Skip to content


Tak adakah niat bagi mereka untuk mengubah nasib?.

n1008843673_6311.jpg
Memasuki bulan ke tiga, aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kandang. Aku tak lagi merasakannya sebagai sebuah tempat yang mirip sebuah penjara. Kehangatan kandang mulai bisa aku rasakan. Sahabat-sahabatku mulai bertambah semakin banyak. Walaupun beberapa ekor ayam dan kambing Peranakan Ettawah yang sebelumnya pernah aku lihat sudah tidak nampak lagi (mungkin dijual oleh paK Abdullah). Namun beberapa teman baru menggantikan keberadaan mereka. Kemarin aku lihat pak Abdullah menuntun memasukan ke kandang seekor hewan yang aku tahu bernama domba. Badannya tegap, sangat gagah, tanduknya melingkar kuat dan penampilannya kalem.

Pak Abdullah memelihara beberapa ekor ayam dan itik. Unggas2 itulah yang bikin rame setiap pagi hari. Mereka bilang itu adalah ayam kampung. Badannya kurus2 dan agak kumuh. Aku kurang begitu suka dengan kelakuan ayam jantan, Setiap hari menjelang shubuh, ia selalu berkokok keras sekali sehingga membangunkan aku dari tidur nyenyak. Anak2 ayam itu juga selalu berisik kalau makan dan agak kacau pikirannya, selalu buang feses ke sembarang tempat. Apalagi di musim penghujan begini, feses mereka sungguh minta ampun baunya.

Pada musim hujan, udara di kandang begitu dingin, lembab dan becek. Kadang hujan turun seharian penuh sehingga Pak Abdullah agak malas keluar rumah mencari pakan untuk kami. Kami terpaksa makan seadanya. Akibatnya, beberapa hari yang lalu seekor domba akhirnya tumbang karena sakit demam disertai diare dan muntah. Pak Abdullah kelihatannya bukanlah orang yang sabar menangani ternak sakit. Aku jadi ingat hutanku. Kalau ada kejadian seperti itu, orang tuaku sering memberiku memintaku mengunyah daun Anting-anting (Acalypha australis L.). Itu sejenis tanaman keluarga Euphorceae. Rasanya pahit tapi lumayanlah penyakitku jadi sembuh. Kadang aku juga dikasih tanaman tumbuhan yang katanya bernama Cincau rambat (Cyclea barbata Miers), keluarga Menispermaceae. Di daerah lain sering dinamakan camcauh, juju, tarawalu, kepleng. Tanaman Cerme (Phyllanthus acidus (L.) Skeels.) berasal dari keluarga Euphorbiaceae. Tanaman yang di daerah lain disebut Ceremoi, Cerme, Careme, Cermen, Caramele, Sarume, Ceremin itu bisa juga untuk menanggulangi penyakit urus-urus dan mual.

Sirah, anak perempuan pak Abdullah semakin sering datang ke kandang. Aku tidak paham apa yang ia inginkan dan harapkan. Namun aku agak mengerti kenapa seseorang lebih senang bermain dengan lingkungan sekitar kandang. Rumah pak Abdullah relatif agak jauh dengan jalan raya dan tetangga terdekatpun kurang lebih sekitar 300 meter. Mungkin jarak itulah yang membuat Sirah malas bermain dengan tetangga2 mereka dan lebih senang berada di lingkungan kandang.

Aku sering berpikir, apa sich enaknya menjadi manusia seperti mereka. Karena kelihatannya tidak mudah untuk bisa menjadi orang yang beruntung. Aku amati, walaupun di desa ini banyak tanah2 yang tidak dimanfaatkan tapi Pak Abdullah sendiri hanya memiliki tanah yang tidak terlalu luas. Pak Abdullah hanya memiliki sebidang tanah tidak lebih dari 1,5 ha, yang ditanami padi setahun sekali dan selebihnya untuk menanam palawija. Namun produktivitasnya rendah, bahkan katanya seringkali gagal panen. Mungkin karena kesulitan mendapatkan pupuk dan pestisida. Pak Abdullah lebih sering menggunakan feses dari kandang sebagai pupuk. Untuk mencukupi kebutuhan hidup kadangkala ibu Abdullah membantu kerja di kampung sebelah untuk bekerja serabutan.

Aku tidak bisa membayangkan masa depan anak2 mereka, bagaimana caranya mereka memperoleh biaya untuk menghidupi kebutuhan masa depan keluarga mereka yang pastinya akan semakin berat. Ketersediaan pangan dan dayabeli yang rendah itulah yang mungkin membuat anak2 pak Abdullah dan beberapa keluarga di kampung sini sepertinya kekurangan gizi. Pak Abdullah cukup beruntung masih bisa menyekolahkan Siti, anak perempuan tertuanya. Tetangga mereka malahan lebih parah kondisi social ekonominya. Sungguh sulit dipahami bahwa mereka masih bisa bertahan di tengah kesulitan yang terus mendera kehidupan mereka?. Sebuah keluarga sederhana yang ikhlas menerima takdir atau karena tak punya keinginan untuk berubah. Tak adakah niat bagi mereka untuk mengubah nasib?. YaaH, hidup memang tak semudah yang dimimpikan walaupun perubahan bukanlah sebuah keniscayaan.

wOoowhh, aku ngelantur terlalu jauh. Walaupun sekarang aku merasa agak leluasa untuk bergerak dan mulai simpati dengan keluarga pak Abdullah. Aku tetaplah anak Anoa depressicornis yang masih tersekap dan tersandera oleh suatu keluarga manusia. Aku memiliki keluarga yang pastinya merindukan dan berharap suatu saat akan bertemu dan bersama-sama mengarungi kehidupan di hutan yang menjadi habitatku.

Posted in Anak Anoa.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.