Catatan Perjalanan

Saat-saat yang sangat berkesan padaku adalah pada tahun 1964, ketika aku untuk pertama kalinya pulang melihat Tanah Minangkabau, karena aku lahir dan dibesarkan di Jakarta. Kebetulan sekali saat itu Oom Hatta, kakak dari ibuku, bersama Pak Wangsa Widjaja, sekretaris beliau, juga berkunjung ke Ranah Minang, karena ada beberapa undangan. Aku beruntung dapat ikut berkeliling Sumatra Barat. Mula-mula ke Lubuk Sikaping menjemput oom yang datang lewat darat dari Medan. Pada hari-hari berikutnya aku ikut beliau ke Sawah Lunto, Singkarak dan juga ke Batuhampar.

Aku betul-betul salut akan kekuatan fisik pamanku yang ketika turun di Lubuk Sikaping kehujanan, sempat basah bajunya, kemudian meneruskan perjalanan ke Bukittinggi tanpa berganti pakaian dan sudah segar lagi keesokan harinya. Siap untuk bepergian lagi.

Selama ikut berkeliling itu, pada suatu kesempatan Oom Hatta menasihatkan agar aku membiasakan menulis apabila pulang dari suatu perjalanan. Tidak usah dengan bahasa yang indah-indah, kata beliau, cukup dengan bahasa sehari-hari seperti kita bercerita kepada seseorang. Sering aku teringat akan pesan yang baik itu, tetapi sampai saat ini belum juga aku coba.

Marhamah Djambek, Pribadi Manusia Hatta, Seri 3, Yayasan Hatta, Juli 2002

Catatan Perjalanan.ps

Catatan Perjalanan.ppt

Catatan Perjalanan.doc

Buku yang Didahulukan Pindah

Pada tanggal 1 Desember 1956 rakyat Indonesia dikejutkan oleh keputusan Pak Hatta untuk meletakkan jabatan sebagai wakil presiden. Selama tiga bulan sejak itu, Bapak dan keluarga berangsur-angsur mulai pindah ke Jalan Diponegoro, yang pada waktu itu baru saja selesai diperbaiki.

Ketika memindahkan barang-barang ke rumah Diponegoro, yang mula-mula diangkut Bapak bukanlah barang perabotan rumah tangga, melainkan buku-bukunya. Dari Jalan Medan Merdeka Selatan 13, buku-buku itu diikat jadi satu dalam tumpukan-tumpukan yang sesuai urutan semula dan sebagian diantaranya dimasukkan ke dalam peti-peti aluminium yang masih tersimpan sejak KMB dulu.

Dalam menyusun buku-buku itu sayalah yang membantu Bapak, bersama Ibu Rahmi. Kami bertiga biasanya bekerja mulai pagi sampai jam 13.00 siang menaruh buku-buku di rak-rak perpustakaan di Jalan Diponegoro, lalu saya pulang ke rumah dan Bapak serta Ibu pulang ke Jalan Medan Merdeka Selatan. Waktu itu uang makan saya Rp 25,00 besarnya setiap hari.

Bapak tahu betul urutan buku yang seharusnya, yaitu mengikuti urutan seperti di Jalan Medan Merdeka Selatan. Hanya kalau aku membuka ikatan buku baru, Bapak menanyakan kepada saya, mana tumpukan berikutnya untuk disusun dalam rak. Saya lalu mengambilkannya dari peti, sesuai dengan urutan ikatan buku-buku yang berikutnya. Setelah tiga kali diperbaiki susunannya, maka buku-buku kembali menjadi teratur menurut urutannya seperti waktu yang ada di rumah wakil presiden, di Jalan Medan Merdeka Selatan 13.

Bapak selalu memegang teguh aturan yang lama, sehingga pekerjaan penyusunan dan perawatan buku di rumah baru tidak membingungkan, karena sesuai dengan pola yang lama.

Setelah itu, di Jalan Diponegoro, diantara pembantu Bapak selalu ada seorang anak laki-laki yang tugasnya khusus mengelap buku satu per satu. Kalau dia mulai dari rak yang paling kiri pada hari Senin, maka pada hari Senin berikutnya dia akan sampai lagi pada buku pertama di rak paling kiri tersebut.

Selain mengatur buku-buku menurut urutan yang ditentukan Bapak, beliau juga menugaskan saya untuk memperhatikan agar jangan sampai ada buku yang ditaruh terbalik. Bapak marah sekali kalau itu terjadi, katanya, “Talib, mana ada orang yang berjalan dengan kepala di bawah?”.

Disamping itu, setiap kali Bapak mengambil sebuah buku dari perpustakaan, saya perhatikan bahwa beliau meniup dahulu, seolah-olah ada debunya, baru diletakkan di papan rak untuk dibaca atau dibawa ke meja tulis. Begitulah yang dilakukan beliau, apalagi kalau membaca buku-buku lama yang sudah tidak diterbitkan lagi, Bapak sangat berhati-hati supaya bukunya tidak sobek. Beliau juga memerintahkan untuk setiap kali membeli kamper dan setiap enam bulan sekali, dilakukan fumigasi. Disamping itu AC pertama yang Bapak beli bukan dipasang di kamar tidur beliau melainkan di ruangan perpustakaannya.

Tugas saya yang rutin sejak muda dahulu adalah membantu urusan administrasi surat-menyurat, sehingga berkat latihan beberapa tahun, saya hafal alamat-alamat para para pejabat penting Pemerintah. Bapak selalu memperhatikan kerapian surat-menyurat. Tidak boleh ada kesalahan dalam pengetikan isi surat atau pada amplop. Hal ini sangat menjadi perhatian Bapak waktu beliau belum begitu lanjut usia. Untung Bapak Hutabarat adalah seorang sekretaris yang sangat baik dalam soal mengetik, boleh dikatakan jarang sekali beliau membuat kesalahan ketik.

Bapak jarang marah kepada saya kecuali kalau saya memang melakukan kesalahan besar. Misalnya, pada suatu hari saya mengirimkan dua surat yang isinya tertukar, yang satunya dialamatkan kepada Duta Besar Polandia. Kedutaan membuat laporan bahwa isi surat salah dan dikembalikan. Wah, alangkah marahnya Bapak. Tetapi semarah-marahnya beliau, tidak pernah beliau mengatakan saya “goblok” atau menggunakan kata-kata makian lain. Satu-satunya yang dikatakan Bapak setiap saya membuat kesalahan besar adalah lancang. Dua menit kemudian Bapak sudah tidak marah lagi kepada saya.

Munthalib, Pribadi Manusia Hatta, Seri 4, Yayasan Hatta, Juli 2002

Buku yang Didahulukan Pindah.ps

Buku yang Didahulukan Pindah.ppt

Buku yang Didahulukan Pindah.doc