Lima Tersehat untuk Kulit

Tubuh kita, termasuk kulit, membutuhkan makanan sehat, seperti lemak sehat, protein yang tepat, buah-buahan, dan sayuran. Inilah lima jenis makanan yang paling sehat untuk kulit Anda.
1. Almon. Konsumsi segenggam almon sehari dapat meningkatkan kadar vitamin E, antioksidan terpenting untuk kesehatan kulit, juga melembabkan kulit kering. Selain itu juga melindungi kulit dari penuaan, peradangan, bahkan kanker kulit.
2. Teh hijau. Tiga cangkir teh hijau sehari dapat menyumbang cukup antioksidan bagi tubuh Anda, sehingga mampu melawan penuaan dini serta peradangan. Risiko kanker kulit juga akan jauh berkurang.
3. Brokoli. Kaya akan vitamin A, C, dan K. Vitamin A dapat mengurangi produksi minyak, vitamin C merupakan antioksidan kuat, dan vitamin K dapat mencegah timbulnya lebam di kulit. Jadi, makanlah wonderfood ini.
4. Ikan. Contohnya salmon dan cod kaya akan asam lemak omega-3. Ini penting diasup karena tubuh kita tidak bisa memproduksinya. Asam lemak ini akan memelihara kulit, melembabkan dan mencegah iritasi, bahkan dapat memperbaiki kulit dari penyakit kronis seperti dermatitis atopik dan rosacea. Ikan-ikan tersebut juga mengandung vitamin D yang baik untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Bagi yang tak suka ikan bisa menggantinya dengan flaxseed, hazelnuts, kacang kenari.
5. Minyak bunga matahari. Berisi asam lemak omega-6 seperti asam linoleat yang penting untuk mencegah kulit kering dan meradang. Juga vital bagi pembentukan prostaglandin, hormon yang menjaga sel-sel tubuh berfungsi secara baik. Untuk mendapatkan kulit sehat, coba konsumsi salmon plus brokoli, lalu siram dengan sedikit minyak bunga matahari. Hmmm!

Lima Tersehat untuk Kulit

Lima Tersehat untuk Kulit

Lima Tersehat untuk Kulit

Teh Hijau Lindungi Otak dari Kekurangan Oksigen

ANDA para penggemar teh hijau selayaknya bersyukur karena senyawa-senyawa yang ditemukan dalam teh hijau mungkin melindungi otak dari efek-efek gangguan tidur yang menyebabkan terjadinya ngorok dan henti napas.

Komponen atau zat aktif yag ditemukan di dalam teh hijau disinyalir dapat menangkal kerusakan saraf akibat gangguan napas yang terjadi pada mereka yang mengalami gangguan tidur (disorder sleep apnea). Demikian sebuah penelitian atas hewan.

Para ilmuwan menemukan bahwa saat mereka menambahkan antioksidan yang terkandung dalam teh hijau pada minuman yang diberikan ke tikus percobaan tampak kandungan zat kimia ini melindungi otak binatang-binatang ini saat kekurangan oksigen yang didesain mirip dengan gejala yang terjadi akibat efek obstructive sleep apnea (OSA) atau gangguan tidur.

Temuan ini mengisyaratkan bahwa komponen dalam teh hijau selayaknya diperhitungkan untuk diteliti lebih lanjut karena berpotensi sebagai terapi untuk gangguan tidur ini (OSA), demikian dilaporkan para ilmuwan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine.

OSA merupakan gangguan sementara yang terjadi di jaringan lunak tenggorokan. Gangguan ini menyebabkan terhalangnya jalur pernapasan selama tidur. Akibatnya, terjadilah henti napas sebentar selama beberapa kali sepanjang tidur malam.

Gejala yang segera tampak biasanya suara ngorok yang keras yang berlangsung kronis dan napas terengah-engah dan terjadi tak hanya saat tidur malam, tetapi juga saat tidur siang. Bila tak tertangani dengan baik, OSA dapat menyebabkan gangguan di seluruh tubuh, seperti meningkatnya tekanan darah. Lebih dari itu, kurangnya pasokan oksigen ke otak dapat memunculkan gangguan memori. Demikian diungkapkan Dr David Gozal dan koleganya di University of Louisville School of Medicine di Kentucky.

Namun, ternyata, menurut David, komponen dalam teh hijau yang disebut catechin polyphenols ternyata dapat melindungi otak dari kekurangan oksigen. Catechin polyphenols bertindak sebagai antioksidan. Artinya, unsur ini membantu menetralisasi partikel-partikel sel yang rusak akibat radikal bebas. Radikal bebas hasil sampingan metabolisme yang bila berlebihan menyebabkan stres oksidatif.

Kekurangan oksigen juga menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang mengakibatkan gangguan kognitif pada mereka yang mengalami gangguan tidur.

Gozal dan koleganya menemukan bahwa saat tikus-tikus itu mengalami krisis karena kurang oksigen selama lebih dari 14 hari pertanda bahwa stres oksidatif sedang terjadi di otak, otak terlindungi dan tidak mengalami penurunan fungsi secara berarti akibat air teh hijau yang mengandung polyphenols yang diberikan. Sementara tikus yang tidak diberi teh hijau kondisinya kebalikannya.

Secara teoretis, Gozal mengungkapkan bahwa asupan teh hijau secara teratur merupakan perawatan standar yang dapat digunakan untuk menangani OSA. “Meski begitu,” katanya, “bukti jelas bahwa teh hijau dapat menolong gangguan OSA mesti diujikan lebih lanjut dengan mencobakannya pada manusia.”