kami. Orang tuaku tak mau menyebutkan apakah mereka merambah atau membabat hutan. Dahulu ada juga orang-orang yang sering memasuki wilayah namun mereka tak terlalu peduli apalagi merusak. Mereka membiarkan keluarga kami untuk dapat hidup di habitat kami.

Seiring dengan waktu, perilaku orang-orang menjadi berubah sama sekali. Katanya manusia adalah makhluk sosial yang berakal, berilmu, memiliki pengetahuan dan berbudi luhur namun teknologi yang mereka pelajari kadang berbeda dengan yang mereka terapkan. Itulah yang membuat dari waktu ke waktu hidup bangsa kami semakin terdesak. Aku agak iri dengan keluarga Anoa yang biasa hidup di dataran yang lebih tinggi yaitu Bubalus (Anoa) quarlesi. Walaupun mereka juga dikejar-kejar seperti kami namun mereka sedikit lebih mudah menyelamatkan diri. Katanya, kini manusia hidup di jaman modern namun faktanya perilaku mereka sepertinya mirip kehidupan di jaman prasejarah, yang ciri utama kelompok masyarakat tradisonalnya adalah berburu dan meramu.

Aku tak terlalu dekat dengan ibuku bahkan aku terpisah dari ayahku sejak lahir. Aku lebih akrab dengan saudara-saudara sepupuku. Namun disaat-saat seperti ini, aku sungguh merasa jauh lebih dekat dengan kedua orangtuaku. Dulu aku lebih sering menunjukkan ketidakpatuhanku pada ibuku dan tidak terlalu serius mendengarkan nasehat-nasehatnya. Kini kuakui, tak seharusnya hal itu dilakukan oleh seekor Anoa kecil. Dan kelak jika aku mendapat kesempatan dapat kembali bertemu dengan mereka, aku ingin sekali mengucapkan kata2 yang selama ini tak sempat aku sampaikan yaitu: maaf dan terimakasih Ma.

Posted in Anak Anoa.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.