Skip to content


There is always someone worse off than yourself

Pakejeng, 31 Maret 2012. Beberapa hari terakhir ini kita menonton pergulatan partai politik untuk memperbaiki citra mereka dihadapan rakyat. Rencana kenaikan BBM oleh pemerintah menjadi momentum bagi mereka untuk berlomba-lomba, setidaknya melalui para politisi mereka di DPR. Inilah lembaga superbody yang merasa memiliki kewenangan mengatur dan mengawasi jalannya pemerintahan. Lembaga yang diisi oleh orang-orang yang tak teruji dibidangnya namun seringkali bersuara sangat lantang jika berbicara. Tak argumentatif dan seringkali mengedepankan emosi kelompoknya masing-masing.

Fenomena itu sebagian ditangkap masyarakat secara samar-samar dan sebagian lain sayangnya justru dengan vulgar direspon oleh kalangan calon intelek. Sebagian kecil mahasiswa yang juga mengatasnamakan rakyat kecil, merespon rencana kenaikan BBM dengan cara mereka sendiri. Cara yang sukar dipahami karena kadangkala mereka juga dipelihara oleh partai-partai politik.

Sebuah pemandangan yang memilukan bagaimana para calon intelektual muda memperlihatkan keberingasannya. Tak ada lagi budipekerti di situ, tak ada lagi nilai-nilai agama yang tersisa disitu. Yang ada hanya sikat, sikat, sikat, revolusi sampai mati?.

Well, setelah semalaman menyaksikan pemandangan kurang menyenangkan di sidang paripurna DPR yang membahas tentang kenaikan BBM, pagi ini saya bertolak ke sebuah daerah di desa Pakejeng Garut persisnya di lereng Gn Papandayan Garut. Gunung Papandayan merupakan gunung yang menarik di propinsi Jawa Barat seperti halnya Gunung Ciremai.  Selain terkenal dengan keindahan struktur alamnya, gunung ini juga memiliki kawah belerang yang masih aktif dan masih rimbunnya padang Eidelweis serta banyak pula pohon Mutiara Putih. Gunung Papandayan merupakan cagar alam yang didalamnya banyak terdapat keanekaragaman hayati dan obyek-obyek wisata alam yang indah.

Tapi saya ke Pakejeng hanya sekedar untuk menemui seorang peternak. Bukan untuk mencari ketenteraman bathin, walaupun sebuah perjalanan akan selalu memberi ruang untuk pengayaan bathiniyah.

Perjalanan 4 jam, lumayan yang pastinya menyenangkan. Setidaknya hampir setengah buku The Buddha Tree karya Fumio Niwa habis terbaca. Sebenarnya saya telah beberapa kali membaca novel lama itu tapi kadang mengulang membaca pun sangat menyenangkan, apalagi kalau novel itu merupakan karya yang luarbiasa. Siapa pun akan kagum pada Fumio Niwa, anak seorang pendeta Buddha, yang telah menulis lebih dari 80 novel, 106 volume cerita pendek, dan 10 volume esai. Dan, The Budha Tree adalah novel yang perlu dan harus dibaca untuk pengayaan bathin.

Walaupun menceritakan sebuah kehidupan keluarga Budha, beberapa nilai universal dapat menjadi pembelajaran bagi kita. Di novel itu juga penuh cerita tentang etos kerja, tentang pekerjaan yang memerlukan pengabdian pada kemanusiaan. Persis seperti dalam ajaran islam. Ash-Shalah yang artinya baik dan bermanfaat. Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132).

Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”,  yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (Asy-Syura: 52).

Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang tentram adalah orang yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai keluargaku dengan kecintaan yang tulus; bukan kecintaan yang dusta”.

Membaca The Buddha Tree, sepertinya kita bisa merasakan dan bisa mengenai suasa kehidupan di sebuahkuil. Sebuah kehidupan yang tak jauh beda dengan kehidupan di pesantren. Pasti banyak bedanya, karena di kuil ngga’ bakalan ada nyanyian Barzanji yang mengisyahkan tentang kehidupan rasulullah, shalawat munfarijah, shalawat badriyyah, Ghiyaatsah, doa istighatsah dan lain-lain. Tapi intinya berbagai kesulitan akan hilang setelah kita melazimkan shalawat untuk memelihara kemuliaan Rasulullah.

Well, tak terasa pukul 10 lebih sekian menit, kamipun sampai di Pakejeng. Sebuah tempat yang bagus. Masih banyak katak dan kodok disini, menandakan lingkungan di kampung ini masih terjaga. Tapi hidup dan kehidupan sungguh sangat relatif. Kita terkadang bisa salah melihat dan merasakannua. Mungkin seperti cerita lama “Aesop”.

The Hares and the Frogs. The Hares were so persecuted by the other beasts, they did not know where to go. As soon as they saw a single animal approach them, off they used to run. One day they  saw a troop of wild Horses stampeding about, and in quite a panic all the Hares scuttled off to a lake hard by,  determined to drown themselves rather than live in such a continual state of fear. But just as they got near the bank  of the lake, a troop of Frogs, frightened in their turn by  the approach of the Hares scuttled off, and jumped into the water. ‘Truly,’ said one of the Hares, ‘things are not so bad as they seem: ‘There is always someone worse off than yourself.’

Posted in FolkTale.


Bersatu dan terpisah oleh waktu.

Bandung, 7 Februari 2012. Lima belas menit lagi waktu akan menunjukkan tepat pukul 16.00. saatnya benah-benah.  So, bukan untuk pulang  tapi sekedar untuk pindah tempat, tepatnya  ke gedung 1 Fapet. Pekerjaan berikutnya telah menanti. Tak terasa, hampir 9 jam sudah saya terpaku di Lab. Uji Riset dan Pengujian. Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan di situ. Dan, suka atau tidak suka setiap pekerjaan mesti diselesaikan sesuai dengan target. Itulah pentingnya waktu, untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Sesekali saja saya ke Gd 4, sekedar untuk ngopi dan meluruskan kaki, selonjoran. Saya merasa teduh berada di ruangan saya sendiri. Seandainya ruangan ini bisa berbicara, pasti dia akan menceritakan banyak hal. Tak terlalu mudah untuk merangkai kalimat demi kalimat agar setiap orang yang pernah berinteraksi disini paham, mengerti dan mengenangnya sebagai bagian pendewasaan. Peace be with all the world My blessing on my friends My forgiveness to my enemies for I am in the realm of quiet. Begitulah kehidupan, mengutip The Scarlet Letter,  karya legendaris  Nathaniel Hawthorne.

Pukul 21.00, kami (karena berdua dengan teman) mulai meninggalkan kampus Jatinangor. Sepi tapi tak terlalu gelap. Malam ini cuaca sangat bagus. Jatinangor yang dalam kondisi normal sangat ramai dan padat oleh mahasiswa kali ini juga sepi.  Persis seperti lantunan Johnny Cash: I walk the line.  Hanya perlu waktu 15 menit untuk sampai ke rumah.

Langsung istirahat, tidur?. Sepertinya belum. Sayang kalau detik demi detik, menit demi menit kita sia-siakan hanya untuk tidur. Prinsip sederhana, kalau tidak ngantuk jangan tidur.  Mungkin kita bisa memaknai fabel lama Aesop: The Home of The Boy.  He lay there he knew not how long, but was awakened in broad  daylight by a loud.

Beberapa jam yang lalu. 21 Km dari tempat ini, tepatnya di Kampus DU hari ini ada 52 orang  melepaskan statusnya dari mahasiswa menjadi orang dewasa beneran. Status sarjana peternak melekat dalam diri mereka dan insyaallah mereka kelak akan mencoba peruntungan menjadi orang2 yang mandiri dan profesional di bidangnya. Saya pernah merasakan kebahagiaan saat diwisuda, dan juga pernah merasakan bagaimana galaunya saat meninggalkan kampus.  Semoga kegalauan itu tak mereka rasakan dan tak menjadi beban. Terutama untuk dua sahabat yang secara langsung bahu membahu membantu asistensi Biologi dan Mankester, setidaknya di 3 tahun terakhir.

Apa arti seorang sahabat bagi kita?. Jawabannya bisa beragam dan tak perlu kesepakatan. Yang pasti: sahabat adalah seseorang yang mau mendengarkan apa saja keluh kesah kita walaupun tidak selalu bisa memberi solusi, seseorang yang kita akan kehilangan manakala kita lama tidak bertemu, seseorang yang dengan ringan tangan dan ringan kaki mau membantu bahu membahu tanpa diminta. Seorang yang bisa nyebelin tapi selalu pengin kita lihat. Seseorang yang bisa menyambangi kita tanpa kita telpon atau sms.  Seseorang yang punya prinsip: United we stand, divided we fall. Dan, dan, dan,

Dan, kalau esok atau lusa kita tidak melihatnya. Setidaknya kita masih bisa mendapat khabar dari mereka.  Thx to Rezayanti Shinta dan Gina Ratnasari. Sukses untuk anda.’The trial cannot proceed’.  Don’t let him know she liked them best, For this must ever be.  A secret, kept from all the rest, Between yourself and me.’ Dan kelak kalau punya waktu, sempatkan membaca:  Alice’s Adventures in Wonderland by Lewis Carroll.  ‘without pictures or conversation?’.  It is best to prepare for the days of necessity. Example is the best precept.

Posted in Anak2 Biofapet.


Perjalanan aneh tapi nyata di Hari Imlek 2563. Gong Xi..! Gong Xi..!

Ciamis, 23 Januari 2012. Gong Xi Fa Cai atau Tahun Baru China, adalah hari yang  dinanti-nantikan para sahabat-sahabat kami kaum mandarin.  Kita adalah bangsa majemuk, penuh keanekaragaman budaya di negeri ini, jadi sah-sah saja mereka bergembira merayakannya.  Di twitter, fb dan bahkan jango.online ucapan salam  Gong Xi..! Gong Xi..! Gong Xie! Fat! Chai, Sin Nie Chin Phu,  Wan Se Ju Ie, Sen Thie Chien Kang, Xin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi! Gong Xi Fa Cai 2563! Dan May God bless our family mewarnai hari yang membahagiakan mereka.

Libur panjang nasional 3 hari tak kami sia-siakan untuk bekerja sambil bermain ke daerah-daerah Ciamis dan Tasikmalaya bagian selatan. Hari minggu sepanjang perjalanan dari Bandung, Tasikmalaya dan Ciamis padat merayap. Woww sapa bilang ekonomi Indonesia sedang sekarat, buktinya tempat2 keramaian dan sepanjang jalan yang kami lalui penuh dengan orang2 yang antusias untuk berlibur yang artinya akan mengeluarkan biaya yang tak sedikit.

Kelihatannya hanya peternak yang tidak mengenal liburan?. Ada libur atau tidak, mereka harus memberi makan ke ternak. Bagi mereka bercengkerama dengan sapi, ayam, domba,  adalah hiburan yang tak kalah menyenangkan. Dan, hari ini walaupun hari minggu mereka tetap setia dengan pekerjaannya yaitu menyabit rumput, membersihkan kandang dan lain-lain.

Dan, bada lohor (dhuhur) pun, kami sudah terlibat  diskusi dengan teman-teman peternak Kelompok Lumba-lumba Parigi. Sebagian besar peternak sapi potong ini berasal dari Ds Karang Jaladri Parigi. Lumayan lama kami berdiskusi dengan mereka dan petugas dari UPTD, diskusi ngalor ngidul tentang bibit, harga, penyakit reproduksi, S/C, calving interval dan sebagainya-sebagainya.

Sekitar pukul 14.30 an kami meninggalkan kawasan  tersebut. Niatnya menuju kelompok-kelompok sapi potong yang ada du daerah Cigugur, Padaherang, dan Kalipucang. Tapi sayang, waktu kami tersita cukup banyak di perjalanan karena ban kendaraan kempes.  Akhirnya kami memutuskan akan ke kelompok peternak yang lebih dekat yaitu Kelompok peternak Nusawiru Cijulang Ciamis.

Ternak sapi disini sudah biasa mendengar suara sirine dan bunyi pesawat terbang, karena letaknya pesis di samping lapangan terbang Nusawiru Cijulang.  Berangkat pada kesadaran untuk mengembangkan sektor pariwisata Pangandaran, yang sudah tentu membutuhkan sarana pendukung berupa jaringan transportasi yang baik, Pemerintah memiliki cita-cita mulia yaitu (a)  Merencanakan suatu kawasan bandara yang dapat mengakomodasi kegiatan parwisata di Pangandaran, (b) Merencanakan suatu bandara yang berkualitas sehingga dapat mendukung kegiatan pariwisata di sekitarnya, serta menarik minat wisatawan untuk menggunakan transportasi udara dan (c) Berusaha menciptakan suatu lapangan kerja yang dapat menunjang seluruh penduduk lokal dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Sayangnya dalam perjalanan fungsi dan peran  bandara  Nusawiru ini kelihatannya kembang kempis. Padahal potensi di daerah ini sangat luarbiasa. Ada Cukang Taneuh/ Green Canyon, Batu Hiu,  ada batu Karas yang luarbiasa indahnya, disamping tentunya Pangandaran.

Dari kelompok Sapi potong  Wiru Nunggal Nusa Wiru, bada maghrib kami diantar seorang inseminator melanjutnya perjalanan ke Kelompok Ternak Sapi Potong “Karang Ampel” di desa Kondang Jajar kec Cijulang. Menariknya untuk menuju ke kelompok tersebut dari kelompok Wiru Nunggal kami mesti menerobos landasan lapangan terbang Nusa Wiru. Untung malam hari, jadi ngga ada yang menjaga. Kebayang kalau siang.

Sambil melihat aktivitas IB di situ kami diskusi di sebuah warung ditemani beberapa peternak dan tentunya secangkir kopi hangat, hui manis dan lain-lain. Nyem-nyem-nyem. Sambil ndengerin:  Going To The River by Fats Domino.

Usai diskusi dengani kelompok Sapi Potong “Karang Ampel”, kami tetap kelaparan. Beruntung masih ada rumah makan yang buka, yaitu RM Tirta Bahari, letaknya disamping kanan persisi dekat pintu masuk Green Canyon. Kelihatannya sudah mau tutup tapi mungkin karena masih ramai pengunjung mereka ngga jadi tutup. Lumayan, masih  bisa menikmati aneka seafood disitu dan harganya ngga terlalu mahal, puji Tuhan.

Lanjut terus?. Kami tak menyadari ternyata waktu telah menunjukkan pukul 22 malam ketika memasuki kawasan pantai Batu Karas Ciamis. Tujuan utama kami tentu JavaCove Beach Hotel. Pertimbangan kami ke situ karena fasilitasnya lengkap, karena kami ke daerah selatan Ciamis  untuk kerja, baru sisanya untuk santai. Ternyata semua hotel dan penginapan di Batu Karas sudah penuh. Sasaran berikutnya adalah Pondok Putri  dan Bonsai ternyata penuh juga. Hampir 1 jam kami mencari-cari penginapan sampai akhirnya kami mendapatnya sebuah tempat sederhana untuk sekedar tidur 5 jam saja karena kami besok bermaksud ke Cimerak, Cigugur, Cikatomas dan sekitarnya.

Well, pagi ini  tepat hari Imlek.  Pagi ini tak ada hujan, tak ada badai, tak ada angin ribut. Suasana  tenang dan damai di batu Karas. Sungguh hari yang cerah, secerah hati kami manakala pagi ini pukul 08.00 kami bergerak ke arah Sindangsari, Cimerak. Kami  telah janjian dengan Iing Mulyadi seorang alumni Fapet Unpad yang kebetulan menjadi inseminator di Cimerak. Performansnya sangat bagus: S/C nya antara 1,5 sd 1,6.  Well, sangat membanggakan. Ada 2 orang Inseminator yang aktif di Cimerak, dengan akseptor yang lebih dari 3 ribu tentunya masih kurang SDM mengingat medannya yang berat dan jauh-jauh.

Senang bisa ketemu lagi dengan teman dan sahabat2 lama. Dan, berdiskusi tentang reproduksi, kesehatan, produksi ternak sapi potong selalu mengasyikkan. Namun sayangnya tak bisa lama-lama. Pukul 12 kami mesti cabut, karena kami mesti ada acara lain. Dari Cimerak menuju Cikalong kita akan menikmati pemandangan pantai yang sangat luarbiasa. Kecuali satu hal, yaitu pertambangan (minning) pasir besi. Mereka tidak hanya merusak lingkungan pantai dan jalan namun juga kehidupan sosial masyarakat setempat. Bagaimana pemerintah, coba check kembali Amdalnya?.

Suasana Imlek baru terasa dalam perjalanan dari Cimerak terus menyisir pantai sampai  ke barat Cikalong. Angin kencang campur hujan deras membuat kami tidak bisa melihat laut dan pantai nan indah di situ. Kami memutuskan untuk melanjutkan ke Cikatomas, Salopa dan  memotong  Sukaraja, supaya bisa sampai ke Singaparna. Kami pengin lewat Garut. Bukan untuk mencari dodol Garut tapi mau mencari  minuman tradisional Bandrek Haruman. Menjaga stamina, letih lesu, masuk angin, batuk, pegal-pegal, influenza, mabuk perjalanan dan katanya bisa untuk mengatasi lemah syahwat.  Hm.,hm. Hm, masya iya sich?. Perjalanan aneh tapi nyata di Hari Imlek 2563. Sangat menyenangkan.  Gong Xi..! Gong Xi..! Gong Xie! Fat! Chai.

Posted in FolkTale.


Saling Mengingatkan dan Saling Memahami.

Bandung, 7 Januari 2012. Berteman tidak sama dengan berkeluarga. Berteman dan berkeluarga adalah fitrah setiap manusia. Ada perbedaan mendasar antara teman dan keluarga. namun demikian bagi kita teman kadang bisa menjadi saudara: apapun kelebihan dan kekurangannya. Persamaannya adalah betapa kering dan sepinya tanpa teman apalagi tanpa keluarga.

“pake jaket tebal ya, dingin cuacanya”. “okok.. makasih pa”. ok wass.,sampai ketemu bsk y”.

“pulangnya hr senin ya pa? disana agendanya ngapain aja? ato cuma jalan2? he…”. “Iya, bisa dilihat di http://www.tnhalimun.go.id/static/overview.html. ok deh pa, selamat istirahat..

Dua minggu telah berlalu namun malam-malam nan dingin di Taman Nasional Gn. Halimun menjadi catatan tersendiri tentang hubungan keluarga dan teman. Tempat yang didominasi tumbuhan rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan lain-lain itu menorehkan kenangan mendalam, bukan saja karena keindahan alamnya namun juga catatan-catatan pendek didalamnya dari teman-teman. Mungkin selaras dengan HR Muslim dan Ibnu Majah:”Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu, tetapi ia melihat hatimu”.

Sambil memperhatikan patok berkode HM 8, saya mengamati betapa gagah menjulangnya pohon Rasamala yang konon katanya berusia hampir 100 tahun. Pohon Altingia excelsa, yang di beberapa daerah dikenal dengan nama lain mala, tulasan, mandung hanyalah tanda pengingat betapa maha luarbiasanya sang maha pencipta.

Daun Rasamala yang masih muda berwarna merah sering untuk sayur atau lalap. Di Jawa, daun yang telah ditumbuk halus digunakan sebagai obat batuk dan getahnya berbau aromatik sebagai pengharum ruangan. Pohon yang luar biasa ini kayunya menjadi pilihan untuk untuk kerangka jembatan, tiang, konstruksi, tiang listrik dan telpon, serta penyangga rel kereta api. Selain itu, kayunya dimanfaatkan untuk konstruksi berat, rangka kendaraan, perahu dan kapal, plywood dan lain-lain.

Tujuan kami bermain ke Taman Nasional Gn. Halimun pasti tidak untuk mengamati dan meneliti “karakterisasi tipe vegetasi di daerah itu”. Banyak biolog-biolog lain yang lebih ahli. Tidak ada waktu untuk melakukan pencuplikan data lapangan melalui pembuatan petak dengan mengikuti metoda kuadratnya Greigh-Smith. Tak cukup waktu untuk mengamati komposisi jenis, struktur hutan dan jenis-jenis tumbuhan apalagi harus menghitung indeks kesamaan jenis antar petak cuplikan sebagaimana yang biasa dilakukan Jaccard dan indeks diversitas dengan cara Sorensen.

Tujuan kami adalah memupuk kebersamaan antar teman dan jika memungkinkan merajutnya menjadi sebuah keluarga besar Biofapet. Kami tidak menggunakan GPS karena hati dan neuron-neuron kami akan mencatat ordinat lokasi sebagai sebuah tempat untuk saling memahami. Dengan hatilah kami ingin memulai dan neuron akan mencatat informasi dasar tentang betapa pentingnya keharmonisan dan identitas seseorang.

Kita pastinya membutuhkan pribadi-pribadi yang tulus yang mengikatkan jiwa pada kebaikan bersama. Komitmen saja sebenarnya tidak cukup, harus diiringi dengan tindakan nyata yang mewujud dalam bentuk kebaikan. Itulah esensi berteman dan berkeluarga. Dengan menumbuhkan dan membangun dari hal -hal terkecil maka kehidupan kemasyarakatan yang lebih luas atau dalam tatanan kehidupan kolektif maka kehidupan umat manusia akan berlangsung harmonis. Insyaalloh.

“Aku tidak tahu apapun soal pendidikan kecuali hal ini: bahwa tantangan terbesar dan terpenting yang ada bagi umat manusia tampaknya adalah seputar cara merawat anak dan cara mendidik mereka”. Begitu kata Michel de Montaigne (1533- 1592). Lebih dari 5 abad yang lalu seorang filosof sudah mengingatkan hal itu dan sampai sekarang masih relevan. Tidak mudah untuk menerjemahkannya namun aku bisa merasakannya.

” Makanlah dengan satu dirham, dan sisanya belikanlah kampak, lalu gunakan ia untuk bekerja “, begitu kata sebuah pepatah lama. Dan, sepanjang yang bisa aku ingat: pohon tepus, pohon anggur sunda, pohon darandeng, pohon rengas, Ki Amis, Ki Acung dan tumbuhan lain di Gn. Halimun akan mengingatkan pentingnya arti memahami sebuah keluarga dan teman-teman didalamnya sebagai anggota keluarga. Seperti sebuah memoar: banyak cerita lucu, banyak kejadian cerdas, menggelitik dan terbuka. Dan Itu hanya akan didapatkan dalam perjalanan ber-jam2 dalam sebuah minibus kecil. Even though we’re many miles apart.

” Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar sebagai penegak keadilan , dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk (berbuat) tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS Al Maidah : 8 ).

Posted in Anak2 Biofapet.


Selamat tinggal 2011 dan selamat datang 2012.

Catatan akhir tahun 2011. Tiga ratus enam puluh empat hari telah berlalu dan penghujung tahun 2011 tinggal beberapa saat lagi. Sebuah langkah panjang yang mesti dimaknai. Apapun yang telah terjadi, perpindahan tahun bukanlah sebuah aib, yang mesti diratapi dan disesali. Bnayak kenangan tertinggal, banyak kisah terselip dan tak sedikit yang membuat kening berdenyit dan dahi mengkerut namun semuanya adalah aset penting untuk menyongsong hari-hari ke depan.

Perpindahan tahun juga tak seperti sebuah cerita mengerikan seperti dalam  novel lama karya  LaVyrle Spencer:  That Camden Summer.  Kisah sebuah perceraian yang pada suatu waktu (awal abad 20) dianggap tabu, pelakunya akan diasingkan secara sosial dari masyarakat dan bahkan oleh keluarga. LaVyrle Spencer, yang lahir dan dibesarkan di Browerville Minnesota, memberikan pesan penting tentang hakekat  kehidupan dan berkeluarga. Sangat berkarakter dan tak mengada-ada. Mungkin karena itulah para penulis novel kontemporer menggolongkan karya-karya Spencer dalam kelompok “historical romance novels”.  Cerita tentang fakta sejarah.

Banyak cerita dibalik 1 tahun kurang sehari yang barusan telah berlalu. Banyak kawan-kawan tercinta satu persatu meninggalkan kampus. Di luar kampus,  beberapa teman pergi selamanya dan tak akan pernah kembali.  Tuhan telah mengaturnya, mungkin untuk menjaga keseimbangan. Dan, kita sebenarnya dipaksa untuk berusaha mengerti dan memahami fenomena itu. Masalah pada hakekatnya untuk menjadi pembelajaran dan kita diajak berpikir untuk mencari rasionalitas dari masalah tersebut.

Well,  selain pesan penting tentang kesulitan, tahun 2011 juga  penuh dengan hari-hari yang mencemaskan. Kurang lebih 450 km dari sini (Bandung), ada seorang ibu yang sudah sepuh, menemani makam bapak yang meninggal 1100 hari yang lalu. Tinggal di Salatiga: sebuah Kota kecil yang sejuk dan nyaman sebenarnya sangat menyenangkan. Sebuah kota yang pada akhir bulan desember lebih banyak diguyur hujan, dan hampir di setiap sudut kota terdengar lagu-lagu rohani: The Herald Angels Sing, Jingle Bells, Silent night, Blue Christmas dan lain-lain. Sebuah tempat  yang dengan damainya, semua umat beragama bisa berinteraksi tanpa sekat.

Kadang ada pertanyaan yang sangat menggelitik: bagaimana seandainya kita bisa merubah waktu. Apakah kita tak menyesali apa yang telah kita lakukan?. Berhitung mundur, bukanlah jalan keluar. Menatap masa depan jauh lebih baik daripada meratapi masa lalu.  Ada baiknya kalau memiliki waktu luang kita membaca 2 atau 3 kali bukunya Martyn Ford: It happened to me. Kisah nyata luarbiasa yang dialami oleh orang-orang biasa.

A gripping anthology of life-changing events that happened to ordinary people.  Uplifting and terrifying, inspiring and shocking, this book is a tribute to courage, determination, and people’s ability to cope with whatever life throws at them.

Tuhan tidak mungkin menguji dan mengazab  tanpa sebab-musabab.  Dengan diberi ujian semestinya kita bisa merenung dan berpikir:  adakah jalan dan langkah yang kita tempuh ini salah?. Hati dan akal yang baik adalah syarat dasar untuk beriman. Dengan  kesadaran itulah kita melihat dan memaknai kegagalan, kekecewaan, kegalauan dan sejenisnya.

Apapun kebaikan yang datang kepada kamu, pasti dari Allah. Wamaa ashobakum min hasanatin faminallah. Wamaa ashobakum min sayiatin famin anfusikum. Jadi kebaikan yang datang kepada kita pasti dari Allah. Sedangkan keburukan yang menimpa kita, pasti dari diri kita sendiri.

Posted in Anak2 Biofapet.


Misteri tengah malam @Tmn Nasional Gn. Halimun

Sukabumi, 26 Desember 2011. Liburan akhir tahun adalah waktu yang selalu  ditunggu-tunggu banyak orang. Teman-teman Biofapet dan asdos Mankester melalui musyawarah mufakat memutuskan:  Jalur timur Taman Nasional Gunung Halimun Salak  (TNGHS) sebagai tujuan ekowisata tahun ini. Dan tanpa banyak persiapan, karena memang terbiasa begitu, kami pun menghubungi pihak-pihak terkait terutama pengelola TNGHS.

Sayangnya sepanjang  perjalanan dari Cibadak ke Cikaniki kami lebih banyak disuguhi dengan hujan lebat. Jalan lumayan sempit, licin  dan tak terlalu bagus. Alhasil menjelang sore kami baru sampai ke Kantor Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Jl. Raya Cipanas – Kecamatan Kabandungan. Mendaftar dan beresin administrasi untuk masuk kawasan  TNGHS sekalian shalat ashar. Selanjutnya kami melanjutkan ke Cikaniki. Hanya 17 km dari Kantor tapi jalanan yang terjal, sempit, licin karena hujan membuat perjalanan terasa sangat lambat. Untung cuman 2 kali terjebak lumpur dan terpaksa mendorong.

Kami memilih Homestay di Citalahab dengan pertimbangan di sekitar Cikaniki medannya tak terlalu sulit dan banyak yang bisa kita lihat dan nikmati. Jalan setapak Cikaniki – Citalahab sepanjang 3,8 km dibuat pada tahun 1997, jalur ini telah dilengkapi dengan pal hekto meter (HM), papan petunjuk dan shelter. Sepanjang jalur ini kita bisa menikmati berbagai flora fauna menarik yang biasa hidup di  hutan tropis.

Pukul 17 an, kami pun sudah bisa duduk-duduk di kawasan dengan ketinggian 1900 m dan suhu dingin  sambil menikmati kopi manis di basecamp milik seorang penduduk. Sementara mbak2 pada sibuk memasak menyiapkan makan malam, kami jalan-jalan ke penduduk lokal yang sebagian besar pemetik teh milik Perkebunan Nirmala. Sebagian lainnya  menjadi pemandu ekowisata. Penduduk lokal di kawasan Cikaniki tidak terlalu banyak, hanya ada ratusan orang dan walaupun sudah ada sejak jaman Belanda, ternyata asal usulnya pun berbeda-beda.

Ba’da Isya, kamipun diskusi ringan sambil latihan “kecerdasan” sekedar untuk menghibur diri. Pukul 20 an, dilanjutkan  diskusi dengan koordinator pemandu ekowisata di distrik Cikaniki. Cukup panjang lebar penjelasannya sampai pada kesimpulan bahwa bagusnya malam ini kami berburu jamur berpendar. Hanya perlu waktu 2 jam saja dari basecamp.

Pada pukul 21 lebih seperempat  dibantu seorang pemandu lokal, kami pun bergerilya. Malam ini kebetulan tak turun hujan,  cuaca lumayan agak “cerah”, gerimis sedikit tapi tak mengganggu semangat kami. Berenam belas kami berjalan rapi, tak banyak bersuara karena aturannya memang begitu. Tak boleh bersiul atau bernyanyi-nyanyi karena katanya akan mengundang binatang buas. Terutama saat melewati habitatnya macan tutul, macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan ajag (Cuon alpinus).

Sampai menit ke 50, kami masih komitmen dengan nasehat bapak pemandu untuk tak banyak bersuara. Hanya suara sepatu dan kadang2 suara batuk salah seorang peserta yang kebetulan mengalami flu dan batuk selama dalam perjalanan dari Bandung ke Sukabumi.

Dalam perjalanan, di tengah keheningan malam tiba-tiba suasana menjadi tak terkendali. Suasana jadii riuh ketawa ketiwi ketika suara kentut memecahkan keheningan malam: duuuuddd. Suara yang muantab itu sangat mengesankan. Tapi ini sungguh keterlaluan, bersiul saja ngga boleh ehh malahan bunyi kentutnya sangat kenceng. Dan, sampai detik ini  masih menjadi misteri siapa pelakunya?. Wkwkwk, aya-aya wae.

Dan.,singkat kata malam ini  akhirnya kami bisa menikmati pemandangan menakjubkan yaitu jamur-jamur yang bisa bersinar diwaktu malam. Beberapa jamur Mycena diketahui memang bersifat bioluminescene mampu berpendar atau bercahaya di waktu malam. Of the estimated 1.5 million species of fungi on earth, only 71 species are known to be bioluminescence. Mirip bintang2 di langit, sungguh indah dan menakjubkan.

Pukul  23.20 an kami  kembali pulang ke basecamp, lumayan  ngos2an  karena banyak jalan menanjak saat pulang. Hanya suara binatang malam yang terdengar karena energi kami sudah hampir habis. Tak ada lagi diskusi karena kami harus cepat2  istirahat, besok pagi sd siang acaranya lumayan padat.

Senin, 26 Desember 2011. Usai menunggu sunrise yang ternyata ngga muncul2 karena tertutup mendung, kami siap-siap melakukan “expidition”. Diperkirakan perjalanan akan memerlukan waktu 2 jam untuk menempuh  kurang lebih 8 km. Naik turun hutan, berbecek ria, sesekali terpeleset dan jatuh. Senang2 saja.

Beberapa tumbuhan yang mendominasi hutan di Taman Nasional Gunung Halimun antara lain rasamala (Altingia excelsa), jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan puspa (Schima wallichii). Sekitar 75 jenis anggrek terdapat di taman nasional ini dan beberapa jenis diantaranya merupakan jenis langka seperti Bulbophylum binnendykii, B. angustifolium, Cymbidium ensifolium, dan Dendrobium macrophyllum.

Konon katanya disini terdapat kurang lebih 204 jenis burung dan 90 jenis diantaranya merupakan burung yang menetap serta 35 jenis merupakan jenis endemik di Jawa termasuk burung elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Selain itu terdapat dua jenis burung yang terancam punah yaitu burung cica matahari (Crocias albonotatus) dan burung poksai kuda (Garrulax rufifrons). Burung elang Jawa yang identik dengan lambang negara Indonesia (burung garuda), katanya cukup banyak dijumpai di Taman Nasional Gunung Halimun namun kami belum beruntung untuk menemuinya, mungkin lain kali.

Banyak sekali  sisi-sisi yang menarik selama melakukan perjalanan.  Keindahan alam dengan kehidupan liar, gemuruh air terjun dan gemericik aliran sungai kecil yang jernih; kesemuanya merupakan peristiwa alam yang dapat memberi pengalaman spiritual bagi kami. Sayangnya   canopy trail yang terkenal dan menjadi daya tarik utama ke Cikaniki sudah dua tahun terakhir tidak dapat dipergunakan.

Pukul 14, kami packing barang dan siap-siap pulang ke Bandung. Kami memilih jalan pulang yang berbeda. Kelihatannya jalurnya lebih dekat kalau kita  mengambil jalur Cikaniki – Nirmala menuju Leuwijamang Bogor. Well, sebuah perjalanan yang menyenangkan di akhir tahun. Semestinya sebuah perjalanan harus membuat kita semakin bisa mensyukuri nikmat yang Allah berikan.

Kita diarahkan dan bisa menikmati keindahan flora dan fauna di Gn Halimun, mungkin untuk mengingatkan  agar kita terus meningkatkan ketaqwaan. “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (At-Thalaq: 2-3). Insyallah, ada sisi2 baik yang bisa dimaknai dan diambil sebagai pembelajaran ke depan.

Thx to: Rezayanti Shinta, Dewi Rahayu, Gina Ratnasari, Rahmi Anugrahwati, Anne Rufaidah Lubis, Rini Ramdhiani Mochtar, Ken Ratu Gharizah Alhuur, Novia Rahayu, Ambar Siswanti, Cepi, Kesa Reksanala, Dian Andriyani, Nurul Ilsa dan Lydia Febriani. Dan 2 orang pak sopir. Teman2 seperjalanan yang sangat menyenangkan.

Posted in Anak2 Biofapet.


Suasana yang tak lekang oleh waktu.

Pangalengan, 17 Desember 2011. Malam telah mulai larut, ketika kami sedang duduk manis menikmati ikan bakar di Lebo Beach Cafe. Letak kafe ini ada di pinggiran kota Parigi Moutong Sulawesi tengah.Banyak pilihan disini diantaranya ikan tuna, cakalang, tongkol, udang dan lain-lain.  Rupanya  kami sedang berada di koordinat 4°40 LU, 0°14 LS, 119°45 BT, 121°06 BT. Namun udara panas tereliminasi oleh desir ombak dan angin malam dari teluk Tomini.

So, di helai angin sepoi2 malam,  agak setengah hangout, pikiran saya melayang jauh ke sebuah tempat yang sangat sejuk, asri, dan sekali-sekali terdengar lenguhan sapi perah. Tepatnya di sebuah tempat yang bernama  Pangkalan, Pangalengan. Pulang dari Palu besok saya berniat langsung  ke tempat yang selalu saya rindukan itu. Tak ada kata untuk ragu walaupun capai ada di kandung badan, namun ada semangat pedemu negeri.com.

Dan, pagi ini pukul 08.30 an saya bersama beberapa mahasiswi sudah bisa menikmati pemandangan nan indah di pangkalan Pangalengan. Sebuah tempat yang sejak jaman baheula sampai sekarang masih terus berlangsung: Het wegen van de thee-oogst na de ochtendpluk.

Mungkin generasi sekarang perlu tahu juga siapa itu Bosscha, Karel Albert Rudolf. Orang yang dijamannya berjasa mengembangkan perkebunan teh, karena dia pernah menjadi Kepala Administrator Assamtheeondememing ‘Malabar’ disitu pada jaman Hindia Belanda. Anak Yohanes Bosscha, fisikawan, dan Paulina Emilia Kerkhoven “mewariskan” keindahan alam yang bisa dinikmati generasi masa kini. Banyak perusahaan lainnya yang ia dirikan atau sebagai komisarisnya, diantaranya perusahaan teh Wanasoeka, Taloen, Sitiardja, Raja Mandala, Arjuna, Papandajan, Bukit Lawang dan Sindangwangi.

Tak terlalu lama, kami berdiskusi dengan ketua kelompok peternak sapi perah di situ. Pag Ugun, sahabat lama yang dulu sering membantu program-program Unpad dalam mengimplementasikan teknologi pengembangan sapi perah di Pangalengan. Tidak lama di Pangkalan, tidak sempat ke Situ Cileunca, apalagi ke Cibolang yang jaman dulu terkenal dengan sebutan Tji Bolang Tanara, Assamthee-onderneming. Kami langsung menuju ke perkebunan teh Gambung dan selanjutnya ke kawah putih Gn. Patuha. Walaupun sudah beberapa kali ke situ tapi yang namanya pemandangan dengan suasana didalamnya tak akan lekang oleh waktu.

Tuhan memberi keindahan (apapun bentuknya), sesungguhnya untuk menguji keimanan kita, mampukah kita bisa mensyukurinya?. Menemukan kebenaran pun bisa dilakukan dengan berbagai cara namun ujungnya tetap satu karena kebenaran sifatnya absolut. Seni dan keindahan dalam Islam bersifat fungsional. Begitu kesepakatan banyak orang.

Setelah menikmati sejenak keindahan dan suasana di Kawah Putih, kami pun menuju ke tempat sebelahnya karena memang tak terlalu jauh dari Kawah Putih yaitu tempat penangkaran Rusa di Ranca Upas. Hari sudah mulai senja  dan tak hanya gerimis namun sesekali hujan menyiram kepala kami. Pening, namun tak mengurangi semangat kami untuk bercengkerama dengan rusa di situ.

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, seorang mahasiswi didekat saya mengatakan: Pak, seperti mengasuh anak-anak?. Well, saya kepikiran sama penulis terkenal Buku legendaris (setidaknya bagi para dokter hewan): “If Only They Could Talk” yaitu James Herriot: I hope to make people realize how totally helpless animals are, how dependent on us, trusting as a child must that we will be kind and take care of their needs. Setiap perjalanan selalu menyisakan banyak cerita, itulah yang aku sukai. Banyak nilai tambah didalamnya yang akan memperkaya hati dan pikiran kita.

Dan, perjalanan belum akan berhenti. Usai dari Ciwidey saya langsung berkumpul dengan teman2 lama di rumah seorang kawan lama. Malam ini ada reuni dengan teman-teman SMA Salatiga Angkatan 1979. Rasanya menjadi kekurangan waktu dan energi untuk berbagi dengan keluarga. Padahal keluarga sangatlah berarti. Namun waktu memang telah menunjukkan pukul 00.30 lebih. Hening dan sepi. Di rumah, Thareq telah tertidur mungkin sedang mimpi, jadi saya tak mau mengganggu tidurnya.

Posted in FolkTale.


Poso: Masterplan Kesehatan and in another place.

Poso, 14 Desember 2011. Jam menunjukkan sekitar pukul 11 WIT ketika Pesawat Merpati Nusantara Airlines Type MA-60 yang kami tumpangi mendarat di Bandara Kasiguncu Poso setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Makassar. Cuacanya sangat panas menyengat. Maklum, kami berada di 1°24′S 120°45′E. Masih untung angin laut dari teluk Tomini membantu mengurangi sengatan panas. Dan sambutan manis teman-teman dari Bappeda Poso yang ramah sekali semakin membuat Poso terasa “sejuk”.

Tak sampai 1 jam kemudian kami sudah terlibat diskusi tentang rencana besok, yaitu seminar tentang Masterplan Kesehatan Kab. Poso 2012 – 2016. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui upaya pembangunan di bidang kesehatan merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Pembangunan kesehatan harus dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan dengan melibatkan partisipasi aktif stakeholders dan seluruh potensi masyarakat. Dengan demikian, seluruh stakeholders yang terkait dengan pembangunan bidang kesehatan perlu bekerja secara bersama-sama, saling membantu, saling berkomunikasi, saling bersinergi dan saling mengisi sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Sektor kesehatan masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang terkait dengan permasalahan kesehatan masyarakat (public health problems), permasalahan pelayanan kesehatan (health provider problems), maupun permasalahan pada aspek determinan kesehatan (health determinant problems).

Oleh karena Itu perlu disusun suatu perencanaan induk bidang kesehatan atau Master Plan Kesehatan yang akan memuat visi dan misi pembangunan kesehatan, arahan, indikasi program dan kegiatan dalam jangka waktu 5 tahun. Pelaksanaan program dan kegiatan sebagai upaya untuk mengatasi berbagai masalah permasalahan tersebut perlu disusun dengan terencana, sistematis dan terpadu agar pelaksanaan program kesehatan lebih terarah dan terukur.

Sore harinya, saya menyempatkan menunaikan sholat di Masjid Agung Baiturrahman Poso yang kebetulan tak jauh dari penginapan kami. Beberapa tahun yang lalu Masjid raya ini berperan penting dalam mendukung perdamaian di tengah masa konflik maupun pasca konflik. Senang sekali dapat menjalankan ibadah di tempat ini.

Tempat lain yang ingin saya lihat adalah adalah Pelabuhan Poso yang letaknya juga tak jauh dengan area perkotaan. Selain pemandangan Teluk Tomini yang terkenal masyhur itu, di tempat ini konon katanya pisang gorengnya enak sekali.

Well, malam ini kami makan ikan bakar di Jl Pulau Sumbawa. Rame sekali walaupun tempatnya relatif sederhana. Pengunjung ikan bakar sampai antre tempat duduk. Ditemani 2 orang Geolog dari Unpad, sambil menikmati ikan sogili dan bandeng kami berdiskusi tentang penambangan emas di wilayah Lore Tengah dan Lore Selatan. Kebetulan besok pagi mereka akan survei tentang potensi emas dan biji besi di daerah hulu sungai Tomalindo. Well, diskusi yang menarik di rumah makan yang pengunjungnya kelihatan sangat-sangat heterogen, etnis, dan agama. Tak ada sama sekali sisa-sisa konflik masa lalu. Dunia memang akan damai jika kita bersatu dan tak mudah terprovokasi.

Diskusi di warung makan terhenti pada pukul 22 an malam. Kami mesti beristirahat. Besok sesudah seminar kami mesti ke Poso, mapana, Kasiguncu, Pabengko, terus ke Parigi Moutong. Bukan untuk indepth study atau melihat keberhasilan para transmigran etnis Bali dengan beragam aneka ukiran dan warna serta pagar dan gapura di Kecamatan Torue, Sausu, Balinggi, yang membuat Poso beraroma Bali tapi hanya sekedar untuk menikmati keindahan alam semesta di Parigi Moutong. Selalu ada perspektif baru di tempat-tempat berbeda. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh William Shakespeare: There’s place and means for every man alive.

Posted in FolkTale.


sedang bermasalah, sementara beristirahat.

trouble,,,
Somewhere over the rainbow, bluebirds fly. Birds fly over the rainbow, why then, oh why can’t I? . (Over The Rainbow by Judy Garland).

Posted in Refresh.


Menanti dan menunggu datangnya peternak.

Cipatujah, 20112011. Bukan hanya rasanya yang agak aneh tapi juga tempat jualannya yang ada di sebuah gang sempit di tengah Pasar Mandalagiri. Konon katanya kalau pengin makan soto di Garut ngga’ lengkap kalau tidak mampir di warung soto pak H. Achri. Soto dengan penuh santan ini mirip soto Betawi, sarat dengan daging sapi plus aneka jerohan, dan  rasanya pun  lebih manis dan gurih kalau ditambah dengan krupuk krecek rambat kulit dan kecap pribumi Garut merek Kunci.

Di hari yang sangat antik 20112011 ini kami memulai perjalanan ke darah Jabar selatan dengan sarapan pagi di Pasar Mandalagiri. Lumayan, setidaknya untuk persiapan diskusi dengan para petinggi KUD Mandiri Cisurupan Garut. Pagi ini kami berdiskusi dengan beberapa inseminator dan peternakan di sekitar Gn. Papandayan. Senang sekali bisa berada di tengah para peternak di sini. Banyak sisi yang bisa dilihat, didengar dan dinikmati. Sebuah pepatah mengatakan: When a cow laughs, does milk come out her nose? Dan seandainya mereka bisa bicara, sapi akan bercerita tentang banyak hal termasuk mengenai perilaku peternak.

Sudah cukup lama tak melihat Kawah Mas, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk di sekitar Gn. Papandayan. Namun sekarang memang bukan saat yang tepat untuk menikmati keindahan Gn. Papandayan. Banyak gunung di sekitar Papandayan seperti Gn. Geulis, Gn. Cikuray, Gn. Jaya, dan Gn.Puntang namun Gn Papandayan memiliki arti tersendiri.

Pukul 12.00 an, kami pun melanjutkan perjalanan. Sempat beristirahat sejenak untuk menunaikan shalat di Masjid Agung Cikajang dan makan siang di Puncak Batu Tumpang, Cikajang sambil menikmati pemandangan yang tak kalah indahnya dengan daerah Puncak Cipanas, kami terus melanjutkan ke Pamengpeuk Garut. Berdiskusi dengan beberapa inseminator dan peternak di daerah SPIB Kelompok ternak Cibalong dan Cisompet Garut. Lumayan cukup lama juga kami di situ.

Pukul 20 an kami mesti mencari penginapan dan pilihan kami jatuh pada penginapan di Pantai Santolo. Ngga’ phoby dengan pengalaman bulan januari yang lalu hampir tenggelam di situ?. Agak terasa aneh memang tapi kadang kita harus melawan ketakutan dengan keyakinan. Menikmati suara deru ombak pantai selatan sambil makan ikan bakar, cumi-cumi, cahkangkung dll di waktu malam adalah sesuatu yang menyenangkan, setidaknya untuk mensyukuri dan menumbuhkan rasa kekaguman pada ciptaan Tuhan yang begitu luarbiasanya.

Pukup 06.00 pagi, saat matahari agak malas muncul di kawasan Pantai Santolo, kami telah bergegas meninggalkan kawasan itu. Mampir sebentar di sebuah rumah produsen agar-agar yang berasal dari rumput laut. Sekedar untuk oleh-oleh. Di sini pegawainya lumayan tua-tua dan banyak nenek2, setidaknya ada seorang nenek yang usianya sudah sangat lanjut, konon kata pemilik home industri umur sang nenek sudah 1 abad alias 100 tahun dan masih gesit bekerja walaupun sekedar melipat-lipat agar-agar kertas.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas yang sebenarnya bisa dikembangkan di Indonesia mengingat usaha budidaya rumput laut teknologinya sangat sederhana dibandingkan dengan komoditas lainnya. Selain itu daya serap pasarnya sangat tinggi serta biaya produksinya yang relatif rendah. Namun sayangnya budidaya ini belum banyak dikembangkan padahal pantai Indonesia yang luas dan konon terpanjang di seluruh dunia.

Selama ini produksi rumput laut masih mengandalkan hasil secara alam. Rumput laut atau Gracilaria kaya akan berbagai pigmen. Pigmen (zat warna) yang terkandung di dalam talus algamerah ini terdiri dari klorofil–a, α dan β karoten, fikobiliprotein, r-fikosianin, dan r-fikoeritrin. Menurut para peneliti, pigmen lain yang terdapatdalam rumput laut G. gigas adalah karotenoid yang berupa zeaxantin, antheroxantin,β cryptoxantin, neoxantin, dan lutein; serta fikobilin atau biliprotein yanng berupa c-fikosianin, c-allofikosianin dan c-fikoeritrin.

Harvey merupakan salah satu jenis rumput laut yang berpotensi dikembangkan untuk ekspor karena mengandung agar-agar sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti sebagai bahan baku gelatin, bahan baku industri obat, farmasi, cat, roti, keju, susu, es krim, sabun, dan kosmetik.

Well, esok kita mesti bergerak ke timur, menyusuri perkebunan karet PTPN Mira Mare. Sangat menyenangkan melewati kebun karet nan luas antara Cibalong- Leuweung Sancang terus tembus ke Cipatujah Tasikmalaya. Sepanjang pagi, hujan terus turun tiada jeda bahkan sampai saat kami memasuki daerah Cipanas, Ciheras Cipatujah hujan lebat tak juga surut atau berhenti.

Tujuan utama kami tentu untuk berbincang dan berdiskusi dengan inseminator dan peternak di situ diantaranya di kelompok peternak Sari Makmur Cipanas dan daerah lain di sekitar Cipatujah dan Karangnunggal.

Sesungguhnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari masyarakat peternak. Dari merekalah seringkali tumbuh dan berkembang kearifan lokal yang tidak bisa kita ketemukan diliteratur dan texbook. Dengan berbagi dan berkomunikasi langsung dengan para peternak, kita bisa menumbuhkan kepekaan dan empati pada sesama.

Sepanjang yang saya alami dan rasakan, peternak adalah komunitas besar yang sedang terluka. Walaupun jarang mengeluh, saya tahu dan paham bahwa jiwanya memberontak. Tak ada pilihan lain. Mereka tak tahu dan mengenal terlalu detail apa yang sedang terjadi. Dan, sayangnya terlalu sedikit para pemimpin yang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi disitu.

Menjelang maghrib, kami meninggalkan kawasan Karangnunggal. Dalam banyak hal, sebuah perjalanan selalu menyisakan cerita dan harapan. Tak mudah untuk menyimpan memori dan mengkonversinya menjadi sebuah kepedulian sosial. Semoga selalu ada yang tersisa di hati, setidaknya untuk memastikan bahwa kehidupan ini sesungguhnya sesuatu yang tak terlalu abstrak seandainya kita mau sedikit berbagi. Insyaalloh.

Thx to: Rangga, Dewi Rahayu, Rini Ramdhiani Mochtar dan Fitty Hayati Ghazali. Teman seperjalanan selama 2 hari terakhir yang menyenangkan. Bukan karena tebakannya yang lucu2 saat menanti dan menunggu datangnya peternak namun juga karena memberi kesempatan untuk menyegarkan kembali neuron2 yang mulai trouble.

Posted in FolkTale.