Skip to content


Taman Kerbau, lifelong learning dan voluntourism.

Sebuah perjalanan jauh selalu membuat pikiran selalu berputar, kadangkala tanpa arah yang jelas dan pastinya membingungkan. Mata yang lelah dan setengah terlelap menjadikan khayalan, mimpi, dan harapan akan sesuatu datang silih ganti berganti. Beruntung kalau situasi seperti itu memunculkan ide bagus, karena seringkali yang terjadi adalah mimpi konyol yang hanya membuang-buang energi. Dan, itu seringkali terjadi selama saya melakukan perjalanan.

Hari ini saya ingin balik kembali ke sebuah perkampungan kerbau, di Muara Wis. Dalam perjalanan ke tempat yang lumayan cukup jauh itu saya membayangkan spirit film “Buffalo Dream” benar-benar terjadi di negeri ini. Buffalo Dreams adalah sebuah film lama karya David Jackson, menceritakan perjuangan seorang remaja Josh Townsend melestarikan kerbau dan tradisi suku Navajo di New Mexico.

Negeri ini sangat beruntung memiliki sumberdaya hayati kerbau yang luar biasa. Pemerintah telah menetapkan 8 rumpun kerbau yaitu Kerbau Simeulue, Kerbau Kuntu, Kerbau Pampangan, Kerbau Sumbawa, Kerbau Toraya, Kerbau Moa, Kerbau Kalang (Kerbau Kaltim, Kerbau Kalsel).

Simeuleu di aceh, Tana Toraja di Sulawesi, Pampangan di OKI, Paminggir di Hulu Sungai Utara, Banten selatan, Sumbawa, Muara Wis Kutai Kertanegara dan masih banyak lagi adalah sedikit dari daerah-daerah “kerbau” yang mengagumkan. Di daerah tersebut, kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Kerbau dan industri voluntourism bukanlah sesuatu yang muskil untuk dikembangkan. Di beberapa daerah kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Kerbau adalah salah satu sumber makanan penting, untuk kegiatan ritual dan bagian dari lanskap budaya.

Bukan hal yang tidak mungkin, di daerah-daerah tersebut dikembangkan menjadi Centennial buffalo, untuk tujuan pendidikan, rekreasi sekaligus melestarikan daerah dengan fitur indah dan ilmiah yang unik, serta melestarikan daerah tersebut untuk kepentingan dan kenikmatan generasi sekarang dan masa depan. Meningkatkan kualitas berbagai atribut sumber daya alam, hidrologi, beragam padang rumput diintegrasikan untuk kenikmatan generasi masa depan dan peningkatan masyarakat. Semacam taman nasional dengan mengembangkan padang rumput asli dan tanaman eksotis.

Membangun dan mengembangkan voluntourisme berbasis sumberhayati kerbau memerlukan dukungan semua pihak, perguruan tinggi setempat, tokoh-tokoh dan pelaku konservasi. Kolaborasi tersebut diperlukan agar taman kerbau mampu menjadi perekat perlindungan sumber daya alam dan budaya sekaligus mendorong anak-anak untuk menjadi konservasionis masa depan. Bisa berfungsi sebagai laboratorium sumber daya alam unggulan dengan menerapkan keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Semacam learning center, dimana disitu pengunjung bisa mengikuti pelatihan inhouse untuk banyak hal, memahami arkeologi, sejarah perintisan dan Inventarisasi All-Taxa Biological (ATBI). Para ilmuwan dan siswa akan berinteraksi melalui ATBI, Bio-blitzes, dan database secara online.

Situs konservasi dan restorasi adalah sesuatu hal yang sangat langka di negeri ini. Padahal berbagai konsep mengenai Konservasi Sumberdaya Alam sudah sangat banyak. Kelemahannya, mereka kurang memiliki mitra seperti perguruan tinggi, perusahaan-perusahan nirlaba, LSM-LSM dan lain-lain. Perguruan tinggi mungkin dapat berpartisipasi menyusun protokol-protokol restorasi dan menstransfernya. Agar taman-taman nasional tidak rusak dan punah tergerus jaman, agar para petani dan peternak dapat memanfaatkannya, agar-agar anak-anak kita bisa belajar banyak hal tentang konservasi dan agar kita dapat melihat luarbiasanya keragaman hayati dan budaya kita.

Well, kini saatnya saya menikmati film ringan: Home on the Range. Sebuah film animasi musikal atau mungkin lebih tepatnya film komedi Walt Disney. Lucu juga berbagai upaya yang dilakukan oleh “Trio sapi perah” untuk menangkap pencuri ternak terkenal bernama Alameda. Selamat sore.

Posted in FolkTale.


Veterinary hospital 2017

http://veterinaryhospitaldesign.dvm360.com/vote-now-2017-veterinary-economics-hospital-design-competition-peoples-choice-award-winner

Posted in Pendidikan.


Basel Convention

baselconventiontext-e

Posted in Materi UU dan Kebijakan.


Pengantar KBLI

Pengantar KBLI (dwi cipto b)

Posted in Pendidikan.


Managing Your Farm Risks

There are ways of mitigating losses so that you can ensure your farm and livelihood is able to withstand the ups and down of markets and weather.

So what can you do to reduce risks in your farming business? While you cannot eliminate risks completely, you can participate in programs that help to reduce risks, such as AgriStability.

AgriStability provides a sense of security for farmers because it protects them from large declines in their farming income caused by production loss, increased costs, or market conditions.

At the end of the year or selling period, if the farmer’s net income is lower than what they normally make – i.e. experiencing a large margin decline – the government will pay whatever the difference is through the AgriStability program. To be compensated for losses, production margin have to fall below 70% of the typical income made in a season. The AgriStability program uses margins to determine compensation.

There are two types: program and reference. Program margin is determined by subtracting allowable income from allowable expenses in a given year or growing season. It also takes into account any adjustments related to inventory and receivables. These adjustments are made in accordance with the information provided by the farm owner.

Reference margin is a farmer’s average income over the previous three to five years. Because thare are always aberrant years for money made or lost, the lowest and highest margins are not included in the calculation. Whatever the lowest historical number is for earnings serves as the reference margin. Once these factors are all accounted for, a farmer is compensated if their margins fall below 70% of their reference margin.

There’s no one right answer to protecting your losses. What’s important is finding the right plan for you and your farm. FBC can help you make an informed decision. We will help you assess your risk, understand the ins and outs of each program, along with what steps are needed to initiate that plan. The decision is yours, but FBC can help walk you through the options so that it’s as seamless as possible.

A Snap Shot of FBC Members

· 1 in 4 FBC Farm Member participate in AgriStability

· 17% of participants received a benefit

· Benefits received last year totaled $7.6 million

· The average payout per eligible Member was $21,093

From: http://www.farms.com/expertscommentary/managing-your-farm-risks-105798.aspx

Posted in Latihan.


Agaraphobia: Melihat tidak hanya dengan mata namun juga harus menyertakan hati.

Capture12_13_20 Bandung, 27 Jan 2015. Cerita tentang “KPK vs Polri” kali ini benar-benar mirip sebuah sinetron, sangat dramatikal. Publik mendapat tontonan: ironi disana-sini, fiksi disana-sini, ada yang menggemaskan, ada yang menggelikan, ada yang masuk akal namun juga ada yang akal-akalan. Sebuah cerita dengan narasi yang jelas. Hanya saja pengamat dan publik mungkin melupakan satu hal yaitu para politisi busuk. Merekalah sebenarnya sutradaranya. KPK dan Polri sesungguhnya adalah pembela dan sahabat masyarakat, sebagai sebuah institusi mereka tidak layak dikriminalisasi.

Well, lupakan sejenak perang opini yang menyita waktu dan energi kita. Sejarah telah menceritakan bagaimana upaya para petualang, pemodal, kartel atau sekelompok politisi ambisius menguasai negara dengan berbagai cara yang kadang penuh intrik dan culas. “The Boys on the Bus” nya Timothy Crouse, adalah sebuah novel semi non fiksi yang bagus untuk pembelajaran bagaimana lika-liku Richard Nixon di tahun 1972an, menelikung lawan politiknya. Dan, sesungguhnya para politikus busuk sekarangpun mempraktekkan hal yang sama, bahkan dengan cara-cara yang lebih canggih.

Di tahun 2014 yang baru lewat, banyak novel semi fiksi yang bagus dan layak untuk dibaca. Cerita dan perang melawan kedzoliman dari masa ke masa selalu cenderung berulang. Salah satu novel terbaik 2014 yang perlu dibaca adalah “All the Light We Cannot See”. Sebuah novel berlatar sejarah perang, saat Nazi merambah eropah pada perang dunia II. Cerita tentang kehidupan sebuah keluarga Perancis pada sebelum, saat dan sesudah perang dunia. Sang penulis Anthony Doerr sebenarnya seorang warganegara Amerika, namun sejarah juga mencatat banyak penulis dari bangsa dan latar belakang yang berbeda bisa menulis dengan baik dan menakjubkan dalam memotret bangsa lain. Mungkin karena tidak bias dan lebih jernih cara pandangnya.

“All the Light We Cannot See” juga sebuah novel menarik karena tidak stereotipe dan karakter para pelaku dalam novel tergambar sangat detail nilai humanisnya. All the Light We Cannot See, menceritakan banyak hal tentang “ketidaksempurnaan” dalam satu sisi namun sesungguhnya sangat hebat dalam persepsi pembaca. Pelaku utama dalam novel itu Marie laure, anak seorang tukang kunci sebuah museum di Paris adalah seorang gadis yang telah mengalami kebutaan sejak berumur enam tahun. Anak hebat, kemampuan berpikirnya sangat cerdas dan memiliki kepercayaan sangat tinggi walaupun digambarkan sedikit pemalu. Laure pastinya seorang berkarakter multifaset walaupun hidup dalam lingkungan yang kurang sempurna. Perang dunia membuat keadaan semakin parah dan ia bersama keluarganya harus hidup berpindah-pindah dalam pelarian. Laure dewasa digambarkan sebagai seorang otodidak di bidang radio dan terlibat dalam gerakan bawah tanah membantu negaranya melawan Nazi yang menginvasi Perancis pada tahun 1940.

Situasi yang dihadapi Marie Laure sebenarnya juga dihadapi oleh masyarakat seperti sekarang, yang sedang galau karena situasi buruk atau sejenisnya. Keadaan yang dinamakan “Agaraphobia”, dalam ilmu kedokteran jiwa agaraphobia atau DSM-IV Tr adalah semacam gangguan yang ditandai dengan kecemasan terhadap sebuah situasi atau lingkungan yang tidak nyaman lagi atau berbahaya. Kondisi sekarang KPK vs Polri mengarah ke situasi seperti itu. Agaraphobia.

Bagi saya “All the Light we cannot See” adalah sebuah cerita pembelajaran yang kaya akan metafora. Kadang kita bisa melihat dengan jernih dan terang benderang justru dari tempat yang gelap. Banyak yang memiliki mata sempurna namun tidak digunakan dengan semestinya. Mungkin karena melihat dengan mata saja tidak cukup, melihat juga harus dibantu dengan hati. Selamat malam

Posted in FolkTale.


Kuliah UU ke-8

KULIAH KE-9 UU

Kuliah ke-10 UU

Posted in Materi UU dan Kebijakan.


Sebuah renungan pagi di Cilame, Bandung

Ukraina ReuterBandung, 4 Mei 2014. Matahari belum terbit, mungkin karena hari masih cukup pagi. Jam memang masih menunjukkan pukul 05.10 ketika saya bersiap-siap bersepeda. Mumpung cuacanya cerah, ada baiknya kita berolahraga dan sekalian refreshing. Rute hari ini rencananya adalah Cilame-Buper Andes–Gunung Padang dan sekitarnya.

Sambil menunggu terbitnya matahari dan ngecheck ulang kesiapan sepeda, kegiatan ngedengerin radio adalah pilihan bijak. BBC, Elshinta, Voa dan KLCBS adalah beberapa radio yang layak untuk didengar. Banyak peristiwa dramatis di hari-hari terakhir ini. Usai pileg yang kurang mengesankan dan para calon capres yang sama sekali tak menjanjikan, rasa-rasanya tak ada lagi rasa nyaman untuk mendengar dan menyimak para pengamat politik. Jaman sekarang susah mendapatkan pengamat yang kredibel, profesional dan etis. Ngeri rasanya kalau negara ini dipimpin oleh orang yang tidak benar.

Di luar sana sebenarnya ada peristiwa dramatis yang mestinya dipikirkan secara serius. Puluhan orang telah tewas dan lainnya cedera akibat bentrok antara etnis Ukraina melawan kelompok militan pro-Rusia di Odessa Ukraina. Sangat takjub melihat orang-orang yang sudah agak uzur bentrok hanya karena perbedaan ras dan ideologi. Sangat mengkhawatirkan, karena bisa jadi kasus Ukraina-Rusia memicu terjadinya perang dunia ke III. Tergantung Tuan Putin, Obama, Merkel, Cameron, bisa tidak duduk menyelesaikan masalah yang tidak bisa dianggap sepele.

Odessa Ukraina, ini adalah sebuah kota terbesar ke tiga Ukraina. Selain merupakan pusat budaya dan multietnis. Kota ini merupakan pelabuhan dan transportasi utama yang terletak di pantai barat laut Laut Hitam. Odessa atau Odesa jumlah populasinya diperkirakan hanya 1 jutaan orang lebih dikit. Dan, dari yang sedikit itu beberapa orang diantaranya adalah teman medsos di Jango Online, sebuah medsos kelompok penggemar musik yang sangat aku sukai. Pengin rasanya menikmati sore hari di Mozart Hotel. Lanjeronovskaya Street 13, Odessa 65026.

Nama Odessa aku ketahui saat masih remaja, maklum saat itu (tahun 1972 an) novel The Odessa File karya Frederick Forsyth seperti menjadi bacaan wajib setelah novel The Day of the Jackal. Namanya juga remaja, pengin mencari sesuatu yang di luar mainstream. The Odessa File meneguhkan: “there is no collective guilt,…guilt is individual, like salvation”. Suatu bangsa sebenarnya tidaklah jahat, hanya pribadi-pribadi, individu-individulah yang jahat. Tidak ada dosa kolektif, tidak ada dosa bersama. Begitu kira-kira pesan moralnya.

Sekitar empat tahun yang lalu, para remaja kita juga demam membaca sebuah novel asal China berjudul: First Love Forever Love yang ditulis oleh Shu Yi. Di negaranya (China Tiongkok), novel ini terjual sangat laris, konon mencapai 80 juta eksemplar. Novel tentang drama percintaan memang selalu menarik dan dibaca oleh para remaja. Kisah tentang Zhao Mei yang tidak lulus masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tiongkok dan lantas memutuskan merantau kuliah di Odessa, Ukraina, sedikit banyak mengingatkan akan keindahan kota di pantai tenggara Ukraina. Well, katanya: “Jika saat itu aku punya keberanian, cinta kita pasti tak akan berakhir seperti ini”.

Pantai, museum, opera, ballet dan musik adalah ciri khas kota Odessa. Di kota ini, musik jazz sangat diapresiasi. Tahun 2013 yang lalu, salah satu anak bangsa kita yaitu pianis kita Joey Alexander Sila, memenangkan “Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill” yang diselenggarakan di Odessa, Ukraina.

Joey Alexander yang masih berumur 10 tahun, akhir April ini menuju Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian konser jazz. Sebuah berita yang membanggakan bagi dunia jazz di negeri kita. Kehadiran Joey Alexander di Amerika Serikat atas undangan dari trumpetis jazz sohor Wynton Marsalis dalam sebuah konser dan gala dinner bertajuk “Love, Loss and Laughter: The Story of Jazz” yang mengambil tempat di Frederick P Rose Hall “The House Of Swing” yang berlokasi di Broadway 60 th Street, New York. Sungguh luarbiasa jika kita pada tanggal 7 Mei besok bisa menyaksikan Joey Alexander bermain solo piano jazz di Paul Roberson Center For The Arts , 102 Witherspoon Street Princeton, New Jersey, Amerika Serikat. Konser yang ini atas prakarsa dari Leonardo Pavkovich, pemilik label Moonjune Record di New York, yang juga merilis album-album jazz.

Well, Odessa Ukraina dan masyarakatnya yang multi etnis tak seharusnya porak poranda oleh jiwa petualang para politikus yang sangat ambisius memperebutkan kekuasaan. Kekacaubalauan cara berpikir para politikus bisa jadi bersifat universal dan pastinya itu sebuah ancaman, termasuk politikus di tanah air. Akan sangat ironis jika ideologi mengalahkan sendi-sendi peradaban dan agama. Selamat berhari minggu, selamat bersepeda dan selamat menikmati jazz pastinya.

Posted in Refresh.


Kawan lama memang tak mudah terlupakan

K75 SalatigaCipularang, 27 April 2014. Pepatah lama mengatakan “A true friend is one who thinks you are a good egg even if you are half-cracked”. Sebegitu toleransi dan sempurnakah sehingga tak ada setitik saja noktah hitam seseorang di mata seorang sahabat?. Mungkin, maksudnya tidaklah sebegitu ekstrim. Sahabat yang baik justru harus saling mengingatkan, memberi masukan yang berguna dan bermanfaat agar persahabatan tidak rusak oleh kebenaran semu. Saya tak bermaksud mempertentangkan arti sahabat dalam bingkai imanensi dan transedensi, namun agak setuju dengan Elbert Hubbard: “The friend is the man who knows all about you, and still likes you”.

Jam telah menunjukkan hampir pukul 21.00. Gedung Sasana Langgeng Budaya TMII masih penuh dengan dengan para undangan ngantenan anak seorang teman. Teman-teman masa kecil saya juga masih ada di dalam menikmati keceriaan, tepatnya kebersamaan berjumpa dengan dengan sahabat-sahabat lama. Sepanjang perjalanan tol cipularang malam ini sangat rame tapi memang ada yang sepi di relung-relung sel hepatosit saya. Pikiran saya yang sepertinya masih rame dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dan memang begitulah biasanya akhir dari drama sebuah reuni. Dan, sesungguhnya sangat tepat kalau orang mengatakan: “A good friend is cheaper than therapy”.

Dan perjalanan malam ini, sesungguhnya ditengarai membuat orang sedikit bertambah semakin “cerdas”. Selain merangsang otak dan melatih daya ingat, kita juga ditantang untuk selalu mencoba mengelaborasi pikiran dan tindakan-tindakan kita. Bukan melamun tapi sejenis kontemplasi, menggali kamus dan menemukan jalan keluar apa yang bisa dan akan kita lakukan ke depan. Sungguhpun dalam kegelapan, dalam diri seseorang sesungguhnya terpendam cahaya yang tak mudah untuk dipadamkan.

Beruntung, kita ini sekarang hidup di jaman cyberspace. Jarak menjadi semakin sangat dekat. Teknologi cyberspace menciptakan istilah lain dalam leksikon persahabatan. Empati virtual merubah segalanya. Sisi positipnya komunikasi sosial menjadi jauh lebih mudah, teknologi yang dulunya susah dan rumit untuk diperoleh kini jauh lebih mudah untuk didapatkan. Dan, teman lama maupun sahabat baru (walaupun kadang sangat imajiner) bermunculan, kadang dari tempat yang tak terduga dan tak terbayangkan sebelumnya.

Pertemuan hari ini dengan sahabat-sahabat lama yang sangat singkat mengingatkan pada sebuah novel berjudul: “Just One Day”. Gayle Forman, jurnalis dan penulis buku itu, sepertinya tak sepakat bahwa hidup tak sekedar seperti sebuah koper: mengemas, merencanakan, dan memberi order. Banyak hal yang bisa terjadi secara tiba-tiba dan itu kadang-kadang tak butuh terlalu lama. Mungkin hal-hal seperti itulah yang mendorong seseorang mau bersusah payah merindukan sebuah perjalanan, mau mengambil resiko dan mencoba terus menemukan dirinya sendiri, dan mungkin juga karena dia mencari hari-hari yang diinginkan itu.

Untuk bisa mendapatkan identitas baru, bisa jadi seseorang menjadi tersesat. Tak jarang yang celaka, namun banyak juga yang tak padam semangatnya. Mendapatkan hal yang terbaik memang tak mudah, bahkan jika hal itu hanya sebuah mimpi. Apa pun bisa terjadi hanya dalam satu hari. Just One day.

Pukul 23.10, saya sudah sampai di pintu tol Buah Batu. Persis ketika Jeanni Seelly menyelesaikan senandungnya: Can I Sleep in Your Arms. Malam ini saya ingin cepat-cepat menemukan bantal, dan tidur. Mimpi yang indah, mimpi bertemu lagi sahabat-sahabat kecil bermain sepakbola sambil berhujan ria di lapangan UKSW Salatiga, sebuah kota kecil di lereng Gn Merbabu nan sejuk.

Posted in Refresh.


Mereka bisa dan kita pun (mestinya) bisa

dwicipto10Bandung, 21 April 2014. Konon, semangatlah yang membuat seseorang yang sepertinya biasa-biasa saja bisa menjadi kelihatan sangat luarbiasa. Kata orang, semangat dan ketekunan adalah kunci keberhasilan. Semangat itu pula yang mungkin menjadikan produk luarbiasa seringkali lahir dari buah ketekunan seseorang yang sangat menghargai sebuah proses dan berpikir positip bahwa dengan keterbatasan yang ada kitapun bisa melakukan hal-hal melampaui ketidakniscayaan.

Bagi mereka yang senang membaca tentang bioanthropologi pasti mengenal nama Helen Fisher. Karya-karya Helen selalu dinanti dan tak jarang menjadi rujukan baik para anthropolog, dan juga psikolog. Selain penuh dengan saran dan motivasi, pikiran-pikirannya yang kadang revolusioner membuat kita terpacu untuk membuka diri dan mau berkompetitif secara etis. Hati, jantung dan otak adalah bagian dari kepribadian dan sangat mempengaruhi keseharian dunia kita. Sebagai seorang biolog, Helen juga meyakini adanya hubungan kepribadian dasar seseorang dengan sistem neurokimia dari dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen.

Konon katanya, dopamin dianalogkan seseorang berkarakter explorer (kreatif, bertemperamen seperti halnya seorang artis, dan diasosiasikan dengan warna kuning), seretonin merupakan penghela seorang berkarakter builder (masuk akal, bertemperamen seperti seorang ustad, dan diasosiasikan dengan warna biru), testosteron diibaratkan seseorang barkarakter direktur (mementingkan penalaran; sangat rasional dan diasosiasikan warna merah) sedang estrogen/oksitosin adalah karakter seorang negotiator (intuitif; idealis dan diasosiasikan dengan warna hijau).

Temperamen seseorang bisa jadi merupakan faktor bawaan (dan pastinya dari keluarga) dan juga sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial. Kepribadian, empati dan semangat yang dimiliki seseorang tak jauh dari apa yang menurut Helen dia sebut sebagai interaksi dan asosiasi antara mekanisme biologis dan neurokimia: lust, attraction and attachment.

Hampir tiap pagi sekitar pukul 06.10 an, saya melewati perempatan Jl. Ahmad Yani-Jl. Riau, melihat dan mengamati perilaku para pengemis yang sepertinya sangat sehat sehat-sehat fisiknya. Sepuluh menit dari situ, tepatnya di Jl. Martadinata, setiap hari pula saya melihat seorang bapak-bapak membersihkan halaman trotoar di depan kantor Kejaksanaan Tinggi dekat sekolah Taruna Bhakti. Dari caranya menyapu, terlihat bahwa bapak ini pernah terserang stroke. Saya telah melihatnya setidaknya sekitar 2 tahun yang lalu dan awalnya saya merasa iba, karena sepertinya bapak ini memaksakan diri untuk bekerja. Selain kelihatan sangat susah memegang sapu, bapak ini usianya juga sudah cukup tua. Namun dengan berjalannya waktu saya melihat kesehatannya ternyata maju semakin pesat. Mungkin semangat bekerja dan latihan bergerak setiap pagi yang membuatnya lebih sehat. Betapa bisa tidak simetrisnya antara keterbatasan dan semangat. Di dunia ini sangat banyak orang dengan keterbatasan fisik menjadi figur terkenal, diantaranya Stephen Hawking, fisikawan dan kosmologis terkenal.

Pikiran saya menerawang ke belakang, mengingat saat berakhirnya praktikum matakuliah Mankester. Sebagian besar mahasiswa sepertinya gembira dan lega dengan berakhirnya kegiatan praktikum. Mungkin di matakuliah yang lain takkan jauh berbeda. Miris dan khawatir, manakala suatu pembelajaran dianggap sebagai sebuah beban. Sangat miris karena setiap minggu sebagian besar tugas merupakan hasil copy paste. Dan poin pentingnya adalah sangat memilukan, melihat pragmatisme mengalahkan idealisme.

Belajar dari semangat bapak tua yang memiliki semangat tinggi (walaupun terkena stroke), sangat-sangat takjub dengan semangat Stephen Hawking atau pada Temple Grandin seorang penderita autis yang buku-bukunya tentang animal science dan animal welfare menjadi rujukan para ilmuwan peternakan dan kedokteran hewan. Belajar dari Helen Fisher, sepertinya ada satu hal yang penting untuk dipahami oleh kita yaitu niat dan cinta kita pada suatu pekerjaan. Niat dan cinta sangat berbeda dalam banyak hal tetapi bisa saling kerjasama dan saling mengisi. Jangan biarkan kita terjebak, tak punya niat dan tidak cinta dengan profesi yang kita cita-citakan karena hanya akan membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Wallahu’alam bi sawaf.

Posted in FolkTale.