Skip to content


Pengembangan Rusa Dalam Perspektif Sosial Ekonomi Peternakan

[makalah lengkap lewat email: dwicipto@unpad.ac.id]

A. Rusa dan Sistem Produksi Berkelanjutan
Rusa Cervus timorensis dan Cervus unicolor merupakan hewan domestikasi yang memiliki potensi cukup baik untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dalam sistem agribisnis produk peternakan di Indonsia. Namun tidak optimalnya pengembangan subsistem hulu terutama aplikasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi menjadi kendala rendahnya struktur dan dinamika populasi sehingga peranan ternak rusa dalam sistem agroindustri praktis dapat dikatakan tidak ada.

Industri peternakan rusa di luar negeri khususnya Selandia Baru dan USA dapat berkembang pesat, salah satu faktor penentunya adalah adanya konsep pengembangan yang terintegrasi (holistik) dan aplikasi teknologi yang tepat. Pemanfaatan plasma nutfah (AnGR) secara terencana melalui aplikasi bioteknologi (pada konservasi secara in situ dan ex situ) akan mendorong peningkatan dinamika populasi. Secara empiris, konservasi satwa liar secara in situ seringkali tidak dapat secara optimal meningkatkan dinamika populasi secara efisien dan efektif karena kurangnya dukungan teknologi khususnya dalam zooteknis ilmu peternakan. Pengembangan secara integral melalui pelestarian secara in situ dan ex situ didukung konsep sistem produksi berkelanjutan terbukti pada akhirnya akan mendorong tumbuhnya agribisnis dari suatu AnGR (Animal Genetic Resources) dan berkembang menjadi suatu agroindustri baru. Secara umum kewajiban pemerintah adalah (a) mempertahankan populasi rusa hidup, (b) melakukan penyimpanan beku materi genetik berupa haploid (n) seperti gamet yaitu semen, oocyte atau berupa diploid (2n) seperti embrio dan (c) menyimpan DNA. Namun pemerintah sebaiknya juga menyediakan akses untuk pengembangan materi genetik tersebut bagi semua pihak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Dalam perspektif sosial ekonomi, strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis pada dasarnya untuk menarik dan mendorong munculnya industri baru di sektor pertanian. Untuk mengubah potensi menjadi harapan berbagai aspek lingkungan strategis ekternal dan internal harus dirancang, dikelola dan dikaji secara intens. Sistem produksi berkelanjutan merupakan jaminan pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah.
Oleh karenanya sistem pengembangan yang selama ini dianut di Indonesia yaitu konsep penangkaran dan budidaya sebaiknya dikajiulang dan dirumuskan kembali sejauhmana efektivitasnya. Sistem produksi berkelanjutan dengan pendekatan ecoefisiensi dalam manajemen teknologi dan manajemen agribisnis merupakan salah satu alternatif untuk menjadi pilihan konsep pengembangan ternak rusa, karena setidaknya akan lebih memberikan ruang untuk pemanfaatan suatu AnGR secara maksimal.

B. Rusa dalam Perspektif Ecoagriculture Park dam Manajemen Agribisnis

Rusa yang ada di Indonesia merupakan plasma nutfah (sumberdaya genetik) yang dapat dikelompokkan sebagai ternak eksotik. Salah satu masalah mendasar dalam pengembangan ternak eksotik adalah tidak seimbangnya antara jumlah produksi dan kebutuhan untuk pemanfaatan. Dengan kata lain sistem perbibitannya sering terabaikan.
Pada prinsipnya harus ada upaya sistematis untuk mengelola sumberdaya genetik baik untuk tujuan konservasi maupun pengembangan. Sebaiknya dibuka ruang yang memungkinkan produsen untuk memilih gen-gen untuk mengembangkannya (misalnya manipulasi gen) sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Mempertahankan keragaman genetik merupakan hal sangat penting namun pengembangan dan memanfaatkannya untuk tujuan yang lebih produktif akan jauh lebih baik. Secara umum langkah-langkah pengelolaan sumberdaya genetik dapat dilakukan dengn mengadopsi The Global Strategy for the Management of Farm Animal Genetic Resources (FAO, 1999), dengan prinsip-prinsip umum sebagai berikut: dukumentasi, evaluasi, pengembangan rencana pemuliaan dan konservasi.

Pelestarian secara in situ dari keanekaragaman genetik ternak rusa pada kondisi agroekosistem setempat dapat dikembangkan melalui apa yang dikenal dengan on-farm conservation by management. Kendala yang mungkin akan dihadapi adalah peningkatan potensi tekanan silang dalam, penyakit, kontaminasi dari kelompok/galur lain dan perubahan yang terjadi karena seleksi alam. Sistem ini secara tidak langsung banyak dilakukan di Indonesia namun kurangnya penanganan manajemen zooteknis menjadi faktor kendala utama. Jika aplikasi teknologi dan manajemen agribisnis diterapkan di tempat habitat rusa tersebut berkembang serta dikemas dalam ecoagriculture park maka pengembangan rusa yang bersinergi dengan pengembangan habitat akan memberikan prospek yang cukup menjanjikan. Pengembangan ternak rusa di Taman Safari Bogor adalah salah satu contoh pengembangan secara ex situ yang dipadukan dengan ecoagriculture park serta aplikasi teknologi yang sudah cukup baik. Kalaupun ada yang masih perlu dikembangkan adalah manajemen sistem produksi berkelanjutan terutama program pemuliaan dan atau reproduksi. Karena ada kemungkinan jika tidak dikelola secara baik maka frekuensi alelik (melalui migrasi atau aliran gen, mutasi, random genetic drift dan seleksi) akan mempengaruhi keragaman genetik.

Pelestarian sumberdaya genetik ternak secara in situ dan ex situ seringkali gagal antara lain karena kurang atau tidak adanya keterlibatan masyarakat dan swasta dalam pengelolaan ternak dan lingkungan. Pengaruh sosioekonomi masyarakat sangat penting sehingga memerlukan pengembangan manajemen partisipasi. Kebijakan pewilayahan ternak dan metode penangkaran seringkali tidak operasional dan tidak berkembang karena kurangnya rekayasa sosial ekonomi masyarakat di lingkungan penangkaran.

Hal lain yang perlu dirumuskan adalah mendorong pengembangan rusa dalam sistem usaha peternakan ternak rusa secara intensif. Untuk sampai pada kebijakan tersebut barangkali ada beberapa hal mengenai peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah yang perlu dimodifikasi. Salah satu sisi positip dari suatu usaha peternakan yang intensif adalah ketergantungan pada bibit. Secara tidak langsung, usaha peternakan secara intensif akan selalu mendorong tumbuhkembangnya program perbibitan dan menjamin adanya „program pelestarian“. Pelestarian secara ex situ, melalui pola pemeliharaan secara intensif dan dukungan industri hulu melalui teknologi reproduksi seperti superovulasi, teknik embrio transfer merupakan upaya pengembangan rusa yang perlu dipikirkan.

C. Kesimpulan:
1. Program internasional dan mekanisme global untuk pengembangan plasma nutfah atau sumberdaya genetik seperti yang telah dirumuskan oleh FAO, perlu diadopsi untuk pengembangan ternak rusa di Indonesia.
2. Program pengembangan ternak rusa perlu direncanakan secara sistematis, dalam sistem yang integratif dan melibatkan lembaga-lembaga yang kompeten
3. Lakukan monitoring dan evaluasi kemajuan secara intens
4. Kebijakan pengembangan ternak rusa tidak saja berbasis pada upaya pelestarian namun juga pada sistem manajemen produksi berkelanjutan agar tujuan jangka panjang pengembangan ternak rusa yaitu (a) berperan penting dalam pengembangan sistem ecoagriculture park dan (b) menjadikan ternak rusa menjadi bagian penting dari sistem agroindustri dapat tercapai [Lihat Model di bawah]

Posted in Pendidikan.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.