Posts belonging to Category Laboratorium



Deteksi Limbah Nuklir lebih Efektif

David Hamby dan dan Abi Farsoni, asisten professor dari College of Engineering Oregon State University (OSU) berhasil mengembangkan alat baru berupa detektor untuk mendeteksi limbah nuklir dengan cepat, akurat, dan murah.

Alat yang berhasil dibuat Hamby dan Farsoni merupakan tipe baru spektrometer radiasi, jenis alat yang digunakan untuk mengukur keberadaan senyawa radioaktif. Alat tersebut telah mendapatkan hak paten dan siap dipasarkan dalam waktu dekat.

“Tidak seperti detektor lainnya, spektrometer ini lebih efisien sebab bisa mengukur jumlah radiasi sinar beta dan gamma dalam waktu bersamaan,” kata Hamby mengungkapkan kelebihan dari alat buatannya. Hamby menambahkan, “Sistem ini bisa mendapatkan hasil yang akurat hanya dalam 15 menit. Sebelumnya, waktu yang dibutuhkan adalah setengah hari. Jadi hemat langkah, waktu, dan uang.”

Spektrometer yang dikembangkan selama 10 tahun ini bisa mendeteksi tipe dan jumlah limbah nuklir yang terdapat pada sampel tanah. Misalnya, Cesium 137 dan Strontium 90 yang dihasilkan dari reaktor.

Hamby menjelaskan bahwa pembersihan sampah nuklir sebenarnya bisa dilakukan. Namun prosesnya memakan biaya besar dan kemampuan membersihkannya masih menjadi pertanyaan. Menurutnya, pengembangan alat ini bisa menyelesaikan masalah itu. Alat buatannya bisa digunakan secara berkala dan akurat sehingga bisa digunakan untuk memantau kondisi lingkungan dengan biaya yang minim.

Hamby memaparkan, alatnya bisa dipakai di beberapa instansi yang terkait dengan isu limbah nuklir. Beberapa yang disasar Hamby adalah industri energi nuklir dan rumah sakit yang menggunakan bahan radioaktif.

Sejauh ini, College of Engineering OSU telah membuat kontrak dengan Ludlum Instruments di Texas untuk mengembangkan produk. OSU Office of Technology Transfer juga tengah berusaha mendapatkan lisensi untuk mengembangkan produk.

Deteksi Limbah Nuklir lebih Efektif.ppt

Deteksi Limbah Nuklir lebih Efektif.ps

Deteksi Limbah Nuklir lebih Efektif.doc

Diciptakan, Padi Lokal Berumur Pendek

Kabupaten Barito Kuala di Kalimantan Selatan sudah enam tahun ini bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor menyilangkan padi lokal dan padi unggul. Hasilnya sudah ada empat galur silangan yang diajukan ke Kementerian Pertanian.

”Dari empat galur yang diajukan, satu galur di antaranya telah diakui Kementerian Pertanian pada Desember 2010 dan diberi nama IPB2 Batola,” kata Bupati Barito Kuala Hasanuddin Murad di Marabahan, Selasa (4/1/2011).

Kini, IPB2 Batola tengah diuji coba di daerah Dandan Jaya, Kecamatan Rantau Berau, bersama beberapa galur lainnya di lahan seluas 8 hektar. Rencananya, musim tanam Oktober nanti benih padi hasil uji coba itu akan disebar ke masyarakat.

Hasil silangan baru ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain umur tanaman hanya sekitar empat bulan. ”Padahal, umur tanaman padi lokal sebelumnya delapan bulan,” kata Murad.

Berhasil diperpendeknya umur padi ini, lanjut Murad, diharapkan penghasilan petani bisa meningkat karena dalam setahun berarti petani minimal bisa menanam padi dua kali.

Selain umur tanaman lebih pendek, produktivitas padi ini pun lebih tinggi, yakni sekitar 5 ton gabah kering panen per hektar, padahal sebelumnya hanya 3,4 ton gabah kering panen per hektar.

Meski umur tanaman dan produktivitas lebih baik, rasanya tetap seperti padi lokal, yakni pera. Rasa ini lebih disukai masyarakat Banjar yang merupakan penduduk asli Kalimantan Selatan.

”Karena itu, harga beras pera lebih mahal dibanding beras medium asal Jawa,” kata Murad.

Ratusan galur

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Barito Kuala Zulkifli mengatakan, awalnya ada ratusan galur yang disilangkan, antara lain dari jenis lokal siam unus dan fatmawati dari jenis padi unggul. Dari proses persilangan itu, kemudian ada delapan galur terbaik yang dipilih. Dari delapan galur itu kemudian ada empat galur yang diajukan ke Kementerian Pertanian dengan mempertimbangkan sisi pertumbuhan, produktivitas, dan ketahanan terhadap serangan penyakit.

”Setelah ada yang diakui Menteri Pertanian, kami mendahului dengan uji coba lapangan untuk diperbanyak. Saat ini sudah tanaman padi yang berumur satu bulan dan siap dibagikan saat musim panen Oktober nanti,” kata Zulkifli.

Dengan penemuan baru ini, diharapkan produktivitas padi di Kalsel, terutama Barito Kuala, bisa meningkat. Barito Kuala merupakan sentra pertanian padi di Kalsel dengan kontribusi sekitar 17 persen, yakni produksi berasnya 351.761 ton pada 2010 dan 323.353 ton pada 2009.

Diciptakan, Padi Lokal Berumur Pendek.ppt

Diciptakan, Padi Lokal Berumur Pendek.ps

Diciptakan, Padi Lokal Berumur Pendek.doc