Buka-bukaan Gas Di Komisi VII DPR

Rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR-RI ini memang berlangsung 10 jam. Tapi kelelahan itu berakhir dengan happy ending banyak sekali persoalan gas terungkap dan terselesaikan. Buka-bukaan antara BP Migas, BPH- Hilir Migas, Perusahaan Gas Negara, PLN dan anggota Komisi VII kemarin itu membuahkan saling pengertian mengenai enam masalah gas yang ada berikut pemecahannya.

Gas sebesar 85.000 mmbtu dari Jambi Merang di Sumsel, misalnya, yang semula akan dialirkan ke Jawa tapi terhalang banyak hambatan, disepakati untuk PLN saja. PLN akan membangun pembangkit listrik di dekat lokasi itu sebesar 400 MW. Besar sekali. Sangat membantu untuk mengatasi kekurangan listrik di Sumsel dan Riau. PGN pun terhindar dari investasi kompresor yang mahal itu. Kesan politis bahwa lagi-lagi gas untuk Jawa juga terselesaikan.

Pola yang sama akan dilakukan untuk menampung gas dari lapangan Singa (juga di Sumsel) sebesar 45.000 mmbtu yang bisa dipakai untuk membangun tambahan pembangkit listrik 140 MW. Manfaatnya juga sangat besar bagi kecukupan listrik di Sumsel sampai Riau. Diskusi yang intensif (jumlah anggota DPR yang bertanya sampai 25 orang dengan jumlah pertanyaan sampai 134 pertanyaan) membuat banyak persoalan terungkap. Memang sempat melebar sampai ke soal tarif listrik untuk orang kaya dan ke soal audit teknologi pembangkit, namun pimpinan rapat kemarin, Effendy Simbolon, segera mengarahkan kembali ke fokus pembahasan gas dalam negeri.

Bahkan BP Migas sampai “membocorkan” bahwa di Sorong pun sebenarnya tersedia gas meski amat kecil. Yakni hanya 1500 mmbtu. Tapi bagi PLN gas sekecil itu pun sangat bernilai. Bisa membuat seluruh rakyat Sorong pesta cahaya.Gas itu bisa untuk menghidupi pembangkit listrik 2×4 MW. Padahal seluruh Sorong hanya membutuhkan sekitar 4 MW. Ini juga berarti rencana PLN yang semula ingin membangun PLTU kecil di Sorong bisa dibatalkan. Investasi bisa lebih dihemat.

Pembicaraan menjadi lebih seru ketika memasuki topik mengatasi kekurangan gas 1 juta mmbtu untuk pembangkit listrik yang sudah terlanjur ada di Medan, Jakarta, Gresik dan Pasuruan. Saya mengungkapkan bahwa untuk menutupi kekurangan yang begitu besar PLN terpaksa hanya bisa mengharapkan dari receiving LNG terminal. Ini berarti PLN harus membeli gas dengan harga sangat mahal dibanding harga gas dalam negeri lainnya. Yakni bisa mencapai 9 dolar/mmbtu. Padahal selama ini PLN mendapatkan gas dari dalam negeri dengan harga maksimal hanya 5 dolar/mmbtu.

Sayangnya gas dengan harga yang murah itu hanya tersedia sedikit. Karena itu PLN harus menghidupkan pembangkitnya yang bertenaga gas itu dengan BBM. Mahalnya bukan main 16 dolar/ mmbtu. Maka, meski harga 9 dolar/ mmbtu sudah sangat mahal dibanding harga gas dalam negeri, namun masih sangat murah dibanding harus membeli BBM 16 dolar/setara mmbtu. Ini saja sudah akan bisa membuat PLN lebih hemat Rp 15 triliun setahun.

Pertanyaan yang sangat kritis dari anggota Komisi VII adalah kalau PLN kini berani membeli gas dengan harga 9 dolar/mmbtu, bagaimana kalau pemilik gas dalam negeri yang selama ini menjual gasnya ke PLN hanya dengan harga di bawah 5 dolar/mmbtu lantas minta naik harga semua? Anggota DPR lainnya juga mempertanyakan, bagaimana pula akibatnya terhadap pabrik pupuk? Terhadap pabrik keramik? Terhadap industri lainnya?

Bahkan Kepala BP Migas langsung membuat kesimpulan kalau saja sejak dulu ada yang mau membeli gas dengan harga tidak usah 9 dolar/mmbtu, tapi 7
dolar saja, selesailah sudah semua persoalan pergasan kita. Investor akan berebut mengembangkan ladang gas, jumlah gas akan melimpah, dan kekurangan gas akan langsung teratasi. Bahkan polemik ekspor gas pun akan dengan sendirinya tidak relevan lagi. Persoalan Donggi Senoro juga langsung teratasi.

LNG receiving terminal kelihatannya tetap harus dibangun di laut Medan, Teluk Jakarta dan lepas pantai Surabaya. Tapi sumber gasnya kelihatannya tidak perlu lagi harus dairi Qatar. Ini bisa memecahkan kebekuan Donggi Senoro dan merangsang dipompanya gas-gas dari sumur besar lainnya. Dengan demikian PLN pun tidak jadi harus membeli dengan 9 dolar/mmbtu. Mungkin cukup dengan 7 atau 8 dolar/mmbtu.

Saya yakin setelah dengar pendapat kemarin, BP Migas, PGN dah PLN akan seru berdiskusi di intern masing-masing untuk mencari jalan ditemukannya keseimbangan baru antara demand, supplay dan harga gas di masa depan. Sebuah pcrmenungan yang akan menjadi terobosan mengatasi banyak persoalan gas di dalam negeri.

Dahlan Iskan
CEO PLN

Buka-bukaan.doc

Buka-bukaan Gas Di Komisi VII DPR.ppt

Buka-bukaan.ps

 

Kuliah Malam dengan Penerangan Lilin

BETAPA menyentuhnya foto yang dimuat di koran-koran edisi Kamis (26/2): mahasiswa Universitas Muhammadiyah kuliah malam dengan penerangan lilin yang dinyalakan di setiap kursi mahasiswa.

Sebagai direktur utama PLN yang baru, saya tentu amat terpukul dengan foto yang begitu menyentuh. Lama sekali saya memandangi foto itu dengan perasaan teriris-iris. Tapi, saya tidak boleh menyerah. Apalagi, sejak lebih dari sebulan lalu saya terus memonitor persoalan kelangkaan listrik di Sumut. Saya tahu setiap hari dan setiap malam berapa banyak kekurangan listrik di Medan. Bahkan, ada yang satu malam saja harus ada 80.000 pelanggan yang rumahnya gelap karena terkena giliran.

Dua minggu lalu sebenarnya hati saya sudah agak lega. Tim yang lagi memperbaiki mesin pembangkit di Belawan yang disebut GT 12 melaporkan bahwa malam itu perbaikan sudah selesai. Keesokan harinya sudah bisa dicoba. Saya berharap benar bahwa uji coba keesokan harinya akan lancar. Tapi, saya seperti menangis ketika mendapat laporan bahwa percobaan yang dijalankan kembali itu gagal: ketika kecepatan perputaran turbin dinaikkan untuk menghasilkan listrik lebih banyak, turbin itu bergetar!

Maka, uji coba dihentikan. Padahal, kalau saja perbaikan mesin GT 12 itu berhasil, Medan mendapatkan tambahan daya listrik 155 MW! Jumlah yang cukup untuk melistriki 150.000 rumah! Maka, begitu mendengar percobaan itu gagal, saya kembali lemas.
Mesin harus dihentikan. Kalau tidak, justru akan pecah. Mesin harus dibuka kembali. Untuk disetel ulang. Tapi, penyetelan ulang tidak bisa dilakukan saat itu juga. Harus menunggu mesin dingin dulu: 6 jam kemudian. Setelah dingin, barulah mesin dibuka untuk dilihat mengapa ketika dalam posisi kecepatan tinggi turbin bergetar.

Dua hari kemudian penyetelan ulang selesai. Harapan kembali muncul dengan sepenuh doa: semoga kali ini turbin tidak lagi bergetar. Begitu besarnya harapan saya akan keberhasilan hari itu, sampai-sampai saya yang lagi rapat dengan Gubernur Sumut Syamsul Arifin di Jakarta sudah berani menyatakan kegembiraan saya. Bahkan, gubernur mengatakan akan ikut mendorong semangat tim yang lagi memperbaiki pembangkit di Belawan itu. Yakni, dengan cara berkunjung ke sana.

Ternyata masih gagal. Lalu, proses yang sama diulangi lagi dan gagal lagi.

Saya tahu, tim tersebut sudah bekerja amat keras. Siang dan malam. Tapi, karena beberapa kali masih gagal, saya pun berusaha mencari tahu: di seluruh Indonesia ini ada berapakah ahli penyetelan turbin? Ternyata ada lima orang. Lalu, saya mencari tahu di mana saja mereka itu. Ternyata mereka tersebar. Salah satu di antaranya di Medan itu. Tapi, ahli turbin terbaik sedang di Surabaya. Maka, saat itu juga saya meminta ahli turbin terbaik tersebut terbang ke Medan untuk memperkuat tim yang sudah ada.
Karena keputusan itu saya buat malam hari, perintahnya mendadak: jam 6 pagi keesokan harinya sudah harus terbang ke Medan.

Tambahan tenaga ahli itu ternyata membuat tim semakin kuat. Maka, Rabu kemarin penyetelan ulang selesai. Lalu, dicoba: alhamdulillah! Sampai menghasilkan tenaga listrik 100 MW, turbin tidak bergetar. Maka, teman-teman yang berada di Medan membuat keputusan: kecepatan turbin jangan dinaikkan lagi. Biarlah bekerja stabil di 100 MW. Daripada dinaikkan menjadi 140 MW tapi gagal. Kan lumayan. Dengan memproduksi 100 MW, itu bisa melistriki 100.000 rumah! Apalagi, pembangkit itu bisa menghasilkan tenaga tambahan lewat sistem combine cycle 55 MW. Maka, keberhasilan perbaikan GT 12 itu sejak tadi malam sudah bisa menambah listrik di Medan sebanyak 155 MW.

Kegembiraan itu bertambah-tambah karena pemasangan mesin pembangkit lot-3 yang letaknya juga di kompleks Belawan itu kemarin selesai. Sudah diuji coba. Sampai pada putaran yang menghasilkan 100 MW, masih stabil. Maka, teman-teman di pembangkitan Medan juga memutuskan untuk tidak menaikkan lagi kecepatannya. Takut kalau bergetar. Meski sikap seperti itu kiurang benar, sementara saya mendukung.

Maka, sejak kemarin Sumut mendapatkan tambahan pasokkan listrik 255 MW! Dengan tambahan itu, pasokan listrik di Medan cukup. Meskipun masih pas-pasan. Tidak ada lagi pemadaman bergilir. Kalau toh nanti ada pemadaman di suatu RT atau RW, itu bukan karena listriknya tidak ada. Bisa saja hanya karena di RT tersebut sedang diadakan pemeliharaan trafo secara bergantian. Tapi, pemadaman seperti itu tidak lama. Hanya sekitar 3 jam. Juga hanya memengaruhi beberapa rumah di satu kawasan.

Sudah bisa tenangkah?

Belum. Sebab, sifatnya masih pas-pasan. Dengan posisi pas-pasan, kalau ada mesin yang rusak, akan terjadi pemadaman bergilir lagi. Maka, doa saya agar semua mesin yang sudah berjalan itu jangan sampai rusak lagi.

Masalahnya, mesin adalah buatan manusia. Kadang harus rusak dan kadang harus sudah waktunya dimatikan untuk diperbaiki.
Medan baru akan bisa benar-benar tenang kalau listrik dari Asahan I, sebanyak 200 MW lebih, sudah bisa mengalir ke Medan. Menurut perencanaan, Asahan I selesai Mei 2010. Empat bulan lagi. Karena itu, kita sebaiknya berdoa keras agar jangan ada mesin yang rusak sampai Mei yang akan datang.

Harapan lain adalah ini: tambahan dari PLTU Sibolga. Kini konsentrasi saya beralih ke Sibolga. Hampir setiap hari saya menelepon Sibolga untuk mengikuti perkembangan kinerja PLTU itu. Saya harus ikut mengontrol kualitas batu baranya hingga ke soal onderdilnya. Saya menargetkan pada Mei nanti PLTU Sibolga juga harus lancar. Itu berarti bisa menambah 200 MW lagi.

Mudah-mudahan foto mahasiswa kuliah malam yang menggunakan lilin itu menjadi kenangan pahit dan manis sekaligus pada awal masa jabatan saya ini.

Dahlan Iskan
CEO PLN

Kuliah Malam dengan Penerangan Lilin.doc

Kuliah Malam dengan Penerangan Lilin.ppt

Kuliah Malam dengan Penerangan Lilin.ps