Dan menulislah, maka suatu saat anak cucumu akan tahu apa pendapat kamu di masa lalu, hari ini dan masa mendatang.
February 5th, 2010Berbicara bukanlah sesuatu hal yang buruk namun menulis mungkin akan jauh lebih berguna. Begitulah para orang tua dahulu selalu menasehati anak-anaknya, agar kita selalu menyempatkan waktu untuk menuliskan sesuatu. Dan satu hal, bagaimanapun juga pendapat dan pikiran yang kita tuangkan dalam sebuah tulisan akan jauh lebih lama usianya dibandingkan usia sebuah pembiacaraan. Bahkan akan jauh melampaui umur kita sendiri.
Sampai sekarang, aku masih senang menyimpan buku-buku lama. Kadang bukan karena semata-mata kualitas isinya namun karena buku yang kita peroleh juga memiliki kenangan sendiri pada jamannya. Dan kadang sebuah buku yang ditulis di masa lalu menjadi inspirasi kekinian.
Kebanyakan orang yang sudah mencapai usia 50 tahun, mulai berpikir ulang tentang kesehatannya. Setidaknya mulai lebih serius memikirkannya. Bagaimana hari-hari ke depan dapat dilalui dengan baik, mengisinya dengan hal-hal yang positip. J Dewitt Fox, seorang dokter yang bukunya: “Nasehat Dokter”, pada tahun 50 an banyak digunakan sebagai rujukan kakek nenek kita dalam masalah-masalah kesehatan pernah berujar: “Djalan supaja hidup lebih lama ialah menderita penjakit menahun ketika masih muda, lalu mengurus penjakit itu dengan baik”.
Lebih lanjut dia katakan: “Tuan harus kesehatan minded”. Maksudnya adalah agar orang-orang yang sekarang ini kebetulan masih sehat, segera mengevaluasi dengan cara memperhatikan kualitas hidup. Buat daftar yang konkret untuk menjaga kesehatan. Lebih memperhatikan dan mengikuti azas-azas kesehatan dan kalau perlu adalah menjaga kesederhanaan,terutama dalam hal makan.
Untuk menghindarkan penyakit jantung, DeWITT Fox menyarankan untuk melakukan hal-hal yang sampai sekarang masih sangat relevan yaitu mengurangi hal-hal yang mengganggu ketegangan, kecemasan, dan bekerja yang terlalu keras. Hati yang gembira, darmawisata, istirahat cukup dan penyegaran tubuh dapat membuat kehidupan jauh lebih sempurna.
Di desa-desa kita banyak mendapatkan seseorang yang usianya sudah cukup lanjut di atas 75 tahun tapi masih ke luar masuk kebun bahkan hutan, naik turun lembah. Mereka mungkin hidup dengan senang dan tenang. Banyak tukang-tukang kayu, orang-orang desa biasa dan pekerja-pekerja biasa yang bekerja keras di waktu siang, menggunakan waktunya sedikit di waktu sore untuk bercengkerama dengan keluarga dan tidur nyenyak pada waktu malam hari. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berat pekerjaannya namun taat beribadah kepada Allah. Dan yang menarik, pada kenyataannya di desa tidak banyak kuburan.
Nasehat orang-orang tua dahulu agar kita tidak terlalu cepat kena serangan penyakit jantung, stroke, stress dan sejenisnya sangat patut kita perhatikan dan renungkan.
Pertama: “jangan terlalu banyak berharap dari kehidupan”. Jangan harap lebih daripada yag dipandang Allah sudah cukup bagi kita. Janganlah berusaha melakukan terlalu banyak urusan dalam waktu yang terlalu singkat. Kegiatan yang terlalu sibuk membuat syaraf dan pembuluh darah tegang,
Kedua: “janganlah terlalu sering berkeluh kesah”. Lebay kata anak-anak sekarang. Orang-orang yang hidup sepenuh-penuh hidup, menghadapi segala sesuatu sebagaimana adanya, satu per satu berurutan. Tidak gampang mengomel atau bersungut atas tetek bengek persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan segalanya berjalan dan mengalir dengan sendirinya sebagaimana kehendak Tuhan.
Ketiga. Banyaklah tersenyum, karena orang yang gembira adalah orang-orang sehat”. Orang yang biasa bekerja keras diudara terbuka bersama orang lain adalah orang yang suka tertawa menikmati kehidupan. Suatu cerita atau khabar baik, sekedar mengatakan “like this”, pertemuan biasa dengan tetangga atau kawan dan saudara sudah cukup baik untuk menjaga kesehatan.
Ke empat. Ambil waktu buat hidup. Kebanyakan orang kota hidup dalam dunia esok. Terlalu ribet dengan rencana buat hari-hari esok, minggu depan, bulan depan dan tahun depan. Ada baiknya diselipkan sedikit kegiatan-kegiatan kegemaran di waktu senggang. Benar kata orang kali, “sungguh mereka telah ditipu oleh kehidupan”. Karena sebenarnya merekalah yang menipu dirinya sendiri. Kaya miskin, tinggi atau hina, apapun warma kulit atau agama, kita adalah makhluk yang sama memiliki waktu 24 jam yang harus digunakan tipa hari. Bagaimana kita menghabiskan waktu 24 jam itulah yang menentukan berapa banyak hari esok boleh kita gunakan nanti.
Ke lima. Ringankan kaki. Melakukan sesuatu dengan senang dan ikhlas. Dengan begitu beban yang kita tanggung bisa berkurang dan sebaliknya kita juga meringankan beban orang lain sehingga kehidupan ini menjadi bisa lebih berimbang.
Ke enam. Tentunya adalah selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepa Allah SWT. Banyak penjelasan kenapa kita harus selalu meningkatkan iman dan taqwa kita. “Innal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaati kaanat lahum jannaatul firdausi nuzulaa (QS Al Kahfi:107), yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.
Well, ketenangan adalah pangkal kemajuan. Tukarkanlah kerut-kerut yang ditimbulkan oleh keluh kesah menjadi senyuman yang manis. Pepatah mengatakan “ Tertawalah maka seluruh dunia akan tertawa dengan kamu, menangislah maka engkau akan menangis sendirian”. Dan menulislah, maka suatu saat anak cucumu akan tahu apa pendapat kamu di masa lalu, hari ini dan masa mendatang.