Meluncur Tanpa Mobil Pengawal

Sabtu, 26 Januari 2002, pertemuan antara kelompok Islam dan Kristen secara terpisah dengan Menko Polkam, Susilo Bambang Yudoyono, Menko Kesra, M. Jusuf Kalla, Kapolri, Da’i Bachtiar, dan sejumlah pejabat tinggi TNI/ Polri, misalnya, Kasum TNI, Letjen Djamari Chaniego, Asisten Operasi Kasum TNI, Mayjen Adam Damari dan Mayjen Syafri Syamsuddin, baru saja selesai di Kota Ambon. Pertemuan tersebut amat panas karena kedua kelompok mencerca pemerintah. Tak ada pembicara dari kedua kelompok, yang tidak berpikir negatif terhadap pemerintah, khususnya dari aspek pengamanan. Keduanya merasa bahwa pemerintah tidak melindungi mereka. Sasaran mereka terfokus pada Menko Polkam dan Kapolri.

Usai pertemuan, Menko Polkam langsung ke Ternate, Maluku Utara, bersama rombongan. Menko Polkam pun diantar oleh Muspida ke bandara, kecuali Gubernur Latuconsina. JK tetap di Ambon dan ingin melakukan pertemuan dengan kedua kelompok di malam hari. JK minta masing-masing kelompok mengirim maksimal 10 orang wakil untuk berdiskusi lebih jauh, tetapi diskusi tersebut dilaksanakan secara terpisah.

Tak dinyana, JK tiba-tiba minta dipinjami mobil karena ingin ke kawasan yang diklaim masing-masing pihak yang bertikai sebagai jurisdiksinya. Gubernur Latuconsina panik sekali mendengar keinginan JK tersebut. Gubernur Latuconsina mendesak Hamid Awaludin agar meyakinkan JK supaya tidak ke kawasan yang diinginkan. Karena tempat itu masih sangat panas dan tidak bisa ditebak. Jalan menuju ke sana saja masih rawan, apalagi lokasi tersebut. Di jalan menuju tempat itu setiap hari masih ada penembakan. Bagaimana mungkin Gubernur Latuconsina membiarkan Pak Menteri ke sana.

Tak ada yang mampu mengubah pikiran, tak ada yang kuasa menahan kehendak JK. Ia tetap ingin ke sana. Pak Hamid sendiri tidak pernah menyampaikan saran Gubernur Latuconsina kepada JK karena malam sebelumnya, JK sudah memberi tahu Pak Hamid tentang keinginannya itu. Lagi pula, Pak Hamid tahu watak JK yang sulit diubah jika ia yakin apa yang hendak dilakukannya itu benar.

Suasana pun kian panik. Pihak keamanan akhirnya terpaksa mengikuti keputusan JK. Namun syaratnya JK harus diiringi oleh sejumlah mobil pengawal dengan tim keamanan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Tetapi, lagi-lagi ide tersebut kandas di tangan JK. “Tidak perlu ada mobil pengawal dan tim keamanan. Negeri ini aman kok,” kata JK.

Pihak keamanan ternyata tidak kehabisan akal. Mereka mundur tidak menyiapkan mobil pengawal dan pasukan pengaman buat JK. Tetapi, mereka menyiapkan penembak mahir yang disebar secara diam-diam. Penembak-penembak mahir itu rencananya akan diterjunkan sebelum JK berangkat.

Mendengar ide itu, JK sekali lagi menolak. “Saya sudah bilang, saya ini wakil pemerintah yang harus menjamin keamanan dan rasa aman setiap warga di Ambon sini. Saya harus memberi contoh bahwa saya berjalan tanpa pengawal dan penembak mahir ke mana pun, dan itu aman. Bagaimana Anda mengatakan bisa mengamankan Ambon kalau Anda sendiri belum apa-apa sudah merasa tidak aman. Pengawalan dan pasukan keamanan adalah tanda tidak amannya kota ini. Ini semua yang membuat rakyat selalu merasa tertekan,” tegas JK.

Akhirnya, dua mobil kijang meluncur tanpa iringan kendaraan lain. JK disertai Mayjen Polisi Simatupang, Hamid Awaludin, dr. Farid Husein, dan ajudan JK. Tampak sekali ketegangan di rumah dinas gubernur siang itu saat mengiringi kepergian JK. Semua mengiringi kepergian JK dengan harap-harap cemas. Pasukan keamanan yang mengitari rumah gubernur siang itu, diinstruksikan agar tetap siaga, kendati tidak harus mengiringi kepergian JK.

Sebelum berangkat, JK bertanya pada ajudannya, “Yogi, kamu bawa senjata, ‘kan? Ada berapa peluru di dalam?”

Sepontan Yogi yang dari kepolisian itu menjawab, “Ada pistol, Pak. Saya punya lima butir peluru,” katanya.

“Ya, itu cukup mengamankan kita kalau ada apa-apa,” jawab JK.

Mendengar JK berkata begitu, Mayor Jenderal Pol. Simatupang menambahkan, “Saya juga bawa pistol dengan peluru, Pak.”

“Nah, apalagi ini. Jauh dari cukup untuk mengamankan kita semua,” tambah JK.

Di atas mobil, Hamid berpikir tentang keselamatan jika sesuatu terjadi. Berbagai pikiran kelabu datang dibenaknya. Semua bermuara tentang sesuatu yang bisa saja terjadi dan menyangkut keselamatan rombongan dalam perjalanan. Pada saat tiba di masjid, JK mencoba menggoda Hamid, “Hamid, kamu jangan takut. Ada dua orang bawa pistol. Sebelum ada yang menembak kamu, lebih dulu ini dua polisi menembak kepala mereka. Ini polisi terlatih dan dididik untuk menembak, sementara mereka amat amatiran. Sudahlah, bismillah, kita akan aman,” kata JK meyakinkan.

Begitu tiba di kawasan tersebut, JK meminta langsung ke kediaman seorang Uskup Mandagi yang amat disegani dan memiliki pengaruh dan wibawa di kalangan Kristen. Ternyata, sang Uskup sedang tidur siang. Para petugas di kediaman Uskup geger karena didatangi oleh Menko Kesra. Semua silih berganti hendak membangunkan Uskup, tetapi JK melarang. “Jangan saya yang memerlukan Uskup, jadi saya bisa menunggu sampai beliau bangun. Jangan dibangunkan. Biar saya menunggu di sini sembari ngobrol dengan teman-teman,” perintah JK.

Informasi tentang kehadiran JK di kediaman Uskup ternyata cepat menyebar. Pelan-pelan beberapa orang langsung datang ke JK dan menunjukkan kegembiraan serta ucapan terima kasih karena dikunjungi.

“Wah, kami dapat berkah ini, Pak Menteri mendatangi kami. Kenapa tidak dari awal pejabat begini Pak Menteri,” kata salah seorang diantara mereka.

“Pokoknya, saya datang ke sini karena Uskup itu teman saya. Saya ke sini agar kalian semua berhenti berkelahi. Dan saya yakin, kalian semua mengamankan saya di sini toh,” kata JK.

“Pak menteri, siapa yang mau mengganggu Bapak di sini? Ini ‘kan tempat Bapak juga. Dan kalau ada yang ganggu Pak Menteri, ‘kan kita tidak damai nantinya,” balas satu di antara tamu itu.

“Iya, betul itu. Kita ‘kan semua mau damai toh,” jawab JK.

Di tengah percakapan tersebut, Uskup tiba-tiba muncul dengan badan yang dibungkukkan, langsung memeluk JK. Matanya masih merah karena baru bangun tidur siang. “Saya menyesal sekali Pak, kenapa saya tidak dibangunkan. Saya merasa malu dalam diri saya kenapa Pak Menteri harus menunggu saya. Aduh Pak Menteri, saya benar-benar minta maaf,” kata Uskup.

“Tak apa-apa, Uskup. Saya memang minta jangan dibangunkan. Lagi pula, saya menikmati percakapan dengan teman-teman yang baru datang ini. Saya ke sini untuk silaturahmi dengan Uskup dan teman-teman, sekalian ini mengajak kita untuk mempercepat penyelesaian konflik Ambon ini. Kita semua harus berusaha untuk damai, ya Uskup. Saya sebenarnya sudah merasa amat teduh di tempat Uskup ini. Semoga keteduhan di sini bisa juga menjalar ke tempat lain, Uskup,” tegas JK.

“Waduh, Pak Menteri, tempat ini adalah tempat Pak Menteri juga dan siapa pun. Banyak saudara muslim kita yang ke sini minta perlindungan, dan itu berhasil. Terima kasih penilaian Bapak bahwa di sini tempat teduh. Kami memang mendukung sepenuhnya niat dan usaha Pak Menteri untuk menciptakan perdamaian di sini, Pak. Kalau bisa saya katakan, dengan Bapak berkunjung ke tempat kami yang amat sederhana ini maka sebagian pekerjaan damai itu sudah kita miliki,” balas Uskup.

Pembicaraan antara JK dan Uskup sangat rileks dan penuh kesantunan. JK minta dukungan Uskup untuk mendorong komunitas Kristen memasuki dialog damai. Permintaan JK tersebut langsung diberikan oleh Uskup saat itu juga. “Tujuan agama adalah kedamaian, Pak Menteri. Tugas saya adalah menciptakan kedamaian, karena itu, sama dengan tujuan Pak Menteri. Pasti saya akan membantu untuk tujuan mulia ini,” kata Uskup. Tamu yang lain ikut bergembira mendengar dialog JK dan Uskup. Menjelang pulang satu persatu mereka memeluk JK dan membisikkan dorongan moril untuk menciptakan perdamaian di Maluku.

Lepas dari Uskup, JK minta sopir langsung ke Masjid Taqwa pusat komunitas Islam. Di sana sudah menunggu sejumlah aktivis Islam di bawah pimpinan Kiai Haji Wahab. JK langsung disambut dengan pelukan lalu ratusan orang membawa JK ke dalam masjid. Tampaknya, kunjungan JK ke komunitas Kristen barusan sudah tersebar di masjid. Mereka pun heran, kok JK berani masuk ke sana. “Ini semua karena Allah,” kata JK.

Usai salat, JK langsung masuk ke sebuah ruangan di samping masjid, bertemu dengan para tokoh Islam. Tujuannya sama, mengajak mereka ikut mendorong kelompok Islam untuk datang melakukan dialog damai dengan komunitas Kristen. JK mulai membeberkan program dan agenda pertemuan. Tak satu pun yang menolak. Semuanya mengiyakan keinginan dan rencana kerja JK.

“Kalau begitu, makin cepat makin bagus, ya. Sebentar malam saya menunggu Anda semua di kediaman Pak Gubernur untuk membicarakan hal ini lebih lanjut. Saya ingin sekali Ambon ini damai, dan umat Islam bebas berniaga, berkantor, dan datang ke masjid di sudut mana pun untuk beribadah, tanpa ada rasa cemas dan takut,” kata JK.

“Amiiin…” sambut mereka. Malah ada yang tiba-tiba bertakbir, “Allahu akbar!”

Lega sudah perasaan JK. Kedua komunitas yang bertikai sudah memberi komitmen untuk mendorong dilaksanakannya dialog damai. Terlebih lagi, selama kunjungan ke komunitas Kristen tadi, tak ada sesuatu yang terjadi seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Malah, JK disambut dengan keteduhan dan jaminan. Halas. One mission is accomplished.

Lepas tengah malam, JK, Hamid Awaludin, dan Farid Husein belum tidur. Hamid mulai menggoda JK dengan pertanyaan, “Apa yang Bapak pakai tadi ketika mengunjungi kelompok Kristen, kok semuanya jadi teduh?”

“Saya pakai akal sehat dan keyakinan, Hamid,” balas JK.

“Maksud Bapak?” tanya Hamid.

“Kedua kubu sudah lelah berperang dan mesti ingin hidup tenang dan mereka tahu bahwa saya ke sini untuk membuat mereka hidup damai dan tenang. Karena tujuannya begitu maka pasti tidak ada diantara mereka yang mau mencederai saya, sebab harapannya ada pada saya, kan begitu kalkulasinya,” jawab JK. “Pasti kamu tadi ketakutan, ya. Saya lihat kamu diam terus. Apa yang mesti ditakuti?” gelitik JK.

“Bapak pasti tidak memiliki rasa takut sebab Bapak memiliki segalanya, termasuk sudah ada generasi pelanjut Bapak. Saya belum punya anak, Pak, sehingga belum ada yang bisa menjamin kelangsungan keturunan saya. Lagian Bapak kaya, jadi kalau ada apa-apa dengan keluarga Bapak, pastilah itu terjamin semua. Saya ini pegawai negeri kere, Pak, sehingga punahlah segalanya jika terjadi sesuatu dengan diri saya,” begitu Hamid membalas JK.

“Mid, segalanya di tangan Tuhan. Kamu ‘kan sudah janji pada saya bahwa apa pun yang saya lakukan untuk urusan Ambon ini, kamu ikut dan memberi segalanya. Itu janji kamu,” balas JK lagi. “Gini, Mid. Tadi saya ngotot mau ke sana untuk memberi jaminan kepada siapa saja di Ambon ini bahwa keadaan sangat aman. Menteri saja yang Islam itu bisa leluasa ke komunitas Kristen, tanpa ada apa pun. Itu pesan morilnya. Potensi saya untuk dilabrak, kan ada dua. Pertama, saya Islam, kedua saya wakil pemerintah. Anda ‘kan saksikan langsung bagaimana pemerintah mereka pojokkan. Tetapi, semua itu harus saya lawan demi menegakkan citra baru Ambon sebagai kota yang damai dan tenang. Karena itu, saya tidak takut pada mereka,” kata JK. “Saya langsung ke komunitas Islam tadi, untuk menghilangkan rasa syak wasangka komunitas Islam bahwa saya mengambil hati dan berat sebelah ke kelompok Kristen. Itu maknanya. Alhamdulillah, kedua komunitas menyambut kita dengan baik. Orang-orang di masjid tadi ‘kan sudah tahu bahwa kita ke Uskup sebelum kita ke masjid. Mereka ternyata senang kita mengunjungi keduanya. Ini berkah,” lanjut JK lagi.

“Pak, mengapa Bapak tidak mau diiringi mobil pengawal dan pengamanan, termasuk penembak mahir?” tanya Hamid.

“Kalau kita pakai yang begituan, nanti mereka anggap kita memiliki kekhawatiran dan ketakutan. Pada saat kita dicap memiliki rasa takut, pasti mereka akan mengatakan, kita tidak ikhlas untuk mengupayakan perdamaian. Keikhlasan itu tidak boleh diiringi oleh kalkulasi lain, termasuk kalkulasi untung rugi dan takut. ‘Kan saya sudah ajari kamu, sebelum melangkah, kamu berdoa, serahkan segalanya ke yang di atas. Itu pakaian saya tadi. Kalau saya tadi menuruti untuk tidak ke sana atau ke sana pakai pengawalan keamanan segala macam, ai, habis kredibilitas kita semua. Mereka pasti sudah menyebar berita ini, bahwa kita tidak pernah takut kepada orang-orang yang antidamai. Ini modalitas kita untuk mendamaikan mereka, Hamid,” tegas JK. “Hamid, kamu sudah mengantuk. Pergi tidur sekarang. Besok kita kerja lagi. Saya heran lihat kamu. Katanya suka lihat badminton, tetapi suka juga mengantuk,” kata JK di akhir percakapan tengah malam itu.

Meluncur Tanpa Mobil Pengawal.doc

Meluncur Tanpa Mobil Pengawal.ps

Meluncur Tanpa Mobil Pengawal.ppt

Leave a Reply