Skip to content


Mencari makna dan mencoba mengartikulasikan arti sebuah keterbelakangan

image2952.jpg

Deburan ombak laut Jawa nampak berjalan berarak beriringan. Desir angin laut dengan ramah menerpa wajah kami. Dan hujan rintik2 pun membuat pantai Balongan Indramayu hari ini sangat sejuk. Sesejuk ketika kami menikmati makan sore di Pondok ikan bakar, Pesisir Limbangan, Balongan, Kab. Indramayu. Kakap merah, bawal putih, udang bakar dan segelas es jeruk membuat wajah2 kami menjadi lebih semringah.

Tak jauh dari mata kami bisa memandang, deretan puluhan perahu nelayan berwarna-warni berjejer cukup rapi. Walaupun ragam bendera berbagai partai bisa menjadi simbol kemana arah nelayan tersebut berafiliasi namun ternyata ada satu kesamaan dari mereka yaitu kapan mereka harus berangkat melaut dan kapan mereka harus pulang kembali.

2 Hari terakhir yang cukup melelahkan. Jumat kemarin seharian penuh kami melakukan diskusi dengan teman2 di Bappeda Kab. Subang. Ke lapangan, melihat dan memotret potensi sumberdaya lokal di desa Tanjung, kec. Cipunagara dan sekitarnya. Mengamati perilaku Sungai Cipunagara dan lingkungannya. Di akhir bulan Juli, kekeringan mulai terjadi dimana-mana termasuk di daerah Cipunagara. Petani membutuhkan pompa air yang hemat energi dan mudah perawatannya. Dan menarik juga dengan apa yang telah dilakukan oleh kelompok tani ternak Negla Mandiri, Pagaden. Sapi potong, ternak domba dan kambing, Biogas, fermentasi jerami, pupuk cair, pupuk organic dan juga beras organic. Sebuah contoh yang bagus.

Sabtu hari kami melanjutkan perjalanan melalui Majalengka, terus ke utara menuju Kab. Indramayu. Berdiskusi dengan teman2 di Kantor Bappeda Indramayu mengenai ketahanan pangan, mengenai peternakan, pertanian, perikanan dan lain-lain. Sepanjang siang sampai sore kami mengamati kehidupan para peternak dan nelayan di desa Karangsong Indramayu. Mengamati bagaimana mereka mereparasi kapal2 nelayan ukuran menengah, mengamati dan mendiskusikan hargai rajungan yang cukup murah di sini: 50 ribu per kg.

Dan, di desa Sindang dan Dermayu Kec Sindang kami mendiskusikan tentang pompa air yang dimanfaatkan para petani disekitarnya. Dengan rasio 1 : 6 yang artinya setiap petani yang memperoleh hasil padi 6 kuintal mereka wajib mengganti ke juragan air sebanyak 1 kuintal. Mungkin terlalu mahal untuk sebuah teknologi yang tidak terlalu sulit. Namun tak banyak pilihan bagi petani. Di Sindang ini pula kami mencoba menggali apa yang menjadi masalah dan harapan para peternak itik dan kambing PE di situ. Bibit, harga dan pemasaran,,wuuuhh masalah klasik yang selalu menghantui para peternak.

Well., apa artinya sebuah perjalanan dan visi kita ke depan bagi masyarakat? Mungkinkah kita dapat mewujudkan sebuah bangunan abstrak agar tak mudah terhapus oleh berjalannya waktu, dapatkah kita merealisasikan mimpi-mimpi indah menjadi sebuah kenyataan, atau mungkinkah ini hanya sekedar untuk menghela kesumpekan hidup semata dari impian seorang ilmuwan pemikir? Wallahuallam.

Kehidupan petani dan peternak bisa jadi tak seabstrak dan sesimetris yang kita bayangkan. Sebuah pertanyaan sederhana dan sulit pasti bisa berlaku bagi siapa saja dan bisa menjadi bersifat dua arah. Itulah yang dicari dari makna sebuah perjalanan. Menemukan berbagai pertanyaan dan sekaligus mencoba mencari jawaban. Hidup tak semulus sebuah perjalanan bathin dan bahkan seringkali sangat paradoksal. Tugas kita adalah menyederhanakannya dan kemudian mencarikan sebuah solusi.

Hari ini (minggu,red). Hari yang sesungguhnya bagus untuk mencari pencerahan. Hari ini ingin aku gunakan untuk merenungkan dan mencari makna, mencoba mengartikulasikan arti sebuah keterbelakangan masyarakat, mencoba mendefinisikan dan mendeskripsikan kata-kata kunci. Pangan, energi dan kesehatan bagi masyarakat petani, peternak dan nelayan. Semoga Tuhan memberi tuntunan dan kemudahan untukku.
image366.jpg

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.