Skip to content


Kematian adalah sebuah fakta yang tak diinginkan siapapun

image2951.jpg
“Life lives, life dies. Life laughs, life cries. Life gives up and life tries. But life looks different through everyone’s eyes.” Tiga hari dua malam di Salatiga tidak cukup untuk flash back. Kenangan masa kecil akan selalu terekam dan tak mudah untuk terlupakan. Itulah yang menjadikan hidup mungkin terkungkung oleh sebuah bayang-bayang. Sebenarnya itu tak selalu menjadi beban, karena bayang2 juga memberi banyak makna dan bermanfaat untuk penguatan, itulah sebabnya kita dituntut untuk selalu berkontemplasi. Mencari akar rumput, mencoba menemukan kedamaian.

Kadang kedamaian itu aku peroleh di makam orang tua dan kadang juga di rumah orang tua tempat aku menempa dan mencari jati diri. Kedamaian tak selalu identik dengan barang mewah. Dengan kereta andong, menyusuri sepanjang jalan Sudirman, jalan Diponegoro, SMA Negeri 1, dan Jl Cemara sebelum sampai ke rumah sudah pasti akan mengingatkan masa2 indah 30 tahun yang lalu. Dulu setiap harinya kami pulang pergi jalan kaki sepanjang Jl. Pahlawan, menyusur ke Jl Diponegoro dan SMA Negeri I.

Well, Salatiga sebenarnya tak banyak berubah, hanya makin ramai. Kelenteng di Jl Sukowati masih tetap ada walaupun bangunan sebuah hotel di belakangnya mengurangi keindahan dan keteduhan beribadah. Sepanjang jalan Sudirman masih banyak orang jualan wedang jahe, di pasar juga masih banyak orang jualan tahu campur. Begitu juga bule2 juga masih banyak. Anak-anak luar Salatiga khususnya mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana juga masih dominan dan menjadi transeter bagi warga pribumi.

Perjalanan selanjutnya ke Surabaya dan Jember adalah perjalanan rutin yang selalu menyita energy. Kecuali ketika melewati daerah lumpur lapindo yang bikin nyesek hati di Sidoarjo, daerah lainnya banyak sisi positipnya. Sangat menyenangkan karena di bulan ini, tanah2 pertanian, masih hijau2. Tanaman padi, jagung, kacang, tebu dan lainnya cukup membuat mata ini segar berbinar. Berbeda dengan di musim kemarau. Kemarau biasanya membuat daerah ini begitu kering sehingga pemandangannya sungguh memilukan.

Di akhir bulan juni ini, hujan masih turun di Pasuruan, Probolinggo, dan juga Jember. Sepanjang jalan di Pasuruan, burung2 blekok atau kuntul masih banyak berkerumun dan beterbangan di atas persawahan. Burung-burung yang juga gemar hinggap di pohon asam itu mengingatkan masa kecil aku di Semarang. Dalam perjalanan pulang ke Bandung, burung2 seperti itu pun cukup banyak terdapat di persawahan daerah Rancaekek. Menyenangkan masih diberi waktu untuk menyaksikan keseimbangan alam.

Jember di musim liburan sangat berbeda jauh. Kecuali di jalan Kalimantan dan Jalan Jawa, daerah lainnya tak sepadat biasanya. Roti dan jajanan Sianet, Mie Agus dan Mie Cina di Jl Supratman adalah makanan yang tidak boleh ditinggalkan. 3 hari di Jawa tengah dan 3 Hari di Jawa Timur. Pastinya adalah sebuah minggu refreshing yang menyenangkan.

Beberapa jalan di Bandung, hari ini basah diguyur hujan. Kampus Jatinangor pun sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang sedang penelitian yang masih tersisa di kampus. Namun kerja harus terus berjalan. Liburan mahasiswa adalah kesempatan menyelesaikan pekerjaan lain: penelitian, menulis buku dan mempersiapkan pembelajaran semester ganjil yang sebentar lagi dimulai.

Khabar buruknya minggu ini adalah meninggalnya Michael Jackson atau Jacko, seorang penyanyi dan seniman handal. Khabar buruk lainnya adalah matinya rusa jantan di depan gedung Dekanat. Walaupun usianya sudah cukup tua namun kematian adalah sebuah fakta yang tak diinginkan siapapun. “Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live.”

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.