Skip to content


Aku mulai merasakan kehangatannya sebagai makhluk sosial

d7.jpg

Seiring berjalannya waktu, aku mulai berusaha melupakan berbagai kejadian yang aku alami beberapa minggu terakhir. Aku tak lagi lekas marah bila berhadapan dengan anak-anak yang menontonku sambil menyodorkan rumput lapangan. Aku juga mulai memiliki hasrat dan semangat untuk hidup. Tak lagi takut dengan orang yang telah membuat femur kananku terluka parah, dan memar di sepanjang flank. Hanya saja tempat yang lebih mirip kotak persegi empat ini membuat ruang gerakku sangat terbatas. Kandang, demikian istilah mereka untuk tempatku kini, terbuat dari kayu dan bambu yang sempitnya minta ampun bahkan untuk sekedar berputarpun aku tak cukup leluasa.

Aku tentu sangat tidak nyaman dengan situasi baru ini. Aku berusaha menyesuaikannya tapi memang tak mudah. Aku heran dengan mereka yang menyebut dirinya “manusia”. Katanya mereka saling mengajarkan tentang mencintai, belas kasih dan sebagainya. Bahkan katanya: “… hanya mereka yang melayani sesama makhluk hiduplah yang bisa betul-betul bahagia”. Aku tak paham dengan aturan dan perilaku manusia. Mungkinkah suatu saat akan ada hal-hal menyenangkan dari mereka yang sering menganggap dirinya sebagai makhluk sosial itu?.

Dari pembicaraan yang aku dengar dari mereka. Aku baru tahu bahwa aku termasuk keluarga kerbau. Kata mereka, para ahli taksonomi memasukkan aku dalam ordo Artiodactyla, Famili Bovidae dan genus Bubalus. Aku tak begitu tahu kenapa aku diberi nama Anoa depressicornis. Dimasukkan dalam keluarga kerbau sebenarnya merupakan penghinaan bagiku karena aku sebenarnya agak malu dimasukkan dalam suatu bangsa yang diasosiasikan sebagai sebagai hewan yang bebal dan bodoh. Mungkin aku tidak dimasukkan dalam keluarga sapi karena perilaku aku yang senang berendam di kubangan mirip seekor kerbau. Tapi jujur kalau aku tak berendam 3 kali dalam sehari di kubangan, aku merasa kepanasan. Aku juga bukan keluarga rusa Cercus t. maccassaricus yang fisiknya mirip denganku. Waktu kecil aku sebenarnya malahan lebih mirip kancil (Tragulus javanicus). Tapi kancil hanya memiliki lambung 3 bagian, tidak memiliki omasum. Jadi hanya memiliki rumen, reticulum dan abomasum. Dan badan kancil ngga’ pernah bisa besar tak lebih dari 4 kg walaupun sudah dewasa.

Sore itu aku sedang asyik bersama ibuku, merumput di sebuah lembah di blok Rumesung. Orang-orang disini sering menyebutnya dengan pegunungan Tangkoko-Batuangus. Di sini katanya, hewan seperti aku ini dilindungi bukan saja karena terancam punah namun kawasan yang aku diami sebenarnya adalah daerah cagar alam. Aku tak menyadari ketika aku terjebak masuk ke sebuah perangkap yang dibuat seorang petani yang belakangan aku dengar bernama Pak Abdulah. Ibu dan saudara2ku hanya bisa terkesiap dan tak mampu menolongku. Sampai 2 minggu setelah penangkapan, aku sangat takut dan mengalami stress. Aku pernah mendapat cerita dari ibuku bahwa sudah cukup banyak saudara2nya yang dijebak oleh para pemburu dan tak pernah ketahuan lagi nasibnya apakah masih hidup atau mungkin dibunuh untuk memenuhi hasrat dan nafsu manusia. Katanya, mereka memburu kami karena harga tanduk kami cukup mahal dan dagingnya diyakini memiliki khasiat untuk mengatasi penyakit.

Aku agak lupa sudah berapa lama berada dalam kandang pengap ini. Mungkin sudah hampir 2 bulan. Selama ini, yang lebih sering memelihara dan memberiku rumput adalah isteri Pak Abdullah. Aku juga tahu keluarga itu memiliki 2 orang anak perempuan. Seorang diantaranya setiap pagi selalu berangkat pergi naik sepeda dan baru pulang menjelang sore. Katanya ia sekolah di sebuah esempe yang jaraknya 4,5 km dari rumahnya. Sedang anak satunya lagi masih sangat kecil dan yang aku dengar dari pembicaraan antara mereka, ia belum sekolah. Pulang sekolah di sore hari, anak perempuan itu yang belakangan aku tahu bernama Siti selalu menyempatkan diri menengokku. Kadang sambil memberiku rumput, ia berusaha mengelus-elus kepalaku sambil bergumam nggak begitu jelas tapi aku mulai merasakan kehangatannya sebagai makhluk sosial. Kelihatannya aku dianggap sebagai anak anoa yang lucu dan lincah. Lebih mirip anak kambing atau kancil, mungkin karena umurku yang masih sangat muda dan badanku yang kecil mirip anak kambing.

Di kandang sebelah tak jauh dari tempatku, aku lihat ada beberapa hewan lain yang mengalami nasib yang sama denganku. Aku tidak pernah melihat hewan sejenis itu di hutan atau padang pangonan. Warnanya kombinasi coklat kehitaman di beberapa tempat dan tanduknya kecil. Ambingnya cukup besar dan memiliki 2 puting yang menonjol kemerahan. Pak Abdullah saya lihat sangat memperhatikan hewan yang belakang aku tahu namanya adalah kambing Peranakan Ettawah. Setiap pagi dan sore ia menenteng ember dan memerah ambing kambing itu. Tega amat pak Abdullah, padahal aku lihat cempe [anak kambing,red] masih membutuhkan airsusu. Aku hanya lebih tua beberapa minggu dari cempe2 itu. Sebenarnya aku ingin sekali berkomunikasi dan bermain2 dengan mereka sekedar untuk menghilangkan rasa sedih berpisah dengan ibuku tapi kelihatannya untuk sekarang ini belum memungkinkan.

Pakan yang diberikan untuk kambing hampir sama dengan yang diberikan untuk aku. Kecuali beberapa tanaman yang aku ngga’ suka tapi kambing PE kelihatannya suka sekali, aku perhatikan dia lahap memakannya. Aku heran kenapa kambing senang memakan daun2 yang mengandung getah seperti daun nangka padahal rasanya pahit. Kata orang, getah itu mengandung sejenis senyawa defaunasi yang mampu mengendalikan ekologi mikrobia dalam rumen sehingga kambing2 tersebut dapat lebih efisien mencerna bahan pakan berserat kasar tinggi. Kata orang, getah itulah yang membuat kambing relative tidak mudah terkena bloat dibandingkan domba.

Hujan sepanjang sore ini membuat malam hari yang sudah dingin menjadi semakin dingin. Aku masih belum bisa melupakan saudara-saudaraku di hutan. Aku yakin saudara2ku sangat mengkhawatirkan aku. Kehangatan berkumpul dalam keluarga besar selalu menjadi harapan dan impian tak peduli apakah itu manusia atau seekor hewan seperti aku, Bubalus Anoa depressicornis.

Posted in Anak Anoa.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.