Unsur Air
Sebagai manusia biasa, Bung Hatta tentu mempunyai perasaan bangga pula atas prestasi yang pernah dicapai dalam karier maupun hidupnya. Mengenai hal ini saya tanyakan, selama hidupnya terutama sewaktu menjabat dalam Pimpinan Pemerintahan, apa yang dirasakan bahagia dan bangga?
“Tentang tugas yang saya jalankan selama saya menjabat dulu yang memberikan bahagia bagi saya ialah masa ikut memproklamasikan Indonesia Merdeka dan ikut melaksanakan KMB.”
Selain itu saya tanyakan, apakah cita-cita beliau telah tercapai dengan adanya Indonesia merdeka sekarang, dan bagaimana dengan politik luar negeri kita yang dahulu telah diberi garis-garis pedomannya oleh beliau dengan dasar politik yang bebas dan aktif? Jawab Bung Hatta demikian:
“Sebab cita-cita saya tinggi terhadap Indonesia yang adil dan makmur, apa yang tercapai sekarang ini masih jauh dari yang saya cita-citakan. Mengenai dasar politik luar negeri yang bebas dan aktif, Saudara sendiri yang memperhatikan sejarah tentu insyaf tentang penyelewengan negara kita dari dasar politik tersebut. Waktu sekarang politik negara itu setelah melepaskan politik Nasakom sudah menuju jalan lurus, tetapi belum terlaksana sepenuhnya.”
Bung Hatta dikenal sebagai seorang yang tekun dan taat, tidak saja kepada agama, melainkan juga terhadap segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sekalipun kadang-kadang beliau pribadi tidak setuju terhadap sesuatu, misalnya mengenai soal ejaan baru, namun apabila hal itu sudah diputuskan Pemerintah, Bung Hatta tunduk dan menjalankan keputusan tersebut.
Di sini tergambar jiwa Bung Hatta sebagai seorang demokrat yang sejati. Dan setiap tugas yang dibebankan di atas pundak beliau akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Tugas adalah tugas. Setiap tugas yang dipercayakan kepada beliau tanpa ragu-ragu akan dilaksanakan dengan baik. Apabila tugas itu berhasil, beliau merasa senang, namun tidak sedikitpun beliau beranggapan bahwa itu adalah jasa beliau. Apalagi menuntut sesuatu tanda balas jasa, tiada terdapat dalam kamus kehidupan Bung Hatta.
Sehubungan dengan tugas dari Pemerintah yang telah menetapkan Bung Hatta sebagai Ketua Panitia Lima untuk merumuskan kembali tentang Pancasila, atas pertanyaan saya, Bung Hatta berpendapat sebagai berikut:
“Betapa rakyat menerima hasil kerja Panitia Lima itu banyak terlihat kepada pemimpin-pemimpin rakyat yang menghadapinya. Hasil Panitia Lima itu akan diserahkan kepada Presiden. Terserah kepada Presiden bagaimana menganjurkannya kepada rakyat. Berhasil atau tidaknya Panitia itu banyak tergantung kepada pembesar-pembesar negara, cara mereka melaksanakannya.”
Demikianlah sedikit cuplikan dan catatan tentang apa dan bagaimana pribadi Bung Hatta melalui ucapan serta pernyataan beliau tertulis. Dari rekaman-rekaman ini telah dapat saya gambarkan, betapa pribadi Bung Hatta sebagai manusia, yang kebetulan karena sejarah bangsanya telah menempatkannya di atas panggung sejarah sebagai seorang Tokoh Nasional yang besar.
Beliau tidak saja seorang pemimpin yang berjasa melainkan juga sebagai salah seorang yang ikut membuat sejarah bangsanya. Dari bangsa yang terpecah belah dan hidup berkeping sebagai bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, dan dihormati oleh bangsa-bangsa di dunia.
Sebagai manusia biasa, tentu Bung Hatta tiada sempurna. Di samping memiliki kelebihan tentu mempunyai kekurangan, selain mempunyai kekuatan, pasti memiliki kelemahan. Namun betapapun juga, Bung Hatta adalah manusia besar Indonesia. Beliau adalah milik seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tidak setiap orang dapat mencintai Bung Hatta, apabila kita belum mengenal beliau dari dekat, belum mengenal cita-citanya, belum mengenal pribadinya. Memang Bung Hatta, sebagaimana digambarkan oleh mendiang Ki Hadjar Dewantoro, adalah bagaikan manusia yang memiliki unsur air, sedangkan Bung Karno manusia yang mempunyai unsur api. Selalu bekobar-kobar dan menyala-nyala. Itulah ciri dari Bung Karno.
Sebaliknya Bung Hatta sebagai manusia yang memiliki unsur air, pembawaannya dingin, adem, dan tenang selalu. Tidak banyak bicara, ngomong seperlunya. Hukum ekonomi berlaku atas dirinya, tidak saja hemat dalam soal penggunaan uang, melainkan juga hemat dalam soal waktu dan bicara. Bagi Bung Hatta, waktu adalah sangat berharga.
Apabila kita dapat berbicara dengan Bung Hatta cukup lima menit, jangan harap kita dapat mengulur waktu sampai sepuluh menit. Begitu ketatnya masalah waktu, sehingga tampak beliau seringkali “kaku” dalam pembicaraan. Sang tamu kadang-kadang dibuatnya untuk harus pandai memancing beliau dengan berbagai masalah dan bahan pembicaraan. Manakala sang tamu orangnya pendiam, pasti pertemuan akan berjalan tidak lancar serta tiada membuahkan hasil. Saya baru kali ini mengenal seorang yang berasal dari Minang, tetapi tidak suka banyak bicara. Pidatonya pun tidak menarik untuk didengar, karena kata-katanya datar dan bernada monolog, tiada disertai variasi atau kembang-kembang yang menghiasi orasinya.
Kadang-kadang timbul kesan, apakah tidak salah, Bung Karno yang pandai pidato dan berbicara lancar itu adalah berasal dari Jawa, sedangkan Bung Hatta yang tidak begitu lancar berpidato dan tidak suka banyak ngomong itu adalah berasal dari Minang? Akhirnya soal itu bukan masalah daerah dari mana mereka berasal, melainkan soal pribadi dari kedua tokoh manusia Indonesia ini, yang mempunyai tipe serta sifat maupun watak yang berbeda.
Solichin Salam, Pribadi Manusia Hatta, Seri 10, Yayasan Hatta, Juli 2002
September 19, 2011
|
Posted by boenga
Categories:
Recent Comments