Skip to content


Kualitas adalah sebuah persepsi, yang memiliki dimensi peruntukan sangat terbatas.

tadc05043-88cc-4465-8c8a-278f8e853bec.jpg
Para peternak sapi perah di Talun, Pangalengan telah memulai aktifitas persiapan pemerahan ba’da shubuh. Tentunya hari masih gelap ketika embun menyergap masuk sampai ke sumsum tulang. Walaupun mereka adalah para pekerja keras namun tak banyak orang disana yang mampu menikmati pendidikan tinggi. Bekerja di perkebunan teh turun temurun dan masalah social-ekonomi adalah handicap bagi mereka untuk mencoba mengubah nasib. Sebuah gambaran abstrak, begitu sulitnya orang memperoleh sebuah kesempatan menikmati pendidikan. Point pentingnya bagi meeka yang memiliki kesempatan untuk kuliah adalah: sejauhmana kita telah memanfaatkannya sebaik mungkin.

“Kita dapat mengubah seluruh hidup kita dan sikap orang-orang di sekeliling kita hanya dengan mengubah diri kita” [Rudolf Dreikurs].

Kemungkinan menerapkan model pembelajaran berbasis SCL [Student Centered Learning] di Fapet Unpad rupanya mengundang perhatian beberapa alumni. Setidaknya itulah beberapa email yang diposting ke blogs saya. Beberapa teman alumni mengapresiasi SCL namun ada juga yang skeptis terhadap rencana tersebut. Alumni yang skeptic mengatakan bahwa dengan cara dan metode apapun, selama bahan baku atau modal dasar yang masuk [mahasiswa baru,red] kualitasnya rendah maka program tersebut tidak akan berhasil.

Dalam berbagai kesempatan baik pada rapat-rapat dosen atau diskusi dosen bahkan dalam rapat senat fakultas sering muncul keluhan teman-teman dosen terhadap ‘rendahnya’ kualitas bahan baku yang masuk Fapet. Pendapat yang cukup menarik untuk ditelaah kebenarannya, dan pertanyaan selanjutnya adalah apa yang mestinya kita lakukan?.

Saya sebenarnya lebih senang berbicara tentang nilai tambah. Bagaimana caranya agar anak2 mahasiswa senang dan menikmati proses pembelajaran. Bangga dengan institusi dan almamater. Adalah sesuatu hal yang sangat ironis jika seseorang setelah menyelesaikan pendidikannya di Fapet, merasa ngga’ dapat apa2? Karena, kalo begitu ceritanya khan artinya, kita ini para dosen yang sebenarnya kurang ‘berkualitas’?. Kurang mampu memotivasi, dan lebih parah menjerumuskan mereka, memberikan nilai baik pada mereka sementara ilmunya ngga’ mereka peroleh?

Saya termasuk dosen yang beruntung, bisa mengamati perjalanan para mahasiswa dari waktu ke waktu. Memberikan pembelajaran pada hampir setiap semester dari awal sampai akhir. Ketemu mereka di semester 1 sampai semester akhir. Bergaul dengan anak2 bengal, bandel, kedul, males, pinter, pandai, rajin di semester 1. Selama 4 atau 5 semester saya mengikuti proses transformasi, pendewasaan mereka. Dan pada akhirnya saya lebih banyak menemukan anak2 yang jauh mengalami perubahan, semakin dewasa dan bertanggungjawab. Kalau tidak ada perubahan bagaimana tanggung jawab moral kita melihat fakta bahwa IPK rata2 alumni Fapet adalah 3.12?.

Semangat untuk mencoba menikmati perubahan jauh lebih berguna dibandingkan memikirkan masa lalu. Dan kerja keras secara kolektif adalah kata kunci untuk menuju perubahan. Akan jauh lebih bermartabat kalau proses pembelajaran pada akhirnya dapat meningkatkan nilai tambah.

Hal lain yang tak kalah penting adalah masalah hak dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan lanjutan. Kita harus cukup bijak dan mengapresiasi apapun ‘kualitas’ seseorang. Bahkan kita sering keliru menganggap seseorang itu tidak berkualitas, bodoh, kurang cakap dan sebagainya. Siapa yang menyangka bahwa seorang Einstein yang awalnya kelihatan bodoh ternyata seorang jenius. Dan banyak pula orang yang sewaktu duduk di bangku esempe dan esemanya di bawah standar, ternyata pada akhirnya memperoleh gelar doktor dan menjadi seorang professor yang handal?. Proses pembelajaran dapat mengubah sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa dan mengubah seorang biasa menjadi luarbiasa. Kualitas adalah sebuah persepsi, yang memiliki dimensi peruntukan sangat terbatas.

Saya selalu optimis apapun langkah kita, selama itu kita lakukan dengan niat baik, niat yang tulus dan penuh semangat akan memberikan kebaikan dan perubahan bagi mahasiswa, apapun latar belakang dan status sosialnya.

“ ……..kehidupan hendaknya tidak dinilai secara ekslusif dengan standar dolar dan sen. Saya bukannya bermaksud mengeluh bahwa saya yang menanam tetapi orang lain yang memetik buahnya. Seseorang hanya pantas menyesal ketika ia menabur tetapi tak ada yang menuai”. Begitu kira2 kata: Charles Goodyear.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.