Skip to content


Masyarakat yang anak-anaknya memiliki etos dan motivasi lebih baik

fren1.jpg
Orang-orang sukses selalu bersemangat dan ceria. Mereka lebih mempedulikan penderitaan dan perasaan orang-orang di sekitar mereka daripada permasalahan kecil mereka sendiri. Mereka lebih ingin tahu permasalahan apa yang dihadapi daripada mengeluhkan apa yang mereka alami. Mereka berpikir dan bertindak positip, menunjukkan rasa percaya diri, energik dan antusiasme. Begitulah gambaran yang ada dalam The Rules of Life nya Richard Templar.

Banyak orang sukses di dunia ini yang aku kagumi, seorang diantaranya adalah James Herriot. James Herriot adalah nama samaran James Alfred Wight, ia lahir 3 Oktober 1916 di Sunderland, Inggris. Hampir semua dokter hewan pasti mengenal James Herriot, melalui buku If Only They Could Talk (1969). Buku tersebut menceritakan kehidupan dokter hewan praktek dan kehidupan masyarakat pada tahun 1937 an di daerah Yorkshire Dales, Inggris dan sekitarnya. Masa dimana di berbagai belahan dunia sedang menghadapi resesi dan sulit mencari pekerjaan. Kondisi yang sama seperti sekarang ini. James A Wight menyelesaikan pendidikan dokter hewan (veterinary surgeon) pada tahun 1939 di Glasgow Veterinary College. Anaknya yang diberi nama James Alexander (Jim) lahir tahun 1943 juga menjadi veterinarian dan menjadi partner kerjanya.

Buku pertama James Herriot: If Only They Could Talk (1969) awalnya kurang laku di Inggris namun buku tersebut pada tahun 1970 menjadi best seller di USA. Di Indonesia, buku itu diterbitkan PT Gramedia pada tahun 1978 dengan judul “Seandainya Mereka Bisa Bicara”. Pengalamannya sebagai dokter hewan dengan setting lingkungannya yang sangat mengikat begitu indah, sangat narsis, penuh humor menjadi inspirasi para mahasiswa dokter hewan dan juga mereka yang masih bimbang akan masa depannya.

Buku itulah yang pada tahun 1979 turut mengilhami aku untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Aku beruntung menjadi seorang dokter hewan, profesi yang sungguh menyenangkan dan patut disyukuri. Buku-buku James Herriot selanjutnya seperti It Shouldn’t Happen to a Vet (1972), Let Sleeping Vets Lie (1973), Vet in Harness (1974), Vets Might Fly (1976), Vet in a Spin (1977), James Herriot’s Yorkshire (1979), The Lord God Made Them All (1981), Every Living Thing (1992), James Herriot’s Cat Stories (1994), James Herriot’s Favourite Dog Stories (1995) menjadi bacaan favorit para dokter hewan.

James A Wight mungkin agak ‘terlambat’ untuk menjadi seorang penulis, maklum ia mulai menulis di usia 50 tahun. Namun seseorang yang produktif dan mampu menulis sampai pada umur di atas 80 tahun tentulah orang yang sungguh sangat luar biasa. Point pentingnya adalah tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu.

Hari ini hujan deras mengguyur daerah Cikembang Pangalengan. Namun kepalang tanggung, aku sudah janjian dengan seorang teman tepatnya untuk melihat lahan perhutani di daerah Sampalan dan Cibuluh di daerah timur Pangalengan. Daerah dimana para peternak sapi perah kelompok 4 Cikembang mencari rumput untuk mencukupi kebutuhan ternak sehari-hari. Kehidupan para peternak di Cikembang cukup memprihatinkan. Rata-rata mereka hanya memiliki sapi perah antara 2 sampai 4 ekor. Produksi sapi perah laktasi rata-rata hanya sekitar 12 liter/hari/ekor, harga susu tidak juga naik-naik apalagi mendapat bonus, harga konsentrat terlampau tinggi dan mastitis subklinis masih menjadi masalah utama. Pada musim hujan seperti ini, sapi juga sangat peka dengan indigesti. Di masa sekarang ini harga2 input sangat tinggi, tidak mudah untuk mendapatkan bahan konsentrat, obat2an untuk ternak. Dan kalaupun ada harganya mahal. Jadi masalahnya sangat kompleks. Suasana yang persis seperti gambaran kehidupan peternak di Yorkshire pada tahun 1937 seperti yang ditulis James Herriot.

Tentu ada yang berbeda dengan apa yang ditulis oleh James Herriot. Di negerinya, para peternak mendapat subsidi dari pemerintah, mereka memiliki lahan yang cukup luas untuk menanam rumput sehingga skala usahanya jauh lebih tinggi. Sedang di Cikembang sini, kepemilikan lahannya sangat terbatas.

Sungguh tak mudah untuk mengikuti jalan pikiran seseorang termasuk peternak. Walaupun tahu kehidupannya susah, walaupun paham benar bahwa usaha sapi perah dengan skala kecil kurang menguntungkan, walaupun tahu masa depan anak2nya tersandera namun peternak tetap menerima keadaan dengan ikhlas, nerimo kalau bahasa jawanya. Mungkin karena kebanyakan usaha sapi perah di sini adalah meneruskan usaha orangtuanya, jadi semacam amanah yang mesti dilanjutkan. Pamali jika menjualnya.

Keprihatinan masyarakat peternakan seharusnya menjadi keprihatian kita bersama. Tentu patut menjadi renungan bagi kita, masih dapatkah kita tidur nyenyak, jika kenyataannya para peternak di pedesaan hanya mampu menyekolahkan anaknya sampai sekolah dasar?. Masih banggakah kita pesiar ke negeri orang, jika di desa-desa kita masih banyak orang yang untuk sekedar makan pun mereka kekurangan?. Program Sarjana Membangun Desa yang dicanangkan pemerintah sebaiknya bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Masyarakat yang anak-anaknya memiliki rasa percaya diri, energik, antusiasme, etos dan motivasi yang lebih baik. Amin.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.