Skip to content


Genomics research opportunity for ram breeders – 23 August 2011

Sheep producers still have the opportunity to contribute rams to a cutting edge research program using genomic technologies to improve the productivity of the Australian sheep industry. There are around 300 places still available for submission of rams for the second genomics Pilot Project, an initiative of the Cooperative Research Centre for Sheep Industry Innovation (Sheep CRC) in conjunction with Sheep Genetics, Meat and Livestock Australia (MLA), and Australian Wool Innovation (AWI).

Pilot-project-2

Posted in Pengetahuan.


PENGARUH TINGKAT KONSENTRASI KITOSAN SEBAGAI EDIBLE COATING TERHADAP DAYA AWET, JUMLAH BAKTERI TOTAL, DAN AKSEPTABILITAS DAGING DOMBA GARUT

PENGARUH TINGKAT KONSENTRASI KITOSAN SEBAGAI EDIBLE COATING TERHADAP DAYA AWET, JUMLAH BAKTERI TOTAL, DAN AKSEPTABILITAS DAGING DOMBA GARUT [Romi Swadesi, NPM: 200110060223]

          Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran pada bulan November 2010. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi kitosan sebagai Edible Coating terhadap daya awet, jumlah bakteri total, dan akseptabilitas daging Domba Garut. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 macam perlakuan yaitu tanpa pencelupan kitosan 0%, dengan penggunaan kitosan yaitu konsentrasi 1%, 2%, dan 3% (m/v), dengan pengulanagn sebanyak lima kali. Peubah yang diamati yaitu daya awet menggunakan metode H2S(jam), jumlah bakteri total menggunakan metode Total Plate Count (CFU/g), dan akseptabilitas (warna, bau, dan total penerimaan). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi kitosan 3% menghasilkan daya awet paling lama (21,72 jam) dan jumlah bakteri total paling rendah (23,37×106 CFU/g) tetapi tidak berpengaruh terhadap akseptabilitas daging Domba Garut dengan skala hedonic antara agak suka hingga suka.

Kata kunci: Dagng Domba Garut, Kitosan, Edible Coating, Jumlah Total Bakteri, Daya Awet, Akseptabilitas.

 

Posted in Abstrak Penelitian.


A Genome Wide Survey of SNP Variation Reveals the Genetic Structure of Sheep Breeds

by James W. Kijas1*, David Townley1, Brian P. Dalrymple1, Michael P. Heaton2, Jillian F. Maddox3, Annette McGrath4, Peter Wilson4, Roxann G. Ingersoll5, Russell McCulloch1, Sean McWilliam1, Dave Tang1, John McEwan6, Noelle Cockett7, V. Hutton Oddy8, Frank W. Nicholas9, Herman Raadsma9, for the International Sheep Genomics Consortium

1 CSIRO Livestock Industries, St Lucia, Brisbane, Queensland, Australia, 2 United States Department of Agriculture (USDA), Agriculture Research Service (ARS), Meat Animal Research Center, Clay Center, Nebraska, United States of America, 3 Department of Veterinary Science, The University of Melbourne, Melbourne, Parkville, Victoria, Australia, 4 Australian Genome Research Centre, St Lucia, Brisbane, Queensland, Australia, 5 Johns Hopkins University, Institute of Genetic Medicine, Baltimore, Maryland, United States of America, 6 AgResearch, Invermay Agricultural Centre, Mosgiel, New Zealand, 7 ADVS Department, College of Agriculture, Utah State University, Utah, United States of America, 8 School of Meat Science, University of New England, Armidale, New South Wales, Australia, 9 Faculty of Veterinary Science, University of Sydney, Sydney, New South Wales, Australia.

Abstract Top

The genetic structure of sheep reflects their domestication and subsequent formation into discrete breeds. Understanding genetic structure is essential for achieving genetic improvement through genome-wide association studies, genomic selection and the dissection of quantitative traits. After identifying the first genome-wide set of SNP for sheep, we report on levels of genetic variability both within and between a diverse sample of ovine populations. Then, using cluster analysis and the partitioning of genetic variation, we demonstrate sheep are characterised by weak phylogeographic structure, overlapping genetic similarity and generally low differentiation which is consistent with their short evolutionary history. The degree of population substructure was, however, sufficient to cluster individuals based on geographic origin and known breed history. Specifically, African and Asian populations clustered separately from breeds of European origin sampled from Australia, New Zealand, Europe and North America. Furthermore, we demonstrate the presence of stratification within some, but not all, ovine breeds. The results emphasize that careful documentation of genetic structure will be an essential prerequisite when mapping the genetic basis of complex traits. Furthermore, the identification of a subset of SNP able to assign individuals into broad groupings demonstrates even a small panel of markers may be suitable for applications such as traceability.

Sumber: http://www.plosone.org/article/info:doi/10.1371/journal.pone.0004668

 

Posted in Pengetahuan.


ESTIMASI NILAI KORELASI GENETIK DAN FENOTOPIK ANTARA BOBOT LAHIR ANAK DENGAN BOBOT INDUK DOMBA PRIANGAN PADA SAAT AKAN KAWIN DI SPTD (SUB UNIT P3TD) TRIJAYA KUNINGAN

ESTIMASI NILAI KORELASI GENETIK DAN FENOTOPIK ANTARA BOBOT LAHIR ANAK DENGAN BOBOT INDUK DOMBA PRIANGAN PADA SAAT AKAN KAWIN DI SPTD (SUB UNIT P3TD) TRIJAYA KUNINGAN [Muhamad Agung Basyir, NPM: J10040080, Fakultas Peternakan Unpad]

 

Penelitian mengenai “Estimasi Nilai Korelasi Genetik dan Fenotopik antara Bobot Lahir Anak dengan Bobot Induk Domba Priangan pada saat akan Kawin SPTD (Sub Unit P3TD) Trijaya Kuningan pada tanggal 27 April 2010. Sebanyak 470 ekor anak domba yang berasal dari 23 ekor pejantan dan 181 ekor induk domba Priangan dianalisis dengan Restricted Maximum Likellihood (REML) dengan Multivariate Animal Model pola maternal genetic effect. Sifat yang diamati adalah bobot lahir anak dan bobot badan induk pada saat akan dikawinkan. Efek tetap yang dimasukkan ke dalam analisis adalah tipe kelahiran, jenis kelamin, dan paritas. Hasil analisis menunjukan bahwa nilai korelasi genetik antara bobot lahir dengan bobot induk adalah 0.083 dan korelasi fenotipik bobot lahir dengan bobot induk adalah 0.309.

Kata Kunci : Korelasi genetik dan fenotipik, Bobot Lahir, Bobot Induk, Domba Priangan

Posted in Abstrak Penelitian.


PENGARUH PEMBERIAN RANSUM MENGANDUNG TEPUNG KULIT MELINJO (Gnetum gnemon L.) TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN PROTEIN DAN RETENSI NITROGEN PADA DOMBA GARUT

PENGARUH PEMBERIAN RANSUM MENGANDUNG TEPUNG KULIT MELINJO (Gnetum gnemon L.) TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN PROTEIN DAN RETENSI NITROGEN PADA DOMBA GARUT [Rendy Ardiansyah, NPM 200110070004, Fakultas Peternakan Unpad]

           Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Februari sampai 7 Mei 2011 di Peternakan Domba PT. Agro Niaga Abadi, Bumi Perkemahan Oray Tapa, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Bandung Timur, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian tepung kulit melinjo (TKM) (Gnetum gnemon L.) terhadap efisiensi penggunaan protein dan retensi nitrogen pada domba Garut. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat lima ransum perlakuan, dengan tingkat pemberian tepung melinjo = 0 %, = 5%, = 10%, = 15%, = 20%), setiap perlakuan diulang empat kali. Penelitian ini menggunakan domba Garut, umur 11 sampai 12 bulan, sebanyak 20 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TKM sampai 20% di dalam ransum, tidak berpengaruh nyata terhadap efisiensi penggunaan protein. Tetapi pemberian TKM sampai tingkat 20% dalam ransum, meningkatkan retensi nitrogen secara nyata (p<0,05).

Kata kunci : Tepung Kulit Melinjo (TKM) (Gnetum gnemon L.), Efisiensi Penggunaan                             Protein dan Retensi Nitrogen.

Posted in Abstrak Penelitian.


PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KULIT MELINJO (Gnetum gnemon L.) DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN BAHAN EKSTRAK TANPA NITROGEN PADA DOMBA GARUT BETINA

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KULIT MELINJO (Gnetum gnemon L.) DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN BAHAN EKSTRAK TANPA NITROGEN PADA DOMBA GARUT BETINA [Rida Septiana, NPM: 200110070057, Fakultas Peternakan Unpad]

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung kulit melinjo (Gnetum gnemon L.) dalam ransum domba Garut betina terhadap kecernaan serat kasar dan BETN. Penellitian dilakukan ssecara in vivo, menggunakan metode eksperimental denga Rancangan Acak Lengkap denga lima perlakuan ransum berdasarkan tingkat penggunaan tepung kulit melinjo (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%), setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Peubah yang diukur adalah kecernaan serat kasar dan BETN. Berdasarkan hasil analisis statistik, dapat diketahui bahwa perlakuan terhadap kecernaan serat kasar tidak memberikan pengaruh nyata, sedangkan pada BETN memberikan pengaruh nyata dan tepung kulit melinjo dapat digunakan hingga 20% dalam ransum tanpa mengakibatkann perubahan terhadap kecernaan serat kasar dan BETN.

Kata kunci: Melinjo (Gnetum gnemon L.), kecernaan, serat kasar, BETN (bahan ekstrak tanpa nitrogen)

Posted in Abstrak Penelitian.


PENGARUH PEMBERIAN DAUN RAMI (Boehmeria nívea) DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING ORGANIK RANSUM PADA DOMBA GARUT

PENGARUH PEMBERIAN DAUN RAMI (Boehmeria nívea) DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING ORGANIK RANSUM PADA DOMBA GARUT  [oleh:  SRI PERTIWI AGUSTIN,   NPM. JI0050083 Fakultas Peternakan Unpad]

         Penelitian ini dilaksanakan di peternakan domba CV Hikmah Kampung Kudang Wanaraja Kabupaten Garut mulai tanggal 22 Agustus 2009 hingga 06 September 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian daun rami dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan organik ransum domba Garut. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima ransum perlakuan penggunaan tepung daun rami (R0= 0%, R1= 7%, R2= 15%, R3= 26% dan R4= 33%), dengan lima kali ulangan. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa pemberian daun rami sampai 40% menurunkan kecernaan bahan kering dan organik pada domba Garut.

Kata kunci : daun rami, bahan kering, bahan organik, kecernaan

 

Posted in Abstrak Penelitian.


PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN SILASE MANUR AYAM PETELUR DALAM RANSUM TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM PADA DOMBA

PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN SILASE MANUR AYAM PETELUR DALAM RANSUM TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN EFISIENSI PENGGUNAAN RANSUM PADA DOMBA [Oleh : TAUFIK HIDAYAT,  J1O050187 Fakultas Peternakan Unpad]

 Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni sampai dengan September 2009 di Peternakan Domba dan Kambing Tawakkal Bogor. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian silase manur ayam petelur dalam ransum terhadap pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat jenis perlakuan penggunaan silase manur ayam petelur (R1 = 0%; R2 = 10%; R3 = 20%; R4 = 30%). Setiap perlakuan diulang 5 kali. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa pemberian silase manur ayam sampai 30% dalam konsentrat domba tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum pada domba.

Kata Kunci :   manur, silase, pertambahan bobot badan, efisiensi penggunaan ransum.

Posted in Abstrak Penelitian.


PENGARUH PENAMBAHAN FRUKTOSA DALAM PENGENCER AIR KELAPA DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA DOMBA GARUT HASIL SEPARASI

PENGARUH PENAMBAHAN FRUKTOSA DALAM PENGENCER AIR KELAPA DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA DOMBA GARUT HASIL SEPARASI  [oleh:  Laura Chronika Hosianna Simanjuntak,   J1O050146 Fakultas Peternakan Unpad]

             Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fruktosa pada waktu tertentu terhadap kualitas spermatozoa Domba Garut hasil separasi dalam pengencer air kelapa, mengetahui kadar fruktosa dalam pengencer air kelapa yang menghasilkan kualitas spermatozoa Domba Garut hasil separasi paling baik, dan mengetahui lama waktu yang dibutuhkan spermatozoa Domba Garut hasil separasi pada kadar fruktosa tertentu dalam pengencer air kelapa untuk mempertahankan hidup sampai motilitas minimal 40%.  Penelitian ini telah dilaksanakan mulai dari tanggal 29 April – 29 Juli 2009 di Laboratorium Reproduksi Ternak dan Inseminasi Buatan, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.  Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (Splitplot design).  Perlakuan yang diberikan adalah empat kadar fruktosa sebagai mainplot yaitu fruktosa 1,0%, 1,25%, 1,50%, 1,75%, dan lama penyimpanan (jam ke-0, 3, 6, 9, 12, dan 15) sebagai subplot, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali.  Metode separasi yang digunakan adalah kolom albumen putih telur ayam, dengan konsentrasi 10% pada farksi atas dan 30% pada fraksi bawah.  Peubah yang diamati adalah motilitas dan abnormalitas spermatozoa Domba Garut hasil separasi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara kadar fruktosa dengan lama penyimpanan terhadap motilitas, namun tidak terdapat interaksi antara kedua perlakuan tersebut terhadap abnormalitas.  Dapat disimpulkan bahwa penambahan fruktosa dalam pengencer air kelapa memberikan pengaruh positif pada kualitas spermatozoa, kadar fruktosa yang paling baik dalam pengencer air kelapa adalah 1,75% dan motilitas minimal 40% pada kadar fruktosa 1,75% dapat dipertahankan sampai dengan jam ke-12.

Kata kunci : air kelapa, Domba Garut, fruktosa, kualitas spermatozoa, separasi spermatozoa.

 

Posted in Abstrak Penelitian.


EFISIENSI RELATIF SELEKSI TIDAK LANGSUNG TERHADAP SELEKSI LANGSUNG BOBOT SAPIH BERDASAR BOBOT LAHIR PADA DOMBA PRIANGAN (Kasus Di SPTD Trijaya Kuningan)

EFISIENSI RELATIF SELEKSI TIDAK LANGSUNG TERHADAP SELEKSI LANGSUNG BOBOT SAPIH  BERDASAR BOBOT LAHIR PADA DOMBA PRIANGAN (Kasus Di SPTD Trijaya Kuningan) (Oleh:  ARDHY DWI HERDIANSYAH,  J1O050036

Penelitian ini telah dilaksanakan di SPTD Trijaya Kuningan pada tanggal       8-14 April 2009. Tujuan penelitian adalah untuk menduga besarnya nilai efisiensi relatif seleksi tidak langsung terhadap seleksi langsung bobot sapih berdasar bobot lahir pada Domba Priangan. Analisis data menggunakan metode Restricted Maximum Likelihood (REML) pola Multivariate Animal Model, aplikasi programnya adalah VCE 4.2. Data yang dianalisis sebanyak 92 data bobot lahir dan 92 data bobot sapih yang berasal dari 8 pejantan dan 56  induk. Sifat yang diamati adalah bobot lahir dan bobot sapih. Efek tetap meliputi jenis kelamin, paritas, tipe kelahiran dan tahun musim. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai heritabilitas bobot lahir sebesar 0,30 ± 0,28 dengan kecermatan seleksi 0,55 dan nilai heritabilitas bobot sapih sebesar 0,24 ± 0,16 dengan kecermatan seleksi 0,49. Korelasi genetik antara bobot lahir dengan bobot sapih sebesar 0,61 termasuk kategori positif tinggi. Nilai efisiensi relatif seleksi tidak langsung terhadap seleksi langsung bobot sapih berdasar bobot lahir pada Domba Priangan diperoleh sebesar 0,695. Nilai yang diperoleh lebih kecil dari 1 sehingga seleksi tidak langsung kurang efektif. Disarankan bahwa seleksi akan lebih efektif dilakukan pada seleksi langsung untuk domba Priangan.

Kata kunci : Bobot Lahir, Bobot Sapih, Efisiensi Relatif Seleksi Tidak Langsung Terhadap Seleksi Langsung, Domba Priangan

Posted in Abstrak Penelitian.