Moskwa, Kota Indah dan Serba Mahal

BANGUNAN tua dari abad ke-13 hingga abad ke-16 bekas, peninggalan rezim komunis, butik papan atas, dan mobil mewah adalah pemandangan sehari-hari di Moskwa, ibu kota Federasi Rusia.

Sepanjang pekan pertama Juni 2011, Kompas mengunjungi beberapa bagian dari Cincin Emas (Golden Ring) pusat kota Moskwa di sekitar Kremlin (secara harfiah berarti benteng) yang berada di tepi Sungai Moskwa. Di sini didapati kehidupan yang serba mahal dan mewah di negeri yang pernah menerapkan ajaran komunis yang menekankan sama rata dan sama rasa dalam kehidupan masyarakatnya itu.

“Beda sekali Moskwa tahun 1980-an semasa komunis dibandingkan dengan Moskwa sekarang. Biaya hidup di Moskwa sekarang lebih mahal dibandingkan dengan Tokyo yang katanya kota termahal di dunia,” ujar Yergey, warga Budapest, Hongaria, yang bermukim di Moskwa pada masa peralihan Glasnost dan Perestroika, akhir tahun 1989 hingga 1991.

Sepanjang Lapangan Merah yang dulu angker dan menjadi tempat parade puluhan ribu Krasnoyask Soldat alias Tentara Merah, tank, pesawat tempur, dan peluru kendali nuklir kini didatangi ribuan wisatawan asing, termasuk turis Jerman—yang dulu semasa Perang Dunia II menyerbu Moskwa dengan bedil.

Serba mahal

Seputar Lapangan Merah pun dipenuhi kios-kios pedagang cendera mata khas Rusia, seperti boneka kayu Matrioska dengan wajah perempuan Rusia, boneka pemimpin politik Mikhail Gorbachev, Vladimir Ilya Ulyanov alias Lenin, Leonid Breshnev, hingga tokoh Amerika Serikat, seperti Presiden Obama, dan politisi Perancis, Jacques Chirac.

Cendera mata kaus dengan corak lucu dan kata-kata banyolan, dengan lambang-lambang era komunis serta atribut militer era Uni Soviet, dijual di seputar Lapangan Merah.

“Dua ratus lima puluh rubel,” ujar seorang pedagang menjelaskan harga sebuah topi pet tiruan ala militer Uni Soviet yang dipenuhi pin satuan tentara zaman komunis. Harga itu setara Rp 80.000 (1 rubel > Rp 315).

Harga cendera mata naik drastis saat berada di hotel-hotel yang dihuni wisatawan asing. Semisal di Hotel Cosmos—hotel terbesar di Moskwa—yang dibangun untuk menyambut Olimpiade Moskwa tahun 1980, harga kaus mencapai 400 rubel-600 rubel (Rp 126.000-Rp 189.000). Padahal, kaus sejenis di Paris dan Amsterdam hanya dijual 6 euro-8 euro (Rp 75.000-Rp 100.000).

Gantungan kunci dari kayu berbentuk Matrioska mungil dijual 70 rubel. Suvenir khas Rusia berupa kayu bergambar para Santo dan Santa Gereja Ortodoks dijual dengan harga 200 rubel hingga ribuan rubel. Bahkan, Matrioska dalam ukuran besar dijual hingga 5.000 rubel (setara Rp 1,7 juta)!

“Empat tahun lalu, untuk sewa apartemen sederhana di pinggiran Moskwa sudah 400 dollar AS per bulan. Sekarang sudah 800 dollar AS per bulan,” ujar Yergey. Bandingkan dengan sewa flat sederhana di lantai lima di Amsterdam yang tarifnya berkisar 250 euro (sekitar Rp 3,25 juta). Moskwa memang mahal….

Urusan jajan dan rekreasi pun terasa mahal. Harga sepiring kecil calamari—cemilan yang umum di Jakarta—300 rubel atau sekitar Rp 94.500, seporsi cesar salad dihargai 400 rubel, dan sebotol minuman soda 118 rubel. Adapun hidangan utama, seperti seporsi lamb chop atau daging domba panggang, mencapai 1.288 rubel.

Olga Dyachenko, wartawati warga Moskwa yang mendampingi Kompas dan wartawan dari negara-negara ASEAN, membenarkan pendapat Yergey. “Memang, semuanya serba mahal di Moskwa. Saya menggunakan skuter dan metro—kereta bawah tanah—untuk menghemat pengeluaran,” ujar fotografer Itar Tass itu.

Pendapatan tinggi

Penyebab tingginya harga di Moskwa adalah besarnya pendapatan daerah yang diperoleh dari pajak perusahaan-perusahaan besar di ibu kota Rusia itu. “Moskwa seperti lintah bagi Rusia. Perusahaan yang membayar pajak di Moskwa sebetulnya beroperasi di daerah-daerah pelosok Rusia yang akhirnya tidak tersentuh pembangunan,” ujar Yergey.

Pavel Pavlov, pensiunan tentara yang bermukim di Kursk, mengatakan, besarnya pendapatan daerah itu mengakibatkan tingginya standar gaji di Moskwa. Sebagai contoh, gaji seorang guru sekolah dasar di Moskwa bisa 2.000 dollar AS per bulan. “Di daerah yang pendapatan pajaknya rendah, standar gaji guru bisa hanya 300 dollar AS per bulan. Banyak orang muda berbondong-bondong ke Moskwa dan kota besar seperti Saint Petersburg untuk mendapat gaji lebih besar. Namun, di kota besar, biaya hidup juga tinggi,” kata Pavlov.

Itulah ironi Moskwa, kota indah yang didirikan tahun 1147 oleh Yuri the Great. Bangunan tua, mobil supermewah, dan warga miskin terlihat kontras. Menjelang petang di Jalan Tsverkaya, seorang pria berpenampilan kumuh mendatangi Kompas meminta kupon undangan makan di sebuah restoran tempat jamuan makan malam berlangsung. Itulah ironi pasar bebas! Moskwa, kota indah, tetapi mahal dan si miskin pun tertinggal….

Moskwa Kota Indah dan Serba Mahal.doc

Moskwa, Kota Indah dan Serba Mahal.ppt

Moskwa Kota Indah dan Serba Mahal.ps

Rekonstruksi

Sebagai sejarawan saya amat berterima kasih kepada Bung Hatta, karena beliau selalu bersedia untuk melakukan rekonstruksi on-the-spot. Seperti ketika saya mohon kehadirannya di tempat kediaman resmi duta besar Inggris di Jalan Imam Bonjol I (untuk rekonstruksi peristiwa naskah Proklamasi) dan seperti ketika saya mohon kehadiran beliau di Rengasdengklok dengan menempuh perjalanan beberapa jam melalui jalan yang tidak selalu bagus. Apalagi setiap tiga jam mata beliau harus ditetesi obat. Semuanya bukan menjadi hambatan.

Dan berapa kali Bung Hatta mengizinkan saya melakukan wawancara individu di rumah beliau dan berapa kali beliau bersedia mengikuti acara wawancara simultan, antara lain yang diselenggarakan di tempat kediaman Bapak Adam Malik ketika masih memangku jabatan menteri luar negeri. Bahwa beberapa kesimpulan saya tidak sesuai dengan persepsi beliau mengenai berbagai peristiwa yang beliau alami, tidaklah mengurangi jasa beliau di dalam memberikan informasi yang dapat segera di-cek dengan keterangan pelaku lainnya. Adalah merupakan gejala biasa bahwa berbagai pelaku pada suatu peristiwa yang sama mempunyai persepsi dan ingatan yang berbeda mengenai peristiwa yang sama-sama dialaminya. Dalam menghadapi keadaan yang sedemikian itu, mau tidak mau, si sejarawan yang harus mengambil kesimpulan sendiri atas tanggung jawab profesionalnya.

Nugroho Notosusanto, Pribadi Manusia Hatta, Seri 9, Yayasan Hatta, Juli 2002

Rekonstruksi.doc

Rekonstruksi.ppt

Rekonstruksi.ps