Skip to content


KAJIAN PEMBENTUKAN MODEL PERBIBITAN KERBAU

KAJIAN PEMBENTUKAN MODEL PERBIBITAN KERBAU
BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL DAN
KEBUTUHAN MASYARAKAT [makalah lengkap: dwicipto@unpad.ac.id]

PENDAHULUAN
Dalam rangka pemenuhan konsumsi daging, sebagai akibat pertumbuhan penduduk, pendapatan dan kesadaran mengenai pentingnya pangan berkualitas, telah dilakukan impor sapi beserta daging sapi dan komponen lainnya. Khusus impor sapi, sampai saat ini jumlah impor belum menunjukkan penurunan, masih tetap diatas angka 400.000-an ekor per tahun. Sedangkan konsumsi juga terus mengalami peningkatan. Diperkirakan oleh Badan Litbang Pertanian, (2005), tahun 2005 terjadi kesenjangan konsumsi – produksi daging sebanyak 107,09 ribu ton, atau setara dengan sapi hidup 863,22 ribu ekor (28,26%). Mempertimbangkan besarnya devisa yang dibutuhkan serta melimpahnya sumberdaya lokal disertai dengan pentingnya penyediaan lapangan usaha dan lapangan kerja di dalam negeri, maka dicanangkan program kecukupan daging (PKD) 2010, yang diharapkan dapat berlanjut menjadi swa sembada daging.

Komitmen pemerintah untuk mencapai kecukupan daging (PKD) 2010, telah dikemukakan oleh Presiden RI, di Dompu, NTB Kamis, 5 April 2006, bahwa “…… Kurangi Ketergantungan Impor Sapi Melalui Pengembangan Potensi Sumberdaya Ternak Sapi Lokal ”. Potensi sumberdaya lokal yang diharapkan memberikan dukungan terhadap PKD 2010, bukan hanya dari sapi lokal, tapi potensi lain yang tidak kalah penting yaitu ternak kerbau.

Di berbagai daerah ternak kerbau mempunyai posisi preferensi yang cukup baik, seperti di Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Selatan dll, bahkan di Jawa Barat sendiri, seperti di Kabupaten Cirebon, Kab. Garut, Kab. Purwakarta, Kab. Tasikmalaya, Kab. Sukabumi dll, ppopulasi dan konsumsi kerbau cukup tinggi. Demikian pula kuantitas perdagangan kerbau juga tidak kalah dengan sapi potong. Ternak kerbau diperdagangkan di Pasar Hewan Karangsambung, Tasikmalaya atau di Pasar Hewan Ciwareng, Purwakarta dengan jumlah mendekati kuantitas sapi potong. Fenomena ini menunjukkan ternak kerbau tetap mempunyai prospek sebagai komoditas usahaternak, meskipun di beberapa negara Asia kerbau dinilai sebagai ternak kurang bernilai (under value animal).

Perkembangan populasi kerbau Di Jawa Barat tahun 2001 sebanyak 153.372 ekor selama lima tahun terakhir terus mengalami penurunan, tahun 2005 menjadi 147.157 ekor. Kondisi ini tidak seperti sapi, meskipun intensitas pemotongan di Jawa Barat yang tinggi, populasi sapi potong menunjukan peningkatan yang cukup baik, dimana tahun 2001 populasi sebanyak 189.518 ekor, tahun 2005 naik menjadi 234.948 ekor. Penurunan populasi kerbau baik secara nasional maupun di Jawa Barat, salah satunya disebabkan oleh rendahnya perhatian dan penanganan insan peternakan terhadap potensi kerbau sebagai penghasil daging yang mampu secara sempurna bersubstitusi dengan daging sapi.

Dibalik beberapa faktor yang menghambat perkembangan populasi ternak kerbau, sebenarnya kerbau mempunyai beberapa keunggulan yang dinilai sesuai dengan potensi sumberdaya lokal yang ada di Jawa Barat, antara lain :
a. Sebagai sumber tenaga kerja di lahan sawah, ternak kerbau sangat sesuai dengan kondisi lahan sawah yang sempit serta berkontur berat – berbukit.
b. Fungsi sosial sebagai tabungan.
c. Sangat responsif terhadap pemberian jerami padi, karena kerbau efisien menggunakan nitrogen dari bahan pakan berkualitas rendah.
d. Dipelihara dengan biaya yang lebih murah.
e. Average daily gain 0,73 kg/ekor/hari (pemeliharaan secara intensif)
f. Feed conversion menjadi daging sama dengan sapi potong
g. Kerbau muda yang digemukkan mempunyai kualitas daging yang tidak kalah dengan sapi potong.
h. Sebagai penghasil pupuk organik, 25-27 kg/ekor/hari. Kadar N : 5,5 kg/ton, P : 4 kg/ton dan K : 5 kg/ton.

Bersamaan dengan keunggulan tersebut, menurut pengamatan terdapat kelemahan yang berkaitan erat dengan peningkatan populasi, yaitu kinerja reproduksinya yang rendah. Dalam struktur budaya lokal di beberapa daerah, ada keengganan dari sebagian peternak untuk memelihara jantan karena pengendaliannya yang sangat sulit. Disamping itu, sebagian peternak percaya bahwa betina dewasa akan bunting meskipun tidak ada pejantan. Sebagian besar kerbau jantan dijual menjelang dewasa. Disamping itu, perkawinan yang terjadipun dilakukan oleh jantan muda sebelum ternak jantan tersebut laku dijual. Akibatnya rasio jantan betina menjadi sangat rendah, sehingga mengurangi kesempatan terjadinya perkawinan atau kebutingan.

Fenomena lain yang terlihat dalam budidaya kerbau di peternak adalah pola kandang individu, disertai dengan rasio jantan betina yang rendah, akan mengurangi kesempatan untuk terjadinya perkawinan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan perkawinan kerbau terjadi menjelang pagi, dimana kerbau jantan dan betina masih terpisah dalam kandang masing-masing, akibat dari pola menejemen yang tidak tepat tersebut adalah rendahnya kebuntingan. Dengan demikian Calving interval menjadi panjang yang berujung pada kesimpulan kinerja reproduksi kerbau yang rendah.

Mempertimbangkan berbagai faktor keunggulan dan kelemahan dalam pola budidaya yang masih memungkinkan adanya perbaikan, masalah mendasar untuk pengembangan ternak kerbau saat ini dan untuk beberapa tahun mendatang adalah pengadaan bibit (terutama bibit jantan), yang secara kuantitas dan kualitas masih rendah. Pemerintah telah menyadari fakta tersebut, sehingga perhatian mulai diarahkan pada perbibitan kerbau ini. Pola perbibitan yang mungkin akan efektif berjalan adalah yang melibatkan kepentingan masyarakat baik sisi ekonomi sosial maupun jangkauan teknisnya. Namun demikian, supaya hasilnya dapat efektif dan efisien serta memenuhi harapan, maka diperlukan suatu pola perbibitan kerbau yang tepat sesuai dengan sumberdaya lokal dan kebutuhan masyarakat, sehingga dalam implementasinya lebih cepat diterima peternak secara umum. Dengan tersusunnya pola perbibitan yang tepat diharapkan kinerja reproduksi, produksi dan produktivitas kerbau dapat diperbaiki. Sehingga dalam jangka panjang mampu memberikan kontribusi besar bagi penyediaan daging di Jawa Barat dan Nasional.

Posted in Pendidikan.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.