Posts belonging to Category Dahlan Iskan



1 Puntung Rokok = Seribu Rupiah

(Jakarta) Menyusul dikeluarkannya Keputusan Direksi PT PLN (Persero) tentang Kawasan Dilarang Merokok di semua lingkungan gedung kantor PLN dan sudah diterapkan sejak awal September lalu, hari ini Kamis (16/9) dilakukan gerakan bebas puntung rokok di seluruh bangunan gedung kantor PLN Pusat. Untuk mendorong gerakan ini, sekaligus membebaskan lingkungan kantor dari sampah puntung rokok, maka apabila masih ditemukan adanya puntung rokok di lingkungan Kantor PLN Pusat dapat ditukarkan dengan uang senilai Rp 1.000. Gerakan ini direspon positif oleh jajaran Direksi PLN, bahkan dana untuk penukaran sampah puntung rokok itu berasal dari sumbangan langsung masing-masing Direksi.

Sejak dibukanya counter penukaran puntung rokok pagi tadi di plaza terbuka kantor PLN Pusat hingga siang hari ini, setidaknya telah terkumpul tidak kurang dari 2.500-an puntung rokok. Bila ditukarkan, setara dengan nilai Rp 2.500.000. Puntung-puntung rokok itu berasal dari sekitar lingkungan kantor, baik yang ada di tong/tempat sampah yang tersebar di beberapa titik yang ada di gedung kantor, maupun yang berasal dari di halaman kantor. Gerakan ini dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan kantor yang bersih dari puntung rokok, terbebas dari asap rokok dan untuk lebih menjamin kenyamanan lingkungan kerja.

Sementara itu, ketentuan kawasan dilarang merokok di semua gedung kantor PLN diberlakukan bagi semua pegawai dan tenaga kerja lainnya yang bekerja di bangunan kantor PLN, maupun bagi tamu-tamu yang berkunjung ke kantor PLN. Selain dimaksudkan untuk menciptakan ruang kerja yang bebas asap rokok, kebijakan Kawasan Dilarang Merokok juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang dengan kualitas udara yang lebih bersih dan sehat, mendorong setiap anggota perusahaan untuk mengembangkan perilaku hidup sehat dan lebih meningkatkan produktivitas kerja pegawai.

Pelanggaran terhadap ketentuan ini, bagi pegawai akan dikenakan sanksi tegas secara berjenjang, mulai dari teguran lisan sampai demosi jabatan. Diharapkan dengan diterapkannya ketentuan kasawan dilarang merokok ini,benar-benar dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat, bersih bebas dari asap rokok.

1 Puntung Rokok.doc

1 Puntung Rokok = Seribu Rupiah.ppt

1 Puntung Rokok.ps

Logika-Logika Koran untuk Mengelola Strom

Prinsip-prinsip manajemen koran rupanya banyak menginspirasi Dahlan Iskan dalam mengelola strom PLN. Benang merahnya sama, yakni “menegakkan akal sehat” dan menemukan “angel atau sudut pandang” paling mendasar.

Keistimewaan Dahlan Iskan selama men-jalani hidup sebagai orang media adalah kemampuan memotret point of interest di setiap peristiwa Dia cerdas menemukan sudut pandang yang jarang dilihat oleh kebanyakan jumalis. Itulah yang membuat Jawa Pos Group yang dipimpinnya “Selalu Ada Yang Baru.” Di situ ada kreativitas, inovasi,misi dan visi bercampur menjadi satu.

Dalam banyak hal, proses pengambilan keputusan penting di PLN pun, Dahlan menerapkan ilmu jurnalisme itu. Melihat yang terpenting dari yang pen-ting-penting. Menemukan yang paling mendesak dari hal-hal yang mendesak.

Memutuskan sesuatu tanpa basa-basi, tanpa kompromi, lugas, faktual, dan masuk akal. Ide-idenya sering dianggap “liar” atau ekstrem, betul-betul beda. Di media, setiap hari memang harus menemukan sesuatu yang “wow”. Seperti ide menggratiskan biaya listrikbagi orang miskin. “Itu serius banget lho. Bukan sensasi,” jelas Dahlan dengan tatapan wajah yang benar-benar serius. Pemerintah, kata dia, sudah membuat perencanaan TDL (Tarif Dasar Listrik) naik rata-rata 10-15 persen Semua dirancang naik. Yang 450 VA naik sedikit, 900 VA naik lebih banyak lagi, semakin besar daya listriknya semakin tinggi kenaikannya.

Soal TDL itu memang bukan urusan PLN. Murni wewenang dan tanggungjawab pemerintah, dalam hal ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Komisi VII DPR RI. Tetapi saat eksekutif meminta persetujuan legislatif di DPR RI, muncul wacana 450 VA dan 900 VA tidak boleh naik.

“Saat itu juga saya sudah berpikir, bahwa nanti bahaya sekali. Pelaksanaannya sulit sekali. Bayangkan, jumlah pelanggan PLN ada 40 juta. Yang dayanya 450 VA dan 900 VA ada 32 juta. Sisanya, 8 juta di atas itu. Logikanya, kalau sudah dipatok TDL naik 10-15 persen, dan 450-900 VA tidak boleh naik, maka beban kenaikan 32 juta pelanggan itu harus dipikul oleh 8 juta pelanggan? Ini sulit diterima nalar!” katanya.

Dahlan menyebut, kenaikan yang 8 juta itu tidak mungkin 10 atau 15 atau 18 persen. Saat disimulasi, angkanya fantastis. Ada yang naik 30 persen, 40 persen, 50persen, 70 persen, sampai 110 persen. Angka kenaikan itu jadi tidak masuk akal. Yang menjadi pertanyaan, mengapa beban 450-900 VA tidak boleh naik? Kala itu, dua fraksi yang memveto-nya. Alasan mereka, demi orang kecil. “Saya curiga, alasan itu terlalu dicari-cari. Perasaan saya itu hanya tameng. Karena kenaikan 10 persen bagi yang 450 VA itu, hanya sekitar Rp* 3.000, dari 30 ribu tagihan rekening listrik selama ini? Angka yang tidak signifikan, tetapi karena jumlahnya sekitar 12 jutaan, nilainya jadi material juga kan?” ujarnya.

Kenyataan seperti itu yang sering membuat Dahlan sering menertawakan diri sendiri. Akal sehat dikorbankan untuk alasan populis, terkesan dibuat-buat dengan tameng “membela rakyat kecil”. Karenaitu, dia mengusulkan agar digratiskan saja sekalian? Terutama yang 450 VA, yang sekitar 12 juta pelanggan itu. PLN akan kehilangan sekitar Rp 1,5 T, tetapi yang lain-lain naik.

“Tapi, mungkin ide saya itu terlambat, atau dianggap main-main. Padahal, saya serius banget! Yang miskin ini saya definisikan rata-rata memiliki 5 bolam, yakni di teras, dapur, ruang tamu, dan kamar. Lalu harus punya televisi, rice cooker, dan VCD. Ya, biar bisamenyetel video Luna Maya,” kelakarnya.

Belum lagi, kata Dahlan, tarif khusus seperti dayamaks dan multiguna harus dihapus. Per tahun nilainya Rp 12T. “Artinya, yang 8 juta pelanggan itu kenaikannya bertambah berat lagi. Karena itu, saya coba simulasi berapa yang naik 50 persen, di Jatim-Jateng tidak masalah. Di Jabar, ada 5 pabrik, tetapi saya sudah menemukan solusinya. Yang di atas 40 persen, mulai banyak. Yang di atas 30 persen, wah tidak terhitung lagi. Tiga hari tiga malam tim PLN dan ESDM membahasnya, tapi tidak ketemu harga,” ungkapnya.

“Lalu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengumumkan kepada publik bahwa TDL, naik 10-18%. “Itu adalah keputusan politik. Keputusan pemegang regulator. Tidak ada hitung-hitungannya,” ceplosnya Akhirnya ada juga yang turun, akibat penghapusan Dayamaks dan Multiguna. Namun, turunnya tidak boleh lebih dari 18 persen juga. “Jadi kalau disebut TDL naik, tidak tepat juga! Wong malah ada yang turun?” kata dia.

Soal variasi harga untuk dayamaks dan multiguna itu ada historisnya. Yang multiguna, itu muncul karena beberapa waktu lalu PLN benar-benar sudah tidak punyastrom lagi. Tetapi banyak pabrik, mal dan hotel baru yang membutuhkan listrik. Karena itu, mereka dikenakan tarif plus plus plus. Tidak ada cara lain kecuali menambah kapasitas produksi dan harus investasi yang supermahal. Mereka setuju, daripada investasi ratusan miliar untuk membangun infrastrukturnya mangkrak? Itulah yang membuat harga per KWH berbeda antara mal-hotel dan pabrik lama dan baru.

Sedang dayamaks itu berkaitan dengan penggunaan energi listrik pada jam-jam beban puncak, (baca edisi sambungan ini besok, red). Dahlan berkali-kali geram karena sering mendapat pertanyaan-pertanyaan konyol. Misalnya, awal Juh 2010 ini harga cabe sampai Rp 50 ribu per kilogram. Inflasi naik. Lantas orang menuding, itu gara-gara TDL, yang awal Juli ini mulai naik?

“Ini ngawurnya bukan main! Saya nggak percaya itu! Saya dulu menanam cabe! Kalau hujan begini petani cabe, tembakau, pasti paceklik. Kalau TDL diturunkan pun, tidak akan mempengaruhi harga. Dinaikkan juga tidak membuat harganya lebih pedas! Emang nanam cabe pakai listrik? Apa hubungannya? Ini soal supply dan demand biasa,” katanya.

Logika-Logika Koran untuk Mengelola Strom.doc

Logika-Logika Koran untuk Mengelola Strom.ps

Logika-Logika Koran untuk Mengelola Strom.ppt