Penyuluhan Tentang Jamu Palsu

Penyuluhan jamu palsu dilaksanakan di aula Desa Dungusiku pada hari Jumat tanggal 27 Januari 2012 pada pukul 13.00 WIB. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dosen Pembimbing Lapangan dari Desa Dungusiku dan Desa Tambaksari. Kegiatan ini dijadikan satu tempat untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan waktu dan tenaga. Selain itu juga, penggabungan dimaksudkan DPL untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan desa yang lain.

Seluruh persiapan teknis dilakukan oleh mahasiswa KKNM dari Desa Dungusiku dan Desa Tambaksari, tetapi yang lebih dominan dilakukan oleh mahasiswa KKNM Desa Dungusiku. Untuk persiapan yang lainnya, dilakukan oleh DPL dan tim dosen lainnya. Persiapan teknis yang dilakukan oleh mahasiswa hanya mensosialisasikan penyuluhan dengan cara menyebarkan undangan kepada masyarakat yang berada di sekitar desa serta melalui mulut ke mulut, selain itu mahasiswa mengurus perizinan tempat serta kebutuhan logistik untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Pelaksanaan penyuluhan ini dihadiri sebanyak 69 orang warga Dungusiku dan Tambaksari yang didominasi oleh kalangan ibu-ibu. Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan pada pukul 13.00 WIB namun terdapat keterlambatan hingga sekitar 45 menit. Hal itu dikarenakan warga-warga dan narasumber datang tidak tepat pada waktunya.

Penyuluhan yang diberikan oleh Bapak Richie ini dilakukan dengan maksud untuk memberikan informasi mengenai bahayanya jamu palsu yang beredar dimasyarakat. Tema ini diangkat karena maraknya jamu palsu yang beredar di lingkungan masyarakat serta terdapat juga jamu dengan tambahan BKO (Bahan Kimia Obat) yang beredaran di pasaran. BKO sendiri sebenarnya tidak terlalu berbahaya bagi tubuh, akan tetapi apabila BKO ini dicampurkan dengan jamu maka dapat menimbulkan efek samping lainnya yang lebih berbahaya. Disamping menginformasikan bahayanya jamu palsu dan tambahan BKO di dalam jamu tersebut, narasumber pun memberikan informasi mengenai manfaat dari berbagai tumbuhan yang dapat dijadikan jamu.

Interaksi antara materi yang disampaikan pembicara dengan masyarakat terlihat baik, masyarakat cukup antusias mendengarkan materi yang dibicarakan. Selain itu, pembicara semangat memberikan penyuluhan dikarenakan adanya hubungan timbal balik yang baik antara masyarakat dengan pembicara.

Masyarakat juga memberikan contoh-contoh tumbuhan yang berada di sekitar lingkungan mereka yang dapat dijadikan sebagai jamu atau obat tradisional yang belum diketahui pembicara. Saat sesi tanya jawab, pembicara terlihat lebih atraktif karena pertanyaan yang diajukan masyarakat menarik untuk dijabarkan. Selama pelaksanaan penyuluhan tersebut tidak ditemukan kendala yang berarti. Namun kehadiran dari para pejabat Desa Tambaksari tidak begitu banyak, karena waktunya bersamaan dengan rapat koordinasi yang dilaksanakan di Kecamataan Leuwigoong.

Sumber