Skip to content


Padang rumput di surga

adse.jpg

Ternak sapi adalah salah satu hewan yang keberadaannya mesti kita syukuri. Begitu baiknya Tuhan, telah menciptakan makhluk yang satu ini sehingga kalau dapat aku tuliskan, ternak atau sapi perah adalah salah satu makhluk ajaib. Sapi pasti sengaja diciptakan agar kita dapat memperoleh susu yang sangat sempurna kandungan gizinya dan juga daging yang telah menjadikan anak2 di pangelangan dan di belahan dunia lainnya tumbuh menjadi anak2 yang sehat, dan membuat kita mampu menjadi makhluk2 produktif.

Bayangkan dari rumput menjadi air susu? Sesuatu yang dulu sulit dibayangkan bagaimana teorinya, namun dengan mengetahui tentang asam lemak terbang atau volatyl fatty acid, tentang absorbsi zat nutrien, tentang asam acetat sebagai prekursor air susu, tentang hormon prolactin, hormon oksitosin dan masih banyak lagi, logika kita menjadi terbangun dan dapat memahami perubahan dan perjalanan rumput menjadi air susu.

Dan, jangan lupa sapi adalah makhluk yang dapat memanfaatkan bahan2 pakan yang kurang berkualitas bahkan limbah2 tanaman pangan atau pertanian. Pangalengan adalah salah satu daerah yang dikenal menghasilkan tanaman pangan seperti kol, dan sebagainya. Di berbagai daerah di sana, sapi kelihatan menikmati makanan seperti kita yaitu kol, wortel dan mungkin ke depan perlu dicoba dimanjakan dengan sekali-kali minum juzz wortel atau juzz tomat.

Kita sebenarnya cukup paham apa kesukaan sapi, makanan apa yang sebaiknya diberikan namun kadangkala manusia dengan segala keterbatasannya sering berbuat tidak adil. Mereka menginginkan yang terbaik tapi tidak memberikan yang terbaik.

Koperasi Peternak Bandung Selatan sangat membantu masyarakat khususnya orang Bandung untuk mendapatkan makanan bergiizi. Dalam 1 hari setidaknya daerah Pangalengan mampu menghasilkan 100 rb liter air susu. Namun jangan bangga dulu itu dari sekitar 15 rb sapi perah. Memang belum terlalu bagus produksinya karena rata2 baru sekitar 12 liter per ekor per hari dan kepemilikan ternak, hemm sungguh nyesek di dada.

Adakah yang salah dengan produktivitas? Rendahnya cara pemeliharaan ternak, kuantitas dan kualitas pakan, bibit ataukah karena masalah penyakit? Kelihatannya permasalahan di sana cukup komplek. Cuman aq tentu agak heran dan sedikit gemas kenapa kita belum mampu meningkatkan produktivitas katakanlah 1 liter per ekor per tahun. Rasanya 15 tahun yang lalu produksi susu sapi kita juga cuman 12 liter per ekor per hari. Jadi mungkinkah tahun 2020 rata2 produksi sapi perah kita menjadi 25 liter per ekor?

Aah, seandainya KPBS punya visi:
25 liter per ekor sapi laktasi untuk Tahun 2020.!

Bagaimana caranya?,, aq yakin ada jalan jika mau berpikir dan berusaha. Yang pertama harus dilakukan barangkali adalah kerja keras,, yang kedua adalah kerja keras, dan ketiga,,juga dengan kerja keras.

Pertanyaan mendasarnya adalah siapa yang harus kerja keras dan bagaimana caranya?. Itu hanyalah salah satu pertanyaan besar yang sangat sulit untuk dicarikan jawabannya dan tentunya bagaimana melaksanakan upaya perbaikan. Sampai kapan kami cuman dapat bergumam dan merenungi? Sungguh sangat ironis, ditengah-tengah kemajuan teknologi, kita masih menyaksikan keterbelakangan.

Dan, anak2 yang sekarang ada di lapangan, di tengah2 para peternak? Aq tentu tak banyak berharap, karena mereka ada di sana untuk belajar memahami permasalahan. Menangkap esensi dari suatu permasalahan harus dilakukan dengan pendekatan sosiologis. Siapa tahu ada sebersit pemikiran atau setitik tambatan dan sentuhan yang mampu membuka hati mereka dan menyinari syarafi mereka betapa beratnya kehidupan para peternak di pedesaan. Mahasiswa harus dekat dengan masalah karena itulah yang akan memperkaya bathiniyah mereka untuk tidak selalu mendongak dan menengadahkan kepala. Manusia kadang harus menundukkan diri jika ingin dihargai secara layak. Semoga kelak, anak2 menjadi pemimpin2 yang selalu ingat masyarakat kecil dan menuntun orang2 lemah menjadi sedikit lebih kuat.

Tentu tidak ada alasan untuk tidak optimis menghasilkan anak2 yang berkualitas, memiliki softskill tinggi, memiliki etos kerja yang baik, berperikemanusiaan, dan memiliki iman dan taqwa yang baik. Agak susah mendeskripsikan satu per satu namun kita dapat menyederhanakan dengan melihat antusiasme mereka selama mengikuti PKL di desa. Dari semangat mereka selama mengikuti PKL dan bagaimana interaksi mereka dengan para peternak. Setidaknya mereka dapat belajar dari para peternak yang biasa bekerja super keras, mulai jam 3 pagi sampai ba’da maghrib. Bahkan ba’da isya pun kadang masih nengok kandang. Apalagi sapi2 bunting lebih senang melahirkan di malam hari. Aq ingin, semangat para peternak sedikit menular ke anak2.

From: +62818771….
Date: 10-07-2007 Time: 5:37:01 AM
Siap pak, qta udh bgn kok,,tinggal nunggu truk..

From: +62856225….
Date: 10-07-2007 Time: 5:30:49 AM
Bpa qt2 uda plg pa dr tpk,uda bgn donk dr jm 4,,tp itu jg uda kesiangan,,heeeee

Sebuah cita2 kadang2 tidak simetris apalagi selalu paralel dengan suatu realita yang ada. Itulah yang membuat seseorang kadang frustasi berat manakala cita2 atau harapan yang dikehendakinya tidak tercapai. Cita2 anak2 mahasiswa aq tahu pasti kebanyakan setinggi langit, dan itu sesuatu yang wajar. Sebaliknya yang aq tahu tentang peternak, kebanyakan harapan para peternak tidaklah terlalu berlebihan. Dapat mempertahankan hidup dan mencukupi kebutuhannya sehari2 saja, itu sudah lebih dari cukup. Dan itupun kelihatannya sungguh dan sungguh sulit. Jaman sekarang ini, kehidupan sungguh sulit, dari hari ke hari beban makin berat. Semoga di masa depan, di tengah2 sistem pembangunan dan perekonomian yang berorientasi pada siapa kuat dia yang menang atau mirip pada jamannya the wild wild west,, kelak anak2 yang sekarang ini PKL ikut memikul tanggung jawab, memikirkan masa depan peternakan, yaa semoga sf yaaah.

Di tengah kehidupan yang sangat absurd sungguh keterlaluan jika kita masih menutup mata terhadap kehidupan para peternak. Mungkin kesejahteraan hewan, hanyalah sebuah ilusi belaka,, dan kelak kalaupun ada padang rumput di surga aku tidak tahu apakah sapi2 perah itu akan mendapatkan hak fisiologisnya juga.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.