Skip to content


Citere dan pasar pagi

Di Perkebunan Malabar
citere_038.jpg

PKL di Citere adalah satu pengalaman tersendiri bagi kami. Bersama teman seangkatan memudahkan kami melakukan adaptasi karena kebetulan kami ada yang sekelas dan setidaknya kami sudah saling kenal dengan mereka. Kelompok kami terdiri 6 orang: depit, angga, romy, afadila feminda, isna isyana dan Purnama.

Tanggal 4 Juli 2006. Berangkat bersama dengan teman2 kelompok lain pada pukul 09.an, kami tiba di Pangalengan pkl 11.30 dan langsung diterima pengurus dan melakukan rapat kerja. Selanjutnya pkl 13.30 an setelah agak lama menunggu, kami akhirnya ditampung oleh salah seorang warga. “ceilah kaya’ pengungsi??”. Tempatnya lumayan, setidaknya dibandingkan kelompok lain. Malam ini,, setelah lapor izin tinggal ke pak RT setempat kami bersama p entis me-lihat2 lokasi peternakan yang kebetulan tempatnya tidak jauh dari tempat tinggal kami.
5 Juli 2006, Pagi pukul 06.00 kami melihat d mengamati TPK Citere untuk bersosialisasi dengan para peternak yang kebetulan berada disitu setor susu untuk ditampung di Dumptank. Usai di TPK kami mengunjungi kandang peternak, kali ini kami melihat sapi2 p Aas dan p warpu. Sore hari kami melihat pemerahan sore dan terus ke TPK Citere.

Hari2 berikutnya kami bolak balik ke kandang peternak, melihat dan membantu peternak2 sesuai tugas PKL, membantu penampungan susu di TPK, melakukan pengamatan di MT Pangalengan, mengamati dan melihat petugas keswan bekerja, melihat peternak ngarit di sawah [eeeh ke gunung kawah burung].

Diselingi acara gerak jalan, penggalangan dana untuk agustusan, main2 dan pesiar ke perkebunan teh malabar bersama anak2 Pintu untuk melihat pasar pagi di sana. [Asyik juga dapat melihat perkebunan teh malabar yang didirikan oleh orang belanda Boscha tahun 1887 itu],, Tidak terasa kami telah beberapa hari ada di citere.

Satu bulan di citere, serasa cukup lama,,, tapi setidaknya kami dapat melihat secara langsung kehidupan peternak, melakukan pengujian susu, kualitas susu di sana,,,, jadi lumayan banyak pengalaman kami. Kami juga banyak kenal karakter peternak, diantaranya p agus, p amang, bu tuti , p iyan, p ade aris, p aas, p ujang, b napsiah, juga p dede, p samin, p casmat, p undang,, itu hanyalah sebagian kecil peternak yang kami kenal selama kami di citere.

Sore hari, 13 juli 2006 kami sempat melihat proses kelahiran sapi di kandang p entis, lancar2 saja proses kelahirannya walaupun menunggu 2 jam sejak ada tanda2 melahirkan, dan perlu ditarik pake tambang. krn katanya udah 5 kali beranak. Anak yang dilahirkannya betina. Semoga menjadi anak yang berbakti pada peternak,,,. Tanggal 26 Juli kami juga mengamati pedet yang baru lahir tadi malam di kandang p Iyan. Tapi di Pangalengan distokia dan CLP [corpus luteum persisten], memang jarang terjadi dan kalaupun ada para peternak udah mengerti resep untuk menanganinya.

Selama PKL kami juga dituntut untuk melakukan indepth study,,, susah juga mencari topik yang menarik,, mana dosennya susah dihubungi. Tapi satu hal yang cukup menyenangkan kami adalah pada saat penyuluhan yang dilaksanakan pada tgl 24 juli 2006 di SD Negeri I, depit jd mc dan materi dibawakan oleh rommy, kami puas peserta sangat antusias dan yang hadir kurang lebih 75 orang. Dosen juga cukup banyak, ada p hasan, p dwi, p hery, b siti, b indrani, dan b enni. Begitu juga teman2 PKl dari kelompok Pintu. Esoknya, siang hari kami ke pasar beli 18 ember, 18 kain saringan (9 meter) dan 62 lap untuk kenang2 an spy para peternak dapat memanfaatkannya selama proses pemerahan. Malamnya kami melihat anak2 kel Pintu melakukan penyuluhan.

Menurut Harwood,” science has much to contribute to these farming systems,……….but to do so,,,,,,,,,,,researchers must be unusually adept at seeing the world from the farmer’s vantage point.”, mungkin itulah intisari penyuluhan yang diadakan pada hari itu.

Tak banyak hal yang akan memberi anda imbalan lebih besar daripada waktu dan kerepotan yang anda lalui demi memahami sesama. Begitulah,,aq cukup paham apa kata George Kienzle dan Edward Dale dalam “Climbing the executive ladder”. Malam ini, sampai pkl 22 an kami diskusi untuk acara besok yaitu persiapan lokakarya.

Di perkampungan Citere, aq banyak menjumpai orang2 bertani, berkebun, beternak, berdagang,, Dan,,,, ayam2 juga masih banyak berkeliaran walaupun flu burung masih menjadi ancaman. Di rumah2 yang agak terpencil, aq tak banyak melihat tumpukan jerami atau kompos. Itu berarti mereka adalah peternak yang tidak memiliki lahan sendiri.
Di Citere pula aq kadang menyaksikan sapi2 yang berumur 5 tahun nampak jauh lebih tua dari yang seharusnya. Kulit yang keriput dan tulang yang keropos, dengan pandangan matanya??, menyiratkan bahwa malnutrisi yang berkepanjangan sedang menggerogoti tubuhnya. Umur sapi itu 5 tahun, yang berarti kurang lebih sama dengan wanita berusia 45 tahun. Usia yang cukup tua bagi seorang ibu untuk beranak?. Sapi2 tua itu nampak lebih sering mengais-ngais mencari sisa makanan,, sambil menahan lapar dan haus. Konsentrat yang diberikan peternak, jauh dari cukup. Dan aq rasa sapi2 itu akan lebih menderita di malam hari. Aq kadang mempercepat langkahku jika melihat kandang yang kumuh berbau atau sapi yang mendengus. Kurasa itu sesuatu yang keliru, Aq seharusnya cemas memikirkan sapi2 sahabat2ku itu tapi,,,,…. peternak sesungguhnya jauh lebih menderita dan,,,,,,, anak peternak?,, Aq cukup khawatir akan masa depannya?.

Di rumah, hampir setiap hari aq menyantap telur orak-arik kesukaanku,, dan aq lebih sering menyisakan dibanding menghabiskannya. Aq menyesal selama ini menyia-nyiakan kelebihan yang aq miliki. Hidup mungkin sangat kejam memperlakukan suatu kaum,, tapi tidakkah kita perlahan-lahan mencoba untuk memahami bukan saja dengan logika tapi juga dengan hati yang terdalam.

1 Agustus 2006 pkl 10, kami k pasar untuk membeli kenang2-an untuk koordinator komda setempat yaitu bapak Entis dan wakilnya bp warpu. Adapun yang kita beli adalah kemeja sebagai tanda terimakasih kami yang begitu dalam dimana sepanjang PKL ini kami selalu dibantu untuk kelancaran tugas kami. Pukul 16.00 setelah silaturahmi pamitan dengan peternak yang ada TPK, kami semua melanjutkan berkeliling ke peternak untuk pamitan pulang. Mulai dari kelompok III yaitu p didi, p amang, p asep dan ketua kelompok II yaitu pak usep, setelah itu kita pamitan ke kelompok II p undang, p casmat, p dede, p kamin, juga kelompok I yaitu p aas dan p iyan. Kami sangat senang sekali dan terharu juga saat kepulangan kami. Ada peternak yang mengatakan akan merasa kehilangan, sedih dll. [Begitulah yang tertulis dalam buku hariannya: Purnama].

Kami kadang agak risau dengan masalah: hedonisme,,,, d sejenisnya,. Kami hanya manusia biasa yang juga rindu dengan kehidupan spiritual. Hanya saja hidup bergairah dan bersemangat kadang membuat : alam syahaadah dan alam ghaaibah aq agak sedikit rancu. Dan kami pastinya akan menyeimbangkan dua potensi yaitu fujur dan taqwa. Sedang hedonisme.??, biarkan itu menjadi sisi lain kami,, sekedar warna warni kehidupan.

2 agustus 2006 setelah lokakarya di KPBS, pkl 14. an,, kami mengadakan acara perpisahan dengan peternak dan komda setempat, acaranya makan bersama di rumah bapak warpu. Dan oke,,, usai sudah kegiatan kami di Citere.

Jarak Pangalengan – Bandung, sebenarnya tidak terlalu jauh,, namun kali ini perjalanan ini serasa lebih lama.. aq, tak ingin menengok ke belakang,, tapi ingatanku tak juga hilang oleh keinginan itu.
Dan kurasa itu bukan karena Citere,… Citere toh hanya sebuah tempat. Sayup2 dalam relung hati aq mendengar bisikan lain dan itu membuatku berdebar-debar:
”… kau harus ingat, kau tidak selalu bisa menilai sesuatu dari hal2 yang pernah mereka lakukan,.”.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.