Sejarah

Pembangunan Kolam Pakar Desa Ciburial dimulai pada tahun 1906 yaitu dengan membuat terowongan air yang saat ini dikenal dengan sebutan Goa Belanda. Fasilitas tersebut dibuat oleh BEM (Bandoengsche Electriciteit Maatschappij) seiring dengan berkembangnya Kota Bandung menjadi kotapraja (pada tahun 1906) dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 47.500 jiwa. Tujuan dari dibangunnya fasilitas tersebut adalah untuk penyaluran listrik ke rumah-rumah orang Belanda di Bandung Utara.

Perintisan Taman Hutan Raya di Desa Ciburial mungkin sudah dilakukan sejak tahun 1912 bersamaan dengan pembangunan terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung (kemudian hari disebut sebagai Gua Belanda).

Pada tahun 1918 fasilitas terowongan air (saat ini dikenal dengan sebutan Goa Belanda) Kolam Pakar Desa Ciburial berubah fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruang di sayap kiri dan kanan terowongan utama. Panjang keseluruhan gua ini mencapai 547 meter. Tinggi gua mencapai 3.2 meter dan jumlah cabang lorong gua mencapai 15 buah.

Peresmian Taman Hutan Raya di Desa Ciburial sebagai hutan lindung dilakukan pada tahun 1922.

Pembangkit Listrik Tenaga Listrik (PLTA) Bengkok yang terletak di daerah Dago Bandung Jawa Barat dengan kapasitas 3×2 Megawatt mulai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dan sudah beroperasi sejak tahun 1923.

Kawasan tahura djuanda dirintis pembangunannya sejak tahun 1960 oleh Mashudi (Gubernur Jawa Barat) dan Ir. Sambas Wirakusumah yang pada waktu itu menjabat sebagai Administratur Bandung Utara merangkap Direktur Akademi Ilmu Kehutanan, dan mendapat dukungan dari Ismail Saleh (Menteri Kehakiman) dan Soejarwo (Dirjen Kehutanan Departemen Pertanian).

Pada tahun 1963 sebagian kawasan hutan lindung di Desa Ciburial mulai dipersiapkan sebagai Hutan Wisata dan Kebun Raya. Tahun 1963 pada waktu meninggalnya Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja (Ir. H. Djuanda) , maka Hutan Lindung tersebut diabadikan namanya menjadi Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda untuk mengenang jasa-jasanya dan waktu itu pula jalan Dago dinamakan jalan Ir. H. Djuanda.

Karena jumlah mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) semakin bertambah dan program akademik semakin banyak, pada tahun 1980, dibangun kampus II di Ciburial. Kampus II tersebut dibangun pada lahan sumbangan dari H. Amir Machmud (Menteri Dalam Negeri pada waktu itu).

Pada tahun 1985, Mashudi dan Ismail Saleh sebagai pribadi dan Soedjarwo selaku Menteri Kehutanan mengusulkan untuk mengubah status Taman Wisata Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya. Usulan tersebut kemudian diterima Presiden Soeharto yang kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1985 tertanggal 12 Januari 1985. Peresmian Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dilakukan pada tanggal 14 Januari 1985 yang bertepatan dengan hari kelahiran Ir. H. Djuanda. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda sebagai Taman Hutan Raya pertama di Indonesia.

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 Tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung

Sejak tahun 1987, seluruh kegiatan akademik dan kemahasiswaan Universitas Islam Bandung (Unisba) dipusatkan kembali di kampus Jalan Tamansari, sedangkan kampus II Ciburial digunakan untuk kegiatan pesantren mahasiswa, pertemuan-pertemuan ilmiah, penataran, dan pelatihan.

Selasar Seni Sunaryo didirikan pada tahun 1997, diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Edi Sedyawati, mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsono. Walau sudah dimulai pembangunannya sejak tahun 1997, namun terjadi krisis moneter 1998 yang menyebabkan pembangunan selasar ini sempat terhenti.

Desa Ciburial Ditetapkan Sebagai Desa Wisata melalui Keputusan Bupati Bandung

Semula Desa Ciburial secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cicadas Kabupaten Bandung, namun seiring terjadinya pemekaran wilayah (PP No. 16 tahun 1987) akhirnya Desa Ciburial menjadi bagian integral dari Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebagai salah satu bagian dari Kecamatan Cimenyan, Desa Ciburial memiliki luas wilayah : 8,2198 km. Secara topografi, Desa Ciburial tergolong dataran tinggi karena berada pada ketinggian antara 750 s.d. 1.200M (dpl) dengan suhu udara rata-rata 25 derajat Celcius dan curah hujan tahunan mencapai 0,29 mm/tahun.

Sumber