Skip to content


STUDI IDENTIFIKASI SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF SAPI PERANAKAN ONGOLE DI PROPINSI JAWA BARAT

(Kab. Subang, Majalengka, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis,
Purwakarta dan Bogor)
RANGKUMAN EKSEKUTIF [Makalah lengkap: dwicipto@unpad.ac.id]

Latar Belakang

Tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh kita semua di masa depan adalah masalah ketahanan dan keamanan pangan. Diperkirakan satu dari enam orang di dunia ini menghadapi kekurangan pangan. Ternak merupakan elemen penting dari suatu sistem usaha pertanian yang diharapkan dapat memberikan kontribusi cukup baik untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi manusia.

Dari tahun ke tahun usaha peternakan sapi pedaging di dunia terus meningkat. Namun demikian dari sekitar 100 bangsa sapi di dunia, tidak lebih dari 20 bangsa sapi yang kontribusinya sangat signifikan. Sumberdaya genetik ternak telah mengalami evolusi cukup lama melalui proses seleksi alam sehingga berperan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pertanian. sumberdaya genetik ternak lokal sangat penting untuk dipertahankan terutama karena faktor adaptasi terhadap penyakit, parasit, dan faktor pembatas lainnya. Pemanfaatan sumberdaya genetik ternak lokal memiliki peranan penting untuk menunjang sistem petanian berkelanjutan. Ternak-ternak yang telah lama didomestikasi di suatu daerah atau beradaptasi cukup lama di suatu daerah sebaiknya mendapat prioritas untuk dikembangkan lebih lanjut.

Selama 25 tahun terakhir konsumsi daging di dunia telah meningkat secara tajam. Peningkatan konsumsi daging sebagian besar disebabkan sejalan dengan semakin meningkatnya standard hidup dan diversifikasi pangan. Kendala utama produksi daging di dalam negeri justru disebabkan populasi daging sapi lokal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Indikatornya adalah semakin terkurasnya populasi sapi lokal di daerah-daerah yang selama ini menjadi produsen utama sapi lokal tersebut.

Salah satu program nasional (pemerintah) adalah pembibitan sapi-sapi lokal. Pembibitan merupakan bagian penting dari pembangunan peternakan secara menyeluruh. Secara empiris menunjukkan lemahnya usaha pembibitan mendorong membanjirnya sapi-sapi impor. Pada umumnya sektor swasta kurang tertarik terhadap usaha peternakan pembibitan. Disamping memerlukan investasi yang tinggi, usaha pembibitan memerlukan waktu yang lebih panjang. Itulah sebabnya dapat dikatakan, selama ini pembibitan ternak secara tidak langsung berbasis pada usaha peternakan rakyat, yang tentu saja programnya kurang begitu terarah. Konsumsi daging rata-rata 4,30 kg/kapita/tahun atau baru 42,57 % dari norma gizi (10,1 kg/kap/tahun) atau setara dengan 267 ribu ekor sapi. Dari sejumlah itu, hanya 25 ribu ekor saja dari produksi lokal Jawa Barat dan sebanyak 242 ribu ekor lainnya diperoleh dari import maupun propinsi lain. Apabila Jawa Barat menginginkan tercapai norma gizi, maka diperlukan sebanyak + 668 ribu ekor setiap tahunnya.

Keadaan ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Usaha pembibitan yang lebih terpadu harus segera dilakukan secara sistematis. Dalam kerangka inilah diperlukan standarisasi sapi-sapi lokal diantaranya adalah sapi Peranakan Ongole (PO). Pengelolaan sumberdaya genetik ternak penting untuk mempertahankan potensi genetika dari bangsa ternak tersebut karena terbukti ternak tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan, dapat memenuhi keinginan atau selera konsumen dan produktivitasnyapun cukup baik.

Sapi Peranakan Ongole telah cukup lama dipelihara oleh para peternak. Kinerja dan produktivitas ternak tersebut apabila dipelihara secara intensif cukup baik. Standarisasi diperlukan untuk memacu peningkatkan produktivitas ternak dalam skala populasi. Pada sapi potong beberapa indikator produksi sangat dipengaruhi oleh faktor bibit. Oleh karena itu, kualitas bibit yang baik perlu distandarisasi agar mutu genetik ternak tersebut dapat meningkat dari periode satu ke periode selanjutnya. Pemerintah bersama-sama komponen peternakan lainnya memiliki tanggung jawab bersama untuk mempertahankan dan meningkatkan peran sumberdaya genetik sapi Peranakan Ongole (PO).

Karakteristik bangsa tertentu baik kuantitatif maupun kualitatif perlu diidentifikasi sebagi informasi penting bagi pengembangan kebijakan ke depan. Keuntungan pengembangan skema tersebut di atas sangat luas baik untuk tujuan penelitian maupun untuk pengembangan ternak itu sendiri. Tidak ada persilangan ternak tanpa evaluasi terlebih dahulu dan perencanaan pemuliaan (breeding plans) yang didasarkan pada ternak asli dan lokal harus diprioritaskan. Atas dasar hal tersebut di atas perlu digali, diinventarisasi, dan dipaparkan berbagai ciri dan sifat-sifat yang dimiliki oleh sapi PO khususnya di berbagai wilayah Jawa Barat, melalui suatu kegiatan penelitian yang mendalam dan komprehensif, untuk bahan kajian dalam melakukan standardisasi sapi PO di masa depan.

Posted in Pendidikan.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.