Dan menulislah, maka suatu saat anak cucumu akan tahu apa pendapat kamu di masa lalu, hari ini dan masa mendatang.

February 5th, 2010

ruftytufty_the_rabbit.gif

Berbicara bukanlah sesuatu hal yang buruk namun menulis mungkin akan jauh lebih berguna. Begitulah para orang tua dahulu selalu menasehati anak-anaknya, agar kita selalu menyempatkan waktu untuk menuliskan sesuatu. Dan satu hal, bagaimanapun juga pendapat dan pikiran yang kita tuangkan dalam sebuah tulisan akan jauh lebih lama usianya dibandingkan usia sebuah pembiacaraan. Bahkan akan jauh melampaui umur kita sendiri.

Sampai sekarang, aku masih senang menyimpan buku-buku lama. Kadang bukan karena semata-mata kualitas isinya namun karena buku yang kita peroleh juga memiliki kenangan sendiri pada jamannya. Dan kadang sebuah buku yang ditulis di masa lalu menjadi inspirasi kekinian.

Kebanyakan orang yang sudah mencapai usia 50 tahun, mulai berpikir ulang tentang kesehatannya. Setidaknya mulai lebih serius memikirkannya. Bagaimana hari-hari ke depan dapat dilalui dengan baik, mengisinya dengan hal-hal yang positip. J Dewitt Fox, seorang dokter yang bukunya: “Nasehat Dokter”, pada tahun 50 an banyak digunakan sebagai rujukan kakek nenek kita dalam masalah-masalah kesehatan pernah berujar: “Djalan supaja hidup lebih lama ialah menderita penjakit menahun ketika masih muda, lalu mengurus penjakit itu dengan baik”.

Lebih lanjut dia katakan: “Tuan harus kesehatan minded”. Maksudnya adalah agar orang-orang yang sekarang ini kebetulan masih sehat, segera mengevaluasi dengan cara memperhatikan kualitas hidup. Buat daftar yang konkret untuk menjaga kesehatan. Lebih memperhatikan dan mengikuti azas-azas kesehatan dan kalau perlu adalah menjaga kesederhanaan,terutama dalam hal makan.

Untuk menghindarkan penyakit jantung, DeWITT Fox menyarankan untuk melakukan hal-hal yang sampai sekarang masih sangat relevan yaitu mengurangi hal-hal yang mengganggu ketegangan, kecemasan, dan bekerja yang terlalu keras. Hati yang gembira, darmawisata, istirahat cukup dan penyegaran tubuh dapat membuat kehidupan jauh lebih sempurna.

Di desa-desa kita banyak mendapatkan seseorang yang usianya sudah cukup lanjut di atas 75 tahun tapi masih ke luar masuk kebun bahkan hutan, naik turun lembah. Mereka mungkin hidup dengan senang dan tenang. Banyak tukang-tukang kayu, orang-orang desa biasa dan pekerja-pekerja biasa yang bekerja keras di waktu siang, menggunakan waktunya sedikit di waktu sore untuk bercengkerama dengan keluarga dan tidur nyenyak pada waktu malam hari. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berat pekerjaannya namun taat beribadah kepada Allah. Dan yang menarik, pada kenyataannya di desa tidak banyak kuburan.

Nasehat orang-orang tua dahulu agar kita tidak terlalu cepat kena serangan penyakit jantung, stroke, stress dan sejenisnya sangat patut kita perhatikan dan renungkan.

Pertama: “jangan terlalu banyak berharap dari kehidupan”. Jangan harap lebih daripada yag dipandang Allah sudah cukup bagi kita. Janganlah berusaha melakukan terlalu banyak urusan dalam waktu yang terlalu singkat. Kegiatan yang terlalu sibuk membuat syaraf dan pembuluh darah tegang,

Kedua: “janganlah terlalu sering berkeluh kesah”. Lebay kata anak-anak sekarang. Orang-orang yang hidup sepenuh-penuh hidup, menghadapi segala sesuatu sebagaimana adanya, satu per satu berurutan. Tidak gampang mengomel atau bersungut atas tetek bengek persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan segalanya berjalan dan mengalir dengan sendirinya sebagaimana kehendak Tuhan.

Ketiga. Banyaklah tersenyum, karena orang yang gembira adalah orang-orang sehat”. Orang yang biasa bekerja keras diudara terbuka bersama orang lain adalah orang yang suka tertawa menikmati kehidupan. Suatu cerita atau khabar baik, sekedar mengatakan “like this”, pertemuan biasa dengan tetangga atau kawan dan saudara sudah cukup baik untuk menjaga kesehatan.

Ke empat. Ambil waktu buat hidup. Kebanyakan orang kota hidup dalam dunia esok. Terlalu ribet dengan rencana buat hari-hari esok, minggu depan, bulan depan dan tahun depan. Ada baiknya diselipkan sedikit kegiatan-kegiatan kegemaran di waktu senggang. Benar kata orang kali, “sungguh mereka telah ditipu oleh kehidupan”. Karena sebenarnya merekalah yang menipu dirinya sendiri. Kaya miskin, tinggi atau hina, apapun warma kulit atau agama, kita adalah makhluk yang sama memiliki waktu 24 jam yang harus digunakan tipa hari. Bagaimana kita menghabiskan waktu 24 jam itulah yang menentukan berapa banyak hari esok boleh kita gunakan nanti.

Ke lima. Ringankan kaki. Melakukan sesuatu dengan senang dan ikhlas. Dengan begitu beban yang kita tanggung bisa berkurang dan sebaliknya kita juga meringankan beban orang lain sehingga kehidupan ini menjadi bisa lebih berimbang.

Ke enam. Tentunya adalah selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepa Allah SWT. Banyak penjelasan kenapa kita harus selalu meningkatkan iman dan taqwa kita. “Innal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati kaanat lahum jannaatul firdausi nuzulaa (QS Al Kahfi:107), yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.

Well, ketenangan adalah pangkal kemajuan. Tukarkanlah kerut-kerut yang ditimbulkan oleh keluh kesah menjadi senyuman yang manis. Pepatah mengatakan “ Tertawalah maka seluruh dunia akan tertawa dengan kamu, menangislah maka engkau akan menangis sendirian”. Dan menulislah, maka suatu saat anak cucumu akan tahu apa pendapat kamu di masa lalu, hari ini dan masa mendatang.

Musim infeksi dan inflamasi kembali datang

January 30th, 2010

eavdi-ecvdi-2010va.gif

Diantara ruang dan waktu, seringkali kegelisahan itu menyelinap mengisi relung-relung gugusan neuron dan membuat sel-sel hepatosit seseorang menjadi terluka. Gundah bisa jadi ada dimana-mana. Tak bolehkan seseorang gelisah?.

Tak ada seorangpun yang bisa menjelaskan pemahamannya sedetail hati nurani orang itu sendiri. Selalu ada sebab diantara akibat, sebuah rangkaian yang mungkin tak teratur ketika kegelisahan itu muncul. Dan walaupun sesungguhnya seorang yang optimis bisa melihat kegelisahan sebagai bentuk sebuah peluang namun tak kan mudah untuk menerimanya.

Akhir januari merupakan hari-hari panjang musim liburan anak2 mahasiswa. Kesempatan langka yang sepatutnya dimanfaatkan sebaik-baiknya di tengah musim hujan yang tak nyaman untuk beraktifitas diluar. Inilah waktu yang tepat untuk mengevaluasi secara menyeluruh, apa yang telah kita lakukan tahun lalu. Evaluasi diri, apakah gerak langkah itu masih kuat dan tetap dalam arah yang benar. Bulan januari adalah juga bulan yang tepat untuk mengunjungi situs-situs yang memiliki kenangan kuat di masa lalu. Banyak titik yang dulu menjadi awal sebuah harapan. Tempat yang bernama titik nol itu demikian banyak.

Waktu berjalan sewajarnya, walaupun banyak harapan yang terhenti terlalu cepat. Namun banyak juga yang akhirnya terwujud. Dan sesungguhnya walaupun harapan itu terhenti namun kenangan yang ada didalamnya tak lenyap. Walau kata orang aku tergolong manusia yang impulsive namun aku sebenarnya termasuk orang yang sabar dengan sebuah cita-cita, sebuah pesan pendek dari orangtua yaitu menjadi orang yang berguna.

Bulan januari adalah sebuah jeda dimana, bencana sering terjadi silih berganti. Hujan, badai topan, banjir, gempa, hanyalah beberapa jenis bencana yang sering terjadi pada bulan januari. Tuhan pasti tidak mencoba dan menhukum umatnya berdasarkan bulan. Ilham dan kreasi manusia diuji dibulan itu untuk mencoba keluar, mengatasi cobaan itu. Seperti kebanyakan ilmuwan lainnya, menemukan jalan keluar dan menyelesaikan sebuah persoalan adalah sesuatu yang harus selalu dilakukan. Kerusakan spirit seringkali terjadi karena kita tidak siap mencobanya bukan karena kita tidak bisa melaksanakannya.

Pagi tadi, aku melihat situs2 bekas banjir kemarin dan tadi malam. Banjir menggenangi beberapa desa di Bandung Timur termasuk Cibiru, Panyileukan, desa Harapan, dan sekitarnya memporakporandakan daerah itu. Beberapa hari terakhir ini hujan turun tak henti-hentinya. Sungai-sungai kecil meluap dan air menerjang apa saja di daerah yang dilaluinya dengan membawa apapun yang bisa terangkut. Musim infeksi dan inflamasi kembali datang.

Sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang sangat cepat dan mudah beradaptasi. Salah satu penjelasan kenapa manusia bisa hidup lebih panjang dibandingkan hewan yang secara genetis mirip dengan manusia seperti kera besar, simpanse ataupun monyet, adalah pada gen-gennya yang dapat menyesuaikan diri lebih baik terhadap tingkat infeksi dan inflamasi. Keuntungan evolusi genetik yang dipicu oleh perbedaan dalam untaian DNA membuat manusia lebih rentan terhadap penyakit penuaan.

Manusia juga memiliki kelebihan lainnya dalam kaitannya dengan umur sel yaitu adanya varian unik dalam gen transportasi kolesterol, apolipoprotein E yang ikut mengatur inflamasi dan beragam aspek penuaan dalam sel otak dan pembuluh darah. ApoE3 hanya diketemukan pada manusia.

Namun manusia juga memiliki ‘kelemahan’ yaitu sifat tamak dan sombong yang bisa jadi tumbuh berkembang melebihi sifat ketamakan seekor primata. Krisis pangan dan energi serta masalah kesehatan merupakan bagian tak terpisahkan dari perilaku manusia. Ancaman global warming tak lepas dari perilaku manusia yang tak bijak dalam memperhatikan hukum keseimbangan.

Banyak orang tak menyadari apa yang mereka lakukan pada hari ini, bahkan tak mengerti apa yang telah terjadi hari ini. Seandainya seseorang bisa belajar dengan cepat dengan gejala-gejala alam yang terjadi, beberapa musibah seharusnya bisa dicegah. Kita mestinya harus bisa menikmati dan mensyukuri yang telah Allah SWT berikan. Kewajiban kita selanjutnya adalah merawat dan mengembangkannya dengan baik dan bijak.

“Alladzii ja’ala lakumul ardha mahdaw wa salaka lakum fiiha subulaw wa anzala minas samaa-i maa-an fa akhrajnaa bihii azawaajam min nabaatin syattaa. Kuluu war’au an’aamakum inna fii dzaalika la aayaatil li ulin nuhaa. (QS Thaahaa: 53-54).

Kembali lagi dan Berhenti di sini

January 28th, 2010

image070.jpg

Pak, kuning telurnya ngga’ normal, hatinya mengalami pembengkakan, warnanya lebih merah, begitu juga limpanya lebih besar dari pada normal. Pada peritoneum ditemukan nodula. Kira-kira penyakit dan apa penyebabnya Pak, Hatur nuhun.

Sore hari sampai menjelang maghrib kota Bandung diguyur hujan deras. Dimana-mana terjadi kemacetan. Bukan hanya kepala yang dibuat pening tapi hati juga meradang. Sampai kapan bencana kecil ini akan terus terjadi?. Sadarkah kita akan ancaman Global Warming? Dan, malam ini sebuah sms dari salah satu alumni yang baru bekerja di sebuah peternakan ayam pun menambah kepala puyeng namun sekaligus menjadi obat penawar, setidaknya sedikit melupakan kejadian sore tadi.

Komunikasi tak boleh terhenti hanya karena anak2 mahasiswa itu telah lulus dan diwisuda. Menjadi seorang sarjana juga tak lantas ia menikmati hasil. Kuliah di kampus tak cukup untuk menghadapi masa depan dan kehidupan yang sangat keras. Kalau tak mau belajar, ia akan tersingkir oleh persaingan bebas. Dan.,menjadi kewajiban bagi para dosen untuk selalu membina hubungan, bukan hanya sekedar untuk talisilaturahim namun lebih dari dari itu. Tetap saling belajar dan memberi input.

Sambil mikir-mikir kira2 apa penyebabnya?. Karena diagnosa suatu penyakit adalah sesuatu yang rumit. Perlu seni untuk memecahkan teka teki., apalagi tidak melihat secara langsung tanda-tanda dan lesi post mortemnya.

Setelah diskusi lebih lanjut tentang gejala klinis baik pada fase antemortem dan postmortem, umur dan lainnya diperoleh diagnose tentative kemungkinan penyebab utamanya adalah bakteri Salmonella pullorum. Dan yang penting adalah bagaimana pencegahan dan perlakuan pada ternak lainnya?. Karena pada unggas tua, gejala klinisnya kadang tak nampak dan dia bisa sebagai carrier. Sepertinya perlu preparat sulfa dan antibiotika untuk mengatasinya. Sebenarnya kalau fumigasinya baik, lingkungannya sehat, bibitnya bagus, pakannya tidak terkontaminasi, penyakit ini jarang menyerang. Tapi that’s ok. Sudah terjadi.

Selain berita banjir, hari ini di radio, di TV, Koran, majalah dipenuhi berita persiapan demo menyongsong 100 hari pemerintahan SBY. Walaupun aku tidak terlalu minat dengan begituan, aku mengapresiasi mereka semoga besok tanggal 28 Januari 2010 kondisi tanah air ini tetap aman dan damai. Dan setelah itu mari kita berpikir, berkarya untuk sesuatu yang tidak instant. Perlu kemauan keras, berpikir jernih dan hati yang ikhlas untuk membangun bangsa ini. Bicara dengan istiqomah. Bagaimana mungkin membangun bangsa kalau diniati dengan semangat penuh kebencian?.

Kita bisa belajar dari Rusia yang dulunya bernama Uni Soviet atau USSR. Mereka sekarang terpecah belah. Padahal kita, para pecinta seni dan sejarah yang pernah membaca Buku The Russian Empire: A Multi-ethnic history karangan Andreas Kappeler pasti akan kagum dengan kebesaran Russia di masa lampau.

Walaupun banyak pertanyaan, diantaranya:”How did modernization influence and change the old supranational empire and its ethnic groups, and, in particular, how were they affected by the national movements? And how did national emancipation interact with social revolution?. Indonesia mirip-mirip dengan Russia, multi etnik.

Russia di masa lalu katakanlah di masa Ivan II, Vassili II, Romanov, Peter Agung, Alexander, Nicholas II, jelas berbeda dengan masa-masa rejim komunis yang kekuasaannya sangat dominan, Perestroikanya Mikhail Gorbachev di tahun 1985 yang membuat Uni Soviet kolaps dan terpecah belah dan Rusia masa kini. Proses panjang itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Demokrasi adalah sesuatu yang baik sejauh itu berlangsung secara arif, berpikir jernih dan bijak. Wallahualam bishowab.

Bandung pada malam ini, suasananya relatif sepi sunyi. Hawa dingin membawa pikiran kita menjadi lebih sejuk. Tuhan memberikan banyak pilihan pada kita, tak bisakah kita menentukan pilihan itu secara benar sesuai harapanNya.

Besok aku akan baca buku bagus lainnya “Bayang-bayang Hitam” Novel sejarah Ethiopa awal abad ke-20 karya Najib Kailani. Buku yang menceritakan keruntuhan suatu Negara yang disebabkan kekacauan dari dalam. Salah satu penyebabnya karena pengamalan agama yang sempit. Kembali lagi dan berhenti di sini adalah kalimat yang layak untuk disimak dan dipikirkan, apa maknanya?

Mumpung kuliah semester genap belum dimulai, ada baiknya kita memahami dan mendalami makna hibah, khalwat, kuttab dan tahlil.

Jadi kemana nilai-nilai itu pergi?

January 25th, 2010

image0018.jpg

25 tahun barangkali menunjukkan waktu yang cukup untuk dapat mengamati dan menghayati suatu pekerjaan aku di dunia peternakan. Namun kurun waktu sepanjang itu rasanya belum mampu membuatku mengerti dan memahami sepenuhnya makna dan arti peternakan sesungguhnya. Setidaknya dari konteks sosioekonomi. Peternakan di mata aku masih merupakan dunia yang agak abstrak dan absurd.

Animal Husbandry mengandung 2 suku kata yang memiliki arti dan makna sangat luas. Orang pasti paham dengan arti ternak. Dalam UU Nomor 18 tahun 2009, disebutkan bahwa ternak adalah hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian. Benarkah?.

“Husbandry”. Ini istilah yang merupakan perpaduan dari kata “husbonda” (Inggris kuno) dan Norse Kuno “bua”, yang berarti menetap. Dikisahkan dalam kebudayaan-kebudayaan kuno, seorang suami/pemelihara adalah penghuni rumah tangga yang merasakan ikatan yang kuat terhadap rumah dan tanahnya. Pemeliharaan mengandung makna menciptakan dan mempertahankan hubungan yang stabil dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, budaya dan alam.

Untuk mendapatkan arti dan peran pemeliharaan, teman2 di Fakultas Peternakan bisa mendapatkannya dari textbook-texbook peternakan. Namun ada baiknya kita pelajari, mencari sisi lain buku non peternakan. Kebudayaan tribal, catatan sejarah mengenai peran yang diajarkan oleh kebudayaan leluhur dan dari dialog-dialog komtemporer tentang nilai atau value bisa memperkaya pemahaman kita tentang makna “husbandry”.

Seorang pemikir yang sangat visioner bernama Kurt Vonnegue mengatakan: sebelum ini, manusia biasanya memiliki komunitas kekerabatan yang permanen. Mereka memiliki banyak rumah untuk pulang kembali. Sekarang, hal ini hampir mustahil. Setiap keluarga terkunci dalam kotak kecil. Tetangga bukanlah kerabat. Tidak ada rumah lain tempat orang bisa pergi dan merasa dicintai. Jadi kemana nilai-nilai itu pergi?”.

Pada suatu hari libur sekolah, di toko buku Gramedia saya mengantar anak saya mencari buku pelajaran. Memiliki seorang anak lelaki tunggal yang sedang tumbuh pasti memerlukan strategi untuk membesarkan dan mengantarkannya ke tempat yang lebih baik. Salah satu kebiasaan saya untuk menilai kualitas isi buku diantaranya adalah membaca komentar orang2 terhadap buku tersebut. Komentar itu kadang ada di halaman akhir namun kadang ada di sampul belakang buku. Salah satu komentar terhadap buku itu adalah: “ Penting bagi siapapun yang gelisah ingin mengubah bocah-bocah hari ini menjadi pria sejati. Mungkin, penting pula bagi masa depan bangsa kita dan dunia ini”. David Sawyer, Berea College, Presidential Points of Light winner.

Aku mendapatkan Buku The Wonder of Boys. Cara Membesarkan anak laki-laki menjadi pria sejati. Karya Michael Gurian itu sekitar 3 tahun yang lalu. Buku itu merupakan salah satu rujukan manakala aku “ragu atau kurang bisa” memahami perilaku anak tunggal kami yang kebetulan berkelamin lelaki. Di buku itu dijelaskan tentang mitos bahwa “masa kini menyatakan bahwa anak perempuan menjalani kehidupan yang lebih buruk ketimbang anak laki-laki”.

Faktanya adalah angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi 25% dibandingkan bayi perempuan, bayi laki-laki juga dua kali lebih rentan terserang autis, enam kali lebih berisiko mengidap hiperkinesis sekaligus lebih cenderung lahir cacat atau tidak normal. Mayoritas penderita skizofrenia adalah anak laki-laki. Mayoritas anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental adalah anak laki-laki. Gangguan emosional yang dialami anak laki-laki dan perempuan adalah 4 banding 1. Masalah gangguan belajar berasio 2 banding 1, anak laki-laki juga dua kali lipat lebih banyak menjadi korban penganiayaan. Bagi kebanyakan anak laki-laki, marah adalah cara terbaik untuk mengatasi rasa sakit, takut, sedih dan menderita.

Dan yang paling mengerikan adalah bahwa anak laki-laki empat kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan anak perempuan. Jadi saya setuju dengan pendapat Michael Gurian: Mitos masa kini menyatakan bahwa anak laki-laki bukanlah terlahir sebagai anak laki-laki; kitalah yang menjadikan mereka anak laki-laki. Ada apa dengan laki-laki, apa yang dibutuhkan anak laki-laki, bagaimana membesarkan anak laki-laki.

Thx Michael, sebuah karya yang bagus untuk menjadi salah satu tuntutan membesarkan anak. Aku tak pernah bosan membaca tentang “Disiplin pada Dekade Pertama Kehidupan”

Buku lain yang sangat layak untuk dibaca adalah the Litle Boy Book karangan Sheila Moore dan Roon Frost. Buku “What to expect” karangan Arlene Eisenberg, et all. Buku Parent Effectiveness Training karya Peter Wyden. The Moral Life of Children karangan Robert Coles, Buku Adolescence: the Survival Guide for Parents and Teenagers karangan Elizabeth Fenwick dan Tony Smith. Buku-buku itu bisa menjadi sisi lain dari pembelajaran anak kita selain tentunya Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sumber pembelajaran utama kita.

Kita sering terganggu dengan sisi gelap kehidupan sekarang dan berharap sisi gelap itu segera bisa pergi. Rasa takut adalah bagian dari sisi gelap itu. Melakukan yang terbaik sungguh sesuatu yang sangat sulit namun tetap harus diupayakan. Itulah yang membuat kita harus tetap belajar terus menerus. Termasuk belajar menjadi orang tua. Animal Husbandry adalah sebuah kumunitas yang tak lepas dari kehidupan kita sendiri. Sebuah komunitas yang menuntut kita untuk tetap komitmen dan selalu konsisten terhadap kehidupan. Sisi lain dari sebuah Black Box.

Ketika waktu membatasi pergerakanku.

January 11th, 2010

image00210.jpg

CAFTA (China ASEAN Free Trade Agreement) telah berlaku terhitung sejak tanggal 1 Januari 2010, sebagian besar industri dalam negeri terutama tekstil dan baja sangat cemas dengan serbuan produk China. 4,7 Juta UKM di Jateng diperkirakan bangkrut belum di Jawa Barat, Jawa Timur dan propinsi2 lainnya di Indonesia?.

Mungkin hanya Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Thomas Dharmawan yang optimis bahwa kita tak perlu khawatir sebab industri makanan dan minuman lokal lah yang paling bisa memenuhi selera masyarakat, bahkan ekspor kita meningkat karena bea masuk rendah maka ekspor ke China dan Negara lain justru bisa lebih rendah. Tapi benarkah sesederhana itu?.

Dan bagaimana dengan pangan asal hewan baik berupa daging, susu, dan telur maupun produk hewan non pangan seperti kulit, bulu dan tulang terutama dalam kaitannya dengan prosedur dan persyaratan (requirement) kesehatan masyarakat veteriner yang kita tahu memiliki potensi sebagai media penyebaran penyakit asal hewan?. Bagaimana antisipasi kita untuk melakukan pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit, pencegahan dan penolakan masuk serta menyebarnya penyakit sebagai bahan pangan dan non pangan?.

Secara kelembagaan kita memiliki Badan Karantina Nasional (Barantan) sebagai ujung tombak dalam mencegah penyakit bawaan dari luar negeri namun lembaga ini memiliki banyak keterbatasan dalam upaya pencegahan dan penolakan penyakit, konkretnya performans kelembagaan ini jauh dari dari standar yang diinginkan. Dan masalahnya pun memang sangat kompleks sekali.

Terkait dengan hal di atas, ASEAN Economic Community yang dulunya ditetapkan pada tahun 2020 pun diubah menjadi 2015. Negara anggota ASEAN sepakat untuk membangun sistem ASEAN Single Window (ASW) Dengan system itu diharapkan adanya perubahan penanganan pelayanan lalu lintas dari system manual ke penanganan system dan metode elektronik secara terpadu (EDI) dengan menggunakan sarana informasi dan teknologi. Dengan system NSW diharapkan para anggota ASEAN terasuk Indonesia dapat meningkatkan kinerja penanganan dalam bidang perdagangan dan lalu lintas komoditas di wilayah ASEAN.

Pertanyaannya tentunya adalah sudah siapkah kita di tahun 2010 ini dengan diberlakukannya CAFTA? Karena untuk menunjang system tersebut maka Barantan, Bea Cukai, BPOPOM, BPMSOH, LPPOM-MUI dan lain-lain mestinya sudah siap terlebih dahulu?. Sudah siapkah Port System Administration Document (PSAD). Jadi salah besar jika ada orang yang beranggapan CAFTA tak berdampak pada industri pangan. Setidaknya pada pangan asal hewan dan resiko kesehatan hewan?. Identifikasi bahaya, penilaian resiko dan manajemen resiko mungkin sudah dirancang namun praktek di lapangan jelas tak akan mudah.

Well, aku jadi ingat sebuah parabel dalam Ping:
Perjalanan Seekor Katak Mencari Kolam Baru karangan Stuart Avery Gold.

Sebuah pencarian yang bervisi. :” …… Bulan-bulan belakangan ini telah membuka mata Burung Hantu bahwa Ping adalah pembelajar yang cerdas, walaupun bukan pembelajar yang cepat. Kata Burung Hantu, “memiliki kekuatan sejati berarti memiliki kekuatan untuk bersikap fleksibel, untuk mengubah arah kalau perlu.”.

Sekali lagi aku menasehatimu untuk bersikap seperti air. Hanya ada sedikit unsur yang lebih fleksibel daripada air – unsur terlunak yang paling fleksibel, yang kekuatannya ternyata lebih dahsyat daripada batu yang paling keras dan baja yang paling kuat. Mengalir dan fleksibel, berbelok dan berputar, mengitari, melompat ke atas, menerobos ke bawah - air mengubah arahnya dengan bebas sepanjang jalan”.

“Tidak ada apapun yang tidak bisa diatasi oleh air, walaupun sifat alaminya adalah fleksibel, mengikuti bentuk lingkungan.” Air memiliki kekuatan yang tiada habisnya untuk mengubah segala sesuatu yang menghalangi jalannya”. Ketahuilah bahwa kamu memiliki kemampuan untuk menghadapi rintangan yang tak diundang dengan arus yang siaga, untuk mengubah resiko, masalah dan tantangan menjadi peluang serta untuk mengubah kekalahan menjadi kemenangan.” Dan, ping menjadi bingung. “ Coba kuulangi. Aku menggunakan arus ini untuk mencari tahu apa yang perlu aku lakukan?”.

Aku mungkin terlalu banyak membaca buku-buku seperti Amazing stories of Healing, Dog Miracles, Cat Miracles, Animal Miracles, buku-buku Amazing stories for Teen. Situs-situs fantastis yang mungkin terjadi secara kebetulan walaupun aku yakin ada takdir dan mukzizat disitu. Namun aku lebih menyukai karya-karya inspiratif dan yang pasti-pasti saja. Tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dan hidup ini bukanlah sekedar tontonan. Pasti ada sebuah spirit yang menyertai sebuah keberhasilan. Analisis dan logika ada disitu untuk memberi warna dan mengawal sebuah keberhasilan. Hanya bangsa pecundanglah yang orang-orangnya tak mau saling berbagi dan tetap komitmen pada nilai-nilai kebangsaannya.

Keinginan untuk berbuat baik, membuat mataku berbinar dan hatiku menggelora. Dan walaupun kakiku diam tak berdaya, semangat itu tak pernah padam, berdegup sepanjang detik seakan berkejaran dengan detak jantung. Aku ada di sebuah ruang waktu, menunggu, melihat, mengamati dan berharap ada waktu untuk segera berbuat. Insyaallloh dengan niat yang baik.

Percayalah, kebiasaan membaca buku dan mendengarkan radio itu baik untuk kesehatan jiwa.

January 7th, 2010

dwicipto.jpg

UAS 2009/2010 telah memasuki hari ke tiga. Sepanjang hari ini di PPBS Unpad, ada kurang lebih 1600 mahasiswa yang berasal dari 8 fakultas sedang pening menyelesaikan ujian fisika dasar. Kelihatannya mereka serius-serius sekali mengerjakan soal yang menurut aku memang susah dan rumit.

Hari belum terlalu sore, ba’da azhar juga baru saja dimulai. Namun hujan sangat lebat membasahi kampus Jatinangor. Dan tak sekedar air hujan yang tumpah ruah, Gn. Manglayang pun seakan mengirim air dari atas. Hujan disertai angin kencang membuat ranting-ranting dan dedaunan berserakan di sepanjang jalan antara kampus Unpad, Unwim dan Pangdam. Ternyata , pada hari ini angin beliung menyergap di berbagai wilayah di P. Jawa, sedang marahkah Tuhan pada umat manusia, aku tak tahu persis mungkin sekedar memberi peringatan.

Beberapa menit yang lalu, diskusi hangat para pengelola PPBS Unpad baru saja usai. Selama ini kami jarang melakukan diskusi yang memakan waktu cukup lama di PPBS, hampir 4 jam. Berbagai topic seperti persiapan membuat draft Laporan Akhir Tahunan PPBS Unpad, Evaluasi PBM, Penataan tata ruang terkait dengan lingkungan eksternal dan kebutuhan internal PPBS, Revisi RKA-KL, pengembangan SDM, kemungkinan menjalin kerjasama dengan UPT SDM Unpad, P3AI, E-learning dan D System,dan lain2 cukup menguras tenaga dan pikiran. Tapi well, segala sesuatu yang diawali dengan niat yang baik, insyaalloh akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Ternyata tak hanya kawasan Jatinangor, sepanjang jalan Jatinangor, Cileunyi, Cinunuk, Cibiru, Jl. Soekarno-Hatta dan Bandung umumnya, hari ini diguyur hujan deras. Macet ada dimana-mana. Fenomena alam seakan hendak memberi peringatan pada manusia. Tuhan menjaga keseimbangan itu agar kita selalu waspada dan ingat akan kebesaranNya.

Malam ini, usai koreksi soal bagian A dan B UAS Pengantar Peternakan aku pindah membaca buku Amazing stories for Teen karangan Marsha Arons, mantan pendidik, guru bahasa Inggris di Illinois USA. Ada 49 cerita menakjubkan di situ yang pasti mampu menyegarkan jiwa kita. Tapi aku tidak bermaksud menyesaikan semuanya, karena beberapa diantaranya sudah pernah aku baca di waktu-waktu senggang. Ceritanya bagus-bagus karena rata-rata sudah pernah diterbitkan di majalah terkemuka seperti Redbook, Reader’s Digest dan Good Housekeeping. Majalah-majalah kesukaanku semasa esema dan mahasiswa dulu.

Usai membaca beberapa bab bukunya Marsha Arons, sambil mendengarkan senandung Jazz dari Radio KLCBS aku juga baca-baca Folklor ‘Bukan Lisan’ di salah satu bab buku karangan James Dananjaya. Aku termasuk penggemar berat buku-buku folklore termasuk folklore Tionghoa. Tentang asal usul kelenteng, seni kriya (kipas, kertas, kain sutra, porselen ), pengetahuan rakyat (Pa Kua, Fengshui, Penanggalan, Petasan dan kompas), Musik dan Alat Musik Rakyat seperti tambur, genta, giring-giring, suling dawai dan lain-lain. Buku lama tapi tetap kusukai walaupun sudah dibaca berkali-kali.

Bandung malam hari ini udaranya sangat sejuk bahkan malam ini lumayan dingin. Di TV aku lihat ada acara cukup hangat yaitu Bukan Empat Matanya Tukul Arwana. Tetapi sayang kalau waktu dilewatkan hanya untuk memandangi menonton acaranya Tukul. Sesekali sambil nonton TV, aku juga membuka bolak balik beberapa halaman yang menarik dari bukunya Gail Damerow: the Chicken Health Handbook. Simpel dan padat tapi bagus isinya. Tentang hatch healthy chicks, provide proper nutrition, fight parasites, spot diseases and infections their early stages, protect flocks from predators, build safe house and yards.

Dan aku yakin apa kata American Library Association: A first guide….Flawless. Atau patut juga disimak apa kata Poultry Press: If you don’t have any books on chickens, this is the only one you need. If you have a book shelf full of books, you still need this one. Lho koq jadi promosi dan kampanye?. Bisa jadi yaa, tapi percayalah, kebiasaan membaca buku dan mendengarkan radio itu baik untuk kesehatan jiwa. Kesehatan rohani kita. Dan, anak fapet atau FKH ada baiknya pernah membaca buku ini.

Weeeh, hari sudah cukup larut malam. Pukul 24 baru saja berlalu. Puji Tuhan aku telah melewati hari ini dengan baik. Kita diajarkan untuk selalu memaknai tentang arti dari sebuah waktu, dini hari. Tuhan SWT menyuruh kita untuk selalu memahami arti QS Al Furqaan terutama ayat 61-64.

“ Tabaarakal ladzii ja’ala fis samaa-I buruujaw wa ja’ala fiihaa siraajaw wa qamaran muniiraa. Wa huwal ladzii ja’alal laila wan nahaara khilfatal li man araada ay yadzdzakkara au araada syukuuraa. Wa ‘ibaadur rahmaanil ladziina yamsyuuna ‘alal ardhi haunaw wa idzaa khaathabahumul jaahiluuna qaaluu salaamaa. Wal ladziina yabiituuna li rabbihim sujjadaw wa qiyaamaa”.

Catatan akhir tahun 2009

January 1st, 2010

image0017.jpg

Akhir Desember adalah hari-hari panjang yang terasa sangat pendek. Bandung, Semarang, Surabaya, dan Jember adalah kota-kota yang sangat rutin dilalui dari tahun ke tahun. Walaupun di Bandung kita bisa menemukan makanan-makanan tradisional. Namun di “kampung”, menikmati makanan seperti tahu campur, wedang ronde, wedang sekoteng, wedang bajigur, bandrek gula aren, pecel daun kenikir ataupun genjer rasa tauco tetaplah lebih menyenangkan. Makanan tidaklah sekedar mewakili masalah kenikmatan semata. Ada kehangatan rohani dan kenyamanan hati yang berbeda manakala kita menikmatinya di sebuah tempat yang merefleksikan masa lalu.

Pulang kampung tetaplah merupakan tradisi yang harus dihormati sebagai bagian ‘pendewasaan’ diri dari waktu ke waktu dan merawat rohani. Pendewasaan itu tak mengenal waktu. Bagi seorang anak tak cukup kita berkomunikasi melalui tilpon atau sms. Mengunjungi makam orangtua, bertemu langsung dan silaturahim dengan orangtua yang masih ada dan keluarga hukumnya adalah wajib.

Selama perjalanan pulang itu aku punya banyak waktu untuk kontemplasi, mengulas dan merenungi kisah balik, mengkaji moral dan bahkan harapan maupun impian yang telah tercapai maupun yang tidak dan belum tercapai di tahun 2009. Merenung adalah sebuah nikmat yang diberikan Tuhan sebagai proses awal untuk memperbaiki diri. Aku beruntung dapat melewatii tahun 2009, walaupun penuh rintangan Tuhan SWT selalu menyediakan ruang untuk memudahkan agar aku dapat melewatinya, dialah yang menyalakan lilin manakala kegelapan menyelimuti hati dan memberi petunjuk manakala aku ragu memutuskan sesuatu. Aku pasti mensyukurinya apa yang terjadi selama setahun terakhir. Namun kewajiban selanjutnya adalah merawat nilai-nilai itu.

Kesepakatan tidak mengikat

Di bulan desember 2009 ini aku menemukan sebuah kalimat yang memberi pengayaan bahasa yaitu Kesepakatan tidak mengikat setidaknya dari segi makna, arti dan kontektual. Ini adalah istilah yang mengacu pada hasil KTT Kopenhagen. Hasil KTT tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen tidaklah terlalu mengagetkan. Basis ideologis, orientasi politik dan kepentingan ekonomi berbagai Negara sangat heterogen dan tak mudah untuk diarahkan dalam satu tujuan bersama. Susah banget diajak kooperatif tapi mahir kalu berperilaku konfrontatif. Bumi terancam punah dan mereka masih bicara tentang identitas, itulah masalahnya.

Fakta bahwa kita hidup bersama dalam satu biosfer tak lantas memberi pencerahan dan pemahaman yang sama. Eksistensi kehidupan sudah lama direduksi dan tereduksi oleh pemikiran dan paham yang rakus, serakah dan egois. Hampir semua Negara di dunia ini pada dasarnya menjalankan kehidupan bernegaranya secara sekuler. Bahkan di Negara-negara yang secara konstitusional menggunakan agama sebagai landasan dasar bernegara, faktanya hanyalah sekedar ritual. Dalam praktek kehidupan sehari-hari agama tidak mampu memberi pencerahan pada mereka apalagi diamalkan. Agama dan politik semakin berbaur dan tambah cair.

Sejak kecil kita diajarkan untuk berbuat dan beramal selebihnya biar Tuhan yang menilai amalan itu. Sebagian orang mengintepretasikannya secara kuantitatif. Dan gejalanya adalah orang menjadi merasa punya hak yang melebihi kewajibannya. Merasa lebih penting dibandingkan yang lain. Merasa lebih bermartabat dibandingkan yang lain. Dan gema dan refleksinya tergambar dan terpantul dalam perilaku bernegara.

Sangat menarik artikel yang ditulis Jonas Gahr Store, Menteri Luar Negeri Norwegia. Sebuah seruan untuk bertindak. Tentang fakta, ancaman, dan tindakan segera yang harus dilakukan menyikapi perubahan iklim. Dibutuhkan kepemimpinan yang visioner, yang mau melihat di luar batas kepentingan sempit Negara atau saling salah menyalahkan dan mencari kompensasi, ke arah ancaman masa depan bagi planet kita yang semakin rapuh.

Semoga kita bisa memahami makna yang terkandung dalam QS An Naml ayat 88 dan 89:” Wa taral jibaala tahsabuhaa jaamidataw wa hiya tamurru marras sahaabi shun’allaahil ladzii atqana kulla syai-in innahuu khabiirum bi maa taf’aluun. Man jaa-a bil hasanati fa lahuu khairum minhaa wa hum min faza’iy yauma-idzin aaminuun”.

Kini tahun 2009 telah berlalu, kita. Crouch, walk, twitter, feed, walk, stand idle, preen, motionless and crouch. Banyak hal telah kita lalui, kita lewati dan kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri di tahun 2009. Aku tak bisa menilai karena tak ada seorangpun yang paham, tahu dan mengerti apa arti dan makna yang telah kita lalui hanya Tuhan yang tahu dan berhak menilai apa yang telah kita lakukan.

Banyak kejadian dan peristiwa yang tak aku pahami di tahun 2009. Banyak orang-orang hebat meninggalkan kita dan banyak ide-ide baru bermunculan. Dan puncaknya hanya sehari menjelang berakhirnya tahun 2009, kita dikejutkan dengan meninggalnya Gus Dur. Tokoh yang cukup kontroversial namun harus diakui beliau sangat gigih membela kaum minoritas, orang-orang tertindas. Kembali, seorang Bapak bangsa negeri ini berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wa inna illaihi rojiun, semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT sesuai amal ibadah selama beliau mendharma baktikan pada ibu pertiwi.

Pulang adalah sebuah kata yang penuh misteri. Kita serasa sangat nyaman untuk dapat pulang kemanapun kita memang harus pulang. Rumah kita, orangtua-orangtua kita, kota-kota tempat di masa kecil bermain dan bersendau gurau. Tak semestinya kita meragukan kebesaran Tuhan SWT dan pulang pastinya tak identik dengan pasrah. “Innal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati kaanat lahum jannaatul Firdausi nuzulaa.” (QS Al Kahfi 18:107).

Di negeri: Kita boleh ngomong semaunya!

December 11th, 2009

41tqgyo6dcl_sl500_aa240_.jpgeavdi-ecvdi-2010va.gif

The good news is we know what to do. The good news is, we have everything we need now to respond to the challenge of global warming. We have all the technologies we need, more are being developed, and as they become available and become more affordable when produced in scale, they will make it easier to respond. But we should not wait, we cannot wait, we must not wait. (AL GORE, speech at National Sierra Club Convention, Sept. 9, 2005).

Jika satu juta orang mengubah gaya hidup dengan berbelanja bahan-bahan makanan produk lokal selama setahun, kita dapat mengurangi emisi CO2 hingga 625.000 ton (live earth, global warming survival handbook). Di kelas mata kuliah UU Dan Kebijakan Pembangunan Peternakan tadi pagi, menurut rencana (sesuai silabus) kami akan mendiskusikan tentang Protocol Kyoto, CDM, Protocol Cartagena (Cartagena protocol on biosafety to the convention on biological diversity, dan Konvensi Bazel. Dan kebetulan minggu ini para pemimpin dan pakar-pakar lingkungan hidup berkumpul di Copenhagen dalam konferensi perubahan iklim PBB (UNCCC).

Saya ingin mengaitkan beberapa kebijakan yang terkait dengan hal-hal tersebut di atas. Namun apa daya kelihatannya para mahasiswa tak begitu tertarik dengan isu-isu penting yang sedang dibicarakan di Copenhagen. Istilah-istilah di atas pun kelihatannya masih sangat asing. Di kelas Biologi kebetulan minggu ini topic kuliah adalah ekologi, saya mencoba mendiskusikan tentang Agenda 21, tentang CDM atau Mekanisme Pembangunan Bersih dan contoh-contoh produk bersih di bidang peternakan. Agak lumayan, beberapa mahasiswa setidaknya agak paham, namun secara umum diskusinya tersendat-sendat.

Kesan saya, berita tentang demo anti korupsi, koin untuk Prita dalam kasusnya melawan RS OMNI dan berita gosip2 artis terlalu menyita energy publik termasuk mahasiswa sehingga membuat isu-isu dan berita-berita lainnya menjadi tak terlalu penting. Bahan-bahan kuliah yang mestinya dibaca dahulu sebelum didiskusikan di ruang kelas menjadi dilupakan dan terabaikan. Adakah korelasi isu jalanan, rating suatu berita dengan proses pendidikan di kampus, mungkin temen2 Fikom bisa mengkajinya?. Namun menurut saya hal-hal yang sifatnya kontekstual memang penting namun upaya untuk meningkatkan kompetensi seseorang di bidangnya masing-masing masih lebih penting.

Dalam minggu-minggu terakhir kita menyaksikan pemandangan yang tak lazim. Subordinasi hukum oleh ruang publik semakin sangat kental. Domain hukum dipolitikkan di ruang publik. Tidak jelas lagi mana yang harus dibicarakan di pengadilan, didiskusikan di kelas, di mesjid, di forum ilmiah, di pasar, di mobil. Keponakan saya yang masih sekolah di SD sempat bertanya-tanya polos: kata Pak Guru, kita harus menghormati pimpinan termasuk Presiden. Katanya kita ini Pancasilais, tapi koq di TV ditayangkan secara vulgar, dan para presenter dengan bangga mengulas pembakaran gambar2 pimpinan nasional dan sebelumnya diinjak-injak dahulu?. Kata pak Guru: kita harus menghormati para ulama, tapi di teve-teve, hampir tiap hari para tokoh yang katanya alim ulama itu ngomong nya lebih pedas dibandingkan cabe?. Sepertinya sopan dan halus tapi sebenarnya ketus dan kejam, jauh dari sikap yang mesti ditauladani.

Tak bolehkan ruang publik digunakan sebagai media dan alat, sementara proses hukum sedang berlangsung?. Mungkin sah-sah saja tapi tentu ada batas-batas kewajaran. Media adalah salah satu bagian dari pilar demokrasi yang harus digunakan secara arif, bijaksana dan bertanggungjawab. Yang tidak kita inginkan adalah pers yang menggalang opini untuk menghukum seseorang padahal ia belum tentu bersalah, pers yang cenderung menyerang apa saja kebijakan pemerintah tanpa memberi alternative lain yang jelas, pers yang mengadu domba antar tokoh sehingga masa menjadi terbelah dan pers yang alergi terhadap kritik. Pers janganlah memberi angin segar pada anarkisme. Beri ruang yang cukup untuk pembelajaran dan pendidikan karakter bangsa. Pers yang sedikit mengurangi beban masyarakat terhadap pendidikan yang mahal. Diskusi yang focus pada pemecahan masalah atau solusi.

Adalah fakta bahwa opini bisa dikondisikan. Jadi liberalisasi media dan pandangan2 liberalnya pun patut kita pertanyakan. Benarkah untuk tujuan menyampaikan suatu kebenaran, untuk pembelajaran pada masyarakat atau malahan justru untuk membuat orang bingung dan akhirnya memperkeruh persatuan dan kesatuan bangsa. Kita mungkin patut merenung kembali apa kata Douwes Dekker: ”kami berdiri, bukan hanya berdampingan satu sama lain, tapi juga di dalam satu sama lain”. Pers sebaiknya lebih mendorong pada pengembangan budi pekerti. Berantas korupsi Yes, Hukum harus ditegakkan Yes, tapi jangan lupa ancaman terbesar kita adalah masalah pendidikan dan moral bangsa.

Besok antara tanggal 11 sd 13 Desember 2009. Pemerintah akan mengadakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional atau Musrenbangnas guna membahas RPJMN 2010-2014. Tema yang diusung adalah “Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan”. Kita tentu pengin tahu dan menganalisis apa isi 11 prioritas pembangunan nasional yaitu (1) Reformasi birokrasi dan Tata Kelola, (2) Pendidikan, (3) Kesehatan, (4) Penanggulangan Kemiskinan, (5) Ketahanan Pangan, (6) Infrastruktur, (7) Iklim Investasi dan Bisnis, (8) Energi, (9), Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana, (10) daerah tertinggal, terdepan, terluar dan Pasca Konflik, (11) Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi.

Jadi mari kita kawal dan kita kritisi program-program pemerintah 5 tahun ke depan. Dan kalau para pimpinan sekarang tidak berhasil mensejahterakan rakyat jangan pilih mereka kembali, kita ganti dengan orang yang mampu memimpin di tahun 2014. Itulah demokrasi.

What question does it answer?.

December 7th, 2009

ruftytufty_the_rabbit.gif
Tiga ekor burung puyuh liar (Coturnix coturnix japonica) itu nampak tertegun dan segera lari menjauh. Hari ini saya dan 6 mahasiswa yang sedang praktikum outdoor biologi di belakang teaching farm mungkin telah mengganggu habitatnya. Keberadaan kami mungkin mengganggu kenyamanannya, sebuah tempat yang sehari-harinya jarang dilintasi orang. What a wonderful world. What question does it answer?.

Kami mungkin datang di suatu tempat yang salah, di situasi yang tidak tepat. Dan sebenarnya, burung puyuh dan ekosistem yang ada di tempat itu hanyalah sebuah titik noktah, sangat kecil sekali dari sebuah peradaban. Masih ada jutaan tempat dan spesies di biosfer ini yang tiap waktu dan tiap saat selalu terancam. Dan, sayangnya kita tak dapat memberi tahu pada mereka bahwa keberadaan kita kali ini adalah uluran sebuah persahabatan. Namun burung puyuh itu tak mengenal sebuah maksud, mereka hanya mengerti sebuah gelagat. Lari menjauh adalah reflek tercepat yang bisa mereka lakukan. Puyuh itu pergi untuk memberi sinyal pada manusia agar tak mengganggu lingkungannya. Manusialah yang mestinya berpikir cerdas.

Kenapa seekor hewan mulai tak peka lagi pada persahabatan dan keluhuran budi seorang manusia?. Sebuah pertanyaan balik yang bisa diperdebatkan oleh manusia dan untuk manusia. Kenapa manusia sudah kehilangan saling kepercayaan. Pasti ada yang percaya bahwa ketakutan muncul dimulai dan diawali dari ketidakpastian. Daripada menuai ketidakpastian lebih baik mencari cara lain yang lebih pasti dan aman.

Beratnya 2, 7 kg, panjangnya 52 cm. Ibu bidan itu membisikkan sesuatu pada aku dan memberitahu antrostatistika anak lelakiku. Aku sebenarnya masih agak terkaget-kaget karena ketika baru keluar dari rahim isteriku, kepalanya lonjong, kulitnya merah sekali dan suaranya lirih. Tak seperti dalam film2 atau cerita dimana suara bayi laki-laki yang baru lahir itu terdengar keras. Suara adzan kakeknyalah yang membuat perasaanku tenang. Tuhan memberiku seorang anak lelaki yang sehat, 2 tahun lebih setelah kami menikah.

Suatu saat usai pulang sekolah di TK, anak yang masih lugu itu bertanya pada mamanya kenapa dia tidak memiliki kakak dan adik seperti teman-temannya. Dan kenapa yang menemani ke sekolahnya hanya bibi pengasuh, bukan papa atau mamanya. Pertanyaan serupa namun kali ini lebih cerdas, sering ia sampaikan saat memasuki pendidikan di Sekolah Dasar, mengapa mesti harus naik angkutan antar jemput. Kenapa tidak juga diantar papa atau mamanya. Dan walaupun setiap hari sabtu, kami mengusahakan untuk mengantar dan menjemput sendiri ke sekolahannya tapi seolah ada sesuatu yang ngga’ lengkap. Pertanyaan klasik selalu muncul, kapan punya adik. Supaya ada teman di rumah, katanya.

Kini anak lelaki itu telah berusia 13 tahun. Mungkin sudah melupakan keinginannya untuk memperoleh adik. Pertanyaannya pun mulai banyak yang berubah, mulai dewasa dan kritis. Banyak yang bisa dijawab namun kadang kami suruh mencari sendiri karena bagiku biar ia yang berusaha menjawabnya sendiri. Sang anak mulai belajar menganalisis. Sering protes tapi bukankah itu menunjukkan sesuatu yang sehat secara mental?. Walaupun merupakan sebuah keluarga kecil tapi malam hari di rumah selalu riuh dan gaduh. Karena untuk mempersiapkan masa depannya kadang dia dikeroyok oleh kami berdua bahkan kadang bertiga dengan guru lesnya. Sebuah kerja kolektif yang harus dilakukan secara ikhlas.

Memiliki anak tunggal, sebenarnya bukannya tak berisiko. Pasti tak harus seperti memperlakukan barang antik atau pecah belah. Terlalu melindungi, hanya akan membuat anak itu jadi egois, kurang percaya diri, manja, kurang terampil dalam pekerjaan remeh temeh sehari-hari, kurang sosialisasi pada lingkungan karena biasa sendiri dan masih banyak lagi.

Seorang anak adalah titipan dan amanah dari Allah SWT yang mesti dijaga dan dirawat sebaik-baiknya. Kita mesti menjaganya supaya tak terperosok dan terjatuh, melindunginya agar bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan, mendorongnya agar menjadi lebih berani dan bertanggungjawab. Namun kadang kita harus menghukumnya atas sebuah kesalahannya agar ia mengerti bahwa menjadi seseorang yang baik dan benar itu sulit.

Burung puyuh itu mengingatkan keluarga kecil kami di rumah. Dalam beberapa hal, kita bisa belajar pada keluarga dan perilaku seekor hewan. Melatih kemandirian jauh lebih penting daripada sekedar menyuapinya terus menerus. Dan tentang lingkungan, manusia pun bisa belajar pada keseimbangan ekosistem. Dengan cara itulah kita pada akhirnya bisa mengerti bahwa kita sebenarnya memiliki keluarga yang sangat besar dan hebat yaitu alam semesta beserta isinya.

Seperti angin. Tak dapat dilihat namun bisa dirasakan.

November 28th, 2009

image0029.jpg

Jam menunjukkan pukul 14 siang, awan putih masih terlihat berarak-arak menyelimuti langit biru di kawasan Wanasuka. Namun bukit-bukit nan indah disana tak lagi terjangkau oleh mata. Hanya hamparan luas hijauan kebun teh di kanan kiri jalan yang sedikit mengobati. Sepi menyelimuti sepanjang jalan yang licin dan berkerikil tajam, dan menjadi saksi bisu perjalanan spiritual yang rutin kujalani dari waktu ke waktu.

12 menit telah berlalu dan segala sesuatu yang tadinya nampak menakjubkan berubah menjadi sekedar jalinan bayang-bayang. Dan bukan hanya sejauh mata memandang namun juga apa yang ada dihati dan pikiran. Perjalanan ke Cihawuk tidak sekedar menorehkan sebuah kilasan tempat dan waktu. Tempat yang selalu membuat aku takjub akan keindahannya dan orang-orang yang luarbiasa daya survivalnya. Setiap kali menyusuri jalan-jalan di sana, selalu ada perasaan yang tertinggal, aku seakan ada di sebuah ruang penuh kenangan. Mungkin seperti manakala kita meninggalkan kampung halaman sendiri, keluar dari halaman rumah orang tua. Kesejukan dan keheningan adalah wahana penting untuk olah pikir dan bertalisilaturahim dengan Tuhan melalui alam.

Aku selalu meyakini bahwa perjalanan adalah sebuah waktu yang diciptakan Tuhan agar kita selalu mau berpikir dan mencerna manfaatnya. Tak ada hari yang tak memiliki makna. Tak ada waktu yang tak memiliki arti. Jadi alangkah beruntungnya jika kita memaknai hari dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan alangkah menyedihkan jika kita dipaksa memungut waktu dengan bersepi diri dan sekedar pasrah. Tuhan, adakah sebuah makna dari tingkah laku seekor sapi perah agar manusia bisa belajar banyak darinya?. Seekor ternak yang mampu menggugah seorang yang lembek menjadi jauh lebih kuat?.

Seekor ternak yang sociopath semestinya menjadi bahan pembelajaran dan petunjuk agar manusia menemukan jatidirinya sebagai manusia. Dan blackbox yang kita miliki, benar-benar dapat menjadi sensor yang baik menjadi manusia yang paripurna. Manusia yang tidak malu-malu memotivasi dirinya dengan cara melihat dan merasakan apa yang pernah dirasakan seekor pedet sekalipun. Crouch, walk, twitter, feed, walk, stand idle, preen, motionless and crouch.

Jadi, kebisingan yang terjadi di ruang publik akhir-akhir ini, aku rasa tidak semuanya harus ditimpakan dan menjadi tanggung jawab pemerintah. Kita pun harus belajar bertanggung jawab pada diri sendiri dan bersikap proporsional. Dan masyarakat sekitar kita, sudah baikkah kita-kita ini dihadapan Tuhan? Kalau sudah baik, barangkali kita tidak akan melihat antrian sangat panjang di hari raya Qurban untuk mendapatkan 1,5 kg daging. Ibu-ibu dan anak kecil saling berebutan jatuh bangun. Solidaritas social mungkin semakin rendah dan kita sangat permisif terhadap etika, moral dan agama. Pelanggaran hukum diawali dari situ, individu-individu yang kurang ramah pada lingkungan social. Kita pasti tak ingin semakin meluasnya masyarakat yang sosiopath dan mungkin juga anthropath.

A walk to remember.

Kali ini aku tidak sedang mengingat perjalanan ke Wanasuka ataupun Cihawuk. Dengan communicator 9500 yang setia menemaniku kesana kemari, aku hanya sedang memikirkan dan belajar tentang makna pulang. Sebagai seorang muslim aku percaya pada takdir sesuai dengan yang ada pada ayat-ayat suci Al Qur’an. Banyak hal yang kadang sulit dijelaskan namun sebenarnya dapat kita dirasakan.

Aku pernah membaca sebuah novel yang membuat hatiku tergetar, karya Nicholas Spark. Novel ini menceritakan kisah Jamie Sullivan, seorang penderita kanker leukemia, tipikal gadis sederhana namun sangat tangguh dan setia dalam komitmen. Novel yang menjadi best seller dan dalam bentuk seluloid filmnya diperankan oleh Mandy Moore. Sebuah film dengan setting sangat indah dan inspiratif. Sayang, perkawinan Jamie dan Landon Carter berakhir jauh lebih cepat yang aku duga semula. Leukemia memang sebuah penyakit yang susah diatasi. “She went with her unfailing faith. She taught me everything about life, hope and the long journey ahead”. Begitu kata Landon. Cinta memang seperti angin. Tak dapat dilihat namun dapat dirasakan.

Cepat atau lambat seseorang akan dan harus segera pulang. Kita tak tak tahu seberapa jauh kita akan melakukan perjalanan itu. Namun penting untuk dipahami bahwa selama perjalanan, harus ada asosiasi, apapun itu bentuknya. Mungkin aktivitas utama yang sangat dominan adalah eksplorasi. Membangun persepsi dengan mencoba memahami karakteristik lingkungan. Mengumpulkan informasi sangatlah penting untuk memahami tanggung jawab kita sekaligus untuk merespon dan akhirnya sebagai bagian untuk feedback ke lateral dan vertikal.

Dan kadang informasi itu menjelma menjadi sebuah memori. Tak ada yang salah dengan eksplorasi sejauh itu untuk tujuan jangka panjang. Bersiap diri menunggu jemputan malaikat. Jamie Sullivan, seorang gadis yang lugu, sejak dini telah mempersiapkan dirinya untuk dijemput malaikat setiap saat dan setiap waktu. Meninggal pada usia 22 tahun mungkin masih terlalu dini untuk orang sebaik Jamie.

Dan bagaimana dengan sikap seorang anak manusia terhadap hewan dan ternak sahabat manusia?. Tentang animal welfare: assessment and moral judgement?. Mungkinkah kita mau memikirkan sejenak, menyimak dan merenungi pesan singkat sebuah paragraph nan pendek ini: When scientific evaluation of welfare has been carried out, there remains the moral question of how poor welfare should be before it is regarded as unacceptable. Sebuah opini yang layak kita renungkan bersama. Itulah sisi lain perjalanan ke Wanasuka dan Cihawuk yang membuat dadaku serasa sesak, karena setiap orang yang belajar tentang ethologic pasti dipaksa untuk bertanya-tanya dan menjawab sendiri: Why does it happen?.