Skip to content


IMPOR SAPI POTONG DALAM PERSPEKTIF KEAMANAN PANGAN

Makalah lengkap: dwicipto@unpad.ac.id

Pendahuluan

Perubahan global, regional dan nasional secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi pengembangan agribisnis dan agroindustri produk peternakan. Dampak yang paling terasa adalah adanya tuntutan agar produk yang dihasilkan senantiasa kompetitif khususnya terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan mutu produk serta sistem penanganannya. Dengan demikian secara kuantitatif dan kualitatif suatu produk mempunyai daya saing yang tinggi dan diterima oleh konsumen dengan baik karena secara normatif merupakan produk yang aman dan sehat.

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap rakyat Indonesia dan senantiasa tersedia cukup setiap waktu, aman, bermutu, bergizi dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan mengamanatkan perlunya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan, baik bagi pihak yang memproduksi maupun mengkonsumsi pangan serta tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ditegaskan bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus mampu mendukung dan mendorong tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka ragam barang dan atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen. Kegiatan atau proses produksi pangan untuk diedarkan atau diperdagangkan harus memenuhi ketentuan tentang sanitasi pangan, bahan tambahan pangan, residu cemaran dan kemasan pangan.

Usaha peternakan sapi potong merupakan salah satu industri peternakan yang perkembangan sangat pesat. Kebutuhan yang terus meningkat tidak dapat diimbangi oleh pasokan sapi potong lokal sehingga mendorong peningkatan sapi impor secara tajam. Jika pada tahun 1991 impor sapi potong hanya 12.591 ekor maka pada tahun 2000 impor sapi bakalan oleh 51 feedloter di Indonesia mencapai 236.188 ekor (Afpindo, 2001). Meningkatnya jumlah impor sapi tidak terlepas dari meningkatnya konsumsi protein hewani asal daging sapi yaitu 7.34 kg/kapita/tahun. Permintaan daging nasional diperkirakan sebanyak 671,917 (x 1000 ton). Jika pasokan dari pemotongan tradisional diperkirakan 391,852 (x 1000 ton) maka gap permintaan pasokan adalah 280,065 (x 1000 ton). Secara empiris kenaikan populasi ternak sapi tidak pernah mencapai di atas 5% per tahun., sedangkan pertumbuhan permintaan daging sapi/kerbau selalu 8% per tahun, artinya impor sapi untuk jangka waktu yang lama masih akan diperlukan untuk memenuhi permintaan dalam negeri.

Ketergantungan terhadap impor suatu ternak bagaimanapun tidaklah baik untuk pengembangan industri peternakan dalam negeri. Nam,un demikian sangat tidak mudah untuk berswasembada pangan khususnya daging. Berbagai strategi telah dilakukan baik oleh pemerintahan maupun berbagai asosiasi untuk mengembangkan dan mengoptimalkan industri peternakan dalam negeri namun kelihatannya belum berhasil, salah satu indikatornya adalah impor ternak sapi dan daging yang cenderung terus meningkat.

Impor ternak dan daging memerlukan perhatian dan pemahaman secara baik dan komprehensif khususnya oleh pemerintahan, importir, peternak sapi lokal maupun konsumen. Dalam perspektif keamanan pangan, konsumen dan publik berkepentingan terhadap masalah kesehatan dan keamanan pangan khususnya dalam kaitannya dengan penyakit-penyakit zoonosa dan residu yang mungkin terdapat pada ternak dan daging.

Pemerintah berkewajiban mengatur secara harmonis impor ternak dan daging dengan tetap menjaga kelangsungan industri peternakan di dalam negeri serta harus secara konsisten dan tegas melaksanakan pembinaan, mengatur dan mengawasi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku sedangkan importir dalam kerangka peraturan perundangan yang berlaku melaksanakan semua prosedur atau aturan yang berlaku.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.