Posts belonging to Category Travel Story



Akhirnya, Sampai Juga di Labuan Bajo…

Pesawat Fokker 50 yang berkapasitas 40 orang itu akhirnya lepas landas dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Wajah-wajah bahagia dengan sorotan mata penuh semangat terpancar dari lima orang muda-mudi lintas daerah.

 

Kalau di Bali, tamu dikalungi bunga, kita kalungkan selendang.

— Paulus

Ibarat mendapatkan durian runtuh, mereka adalah pemenang kuis Komodo yang diselenggarakan oleh www.indonesia.travel, situs resmi mengenai pariwisata Indonesia yang dikelola Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Sebagai hadiah, para pemenang mendapatkan paket wisata ke Taman Nasional Komodo (TNK) di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Segala tiket pesawat, akomodasi, makan, hingga transportasi selama kegiatan untuk para pemenang difasilitasi Kemenbudpar.

Mereka adalah Dian Anggraini dari Palembang, Saprudi dari Kalimantan Selatan, Rahman Hakim dari Sukabumi, Ryaniko Yusaputra asal Lampung, dan Akhmad Rofieq asal Yogyakarta. Bagi Saprudi, ini laksana mimpi yang menjadi nyata. Sudah lama ia memimpikan sebuah perjalanan wisata ke Taman Nasional Komodo.

Perjalanan berlangsung pada 21-23 Juli 2011. Para pemenang mengunjungi Pulau Rinca, Pulau Komodo, dan Pink Beach. Ketiga lokasi tersebut masuk dalam kawasan TNK. Selain para pemenang, dalam rombongan juga ikut serta rombongan jurnalis media cetak dan media elektronik.

Pesawat Fokker 50 dengan baling-baling itu terbang rendah. Segala panorama di bawah pesawat pun tampak jelas di mata. Gugusan pulau hijau dengan warna biru pekat. Bagaikan lukisan anak-anak yang sedang mewarnai lautan dengan warna biru krayon.

Dian dan kawan-kawan pun tak henti-henti melihat pemandangan lewat jendela pesawat. Beberapa kawannya tak bosan mengambil foto. Bahkan Rahman pun mengambil foto suasana di dalam pesawat.

“Ini pertama kalinya saya naik pesawat,” ujar Rahman polos. Ya, perjalanan dengan pesawat Boeing lalu dilanjutkan dengan pesawat Fokker 50, merupakan pengalaman pertama Rahman naik pesawat. Lalu bagaiman rasanya naik pesawat untuk pertama kalinya?

“Setiap pesawat goyang sedikit saja, saya takut juga. Tapi saya pasrah,” tutur Rahman.

Sampai di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, mereka disambut oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai Barat.

“Akhirnya, sampai juga di Labuan Bajo,” kata Dian sambil sibuk berfoto. Sebuah sambutan berupa rangkaian upacara adat yang disebut Curu Meka atau jemput tamu menanti mereka di Bandara Komodo.

“Artinya semacam terima tamu, ‘curu’ artinya jemput, kalau ‘meka’ tamu,” kata Kepala Dinas Disbudpar Manggarai Barat, Paulus. Pertama-tama prosesi pengalungan selendang. Rombongan diberikan selendang berupa tenun ikat motif Manggarai Barat.

“Kalau di Bali, tamu dikalungi bunga, kita kalungkan selendang,” ujar Paulus. Setelah itu, seorang bapak datang menghampiri rombongan. Ia membawa sebuah wadah dan ayam putih yang masih hidup.

Usut punya usut, hal ini pun masih dalam rangkaian prosesi Curu Meka. Tamu diterima dengan arak putih. Uniknya, wadah untuk arak putih terbuat dari buah labu yang dikeringkan. Wadah tersebut memang kerajinan khas masyarakat setempat.

Paulus menjelaskan arak putih sebagai pertanda tamu yang telah melakukan perjalanan jauh perlu disambut. “Tamu yang dari jauh pasti haus. Jadi untuk menghilangkan dahaga, kami sambut dengan arak putih,” tuturnya.

Sementara itu, ayam putih menyiratkan tuan rumah menerima tamu dengan hati tulus ikhlas, seputih ayam tersebut.

“Ayam itu juga sebagai pertanda untuk menghalau segala rintangan atau roh jahat yang dapat mengganggu perjalanan tamu,” ungkap Paulus. Para pemenang kuis pun tampak terkesima dengan serangkaian acara penjemputan tamu.

Dari Bandara Komodo, rombongan langsung dibawa ke dermaga menuju Taman Nasional Komodo. Raut muka antusias terlihat jelas dari  para pemenang kuis. Ya, mereka begitu bersemangat untuk bisa melihat langsung dari jarak dekat para komodo. Satu hal yang mereka tidak ketahui, dalam beberapa jam ke depan, mereka harus lari menyelamatkan diri dari kejaran komodo.

Akhirnya Sampai Juga di Labuan Bajo.doc

Akhirnya Sampai Juga di Labuan Bajo.ps

Akhirnya Sampai Juga di Labuan Bajo.ppt

Berkunjung ke Khajuraho, Kuil Kamasutra

Embusan embun pagi yang mencair diterpa mentari terbit membangunkan kami di kabin yang masih penuh dengan penumpang. Dua turis asal AS itu nampak masih tertidur pulas dibalut sleeping bag tipis miliknya, kami sibuk berbenah dan mengantre di wastafel kereta untuk menggosok gigi, sangat berlebihan bila kami katakan kami menggunakan air subtansi kereta untuk membilas, tentu saja tidak. Kami menggunakan air mineral botol yang kami beli untuk minum, bahkan terkadang kami lebih memilih menggunakan tisu basah atau air mineral untuk kebersihan lainnya. Mungkin kami memang terlalu ekstrem memperlakukan negara ini, tetapi semuanya kami lakukan berdasarkan petunjuk beberapa travel tips yang diterbitkan buku-buku travel kebanyakan.

Pagi ini indah, dan terasa lebih sejuk, aroma hijau daun menampakkan senyum kota ini kepada kami, menyapa kami hingga kereta berhenti di stasiun yang dimaksud. Stasiun ini bukan stasiun besar seperti kota lainnya, hanya terdapat beberapa platform yang aktiv mengisi aktivitas perkereta apian. Kami dan Jack serta pasangannya menuju pangkalan taksi dan angkutan umum lainnya yang letaknya masih disekitar stasiun. Tak ada angkutan umum yang langsung ke desa Khajuraho, kami terpaksa harus menggunakan jasa taksi untuk sampai ke desa tersebut.

Taksi yang dimaksud ternyata tak seperti taksi kota kebanyakan yang menggunakan argo, bentuknya seperti mobil-mobil pribadi yang disewakan, bahkan diantaranya ada yang berbentuk jeep, 800 Rupees harga rata-rata yang mereka tawarkan. Namun bila Anda pintar menawar, harga bisa turun mencapai 500 – 600 Rupees tergantung jenis mobil yang Anda minati. Konon karena jalan sepanjang Satna agak rusak, maka kami memutuskan memilih Jeep demi kenyamanan, antara model mobil yang lainnya hanya selisih 50 Rupees, dan tak semua mobil memiliki AC. Jadi Anda harus teliti dengan kondisi dan fasilitas mobil yang akan Anda pilih, barulah menentukan harga yang pantas untuk penawaran terakhir.

Biasanya taksi-taksi disini bisa memuat 4 hingga 5 penumpang, jadi untuk menghemat biaya, Anda bisa patungan atau sharing cost dengan penumpang lainnya. Kebetulan jumlah kami cukup untuk muatan 1 Jeep, mengingat bagian belakang Jeep akan penuh dengan barang-barang bawaan kami.

Setelah melalui penawaran yang cukup alot, kami dapatkan harga 600 Rupees untuk 4 orang dengan jenis mobil Jeep dan berAC. Jeep ini mulai beraksi di jalan-jalan rusak sepanjang desa Satna, hampir setengah jam berlalu, akhirnya jalan aspal lebar mulai kami temui. Konon Satna dan Khajuraho dihubungkan oleh tanah-tanah perbukitan yang cukup landai, layaknya jalan-jalan sepanjang Puncak Bogor, kami melalui aspal-aspal halus, berkelok-kelok menaiki perbukitan dengan pepohonan rindang serta perkebunan teh yang menghijau, dan udara sejuk yang sama sekali tidak berdebu, membuat perjalanan terasa nyaman.

Dua setengah jam perjalanan tak terasa telah berlalu, ngobrol ngalor-ngidul hingga ketiduran sepoi-sepoi pun akhirnya membawa kami pada gapura besar bertuliskan Khajuraha, Khajuraha atau Khajuravaka adalah nama asli desa tersebut saat pertama kali ditemukan. Terdapat satu jalur rel kereta api sepanjang jalan, dari papan bilboard petunjuk yang berada di dekat gapura ini masih 11 km menuju tengah desa, dimana pusat peninggalan paling kontroversial se India itu tergelar di sebuah perkomplekan.

Tidak lebih dari 20 menit saja, kami tiba di sebuah pertigaan jalan yang penuh dengan penginapan-penginapan, sebuah kawasan penginapan nampak nyaman dengan dibatasi pagar tembok setinggi 1 meter, tepat di depan kawasan ini merupakan kuil Khajuraho yang terkenal dengan ukiran-ukiran bertajuk Kamasutra.

Kami bergegas menuju penginapan yang menurut orang sekitar termasuk penginapan murah dan memiliki fasilitas yang memadai. Letak Yogi guest house, nama penginapan itu memang agak menjorok kedalam, tapi guest house ini memang benar-benar bersih dan memadai, bahkan penginapan dengan harga 250 Rupees permalam ini menyediakan jasa penyewaan motor dan sepeda.

Seorang resepsionis menyambut kami dengan ramah, setelah mengisi buku tamu dan menyerahkan selembar foto-copy pasport kami segera diantar oleh roomboy yang baik hati membawakan backpack kami hingga ke kamar. Kamar dan toiletnya cukup luas, dan sangat bersih serta nampak terawat. Dua buah single bed nampak asri dibalut dengan sprei bunga-bunga, ditemani sebuah kaca rias dan satu buah lemari yang cukup besar. Membuat kami betah untuk segera berleha-leha setelah mandi.

Semangat ingin segera mengunjungi kuil ini kandas diterpa awan hitam yang mulai mengusik hari yang sedari tadi panas, tak lama setelah makan siang di sebuah restoran yang letaknya tepat di depan komplek kuil tersebut, hujan pun mengguyur deras pedesaan yang konon sudah hampir 3 tahun belakangan gersang. Kira-kira begitulah yang dikisahkan seorang pelayan setengah baya yang bekerja di Raja Cafe ketika mencoba mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan.

Rupanya selain ramai pengunjung dan letaknya yang menghadap kuil, restoran ini juga memiliki citarasa masakan yang sangat kreatif, nampaknya bumbu-bumbu yang dipakai telah banyak disesuaikan kepada lidah internasional, sehingga apapun menunya, anda tidak akan mengalami kekacauan rasa seperti yang travel kuliner biasa katakan tentang kesan pertama masakan India.

Langit masih merah saat gelap kian menyapa, kami bergegas berlarian diatas rintik hujan yang sedari tadi tak jua kunjung berhenti, bahkan  ketika tiba saatnya makan malam, kami masih ditemani hujan yang makin deras menikmati beberapa menu masakan Yogi Lodge di restoran yang tersedia di lantai rooftopnya. Dan untuk kedua kalinya kami dibuat berpikir atas pernyataan syukur yang dibuat oleh si pemilik penginapan tentang hujan yang hampir 3 tahun ini tak pernah datang.

Dari ceritanya kami dibawa mengilhami anugerah Tuhan hari ini, betapa ketika kami melihat sungai sepanjang desa ini mengering, pemandangan yang nampak pun terasa hambar, lalu dengan ceritanya kami diajak menebak-nebak esok hari saat air hujan mulai menggenangi sungai, membuat alam desa ini akan lebih hidup.

Berkunjung ke Khajuraho.doc

Berkunjung ke Khajuraho.ps

Berkunjung ke Khajuraho.ppt