Pakejeng, 31 Maret 2012. Beberapa hari terakhir ini kita menonton pergulatan partai politik untuk memperbaiki citra mereka dihadapan rakyat. Rencana kenaikan BBM oleh pemerintah menjadi momentum bagi mereka untuk berlomba-lomba, setidaknya melalui para politisi mereka di DPR. Inilah lembaga superbody yang merasa memiliki kewenangan mengatur dan mengawasi jalannya pemerintahan. Lembaga yang diisi oleh orang-orang yang tak teruji dibidangnya namun seringkali bersuara sangat lantang jika berbicara. Tak argumentatif dan seringkali mengedepankan emosi kelompoknya masing-masing.
Fenomena itu sebagian ditangkap masyarakat secara samar-samar dan sebagian lain sayangnya justru dengan vulgar direspon oleh kalangan calon intelek. Sebagian kecil mahasiswa yang juga mengatasnamakan rakyat kecil, merespon rencana kenaikan BBM dengan cara mereka sendiri. Cara yang sukar dipahami karena kadangkala mereka juga dipelihara oleh partai-partai politik.
Sebuah pemandangan yang memilukan bagaimana para calon intelektual muda memperlihatkan keberingasannya. Tak ada lagi budipekerti di situ, tak ada lagi nilai-nilai agama yang tersisa disitu. Yang ada hanya sikat, sikat, sikat, revolusi sampai mati?.
Well, setelah semalaman menyaksikan pemandangan kurang menyenangkan di sidang paripurna DPR yang membahas tentang kenaikan BBM, pagi ini saya bertolak ke sebuah daerah di desa Pakejeng Garut persisnya di lereng Gn Papandayan Garut. Gunung Papandayan merupakan gunung yang menarik di propinsi Jawa Barat seperti halnya Gunung Ciremai. Selain terkenal dengan keindahan struktur alamnya, gunung ini juga memiliki kawah belerang yang masih aktif dan masih rimbunnya padang Eidelweis serta banyak pula pohon Mutiara Putih. Gunung Papandayan merupakan cagar alam yang didalamnya banyak terdapat keanekaragaman hayati dan obyek-obyek wisata alam yang indah.
Tapi saya ke Pakejeng hanya sekedar untuk menemui seorang peternak. Bukan untuk mencari ketenteraman bathin, walaupun sebuah perjalanan akan selalu memberi ruang untuk pengayaan bathiniyah.
Perjalanan 4 jam, lumayan yang pastinya menyenangkan. Setidaknya hampir setengah buku The Buddha Tree karya Fumio Niwa habis terbaca. Sebenarnya saya telah beberapa kali membaca novel lama itu tapi kadang mengulang membaca pun sangat menyenangkan, apalagi kalau novel itu merupakan karya yang luarbiasa. Siapa pun akan kagum pada Fumio Niwa, anak seorang pendeta Buddha, yang telah menulis lebih dari 80 novel, 106 volume cerita pendek, dan 10 volume esai. Dan, The Budha Tree adalah novel yang perlu dan harus dibaca untuk pengayaan bathin.
Walaupun menceritakan sebuah kehidupan keluarga Budha, beberapa nilai universal dapat menjadi pembelajaran bagi kita. Di novel itu juga penuh cerita tentang etos kerja, tentang pekerjaan yang memerlukan pengabdian pada kemanusiaan. Persis seperti dalam ajaran islam. Ash-Shalah yang artinya baik dan bermanfaat. Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132).
Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”, yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (Asy-Syura: 52).
Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang tentram adalah orang yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai keluargaku dengan kecintaan yang tulus; bukan kecintaan yang dusta”.
Membaca The Buddha Tree, sepertinya kita bisa merasakan dan bisa mengenai suasa kehidupan di sebuahkuil. Sebuah kehidupan yang tak jauh beda dengan kehidupan di pesantren. Pasti banyak bedanya, karena di kuil ngga’ bakalan ada nyanyian Barzanji yang mengisyahkan tentang kehidupan rasulullah, shalawat munfarijah, shalawat badriyyah, Ghiyaatsah, doa istighatsah dan lain-lain. Tapi intinya berbagai kesulitan akan hilang setelah kita melazimkan shalawat untuk memelihara kemuliaan Rasulullah.
Well, tak terasa pukul 10 lebih sekian menit, kamipun sampai di Pakejeng. Sebuah tempat yang bagus. Masih banyak katak dan kodok disini, menandakan lingkungan di kampung ini masih terjaga. Tapi hidup dan kehidupan sungguh sangat relatif. Kita terkadang bisa salah melihat dan merasakannua. Mungkin seperti cerita lama “Aesop”.
The Hares and the Frogs. The Hares were so persecuted by the other beasts, they did not know where to go. As soon as they saw a single animal approach them, off they used to run. One day they saw a troop of wild Horses stampeding about, and in quite a panic all the Hares scuttled off to a lake hard by, determined to drown themselves rather than live in such a continual state of fear. But just as they got near the bank of the lake, a troop of Frogs, frightened in their turn by the approach of the Hares scuttled off, and jumped into the water. ‘Truly,’ said one of the Hares, ‘things are not so bad as they seem: ‘There is always someone worse off than yourself.’



























Apa kata mereka