Skip to content


Mencoba menjadi orang yang beriman!.

green.jpg secrets.jpg

Aku baru saja selesai berkomunikasi melalui tilpon dengan ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai repot dengan masalah fisiknya. Rumah orang tuaku sekitar 680 km dari tempat aku kerja dan perlu waktu sekitar 10 jam perjalanan kendaraan untuk sampai ketujuan sebuah kota kecil nan indah di sebelah selatan Semarang yaitu Salatiga. Aku sangat mensyukuri bahwa sampai sekarang aku masih mendapat support moral dari orang tuaku dan saling memperkuat bathin.

“Tidak ada seorangpun diantara kalian yang dipandang beriman sebelum dia menyayangi saudaranya seperti halnya ia menyayangi dirinya sendiri” [sabda nabi].

Malam ini aku mencoba merenungi jam demi jam, menit ke menit dan juga detik demi detik, apa yang telah aku lewati di hari ini sambil mendengarkan senandung Oscar Harries:”Try a little love”. Sebentar lagi aku akan mendengar salah satu lagu kesukaanku “Girls on the bus” yang dinyanyikan Cliff Richard. Sebuah lagu selalu menjadi salah satu inspirasi, untuk menengok ke belakang maupun menatap ke depan. Dan, walaupun settingnya sudah sangat lama namun sebuah lagu adalah sebuah karya universal yang mampu melewati segala periode, melampaui beberapa jaman dan generasi. Apakah sebuah lagu mampu memperkuat dan memperbaiki suasana bathin yang sedang kacau, perasaan yang sedang gundah, keraguan yang semakin menekan? Entahlah. Karena selain mendekatkan diri pada Tuhan, ada beberapa cara lain sekedar untuk membantu agar hati ini dapat sedikit lebih tenang. Menulis dan mendengarkan lagu adalah salah satunya.

Di luar, malam ini udara tak terlalu dingin walaupun tiupan angin lumayan agak keras. Lampu2 mulai banyak dipadamkan, suara kodok bangkong yang biasanya meramaikan malam tak ada lagi, namun kendaraan roda dua masih banyak yang lalu lalang padahal waktu sudah mendekati pukul 22.30. Sebuah kehidupan normal yang menunjukkan bahwa semangat masih tumbuh di desa dan semangat itu mengalahkan tengah malam yang mulai penat. Aku belum akan berhenti menulis, bukan karena aku maniak kerja namun lebih karena kebiasaan salah tidur yang membuat aku terlanjur tersandera oleh malam dan sering berharap agar pagi sedikit datang lebih cepat.

Dan bagaimana dengan sapi-sapi perah disini? Pasti dia juga kerepotan. Fisiknya pasti terancam, karena pada musim penghujan seperti sekarang infestasi cacing Fasciola hepatica, Fasciola gigantiga, Paramphistomum dan lain2 sedang tumbuh berkembang dengan ganasnya menggerogoti hati sapi. Aku tidak dapat membayangkan betapa nestapanya sapi yang sepanjang ductus cysticus, ductus choledochus dan ductus hepaticus nya penuh dengan larva dan cacing dewasa. Cacing yang berkembang secara parthenogenesis itu mesti kita berantas karena bukan saja melukai hati sapi namun juga juga membawa sengsara para peternak. Bayangkan dari 1 cacing dewasa saja dapat menghasilkan 25 ribu butir telur per hari bo! Hemmm.

Hari ini? Aku sebenarnya tak ingin terlalu mengingat sebuah kejadian konyol. Ditendang sapi mungkin sudah biasa, keinjak kaki sapi mungkin sudah tak terhitung, apalagi tertampar ekor sapi mungkin tak dapat dihitung tapi diseruduk anak sapi dari belakang oleh pedet yang baru lahir sekitar 3 bulan yang lalu benar2 menjengkelkan apalagi membuat aku terjengkang dan hampir-hampir mencium feses sapi.

Selain pengalaman buruk diseruduk pedet, ada juga berita yang membuat hari ini aku tersenyum dan senang. Seorang sahabat lamaku tiba2 muncul menghubungi aku melalui hP mengabarkan bahwa dia sekarang sudah kembali dapat kerjaan setelah hampir setahun menganggur akibat kena PHK. Di jaman seperti sekarang pasti tidak mudah untuk comeback, banyak pesaing yang walaupun berusia lebih muda namun memiliki softskill sangat baik. Aku kagum dengan ‘badai’ yang dialami sahabatku itu dan ternyata dia dapat dengan santai menjalani perjalanan hidupnya. Tentang teman aku teringat kata Ali bin Ali Thalib:”manusia yang paling lemah adalah orang tak mampu mencari teman, namun yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya”. Aku berusaha mencari dimana sisi positipnya agar aku dapat belajar dari teman yang juga sahabatku itu tapi nampaknya belum menemukannya kecuali satu hal bagaimana cara menekan perasaan agar tak terlalu sensitive dan sentimentil? Kesehatan mental, yang mengingatkan aku pada Prof. Zakiah Daradjah.

Sisi baik tinggal di pedesaan adalah kita tak terlalu mudah terpancing dengan segala sesuatu yang terkait dengan hedonism. Mungkin hidup aku agak datar-datar saja disini, bahkan sedikit agak gagap dengan teknologi dan tidak bisa melihat2 barang bagus kecuali melalui televisi namun banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari hal2 yang mungkin biasa dan sederhana disini, sangat bermakna!. Banyak kawan, menikmati pemandangan yang indah dan sejuk adalah Pengalaman bathin yang tak ternilai harganya!. Dan yang membuat hati tersanjung, disini terlalu banyak sahabat yang mau dengan sukarela tanpa pamrih berjalan bersama, beriring saling memperkuat ke tujuan yang paling mulia yaitu menjadi orang yang beriman!. “Sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan jiwa, sebaik-baik-baik yang ditanam di dalam hati adalah keyakinan tentang cintaNya” [Ibnu Mas’ud”]. Aku masih jauh dari kriteria seorang mukmin namun aku selalu ingin menuju ke sana. Semoga suatu saat aku akan sampai ke tujuan.

Hari sudah makin larut malam. Sebentar lagi aku ingin berangkat tidur, aku tak ingin didahului oleh suara kokok ayam jantan yang biasa membangunkanku jauh sebelum waktu shubuh tiba. Terimakasih Tuhan, hari ini aku diberi banyak kesempatan merealisasikan harapan, keinginan dan dimudahkan dalam berbagai urusan.

Posted in diary inseminator.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.