Skip to content


Apa yang mesti dipersiapkan dalam memasuki semester baru?

cartoon.jpg
Cuaca buruk di awal bulan februari tahun ini menjadi musibah di berbagai belahan dan wilayah di Indonesia. Berita tentang banjir, longsor, badai, angin ribut, dan lain2 hampir terjadi setiap hari. Rasa2nya iklim makin kurang ramah pada kita. Apakah ini suatu pertanda bahwa umat manusia harus segera berkontemplasi, introspeksi dan retrospeksi diri?. Saya pikir tidak cukup untuk dijawab dengan kata ‘Ya’, tapi mesti segera dilaksanakan. Hari-hari terakhir ini, Bandung dan sekitarnya juga diguyur hujan yang ngga’ henti-hentinya. Hujan dan hujan lagi. Ironisnya setiap hari, kami tetap harus beli air 10 jerigen (a Rp 1200 per jerigen): untuk keperluan masak dan mandi. Air PAM di Bandung lebih sering macet dan kualitas air tanahnya sungguh menyedihkan. Kami tentu ngga’ mau terkena nephritis dan neuritis akibat mengkonsumsi logam berat yang berlebihan.

Sambil menunggu hasil fotokopi di Kiara Condong yang namanya sekarang berubah menjadi Jl Ibrahim Adji, aku mencoba menikmati sarapan pagi Kupat Padang, persis di sebelah tempat usaha fotokopi. Berbeda dengan kupat tahu yang menjadi makanan favorit orang sunda, kupat padang lebih sederhana isinya: cuman berisi beberapa sisir lontong, telur ayam godok sebiji, krupuk merah, sambel hijau, dan sesisir tanaman herbal yang kurang jelas namanya. Alhamdulillah, 1 buah kupat dan 1 gelas teh manis panas sudah lebih dari cukup untuk mengusir lapar.

Pagi ini Kiara Condong, sebuah nama yang pertamakali aku dengar di tahun 70 an melalui lagu “Lewat Kiara Condong” nya Leo Kristi, sungguh ramai sekali. Banyak pejalan kaki menuju dari dan ke Pasar Minggu (hanya buka di hari minggu) di depan SAMSAT dan Carrefoure. Aneka produk dijual di pasar pagi tersebut namun kecuali harganya yang murah rasanya ngga ada yang istimewa bahkan membuat macet lalu lintas di Jl. Soekarno-Hatta. Saya setuju sekali bahwa ekonomi kerakyatan ditumbuhkan dan diberi tempat, hanya saja mungkin perlu diatur, setidaknya agar lebih rapi dan enak untuk dinikmati. Di Bangkok Thailand, banyak pasar tradisional seperti Lau Pa Sat, ada juga pasar yang hanya buka setiap hari weekend seperti Chatuchak [jatujak], konsepnya ngga’ jauh beda dengan Pasar Palasari Bandung [sebelum terbakar], ada juga tempat yang rame sekali untuk hangout di musim liburan seperti Suanlum Night Bazaar tapi tetap tertib dan teratur.

Senin besok, akan dimulai perkuliahan pertama semester genap di Unpad. Kelas Mankester [Manajemen Kesehatan Ternak] juga akan segera dimulai minggu ini. Itulah yang membuat kami [dosen, asisten dan teknisi] minggu-mingu terakhir ini sibuk mempersiapkan model pembelajaran dan praktikum. Kami ingin menerapkan model pembelajaran SCL [Student Centred Learning]. Banyak yang mesti dikerjakan mulai dari memperkaya blog [http://mankester.wordpress.com], e-learning, buku text, petunjuk praktikum dan lain-lainnya. Kami mesti mengevaluasi kembali sarana dan Prasarana, ruang untuk presentasi, diskusi, sumberdaya di perpustakaan dan ICT, Buku Text , bahan ajar, hotspot, web, blog, e-book, dan e-learning, membuat format Student SCL Worksheet, logbook serta menyesuaikan SAP dan GBPP Mankester.

SCL merupakan metode yang diharapkan mampu meningkatkan minat dalam pembelajaran Mankester dan memudahkan untuk memasukkan gagasan yang diinginkan dalam lingkungan kelas yang besar [40 orang]. SCL pada dasarnya mengikutsertakan mahasiswa dalam menemukan kebenaran berbagai masalah atau kasus, dengan mendorong mahasiswa melalui diskusi dan penguatan pembelajaran. Lingkungan SCL harus diusahakan sesuai dengan tempat kerja dan pengembangan diri secara langsung dari mahasiswa. Memang sich akan lebih baik lagi kalau lingkungan pembelajaran menyerupai lingkungan yang sebenarnya dimana mahasiswa dapat mengamati, mengingat dan mengulang apa yang telah diperoleh.

Dalam SCL ditekankan bahwa apapun bentuk atau model pembelajaran harus mendorong: (a) Students are presented with a problem. They organize ideas and previous knowledge, (b) Students pose questions, defining what they know and do not know, (c) Assign responsibility for questions, discuss resources and (d) Reconvene, explore newly learned information, refine questions. Mengapa begitu yaah? Karena katanya kita ingin menghasilkan lulusan dengan kompetensi dasar: (a) High level of communication skills, (b) Ability to define problems, gather and evaluate information, develop solutions, (c) Team skills and (d) Ability to use all of the above to address problems in a complex real-world setting.

Waduuuh Susah juga jadi dosen? Lebih baik nyari Kodok sama pak Wahyu, asyiiikkkkk! Thx mbak Ais atas informasinya bahwa nanti sore hari ini ada tayangan di ‘Mencari SunnaH Rosul bersama p Wahyu’ di Trans7.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.