Skip to content


Supernormal, Lingkungan, dan Etologi.

Bandung, 15 April 2020. Kadang kita membutuhkan waktu yang lebih lama memberi judul yang cocok untuk sebuah tulisan daripada membuat kesimpulan. Kitapun kadang mengalami susahnya membuat kesimpulan sebuah pemikiran. Tapi sebuah tulisanpun kadang tak harus disimpulkan, cukup dipahami.

Usai kuliah daring tentang tingkah laku kuda, saya sempat berpikir (karena kurang yakin) apakah melalui kuliah daring itu cukup efektif?. Bagaimana kalau mereka cuman menghidupkan Hpnya kemudian ditinggal tidur-tiduran sambil membaca komik? Atau sambil nonton TV?.

Komik adalah contoh bagaimana mereka menciptakan rangsangan supernormal, menekankan semua fitur yang menarik tentang manusia. Buku-buku komik dan film kadang-kadang diremehkan sebagai barang anak-anak, tetapi mereka menawarkan alur cerita rinci dan kreatif. Mereka juga menawarkan tema yang mencerminkan emosi dan keinginan manusia yang dalam. Dari sudut pandang evolusi, kita mendapatkan wawasan tentang asal-usul yang mendasari mengapa karakter-karakter itu terlihat seperti itu, mengapa kita tertarik padanya, dan mengapa kita terhubung dengan mereka pada tingkat pribadi seperti itu. Itulah yang membuat orang kecanduan akan komik.

Persis 113 tahun yang lalu atau tepatnya 15 April 1907, di Den Haag Belanda lahir seorang anak lelaki yang kemudian diberi nama Nicolaas Tinbergen. Anak ini pada saat kecil sampai dengan remaja prestasinya biasa-biasa saja. Ia tidak betah berada di ruangan dan bahkan suka bolos sekolah. Hobinya melihat lingkungan sekitar apapun yang ia temui apakah itu hewan atau yang lainnya. Dalam otobiografinya Niko menulis: “Saya telah menganggap sekolah, lebih sebagai gangguan dan pembatasan kebebasan saya yang membuat frustrasi. Kebosanan semata karena harus mempelajari tabel perkalian”.

Namun usai menjalani tiga bulan kerja lapangan di sebuah observatorium burung mengubah pandangan dia tentang tentang universitas, tentang kuliah. Tinbergen belajar di universitas di Wina, di Leiden di Belanda, dan di Universitas Yale.

Di Universitas Leiden, Niko mengungkapkan kemampuannya untuk berpikir secara mandiri; mempertanyakan pendekatan kuno dan subyektif terhadap perilaku hewan. Dia lebih suka mengamati makhluk dengan hati-hati di habitat aslinya, sebelum merancang dan melakukan eksperimen sederhana dan metodis untuk lebih memahami pola perilaku. Jadilah Niko menyelesaikan Tesis PhD-nya yang hanya di 32 halaman. Konon katanya tesis terpendek dalam catatan di universitas Leiden. Studinya tentang bagaimana tawon penggali menemukan jalan mereka kembali ke liang mereka di pasir setelah mencari makan. Tapi itu adalah pendekatan ilmiahnya yang merupakan warisan Niko yang paling berpengaruh. Dengan kolaborator dan sahabatnya Konrad Lorenz, Niko memberi nama, menetapkan, dan menyempurnakan bidang ‘etologi’ sebagai cabang zoologi.

Nikolaas Tinbergen, seorang ahli zoologi Inggris kelahiran Belanda yang memenangkan Hadiah Nobel untuk Kedokteran pada tahun 1973. Dia berbagi Hadiah Nobel untuk Fisiologi atau Kedokteran tahun 1973 dengan Konrad Lorenz, ahli zoologi Jerman, dan Karl von Frisch, ahli zoologi Austria, untuk “penemuan mereka di bidang organisasi dan terjadinya pola perilaku individu dan sosial” di dunia Hewan.

Studi yang dilakukan oleh mereka pada ikan, serangga dan burung meletakkan dasar untuk studi lebih lanjut tentang pentingnya pengalaman khusus selama periode kritis perkembangan normal, serta efek dari situasi psikososial abnormal pada mamalia. Pada saat itu, penemuan tsb dinyatakan telah menyebabkan “terobosan dalam pemahaman mekanisme di balik berbagai gejala penyakit kejiwaan, seperti kesedihan, obsesi kompulsif, perilaku stereotipik dan postur katatonik”.

Kata penulis buku ‘The Study of Instinct’ ini: ‘Aku lebih seperti kupu-kupu yang melayang dengan riang dari satu bunga ke bunga berikutnya, dan bukannya seperti lebah madu pekerja yang” bekerja terus-menerus “. Tetapi hal itu selalu menjadi sifat saya, dan jika … sebagai akibatnya [saya] kehilangan banyak hal dan mendapatkan banyak hal, saya setidaknya telah setia pada sifat saya.’

Pendekatan sistem pendidikan bagi anak normal dan supernormal pastilah berbeda. Mereka yang digolongkan dengan supernormal juga sangat rentan jika tidak ada yang mengarahkan. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting, karena orang tualah yang menemukan beberapa karakteristik anak pada usia yang sangat dini. Disamping orang tua, lingkungan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat besar. Karena di lingkungan masyarakatlah mereka berkembang yang dapat mempengaruhi baik buruknya anak. Apakah Nicolaas Tinbergen termasuk golongan supernormal, saya juga tidak tahu. Namun dari karya-karyanya ia adalah orang yang super luar biasa.

Posted in FolkTale.


Interaksi pun akan berubah secara natural di musim Corvid-19

Bandung, 14 April 2020. Di hari libur seperti sekarang ini, salah satu kesempatan yang hilang akibat era WFH Covid-19 adalah kesempatan untuk berinteraksi di Ruang Terbuka Hijau (RHT). Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang menutup RHT-RHT di Kota Bandung. RTH selain berfungsi sebagai tempat istirahat dan rekreasi masyarakat kota, juga memiliki manfaat ekologi yaitu sebagai suplai oksigen, perbaikan kesuburan tanah, dan habitat satwa dengan berbagai macam burung. Tidak di era Covid-19 pun sebenarnya hanya tinggal sedikit tempat untuk kita bisa menikmati RTH. Padahal RHT ini sangat penting untuk mengimbangi kehidupan perkotaan yang semakin jauh dari kondisi ideal secara ekologis.

Di Bandung, tak jauh dari rumah. Di hari sabtu atau minggu, kadang saya bersepeda ke arah Ciparay dengan tujuan menuju Majalaya. Dalam perjalanan pulang sore hari saat melewati Gede Bage tepatnya di Kampung Ranca Bayawak, kelurahan Cisarinten Kidul sebagai seorang biolog pastinya terkesima melihat ratusan burung blekok yang sedang pulang ke sarangnya. Konon katanya sudah hampir setengah abad burung blekok atau kuntul sawah, bernama latin Ardeola speciosa itu menghuni Kampung Ranca Bayawak. Ngga’ tahu ke depannya dengan semakin berkembangnya pembangunan kawasan terpadu Bandung Teknopolis di daerah Gedebage, bisa jadi burung-burung tersebut akan hijrah, mungkin ke daerah Rancaekek atau Majalaya.

Saya beruntung pernah tinggal di beberapa kota yang relatif asri,teduh dan kaya dengan pohon-pohon yang mungkin sekarang sudah semakin jarang ada di kota-kota besar seperti mahoni, asam jawa, asam belanda dan lain-lain. Menikmati masa kecil (1959 – 1974) di Semarang selatan, saya pastinya menikmati oksigen dari pohon-pohon besar di sepanjang jalan Srondol, Ngesrep, Gombel, Jatingaleh, Sultan Agung, Dokter Wahidin, Kalisari, dan Pemuda.

Di masa kecil itulah kami, menikmati betul keteduhan sepanjang jalan dan keelokan Burung kuntul atau blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan lain-lain. Pohon mahoni memiliki bunga yang sangat unik. Pada usia muda, buah dari pohon mahoni ini berbentuk seperti bola rugby. Ketika menua, buah mulai mekar dan memperlihatkan biji yang tersusun rapi. Sedang asam belanda, orang Jawa menyebutnya asem londo. Asam Belanda (Pithecellobium dulce) ini dinamakan asam namun sebenarnya rasanya sama sekali tidak asam bahkan cenderung manis. Sarang burung blekok saya lihat banyak di atas pohon asam Jawa.

Blekok sawah memiliki tubuh berukuran kecil sekitar 45 cm. Kepala dan dada kuning tua. Punggung nyaris hitam. Tubuh bagian atas lainnya coklat bercoret-coret. Tubuh bagian bawah putih. Saat terbang sayap terlihat sangat kontras dengan punggung yang hitam. Iris berwarna kuning, paruh kuning, ujung paruh hitam, kaki hijau buram. Kadang mereka hidup sendiri, berpasangan atau dalam kelompok. Berdiri diam dengan posisi tubuh rendah, kepala ditarik, menunggu mangsa. Blekok biasanya berbiak bulan Desember-Mei atau Januari-Agustus.

Di masa remaja, saat menempuh pendidikan esema di Salatiga. Sepanjang jalan Diponegoro penuh pepohonan nan rindang dan udara yang serasa sangat segar. Setiap hari jalan pulang pergi dari jl Taman Pahlawan sampai ke jl Cemara serasa tak ada capeknya karena kerindangan pohon-pohonnya. Pohon mahoni diketahui mampu mengurangi polusi udara. Konon katanya pohon mahoni dapat mengurangi polusi udara sekitar 70%.

Pohon lain yang mengingatkan saat-saat masih remaja adalah sawo becik dan Dewandaru. Bagi masyarakat Jawa ada mitos yang berkembang di masyarakat, jika masyarakat menanam pohon sawo di depan rumahnya akan membawa keberuntungan dan mendapatkan kebaikan bagi siapa saja yang menanamnya. Manfaat sawo kecik sendri sangat banyak untuk kesehatan, antara lain bisa menurunkan kolestrol. Karena sawo kecik memiliki kandungan vitamin C dan flavonoid yang tinggi maka buah ini bisa mencegah dan menurunkan kolestrol yang ada di dalam tubuh. Jadi tidak heran jika buah ini paling banyak dicari untuk mengatasi kolestrol karena sangatlah berkhasiat.

Sedangkan Dewandaru, dari beberapa penelitian mengandung antioksidan yang tinggi. Buah dewandaru dapat dikonsumsi langsung. Rasanya asam hingga manis, bergantung pada tingkat kemasakan dan kultivarnya. Buah yang merah gelap kehitaman, memiliki rasa manis. Dewandaru telah dianggap sebagai bahan penelitian obat yang penting, mengingat riwayatnya yang panjang sebagai obat tradisional. Minyak esensialnya adalah antihipertensif, antidiabetik, antitumor, dan analgesik. Hasil penelitian bahkan menunjukkan khasiatnya sebagai antiviral dan aktivitas antijamur. Mungkin perlu diujikan untuk melawan penyakit Corvid-19.

Posted in FolkTale.


Intermezo

Rabi’ul-Awal 1511 tepat hari Selasa, 24 Oktober 2087. Di kelas virologi dasar, pagi ini para mahasiswa membahas tentang sebuah keluarga virus yang bernama corona. Ada mahasiswa yang mempertanyakan kenapa Covid-19 pada tahun 2020 bisa Pandemik, apakah masyarakat pada waktu itu perilakunya masih primitif?. Mahasiswa lain menanyakan bagaimana sequenzing genome SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, bagaimana transmisi simptomatiknya, vaksin dan obat pada waktu itu.

Menarik karena SARS, MERS, Covid-19 jika dirunut ke belakang mampu menginfeksi jutaan orang dan bahkan membunuh ribuan orang. Sampai-sampai pada tahun 2020 tersebut berbagai liga utama sepakbola di dunia dihentikan. Saat itu medsos yang sedang populer adalah twitter, facebook, Youtube, dan Instagram. Pada waktu itu juga trending beberapa istilah yang lucu-lucu diantaranya #lockdown, #daruratsipil, #dirumahmajuterus dll. Para dosen dan guru pada waktu itu diliburkan dan kuliahnya mesti menggunakan sistem darling, mereka tiba2 harus belajar dengan Google Classroom, Google Meet, Zoom, Quizizz, yang sekarang sudah tidak dikenal lagi.

Istilah primitif sebenarnya agak sadis untuk memberikan suatu penilaian. Primitif adalah suatu kebudayaan masyarakat atau individu tertentu yang belum mengenal dunia luar atau jauh dari keramaian teknologi. Primitif mempunyai arti tidak mengenal teknologi modern.
Mungkin lebih tepatnya adalah primitif modern, yaitu sebuah tingkah laku atau perilaku seseorang di kehidupan modern yang memiliki sifat primitif. Maksudnya ialah seseorang hidup di zaman modern akan tetapi cara primitive dilakukan di kehidupannya, seperti; berkata kasar,kekerasan,hanya mementingkan diri sendiri untuk hidup aman dan damai,tidak suka sosialisasi, ataupun kriminalitas, seksual dimana-mana tanpa mengikuti peraturan di era modern.

Begitulah kehidupan, tingkah laku kita hari ini akan dicatat oleh sejarah dan diperbincangkan oleh generasi mendatang. Mungkin akan ada yang mentertawakannya tapi bisa jadi banyak juga yang bangga bagaimana para tetuanya dulu berjuang memerangi Covid-19, menyabung nyawa dengan menggunakan APD yang minim. Wallahualam bishawab.

Posted in FolkTale.


Kesehatan Mental di Era Corvid-19

Minggu, 29 Maret 2020. Sambil menyeduh teh, pagi ini saya baca beberapa portal. Sepintas-sepintas saja diantaranya: @kemenkes. Jangan diam saja, bergerak itu bikin sehat. 1. Membakar kalori 2. Mengurangi stress dan emosional 3. Meningkatkan daya tahan tubuh 4. Bikin tidur makin nyenyak 5. Bikin wajah & tubuh makin segar. Terus gerak, gerak & gerak ya #Healthies. Banyak yang menarik, bagus, lucu namun kadang bikin parno. Bagaimana ngga parno kalau tiap jam ada pertanyaan dari saudara, kawan, teman: bagaimana khabarnya, loe sehat ngga’, aman ngga daerah loe?.

Di era mewabahnya corvid-19. Ada sisi positip dan negatif dalam melakukan work from home (WFH). Sisi positipnya tentu banyak tapi satu hal sisi negatifnya adalah kemungkinan stress dan emosional. Intinya karena bosan di rumah terus. Wajar saja karena kita dikenal sebagai makhluk sosial. Kesehatan mental inilah yang nampaknya perlu diperhatikan betul. Beberapa ahli mendefinisikan kesehatan mental adalah “terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)”. Ada juga yang mendefinisikan agak berbeda,yaitu “kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup”.

Persoalan psiko-sosial dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dianggap remeh temeh. Soal kepincangan sosial,musibah, keluh kesah, prasangka buruk, kata-kata yang tidak baik, tenggang rasa, gampang menuduh, fitnah memfitnah adalah masalah-masalah yang kita hadapi sekarang-sekarang ini. Di eradigital, di era gobalisasi. Jadi mestinya kesehatan jiwa itu adalah bagaimana kita bisa mewujudkan keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positip kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Sangat sulit, namun mungkin itulah jalan yangharus kita lakukan.

Di era digital, berita-beritabermunculan sangat cepat. Kita harus pandai mensortingnya agar tidak mengalami masalah kejiwaan. Jika kita ngga’ disiplin bisa-bisa waktu kita habis hanya untuk benda bernama ponsel. Jujur, saya termasuk orang yang “biasa” saja menggunakan Hp, maksudnya seperlunya saja. Mungkin termasuk orang “kuno”, yang senang baca koran dan buku. Beruntunglah Koran Kompas. Walaupun dalam beberapa hal opininya dimata saya kadang kurang sreg namun sampai hari ini (sekitar 35 tahun) saya masih berlangganan koran Kompas. Senang saja mengamati tingkah laku Timun, Sukribo, Konpopilan dan lain-lain. Adasesuatu yang hilang, jika ngga baca koran.

Beberapa tahun yang lalu, banyak pakar yang meramalkan era koran akan segera berakhir. Media cetak sudah di era senjakala. Memang sich jumlah kios dan loper koran sepertinya semakin jauh berkurang. Omset koran jatuh bebas walaupun ada seorang pedagang kios yang berpendapat: “Saya percaya hari kiamat, tapi saya enggak percaya koran bakal gulung tikar.”

Era Sosmed yang pernah booming seperti facebook dan sejenisnya cepat atau lambat pada akhirnya akan bergeser menjadi ke era anti Sosmed. Untuk memahami apa yang mendorong pergeseran ini, kitabisa tanyakan ke anak-anak kita sendiri. Mereka umumnya berpendapat tak ada gunanya menghabiskan waktu membangun identitas melalui online dan mengumpulkan banyak “teman” online. Serasa seperti di terminal bandara, sangat ramai dan semua orang bisa melihat dan mungkin kadang membuat seseorang tserasatidak nyaman.

Pada akhirnya anak-anak sekarang umumnya ingin menjadi diri mereka sendiri dan menjalin pertemanan nyata berdasarkan minat bersama. Mereka juga menginginkan privasi, keamanan, dan kelonggaran dari kerumunan orang di platform sosial – termasuk pada orang tua mereka sendirijuga. Mereka merasa nyaman dan bersemangat untuk berkumpul di sekitar kepentingan bersama. Mereka lebih suka berbicara dalam utas pesan pribadidaripada di forum terbuka. Platformnya: perpesanan pribadi, komunitas mikro,dan pengalaman bersama atau kombinasi dari ketiganya. Ada sisi baik dan buruknya juga.

Para orangtua harus lebih menyimak apa yang dilakukan anak-anak kita generasi millenial dan generasi Z. mereka sepertinya mulai meninggalkan platform sosial tradisional seperti Facebook Messenger dan WhatsApp. Kalaupun masih digunakan cenderung menggunakan fungsi messenger pribadi. Instagram, platform yang menunjukkan tren peningkatan penggunaan di kalangan orang muda, baru-baru ini meluncurkan aplikasi mandiriyang baru, yang disebut Threads, yang dirancang khusus untuk pengiriman pesan cepat dengan teman dekat melalui kamera dan teks. Bahkan Omnichannel pun dianggap ketiggalan jaman. Sekarangeranya “digital campfires”, Micro-Community Campfires, Text Rex, Fortnite, O2O dan sejenisnya.

Persis seperti apa kata MarkZuckerberg (Maret 2019). “Hari ini kita sudah melihat bahwa pesan pribadi,cerita singkat, dan kelompok-kelompok kecil sejauh ini merupakan bidang komunikasi online yang paling cepat berkembang. Zuckerberg memperhatikan pergeseran ini tidak hanya karena data menunjukkan bahwa Facebook kehilangan audiens muda, tetapi karena trend masa kini yanglebih menggunakan mode komunikasi yang lebih pribadi.

Mata adalah pintu jiwa. Hal-halyang masuk dari pintu jiwa itu mempengaruhi pembentukan tabiat dan perkembangan kesehatan pikiran. Membaca dan mendengar adalah cara terbaik untuk mengisi otak atau jiwa. Kesehatan mental sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita memanfaatkan medsos secara lebih arif. Tugas orangtualah untuk memastikan agar anak-anak kita membatasi perilaku asosial.

Posted in FolkTale.


EIDS, One Health dan 2019-nCoV

Bandung, 26 Januari 2020. Salah satu ancaman kesehatan yang paling harus diwaspadai adalah apa yang disebut dengan New Emerging Infection Disease (EIDs), yang kalau diterjemahkan artinya adalah infeksi yang baru muncul. Contoh yang paling update adalah Virus corona (2019-nCoV) dari Wuhan China, yang berpotensi mengancam kesehatan global. Penyakit Infeksi Emerging. EIDs adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya, atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam hal jumlah kasus baru di dalam suatu populasi, atau penyebarannya ke daerah geografis yang baru.

Virus korona sebagian besar bersirkulasi diantara hewan, tetapi telah diketahui berevolusi dan menginfeksi manusia, seperti yang terlihat pada SARS, MERS, dan empat virus korona lain ditemukan pada manusia yang menyebabkan gejala pernapasan ringan seperti pilek. Keenamnya dapat menyebar dari manusia ke manusia. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menemukan hewan apa yang bertanggung jawab terhadap virus corona baru. Jika penyebab sudah ditemukan, maka penanganannya akan lebih mudah.

Sejumlah peneliti di Tiongkok telah mengisolasi koronavirus baru yang diberi kode 2019-nCoV. Sedikitnya 70% urutan genom 2019-nCoV sama seperti SARS-CoV. Urutan genom betacoronavirus Wuhan menunjukkan kesamaan dengan betacoronavirus lain yang ditemukan pada kelelawar; Namun, virus ini secara genetik berbeda dari koronavirus lain seperti Koronavirus terkait Sindrom pernapasan akut berat (SARS) dan Koronavirus terkait Sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).[53] Seperti SARS-CoV, virus itu merupakan anggota dari garis keturunan B koronavirus Beta-CoV.

Lima genom dari koronavirus baru telah diisolasi dan dilaporkan termasuk BetaCoV/Wuhan/IVDC-HB-01/2019, BetaCoV/Wuhan/IVDC-HB-04/2020, BetaCoV/Wuhan/IVDC-HB-05/2019, BetaCoV/Wuhan/WIV04/2019, dan BetaCoV/Wuhan/IPBCAMS-WH-01/2019 dari Institut Nasional untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Virus Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Institut Biologi Patogen, dan Rumah Sakit Jinyintan Wuhan. Panjang dari RNA itu adalah sekitar 30 kilo pasangan basa.

WHO memperingatkan wabah ini berpotensi meluas, khususnya di tengah puncak arus mudik Tahun Baru Imlek. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah virus ini sudah beredar lebih lama daripada yang diperkirakan, apakah Wuhan benar-benar asal mula wabah atau cuma lokasi temuan pertama berkat pengawasan dan pengujian yang berkelanjutan, dan mungkinkah Wuhan berkembang menjadi kasus penularan massal (superspreader). Pada tanggal 22 Januari 2020, komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membahas apakah wabah ini tergolong kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia menurut Peraturan Kesehatan Internasional. Namun WHO memutuskan menolak penggolongan itu pada 23 Januari.

Pertumbuhan populasi, globalisasi dan degradasi lingkungan terjadi sangat cepat. Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai salah satu ‘hotspot’ di Asia Tenggara dengan risiko pandemik penyakit infeksi baru.

Beberapa tahun terakhir, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama dengan FAO ECTAD Indonesia, menggalakkan upaya untuk meningkatkan kewaspadaan munculnya penyakit infeksi baru (PIB). Langkah tersebut diantaranya melalui program Emerging Pandemic Threat (EPT-2) yang didanai USAID. Program EPT-2 ini terdiri dari enam output yaitu Output A (laboratorium, surveilans, penguatan kapasitas); Output B (One Health); Output C (peningkatan produktifitas perunggasan); Output D (rantai pasar); Output E (penguatan kapasitas instansi terkait pengendalian PHMS dan zoonosis); Output F (kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat untuk meningkatkan pengendalian PHMS dan zoonosis), dan Output G (manajemen proyek), ditambah dengan isu AMR/AMU.

Penyakit zoonosis merupakan penyebab lebih dari satu miliar kasus dan satu juta kematian per tahun. Tingginya biaya penyakit yang muncul dan pandemi sangat menjadi perhatian, seperti yang terlihat dengan dampak ekonomi multi-sektoral lokal dan global dari Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), H1N1, dan virus Ebola. Pada saat yang sama, penyakit endemik berkontribusi pada penyakit yang terus-menerus dan beban ekonomi melalui dampak pada kesehatan dan mata pencaharian, serta pada produksi pertanian dan ekosistem. Bahkan juga akan mempengaruhi perdagangan dan wisatadan lain-lain.

Saatnya Kerjasama Global Health Security Agenda (GHSA) diintensifkan dalam kerangka kerja yang jelas mengingat Indonesia adalah salah satu inisiator berdirinya GHSA yang beranggotakan 65 negara dan didukung oleh badan-badan PBB seperti WHO, FAO, OIE, Bank Dunia, serta organisasi nonpemerintah dan sektor swasta. Tahun 2018 yang lalu Bank Dunia menerbitkan sebuah buku berjudul “One Health: Operational Framework for Strengthening Human, Animal, and Environmental Public Health Systems at their Interface”. Secara keseluruhan, Kerangka Operasional tersebut memberikan orientasi yang kuat kepada One Health untuk membantu pengguna dalam memahami dan mengimplementasikannya, dari dasar pemikiran hingga panduan nyata untuk penerapannya. Sebuah buku petunjuk operasional yang sangat bagus dan relevan dengan kondisi global saat ini.

Pemerintah harus bekerja keras mengerahkan segala sumberdaya yang dimiliki untuk mencegah masuknya virus Corona 2019-nCoV ke wilayah Indonesia dengan belajar dari kasus-kasus EIDs sebelumnya.

Posted in FolkTale.


Taman Kerbau, lifelong learning dan voluntourism.

Sebuah perjalanan jauh selalu membuat pikiran selalu berputar, kadangkala tanpa arah yang jelas dan pastinya membingungkan. Mata yang lelah dan setengah terlelap menjadikan khayalan, mimpi, dan harapan akan sesuatu datang silih ganti berganti. Beruntung kalau situasi seperti itu memunculkan ide bagus, karena seringkali yang terjadi adalah mimpi konyol yang hanya membuang-buang energi. Dan, itu seringkali terjadi selama saya melakukan perjalanan.

Hari ini saya ingin balik kembali ke sebuah perkampungan kerbau, di Muara Wis. Dalam perjalanan ke tempat yang lumayan cukup jauh itu saya membayangkan spirit film “Buffalo Dream” benar-benar terjadi di negeri ini. Buffalo Dreams adalah sebuah film lama karya David Jackson, menceritakan perjuangan seorang remaja Josh Townsend melestarikan kerbau dan tradisi suku Navajo di New Mexico.

Negeri ini sangat beruntung memiliki sumberdaya hayati kerbau yang luar biasa. Pemerintah telah menetapkan 8 rumpun kerbau yaitu Kerbau Simeulue, Kerbau Kuntu, Kerbau Pampangan, Kerbau Sumbawa, Kerbau Toraya, Kerbau Moa, Kerbau Kalang (Kerbau Kaltim, Kerbau Kalsel).

Simeuleu di aceh, Tana Toraja di Sulawesi, Pampangan di OKI, Paminggir di Hulu Sungai Utara, Banten selatan, Sumbawa, Muara Wis Kutai Kertanegara dan masih banyak lagi adalah sedikit dari daerah-daerah “kerbau” yang mengagumkan. Di daerah tersebut, kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Kerbau dan industri voluntourism bukanlah sesuatu yang muskil untuk dikembangkan. Di beberapa daerah kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Kerbau adalah salah satu sumber makanan penting, untuk kegiatan ritual dan bagian dari lanskap budaya.

Bukan hal yang tidak mungkin, di daerah-daerah tersebut dikembangkan menjadi Centennial buffalo, untuk tujuan pendidikan, rekreasi sekaligus melestarikan daerah dengan fitur indah dan ilmiah yang unik, serta melestarikan daerah tersebut untuk kepentingan dan kenikmatan generasi sekarang dan masa depan. Meningkatkan kualitas berbagai atribut sumber daya alam, hidrologi, beragam padang rumput diintegrasikan untuk kenikmatan generasi masa depan dan peningkatan masyarakat. Semacam taman nasional dengan mengembangkan padang rumput asli dan tanaman eksotis.

Membangun dan mengembangkan voluntourisme berbasis sumberhayati kerbau memerlukan dukungan semua pihak, perguruan tinggi setempat, tokoh-tokoh dan pelaku konservasi. Kolaborasi tersebut diperlukan agar taman kerbau mampu menjadi perekat perlindungan sumber daya alam dan budaya sekaligus mendorong anak-anak untuk menjadi konservasionis masa depan. Bisa berfungsi sebagai laboratorium sumber daya alam unggulan dengan menerapkan keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Semacam learning center, dimana disitu pengunjung bisa mengikuti pelatihan inhouse untuk banyak hal, memahami arkeologi, sejarah perintisan dan Inventarisasi All-Taxa Biological (ATBI). Para ilmuwan dan siswa akan berinteraksi melalui ATBI, Bio-blitzes, dan database secara online.

Situs konservasi dan restorasi adalah sesuatu hal yang sangat langka di negeri ini. Padahal berbagai konsep mengenai Konservasi Sumberdaya Alam sudah sangat banyak. Kelemahannya, mereka kurang memiliki mitra seperti perguruan tinggi, perusahaan-perusahan nirlaba, LSM-LSM dan lain-lain. Perguruan tinggi mungkin dapat berpartisipasi menyusun protokol-protokol restorasi dan menstransfernya. Agar taman-taman nasional tidak rusak dan punah tergerus jaman, agar para petani dan peternak dapat memanfaatkannya, agar-agar anak-anak kita bisa belajar banyak hal tentang konservasi dan agar kita dapat melihat luarbiasanya keragaman hayati dan budaya kita.

Well, kini saatnya saya menikmati film ringan: Home on the Range. Sebuah film animasi musikal atau mungkin lebih tepatnya film komedi Walt Disney. Lucu juga berbagai upaya yang dilakukan oleh “Trio sapi perah” untuk menangkap pencuri ternak terkenal bernama Alameda. Selamat sore.

Posted in FolkTale.


Veterinary hospital 2017

http://veterinaryhospitaldesign.dvm360.com/vote-now-2017-veterinary-economics-hospital-design-competition-peoples-choice-award-winner

Posted in Pendidikan.


Basel Convention

baselconventiontext-e

Posted in Materi UU dan Kebijakan.


Pengantar KBLI

Pengantar KBLI (dwi cipto b)

Posted in Pendidikan.


Managing Your Farm Risks

There are ways of mitigating losses so that you can ensure your farm and livelihood is able to withstand the ups and down of markets and weather.

So what can you do to reduce risks in your farming business? While you cannot eliminate risks completely, you can participate in programs that help to reduce risks, such as AgriStability.

AgriStability provides a sense of security for farmers because it protects them from large declines in their farming income caused by production loss, increased costs, or market conditions.

At the end of the year or selling period, if the farmer’s net income is lower than what they normally make – i.e. experiencing a large margin decline – the government will pay whatever the difference is through the AgriStability program. To be compensated for losses, production margin have to fall below 70% of the typical income made in a season. The AgriStability program uses margins to determine compensation.

There are two types: program and reference. Program margin is determined by subtracting allowable income from allowable expenses in a given year or growing season. It also takes into account any adjustments related to inventory and receivables. These adjustments are made in accordance with the information provided by the farm owner.

Reference margin is a farmer’s average income over the previous three to five years. Because thare are always aberrant years for money made or lost, the lowest and highest margins are not included in the calculation. Whatever the lowest historical number is for earnings serves as the reference margin. Once these factors are all accounted for, a farmer is compensated if their margins fall below 70% of their reference margin.

There’s no one right answer to protecting your losses. What’s important is finding the right plan for you and your farm. FBC can help you make an informed decision. We will help you assess your risk, understand the ins and outs of each program, along with what steps are needed to initiate that plan. The decision is yours, but FBC can help walk you through the options so that it’s as seamless as possible.

A Snap Shot of FBC Members

· 1 in 4 FBC Farm Member participate in AgriStability

· 17% of participants received a benefit

· Benefits received last year totaled $7.6 million

· The average payout per eligible Member was $21,093

From: http://www.farms.com/expertscommentary/managing-your-farm-risks-105798.aspx

Posted in Latihan.