Posts belonging to Category Sains



Vernal Equinox

Bumi kita bergerak mengelilingi matahari, sehingga menimbulkan kesan semu bahwa matahari–dari sudut pandang kita di Bumi–bergerak mengelilingi. Gerak semu ini ditandai dengan perubahan posisi matahari setiap hari.

Benda langit selalu berubah posisinya, terbit di timur dan tenggelam di barat. Ini adalah gerak yang diakibatkan oleh rotasi Bumi–perputaran Bumi pada porosnya–sehingga harus dibedakan dengan gerak Bumi mengelilingi matahari.

Bintang-bintang letaknya sangat jauh sehingga praktis posisinya tidak banyak berubah seiring dengan bergeraknya Bumi mengelilingi matahari, oleh karena itu justru posisi mereka bisa kita jadikan patokan. Indikasi revolusi Bumi–perputaran Bumi mengelilingi matahari–ada pada matahari dan planet-planet di sekitar Bumi. Posisi matahari setiap hari berubah-ubah relatif terhadap bintang-bintang di belakangnya. Bulan ini matahari bisa berada di rasi A, bulan depan di rasi B. Namun demikian, gerakan ini selalu teratur.

Bila dilacak, gerakannya sepanjang tahun akan mengikuti garis yang kita namakan garis ekliptika. Garis ekliptika ini berpotongan dengan garis ekuator langit, yaitu garis yang memotong bola langit menjadi dua bagian–belahan utara dan belahan selatan.

Perpotongan dua garis ini–ekliptika dan ekuator langit–disebut titik equinox. Saat matahari berada di titik ini, maka lamanya siang dan malam akan sama yaitu masing-masing 12 jam. Titik yang dilewati matahari dalam perjalanannya dari selatan ke utara langit, terjadi pada bulan Maret, dinamakan Titik Vernal Equinox. Titik yang dilewati matahari dalam perjalanannya dari utara ke selatan langit, terjadi pada bulan September, dinamakan Titik Autumnal Equinox. Vernal Equinox terjadi sekitar tanggal 21-23 Maret setiap tahunnya, tidak pernah sama karena Bumi sendiri membutuhkan waktu 365.25 hari untuk mengitari matahari.

Titik vernal equinox disebut juga Titik Aries, dan merupakan titik acuan bagi koordinat langit. Seluruh koordinat bintang, dalam sistem ekuatorial, dihitung dari titik ini.

Pada tahun ini, 2008, matahari melewati Titik Vernal Equinox hari Kamis, tanggal 20 Maret. Bagi kawan-kawan yang berada di garis ekuator, misalnya di Pontianak (sudah waktunya kita mendaftar kota-kota di Indonesia yang berada di khatulistiwa), pada pukul 12.48 siang waktu setempat, matahari akan berada persis di atas kepala dan sinar matahari jatuh tegak lurus terhadap tanah. Jadi bayangan yang dihasilkan akan kecil sekali.

Vernal Equinox.ps

Vernal Equinox.ppt

Vernal Equinox.doc

 

 

 

 

 

 

 

LEO, Sang Singa Raja Langit

Konon, tugas pertama dari dua belas tugas yang diberikan oleh Dewi Hera pada Herkules adalah membunuh singa raksasa Nemea yang sangat terkenal akan kebuasannya. Begitu perkasanya Singa Nemea itu, hingga panah Hercules pun mental, tak menggoresnya sedikit pun. Pedangnya terbelah menjadi dua dan senjata kayunya hancur berkeping-keping.

Konon, Singa Nemea memiliki kulit yang tak dapat ditembus oleh besi, perunggu, dan kayu. Karena tak ada satu senjata pun yang dapat membantu Herkules membunuh singa buas tersebut, maka Herkules pun hanya dapat mengandalkan kedua tangannya. Mereka bergulat dengan sengit sampai akhirnya Hercules mencekik Singa Nemea itu sampai mati.

Herkules berhasil memenangkan pertarungan sengit itu dan menyelesaikan tugasnya. Kemudian, ia menguliti singa yang telah tak bernyawa itu dengan cakar sang singa sendiri, lalu mengenakan kulit sakti itu pada tubuhnya sebagai jubah sehingga ia terjaga dari bahaya. Hera sangat marah mendengar kemenangan Herkules. Ia mengirim jiwa Singa Nemea itu jauh ke atas langit untuk mengenang pertarungan hebat itu dan hingga saat ini dapat dilihat sebagai Rasi Leo yang indah, tidak lagi mematikan.

Begitulah Rasi Leo seperti dikisahkan dalam mitologi Yunani. Agaknya, sejak zaman dahulu, jauh sebelum mitologi Yunani itu berkembang, singa telah menjadi lambang kekuatan dan kekuasaan bagi banyak peradaban manusia. Orang-orang Mesir kuno menyembah Dewa Singa, dewa yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa dunia diciptakan ketika matahari terbit di Rasi Leo, dekat Bintang Denebola.

Orang-orang Sumeria sejak dahulu juga telah melihat bentuk singa pada rasi ini. Orang-orang Persia menyebut rasi ini sebagai Ser. Orang-orang Turki menamainya Artan. Orang-orang Syria menyebutnya Aryo. Orang-orang Yahudi menyebut rasi ini Arye dan orang-orang Babylonia menyebutnya Aru. Beragam sebutan tetapi maknanya tetap satu, yaitu singa.

Astronomis

Rasi Leo adalah salah satu dari sekian banyak rasi bintang yang terlihat hampir sesuai dengan namanya, yaitu singa. Oleh karena itu, Rasi Leo ini termasuk rasi yang mudah dikenali. Terletak pada asensiorekta 11h dan deklinasi 150, Rasi Leo berbatasan dengan Rasi Ursa Mayor, Leo Minor, Cancer, Hydra, Sextans, Crater, Virgo, dan Coma Berenices. Rasi Leo tampak jelas dilihat pada bulan April di langit belahan bumi utara.

Untuk menemukan Rasi Leo di langit, akan lebih mudah menemukan bentuk tanda tanya terbalik pada rasi itu terlebih dahulu. Rasi Ursa Mayor yang terdapat di sebelah utara Rasi Leo dapat juga dijadikan acuan untuk menemukan Rasi Leo. Seperti yang kita ketahui, pada Rasi Ursa Major terdapat bentuk gayung di dalamnya atau biasa disebut bintang tujuh. Ikuti saja bentuk gayung tersebut mulai dari pegangannya ke bagian bawah gayung. Kita akan sampai ke satu bintang terang, Regulus. Bintang ini kemudian akan menuntun kita ke bentuk tanda tanya terbalik yang ada di sebelah atasnya, yang selanjutnya akan menuntun kita melihat keseluruhan bentuk singa pada Rasi Leo.

Regulus, bintang terang yang telah disebutkan tadi tak lain adalah bintang yang paling terang ( ? Leo) di Rasi Leo. Memiliki magnitudo (skala kecerlangan bintang) 1.4, diameter dan massanya tiga kali lebih besar dari matahari. Temperatur permukaannya sekitar 12.500 K, bandingkan dengan matahari kita yang “hanya” 6.000 K. Tidak heran jika Regulus, yang jaraknya sekitar 78 tahun cahaya dari bumi ini, dapat bersinar 160 kali lebih terang daripada matahari kita.

Nama Regulus, yang artinya bintang kecil, diberikan tak lain oleh astronom terkenal Polandia, Nicholaus Copernicus. Dalam peradaban Sumeria kuno, Regulus berarti bintangnya Raja. Regulus termasuk salah satu bintang yang mudah kita kenali di langit malam.

Jika diamati dengan cermat melalui teleskop, Regulus sebenarnya bukan bintang tunggal. Ia merupakan bintang majemuk yang terdiri dari tiga bintang. Dalam astronomi, bintang majemuk (multiple stars) adalah suatu sistem yang dibentuk oleh lebih dari satu komponen bintang yang terikat satu sama lain akibat gaya tarik gravitasi antar bintang-bintang itu dan semua mengorbit mengitari titik pusat massanya. Contohnya adalah bintang ganda yang dibentuk oleh dua komponen bintang.

Bintang Denebola adalah bintang kedua paling terang ( ? Leo) pada Rasi Leo. Nama Denebola berasal dari Bahasa Arab “Al-Dhanab-Al-Asad”, artinya ekor singa, yang memang sesuai dengan letaknya.

Selain Regulus dan Denebola, bintang-bintang yang lebih redup pada Rasi Leo pun telah mempunyai nama. Sesuai dengan urutan kecerlangannya, mereka adalah Algieba (?1Leo), Zosma ( ? Leo), Ras Elased Australis ( ? Leo), Adhafera ( ? Leo), ? Leonis, Chort ( ? Leo), Al Minliar Al Asad ( ? Leo), Alterf ( ? Leo), Ras Elased Borealis ( ? Leo), dan Subra ( ? Leo). Regulus, ? Leonis, dan Algieba, bersama dengan bintang lain yang lebih redup yaitu Adhafera ( ? Leo), Ras Elased Borealis ( ? Leo), dan Ras Elased Australis ( ? Leo), membentuk tanda tanya terbalik, menandai kepala singa dan rambutnya.

Selain bintang-bintang yang telah disebutkan di atas, dapat juga kita amati galaksi-galaksi yang amat jauh pada rasi Leo ini. Yang terkenal di antaranya adalah galaksi-galaksi spiral M65, M66, M95, M96, dan galaksi elips, M105. Tentu saja, untuk dapat melihat galaksi-galaksi ini, kita harus melihatnya melalui teleskop, mulai dari teleskop sedang, karena terlalu lemah untuk dilihat melalui binokular. Bintang Wolf 359, bintang yang termasuk dekat dengan tata surya kita (7.7 tahun cahaya) juga dapat dilihat di rasi ini.

Pada suatu saat di bulan November, kita akan menyaksikan banyak sekali meteor – yang dikenal juga dengan sebutan bintang jatuh – di langit dan jauh lebih terang dari meteor biasa datang dari arah Rasi Leo. Inilah yang disebut Leonid Meteor Shower. Dinamakan demikian karena meteor-meteor tersebut seolah-olah berasal atau dipancarkan dari suatu titik pada Rasi Leo. Ini sebetulnya hanya perspektif kita yang memandang dari bumi, seperti halnya jalan yang tampak menyatu di kejauhan.

Pada mulanya, orang-orang zaman dahulu sangat terkejut akan peristiwa hujan meteor ini. Mereka sangat takut karena mereka pikir kiamat telah datang. Tetapi tidak begitu dengan para ilmuwan astronomi zaman dahulu. Mereka tertarik dan amat penasaran dengan peristiwa hujan meteor. Leonid meteor shower ini adalah hujan meteor yang pertama kali menarik orang-orang untuk mempelajarinya.

Kebanyakan hujan meteor diproduksi oleh komet. Dalam hal Leonid meteor shower, komet asalnya yang dinamakan Tempel-Tuttle tampak di langit sekitar 33 tahun sekali. Leonid meteor shower biasanya terjadi pada 14-21 November. Rentang waktu Leonid meteor shower berlangsung lebih cepat daripada hujan meteor lainnya.

LEO, Sang Singa Raja Langit.ps

LEO, Sang Singa Raja Langit.ppt

LEO, Sang Singa Raja Langit.doc