Skip to content


Lembah nAN panjang

cimg0121.jpg

Kesempatan adalah baranglangka yang banyak dicari, diburu dan kadang sangat dirindukan oleh kita. Sebagian orang mungkin kurang menghargainya, membuangnya dengan percuma. Jadi jangan heran, kesempatan adalah sisi lain dari penyesalan. Penantian panjang, yang mungkin sangat melelahkan adalah buah dari kenistaan karena kita telah terlalu sering membuang suatu kesempatan.

From: +628562447….
Date: 08-08-2007 Time: 12:40:14 PM
Pa, k sukamenak g? Kita dah pada d sukamenak nih

Kesempatan Itulah yang menjadi bahan renungan aq, manakala aq melewati malam2 panjang di Sukamenak, sebuah tempat yang sejuk hanya kurang lebih 10 km dari KPBS. Tempat itu mungkin hanya sebuah noktah kecil di Pangalengan, tapi bukankah sebuah titik persinggahan adalah mimpi yang tertunda, sebelum kita kelak sampai pada tujuan yang kita inginkan. Sukamenak adalah satu jejak langkah yang kelak akan menjadi simpul penguatan nurani dan juga menjadi arah pendewasaan sebelum aq benar2 yakin bahwa melangkah sangat penting untuk membantu aq menjadi orang yang cukup tangguh,,

Beberapa hari ini aq sebenarnya merindukan turunnya hujan. Jalan sepanjang lapangan yang hampir tiap pagi, siang, sore dan malam kita lewati sudah sangat berdebu. Hujan sudah lama tidak mengguyur daerah Pangalengan. Daun2 pohon tomat tidak begitu segar, begitu juga buahnya, tidak begitu ranum lagi. Rumput-rumput gajah tak lagi hijau dan kelihatannya tak begitu menarik bagi sapi perah. Anak2 (Fanny, Finna dan Cubini) kelihatannya juga kurang mandi karena takut kulitnya bentol2, dan kalaupun mandi mesti pake dettol sebagai bahan penawar. Kekeringan,,? Aq ngga yakin itu akan terjadi di sukamenak, tapi harapan dan kenyataan berkata lain,,,.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemanasan global,? Mungkinkah Tuhan sudah begitu marah dengan perilaku tidak terpuji manusia? Dan sudah begitu parahkah kondisi sekarang ini, sehingga doa para orang2 sholeh, harapan dan keinginan orang2 berilmu, seakan tidak diindahkan olehNya.

Aq sebenarnya ingin berpikir rasional. Kondisi seperti sekarang ini adalah akibat dari perbuatan kita terdahulu dan sekarang pun kelihatannya juga masih begitu, kita seringkali kurang bisa menghargai nikmat Allah Swt. Sebenarnya Tuhan baru sebatas mengelus dada dan hanya prihatin, belum benar2 marah. Tapi aq yakin, kita akan mendapat pelajaran lebih berat jika kita terus mengabaikanNya.

Sesungguhnya, banyak hal yang bisa kita lakukan di Pangalengan atau setidaknya di Sukamenak. Sapi perah menghasilkan pupuk organik, pupuk terbaik di dunia karena mengurangi kerusakan lingkungan. Iklim di sini juga relatif cukup ramah untuk kita menanam aneka tumbuh2an. Alam sudah mengajarkan pada kita bahwa simbiose mutualism adalah harapan satu2nya kita untuk menyelamatkan bumi, jadi kenapa kita tidak kembali ke teori dasar, Biologi?.

Dan sebelum menjadi pupuk organik,, bukankah feses2 itu menghasilkan gas CO2 dan Methana sebagai sumber gas bio? CO2 atau Karbon dioksida kita tahu merupakan salah satu dari enam GRK (Gas Rumah Kaca) yang diperhitungkan dealam Pasal 3 Protokol Kyoto, menurut ketentuan itu GWP (Global Warming Potential) CO2 diberi nilai 1 sedangkan kalau efek GRK dari CH4 (methana) itu setara dengan 25 kali CO2, GRK dari methana ini tentunya jauh merusak dibanding CO2. Itulah sebabnya kita mestinya sadar sesadarnya bahwa GRK yang dihasilkan oleh dekomposisi bahan organik secara anaerobik itu mesti kita “atur”,,caranya? Paling praktis yaa digunakan atau dikonversi menjadi gas bio. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui,,peternak ngga’ cape2 beli atau antre minyak tanah?. Tapi bagaimana yaa cara menyampaikan masalah efek GRK itu pada peternak, masyarakat dan ???,, moga2 kita bisa memulai dari diri sendiri,, menyadari betapa ngerinya masa depan anak2 cucu kita atas saham yang telah kita berikan pada hari ini?. Jangan boros2kan energi. Dan sebenarnya percuma jika kita menyerah pada keadaan, bukankah kita ini harus belajar pada kearifan alam dan kearifan lokal?

Belajar? Ya iyalah kita mesti terus belajar mulai dari yang kecil2, yang bermanfaat untuk keselamatan umat manusia. Aq agak nyesek (baca: kesal) jika melihat orang2 yang berantem dan saling menyalahkan (khususnya pada pemerintah), padahal orang2 itu juga ngerjain apa2. Emang betul, lidah atau tulisan itu kadang lebih tajam dari parang atau bahkan lebih berbahaya dari senjata apapun tapiiiiii, bagaimana jika semua orang cuman mau mikir doang,, No Action ?

Jadi Fan, Fin dan Cub, lembah nan panjang seperti diimpikan oleh para petualang bukanlah lembah keniscayaan yang mungkin ada karena sebuah keinginan dan angan2 belaka. Lembah nan panjang adalah sebuah harapan yang tak pernah padam karena keinginan kita akan suatu generasi masa depan yang lebih baik. Mungkinkah kita dapat berpartisipasi sedikit meluangkan energi sosial kita bersama2 teman2 di sukamenak. Mungkin sedkit mimpi ketika orang melakukan kerja bersama. Tapi bukankah semua pekerjaan dimulai dari mimpi, dari ide dan sebagian karena spontanitas. Jalan ke depan akan makin terjal jika kita tidak terbiasa “mau meluangkan sesuatu untuk orang lain.”.
Jangan biarkan kaki ini malas bergerak dan melangkah, sesungguhnya selama kita memiliki sebuah semangat, Tuhan akan memberi kita kesempatan untuk memilih sebuah pilihan. Dan, jika kita mau menularkan semangat itu pada orang lain, Tuhan akan memberikan banyak pilihan, jadi apalagi yang mesti kita tunggu di Sukamenak!!

Lembah nan panjang, alur sungai yang mulai menghitam, seekor katak dan sapi, mungkinkah ada siklus biologi yang dapat menjelaskannya! dan sebuah tempat yang nyaman barangkali bersifat relatif, itulah yang membuat qt harusnya percaya diri bahwa kebahagiaan sebenarnya ada dimana-mana dan waktu hanyalah sebuah kesempatan untuk kita mencoba membangun sebuah bangunan yang lebih kokoh dan penuh dengan peradaban.

Dan Sukamenak?
Entahlah apa yang akan terjadi 20 atau 30 tahun ke depan. Masih adakah sapi2 disana? Ataukah tinggal tulang2 belaka yang sekedar menjadi bahan praktikum osteologi dan histologi di sekolah2.

Lembah2 nan panjang di Pangalengan bukanlah sebuah tempat pemberhentian belaka yang sekedar menjadi pelengkap hidup kita pada hari ini. Sebuah potret penuh warna yang nantinya menjadi penghias buku2 harian kita. Lembah2 itu sebenarnya menjanjikan sebuah pertaruhan masa depan di tengah bumi yang makin panas. Semoga kita tidak menjadi bagian dari orang2 yang menelantarkan masa depan.,?

The Frog and the Ox

‘Oh Father,’ said a little Frog to the big one sitting by
the side of a pool, ‘I have seen such a terrible monster! It
was as big as a mountain, with horns on its head, and a
long tail, and it had hoofs divided in two.’

‘Tush, child, tush,’ said the old Frog, ‘that was only
Farmer White’s Ox. It isn’t so big either; he may be a little
bit taller than I, but I could easily make myself quite as
broad; just you see.’ So he blew himself out, and blew
himself out, and blew himself out. ‘Was he as big as that?’
asked he.

‘Oh, much bigger than that,’ said the young Frog.
Again the old one blew himself out, and asked the
young one if the Ox was as big as that.
‘Bigger, father, bigger,’ was the reply.
So the Frog took a deep breath, and blew and blew and
blew, and swelled and swelled and swelled. And then he
said: ‘I’m sure the Ox is not as big as But at this moment
he burst.
Self-conceit may lead to self-destruction.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.