Posts belonging to Category Jusuf Kalla



Mistik Perang vs Logika Kalla

Konflik antara dua kelompok karena isu SARA di Poso sudah memakan banyak korban. Kisah supranatural atau mistik pun ikut mengipas kobaran api konflik. Masing-masing kelompok sama-sama mempunyai figur utama, yakni dari kelompok Islam ada Habib Saleh Al Habsyi dan dari kelompok Kristen ada Lateko dan Tibo.

Kota Poso menjadi sepi, sebagian besar warga Muslim telah mengungsi, lantaran takut adanya penyerangan dari warga Nasrani yang mempunyai pasukan Kelelawar Hitam yang dipimpin oleh Tibo, Lateka, dan Dominggus. Konon kabarnya, setiap Tibo hendak melakukan penyerangan, ia selalu didampingi wanita tua bertubuh gempal yang berjalan di belakangnya sambil berkomat-kamit membaca mantra dan menggoyang tampi yang dipegangnya. Akibatnya, musuh yang melihat pasukan Tibo ini dalam bentuk ribuan orang, padahal mungkin hanya puluhan orang saja.

Tetapi Habib Saleh Al Habsyi, pimpinan pondok pesantren Kayamanya, Poso, tetap bertahan bersama 40-an santrinya. Saat itu, menjelang salat zuhur, pasukan Lateka melakukan karnaval dan tampak mengarah ke pondok pesantren. Habib Saleh meminta para santrinya tenang dan berkonsentrasi, berdoa, dan menyerahkan segalanya pada Tuhan.

Tatkala Lateka menginjakkan kaki di pelataran pesantren, Habib Saleh pun keluar menyambut tamunya yang tak diundang. Lalu, mereka adu kata, tantang menantang. Dalam suasana berhadap-hadapan itu, kabarnya Lateka hendak menghunus pedangnya, tetapi Habib Saleh mendahuluinya dengan mencampakkan sebuah ranting rotan kepada Lateka. Nahas bagi Lateka, ia pun terjatuh, terkapar, dan meninggal. Melihat itu, pasukan Lateka kocar-kacir. Sejak itu, ranting popularitas dan legenda Habib Saleh merebak dengan sangat cepat.

Belakangan, setelah perundingan Poso dicapai, Habib Saleh menemui saya di Jakarta dan memberikan saya sejumlah bacaan wirid dan sebuah ranting rotan yang pernah dipakainya selama konflik Poso.

Ketika kisah ini saya sampaikan kepada JK, ia pun berseloroh agar jangan sampai ada yang melukai perasaan saya, karena saya bisa saja mencampakkan ranting itu dan orang yang melukai saya meninggal. Ia juga berkata penuh canda jika saya ingin menemuinya, saya harus digeledah dulu agar tidak membawa ranting rotan itu.

 

Pada suatu malam, JK memanggil saya dan menjelaskan bahwa perang yang berlangsung di Poso adalah perang tradisional. Mereka tidak menggunakan senjata modern untuk menyerang. Mereka menggunakan cara tradisional dalam mempertahankan diri, termasuk kisah mistik Habib dan Lateka. Logikanya, kisah-kisah mistik tersebut muncul karena ada perang. Jadi semua itu adalah cara dan alat dari masing-masing pihak selama perang berlangsung.

JK menegaskan, misi kita adalah menghentikan perang, menormalkan kehidupan Poso, tidak ada lagi pembunuhan, tak ada lagi sekolah, pasar, masjid, dan gereja dibakar, tidak ada lagi pengungsi. Ekonomi harus jalan dan pemerintahan harus bergerak.

JK tidak pernah tertarik untuk membicarakan kisah-kisah mistik Lateka dan Habib Saleh. Ia lebih memilih berkonsentrasi untuk mendamaikan mereka. Bagi saya, pelajaran amat berharga dari kisah-kisah mistik itu adalah metode penanganannya haruslah menggunakan logika yang tepat dan tidak ikut membicarakan apakah itu benar atau tidak. Kisah-kisah itu adalah alat dan cara masing-masing pihak untuk mempertahankan diri dalam situasi konflik. Ia bisa digunakan untuk media menggetarkan lawan.

Mistik Perang vs Logika Kalla.doc

Mistik Perang vs Logika Kalla.ps

Mistik Perang vs Logika Kalla.ppt

Mistik Perang vs Logika Kalla

 

Kalla Membalikkan Logika

Bunga konflik antara dua komunitas dengan dalih SARA di Poso dan Ambon sedang menyala dan membara. Kedua belah pihak seolah mendapatkan license to kill untuk menghabisi lawan. Tiga tahun sudah konflik berlangsung, namun titik jeda, apalagi titik akhir, tak sedikit pun menampakkan harapan. Korban berjatuhan, tentu saja di kedua belah pihak, pemerintah, dan pihak-pihak yang sama sekali tidak ikut dalam pertikaian. Perseteruan keduanya malah kian panas.

Berbagai ikhtiar telah dilakukan. Rupa-rupa pendekatan telah diterapkan. Bunga api konflik ternyata tak juga padam. Jusuf Kalla tidak ingin lagi berseminar mencari akar soal. Ia tak berkehendak lagi menghabiskan waktu menemui tokoh ini dan tokoh itu untuk bertukar pandang dan bertukar siasat.

Tengah malam, ia meminta saya datang di kediamannya.

“Hamid, ini konflik adalah soal neraka dan surga. Kita harus menghentikan cara berpikir ini. Harus dibalikkan, Hamid, cara berpikir mereka,” tegas Kalla.

“Maksud Bapak bagaimana?” tanya saya, penuh keingintahuan.

“Pihak Kristen memercayai, kalau membunuh pihak Islam maka mereka akan masuk surga. Di saat yang sama, pihak Islam berkeyakinan, jika membunuh pihak Kristen, mereka masuk surga. Ini ajaran keliru Hamid. Saya harus membalikkan logika mereka bahwa kedua belah pihak justru masuk neraka semuanya. Islam dan Kristen justru melarang saling bunuh,” kata Kalla lagi.

Ini memang soal besar. Masalahnya, kelompok Islam memandang ini sebagai jihad, sementara kelompok Kristen memandang konflik ini sebagai Perang Salib. Keyakinan itulah yang membuat persoalan jadi runyam dan tak menemukan titik akhir karena keduanya berperang dengan motivasi masuk surga. Ya, pasti perang tidak akan habis, Kalla menguraikan.

Logika Kalla itulah yang dipakai. Hasilnya, sangat fantastis. Ke mana-mana memang, Kalla selalu mengusung logika tersebut. Sekali waktu, Kalla berada di Ambon. Sebelum magrib, Kalla bertemu dengan salah satu kelompok yang bertikai. Dengan tegas dan nada suara keras Kalla berkata kepada mereka, “Kalian semua bakal jadi penghuni neraka. Tunjukkan pada saya dalam Bibel ada ajaran yang mengatakan bahwa membunuh orang itu masuk surga, ayo tunjukkan,” tantang Kalla. Suasana amat hening dan bening, kendati sebelum Kalla berbicara, suasana amat panas karena para juru bicara kelompok ini bicara berapi-api.

“Tidak ada di antara kalian yang berhak masuk surga kelak. Pintu surga pun kalian tidak bisa lihat. Orang masuk surga itu kalau berbuat baik kepada sesama manusia dan saling membantu. Ini kalian saling membunuh kemudian percaya akan masuk surga. Tuhan akan jauh dari saudara semua.”

Lepas magrib, Kalla bertemu lagi dengan kelompok Islam. “Saya terus terang kepada Saudara semua, ya. Saya sangat tersinggung sebagai orang Islam. Mengapa Saudara mengklaim bahwa membunuh orang itu masuk surga. Ayat dan surah mana dalam Al-Qur’an dan Hadis yang mengatakan membunuh itu masuk surga? Tunjukkan pada saya sekarang juga,” desak Kalla.

Suasana langsung jadi gaduh karena semua angkat tangan untuk bicara. Menyaksikan itu, Kalla langsung meninggikan suara.

“Saudara mau tunjukkan ayat dan hadisnya?” tanya Kalla.

“Maaf, Pak Menteri, kami ingin memberi pendapat,” kata seorang dari wakil kelompok Islam.

“Tidak, saya hanya mau mempersilakan Saudara bicara jika punya dalil ayat Al-Qur’an atau Hadis. Saya tidak mau menghabiskan waktu untuk berdebat kata-kata, mengulang yang itu-itu juga. Saya tidak mau lagi dengar siapa yang mulai. Saya mau dengar bagaimana menghentikan ini semua,” tegas Kalla.

“Supaya Saudara semua tahu, saya malu rasanya diidentifikasi sebagai orang Islam yang menghalalkan pembunuhan dengan janji surga. Anda semua tidak akan pernah masuk surga dengan ini. Justru Anda akan jadi penghuni neraka. Kalian tahu, yang Anda rusak ini adalah anak dan cucu kalian semua karena Anda saling membunuh. Sekolah-sekolah tempat mereka menyiapkan masa depan, kalian bakar. Tidak ada lagi anak-anak Ambon yang terdidik ke depan karena ulah Anda. Ingat ya, sejarah akan mengutuk nanti Anda semua karena Andalah yang membuat anak-anak Ambon ini jadi sengsara. Ini saja Anda kelak sudah masuk neraka,” ujar Kalla.

Seolah tersihir semua, ruangan sontak jadi tenang. Jangankan berbicara, saling melirik saja antara mereka tidak terjadi. Semua duduk memandang lurus ke arah Kalla. Saya pun jadi grogi karena saya duduk persis di samping kanan Kalla. Saya seolah tersiram oleh sengatan matahari karena rasanya semua mata memandang ke arah saya. Saya beruntung, di tengah tatapan-tatapan mata itu, saya menunduk saja sembari menulis semua kejadian tersebut.

Lepas tengah malam, saya duduk sendiri di sofa di Ambon. Kalla menghampiri sembari tersenyum.

“Bagaimana, Mid? Teori surga-neraka saya ‘kan benar, toh? Pokoknya, kita harus menegaskan bahwa tidak ada yang masuk surga kalau bunuh-membunuh. Semuanya masuk neraka,” kata Kalla.

“Teori Bapak memang benar, tetapi cara penyampaiannya hampir saya tidak percaya, Pak. Soalnya, semula mereka menggelegar, tetapi tiba-tiba jadi sepi dan senyap. Ruangan terasa tiba-tiba jadi hampa, tanpa orang, Pak. Bapak marah sekali tadi, kan? Ilmu apa yang Bapak gunakan tadi? Pak, terus terang, saya pernah dengar ada namanya ilmu menyiram panas, apa itu yang Bapak pakai tadi?” tanya saya.

“Ah, kamu itu Mid, ada-ada saja. Saya tidak marah tadi, tetapi bersikap tegas. Memang beda-beda tipis antara marah dan bersikap tegas. Kalau marah, bersuara keras tapi bisa tidak rasional. Kalau tegas, bersuara keras tapi berbicara logis. ‘Kan, saya tadi bersuara lantang tetapi argumentasi saya, ‘kan logis, toh,” jawab Kalla.

“Pak, kita berandai-andai. Bagaimana kalau tadi itu ada yang tiba-tiba menunjukkan Bapak ayat dalam Bibel atau Qur’an dan Hadis bahwa saling membunuh itu masuk surga? Apa yang Bapak katakan?” tanya saya menggoda.

“Ah, tidak mungkin saya berani lakukan itu andaikan saya tidak menguasai soalnya, Hamid. Anda ‘kan lihat saya siang-malam membaca dan bertanya kian kemari untuk urusan ini. Mana mungkin saya percaya diri menantang bila saya ragukan pengetahuan dan sumber saya. Itu namanya terjun bebas, Saudara,” tangkis Kalla. “Tadi kamu menyebut ilmu menyiram panas. Apa itu?” tanya Kalla pada saya.

“Itu ilmu tradisi, Pak. Katanya, ada orang tertentu yang bisa membuat orang lain tiba-tiba jadi diam tak bisa berbuat apa pun jika lawannya menggunakan ilmu siram panas itu. Tadi ‘ kan orang-orang itu berapi-api, tiba-tiba Bapak meninggikan suara, mereka langsung terdiam. Jadi saya pikir Bapak pakai ilmu menyiram panas itu,” jawab saya sekenanya.

“Ada-ada saja kamu, Mid. Ilmu yang saya pakai itu adalah ilmu ikhlas dan ilmu kebenaran. Tak ada macam-macamnya,”jawab Kalla. “Ingat Hamid, dalam hidup ini, ada tiga ajaran moral yang harus dipegang. Pertama, ikhlas; kedua, sabar; dan ketiga, syukur. Ikhlas adalah refleksi dari hati yang bersih dan ketulusan untuk berbuat sesuatu tanpa ada keinginan untuk memperoleh balasan. Kalau Anda berbuat sesuatu tanpa keikhlasan, biasanya Anda itu selalu mencurigai orang lain dan ujung-ujungnya adalah watak pencemburu. Sabar, adalah cara terbaik untuk melatih memahami pihak lain dan menerima kenyataan. Kalau kamu tidak berlatih diri untuk bersabar, kamu tidak akan pernah punya kemampuan untuk hidup dengan sikap toleransi pada orang lain. Dan, syukur adalah refleksi bahwa Anda menerima apa yang diberikan. Dengan kebiasaan bersyukurlah membuat kamu tidak akan jadi tamak dan mengambil hak orang lain. Saya begini-begini, Hamid, juga adalah pendiri dan pembina sejumlah yayasan Islam. Jadi, banyak juga ajaran moral saya, Saudara. Dan, ingat ya, tidak sekadar saya pidatokan, tetapi saya praktikkan,” ujar Kalla.

Soal masuk surga ini, Kalla punya tesis lebih jauh lagi. Menurutnya, baik konflik Poso maupun konflik Ambon, dua-duanya menggunakan rumus surga. Karena itu, banyak individu dari kedua kelompok itu terlibat dalam konflik tersebut hanya untuk cari jalan pintas masuk surga. Bisa jadi banyak di antara mereka yang sadar bahwa mereka adalah orang yang bergelimang dosa karena berbagai perbuatan dan kesalahan yang mereka lakukan. Lalu datanglah sebuah jalan yang lebih praktis untuk menghapus dosa-dosa tersebut, bahkan langsung masuk surga. Jadi, mereka pun menempuh cara itu.

Kalla suatu saat menegaskan bahwa khusus konflik Ambon, orang-orang yang datang dari Jakarta itu, kemungkinan besar adalah bagian dari orang-orang yang ingin jalan pintas ke surga. Ironisnya, kata Kalla, tak ada upaya dari tokoh agama dari kedua belah pihak untuk mematahkan argumentasi keliru itu.

Dengan rumusan logika yang dibalikkan tersebut, para tokoh kedua kelompok yang berseberangan ini tak berani lagi berargumentasi dengan Kalla menggunakan dalil agama. Debat dan adu argumentasi tiba-tiba berubah ke hal-hal bersifat latar belakang tentang kejadian ini. Malah, sudah ada yang mengangkat soal kebijakan pemerintah yang antara lain membuat konflik kian berkobar dan sulit dipadamkan.

Argumentasi Kalla tersebut ditebarkan ke mana-mana. Berbagai pertemuan kelompok dan tokoh yang dilakukan Kalla di Jakarta, semuanya dengan tema “bukan surga, tetapi neraka”.

Dalam sebuah pertemuan kecil di Ambon, saya mendampingi Kalla menerima seorang tokoh masyarakat Islam yang terlibat langsung dalam konflik. Pak Kiai, begitu ia biasa disapa oleh jemaahnya dengan sarung serta peci putih, berbicara pelan kepada Kalla, “Pak, memang Bapak benar tahu soal surga dan neraka itu. Terus terang, kami sebenarnya tidak tahu dari mana sumbernya ini konflik, Pak. Ilmu dan keyakinan saya mengatakan, kita bisa semua jadi penghuni surga bila kita bisa selesaikan konflik ini, Pak Jusuf,” ujar Pak Kiai.

“Iya, itulah ajaran yang benar, Pak Kiai. Surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta dan selalu membawa kedamaian. Bukan sebaliknya. Terlepas dari itu semua, kasihan ini orang Ambon semua. Tidak ada lagi harapan kelak bagi anak-anak Ambon,” jawab Kalla.

“Pokoknya Pak, kami siap untuk menciptakan damai. Apalagi pemerintah sudah turun tangan untuk itu semua. Kami akan mendukung sepenuhnya ikhtiar Pak Jusuf,” jawab Pak Kiai.

Pendeta Santo, salah seorang tokoh umat Kristiani di Poso yang ikut menjadi perunding perdamaian Poso di Malino, kepada saya dengan tegas mengatakan, mestinya dari awal cara pendekatan logika seperti Pak Jusuf itu yang dipakai dalam menyelesaikan konflik Poso. Sangat simpel dan semua bisa menerima dengan akal sehat. “Malu rasanya kita ini terlibat konflik tanpa tahu asal muasalnya, tiba-tiba di tengahnya ada isu masuk surga. Ya, dengan dalil amat sederhana itu, pasti kita bisa menyelesaikan ini semua Pak Hamid,” bisik Pendeta Santo pelan pada saya, di tengah acara perundingan damai.

Usai pertemuan tersebut, Kalla menggoda saya. “Mid, benar ‘kan teori surga saya. Selama mereka berpikir jernih dan tenang, pasti mereka menerima alasan saya. Jadi, saya ini Mid, bisa juga jadi khatib, Saudara. Dan ingat ya, saya punya latar belakang Nahdiyin yang keras. Jadi, dasar argumentasi agama juga saya punyai. Dan, jangan lupa, saya pengurus di berbagai masjid besar dan yayasan Islam. Jadi, ada juga justifikasinya jika saya bicara dalam konteks moralitas agama,” kata Kalla.

Sambutan publik atas lontaran ide Kalla mengenai surga dan neraka itu, memang bergaung. Setidaknya, tidak ada komentar yang negatif, apalagi berseberangan dengan ide tersebut di media massa cetak ataupun elektronik. Yang muncul di berbagai pembicaraan adalah kejituan Kalla menemukan akar persoalan dan terapinya yang jelas dan praktis.

Soal surga dan neraka ini, selalu menjadi awal sambutan Kalla pada pembukaan dialog damai Poso dan Ambon di Malino. Kalla sadar sepenuhnya bahwa ajaran keliru tentang surga inilah yang jadi biang utama terjadinya eskalasi konflik di antara kedua komunitas di dua tempat tersebut. Karena itu pula, cara berpikir mereka yang harus dibalikkan, bahwa saling membunuh itu justru akan berakhir di neraka. Bukan surga.

Pada saat agenda surga-neraka ini terangkat ke permukaan, Almarhum Nurcholish Madjid meminta saya bertemu di kantornya. Dalam pertemuan tersebut, Cak Nur meminta saya menyampaikan kepada Kalla bahwa ia memuji keberanian Kalla menyampaikan argumentasinya secara terbuka.

“Isu ini ‘kan amat sensitif, Hamid. Butuh keberanian ekstra untuk secara terbuka mengemukakannya. Apalagi Pak Ucup itu kan menteri. Secara substantif, dia amat benar. Begini ya, kalau butuh referensi tambahan untuk memperkuat argumentasi Pak Jusuf soal surga dan neraka itu, Hamid ke sini saja. Saya akan siapkan. Yang penting, sampaikan kepada Pak Jusuf bahwa saya salut atas keberanian dan keterusterangannya kepada publik. Itu modal dia untuk dipercaya publik,” tegas Cak Nur.

Lepas dari agenda surga dan neraka ini, baik di Poso maupun Ambon, keduanya komunitas yang bertikai tersebut, selalu menuntut adanya penegakkan hukum dan keadilan sebagai syarat untuk berunding. Mereka menuntut JK agar ada penyidikan dan penuntutan serta pengadilan dulu terhadap kelompok atau orang-orang yang dinilai menzalimi mereka, sebelum membicarakan agenda perundingan damai.

“Bagaimana mungkin kita mau damai kalau kita tidak menangkap dulu semua yang menzalimi kami. Mereka itu ‘kan yang memulai. Mereka, karena itu, harus diadili dulu baru kami mau berunding untuk damai,” kata salah seorang dari pihak yang bertikai.

“Perundingan damai bisa saja dilakukan, tetapi mereka harus dihukum dulu. Mana mungkin kami mau damai bila mereka yang menghantam kami belum dihukum. Damai tak ada artinya bila orang-orang itu masih berkeliaran. Nanti kita damai, lalu mereka menyerang lagi. Jadi, mereka harus dihukum dulu baru kita bicara tentang perdamaian. Ini caranya jika mau damai,” sambung pihak yang satunya lagi.

Simpul kata, kedua komunitas yang berkonflik di Poso dan Ambon itu menghendaki adanya proses hukum dulu sebelum dilakukan upaya perdamaian. Pelik ‘kan? Oh, ternyata tidak bagi JK. Ia segera membalikkan logika itu. Kepada pihak-pihak yang bertikai, JK bertanya, “Bagaimana caranya menegakkan hukum bila polisi tidak berfungsi dengan baik? Bagaimana caranya memproses seseorang secara hukum jika jaksa tidak ada? Bagaimana caranya menghukum seseorang jika hakim tidak berada di tempat?”

Tak ada satu pun diantara mereka yang mampu menjawab pertanyaan singkat JK tersebut. Malah kata JK lagi, “Menegakkan keadilan itu ‘kan ada prosedurnya yang jelas. Tata caranya pun berstruktur. Nah, semua itu ‘kan tidak terpenuhi di daerah konflik. Tanpa itu semua, bukan keadilan yang ditegakkan, tetapi kezaliman baru. Begitu, toh, Hamid? Anda ‘kan sarjana hukum?” tegas JK kepada saya.

Kepada pihak-pihak yang bertikai, JK menegaskan bahwa tidak ada sekarang hakim yang bisa tinggal di Poso maupun Ambon. Mereka pasti harus menjaga keselamatan mereka. Kalau toh ada yang bertahan, pasti sulit berlaku adil sebab ia berada dalam tekanan dan intimidasi. Kantor pengadilan telah dibakar. Kantor polisi telah musnah. Kantor kejaksaan telah rata dengan tanah. Lantas, di mana tempat kita harus memproses hukum?

Karena itu, desak JK, logika mereka harus dibalikkan. Damai dulu baru kita bicarakan penegakkan hukum dan keadilan. Bukan sebaliknya. Justru, perdamaian itu hanya bisa dijaga bila ada penegakkan hukum. Bukan penegakkan hukum yang mendahului perdamaian.

Logika JK ini tak terbantahkan. Proses damai pun berlangsung terus. Semua pihak yang semua menolak melakukan perundingan damai sebelum penegakan hukum, langsung setuju dan bersedia datang ke Malino untuk duduk berunding: DAMAI.

Selesaikan soal mana dahulu, damai lalu penegakan hukum, atau penegakan hukum lalu damai? Kedua komunitas menuntut lagi bahwa harus ada pelucutan senjata dulu sebelum ke Malino. Mereka menghendaki bahwa pemerintah harus melucuti senjata masing-masing pihak sebelum dilakukan perundingan damai. “Bagaimana mungkin kita berunding jika senjata-senjata yang bertebaran di berbagi tempat, tidak disita? Bisa jadi kita sedang berunding, lalu senjata-senjata itu dipakai membunuh atau melukai kita. Tidak arti perundingan,” begitu jalan pikiran kita.

Apa reaksi JK? Enteng sekali baginya. Ia, sekali lagi, membalikkan logika itu. “Senjata M-16 atau basoka, tak ada artinya semua jika yang memegangnya adalah orang yang tidak marah. Tetapi, sepotong bambu kecil bisa amat berbahaya jika yang memegangnya adalah orang sedang marah dan dalam dirinya penuh nafsu dendam,” kata JK.

“Karena itu, soal pelucutan senjata, adalah masalah berikut. Senjata itu hanya alat yang dipakai selama berperang. Kalau perang tak ada, maka tanpa ada pelucutan senjata dari pemerintah, senjata iu dengan sendirinya hilang. Atau tidak ada yang mau memakainya. Buat apa punya senjata kalau tak ada musuh? ‘Kan repot menyimpannya. Lagi pula hukum tidak membenarkan seseorang menyimpan senjata. Benda tajam saja dilarang, apalagi senjata api,” tegas JK. Dan, mereka pun terdiam, lalu berangkat ke Malino untuk berdamai.

Ada lagi masalah sebelum ke Malino. Ada yang menilai gerakan JK terlampau tergesa-gesa dan dipaksakan. “Kami butuh waktu dan persiapan untuk melakukan perundingan damai. Kita butuh waktu beberapa bulan. Bila dipaksakan, perdamaian yang kelak kita setujui itu jadi sia-sia saja,” kata salah satu pihak yang bertikai.

JK menggelengkan kepala. Ia seolah sudah siap menerka argumentasi itu. “Anda keliru total. Justru orang hendak berperang itulah yang butuh persiapan. Perdamaian itu tidak membutuhkan persiapan. Terbalik cara berpikir Anda. Coba! Begitu Anda bertemu seseorang, ‘kan Anda langsung mengatakan Assalamualaikum. Salam damai. ‘Kan tak ada persiapannya, ‘kan? Tetapi kalau Anda diajak berkelahi oleh tetangga, Anda menimbang-nimbang dulu untung ruginya, atau memikirkan kemampuan Anda, apa bisa menang melawannya. Pokoknya, kita harus segera berunding untuk damai. Tak perlu ada persiapan segala macam. Ini ikhtiar sudah lama kita rencanakan. Tidak tergesa-gesa,” tegas JK.

“Hamid, kita tidak boleh membiarkan mereka mengulur-ulur waktu. Nanti masuk angin lagi di tengahnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Ini yang kamu harus pegang,” perintah JK pada saya dan Farid Husein.

Bagi seorang JK, waktu sangat menentukan. Ketegasannya soal waktu ini luar biasa. Hasilnya, kedua belah pihak tunduk pada waktu yang telah direncanakan oleh JK. Poso dan Ambon pun jadi damai lantaran ketegasannya itu.

Kalla Membalikkan Logika.doc

Kalla Membalikkan Logika.ps

Kalla Membalikkan Logika.ppt