Melamar Dengan Bahasa Jawa

Selanjutnya saya bicarakan dengan anak laki-laki saya yang tertua, Sri-Hening Sampurno, yang selalu berfungsi sebagai bapak terhadap adik-adiknya, menggantikan peranan almarhum suamiku.

Pada bulan April 1973, saya sebagai orang tua Edi disertai Hening, secara resmi melamarkan anak saya pada keluarga Mohammad Hatta. Lamaran resmi oleh keluarga ini telah didahului oleh lamaran Edi sendiri beberapa minggu sebelumnya.

Lamaran ini saya sampaikan kepada Bung Hatta dalam bahasa Jawa tinggi. Rasa hormat antara kedua calon besan, rasanya dapat saya ungkapkan lebih baik dalam bahasa Jawa kromo inggil. Selanjutnya Hening menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Waktu saya berbicara bahasa Jawa itu, hanya Bapak Rachim (kakek Meutia yang orang Jawa) sajalah yang langsung mengerti.

Beliau sebagai anggota keluarga Bung Hatta memahami betapa kami mengajukan dengan membawa nilai-nilai kehormatan yang sangat kami utamakan sebagai orang Jawa. Lamaran keluarga itu, sebagaimana pula lamaran oleh Edi sendiri yang lebih dahulu, diterima dengan baik oleh Bung Hatta dan keluarga.

Atas usul Edi dan Meutia, tanggal perkawinan mereka ditetapkan tanggal 14 Jui 1973, bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke 56.

Demikianlah kami menjadi besan. Kami saling kunjung mengunjungi. Kalau saya ke Jakarta menengok anak-anak, ada kalanya saya menemui Jeng Rahmi dan Bung Hatta, demikian pula kalau beliau berdua ke Bandung, saya pun mereka kunjungi. Rumah saya yang kecil itu, baik ketika saya masih tinggal di Jalan Kacapiring maupun sesudahnya, di Jalan Mandolin, tidak terasa sesak dikunjungi besan saya yang orang besar itu, karena beliau berdua selalu datang dengan keramahan dan pula selalu dengan kerendahan hati. Keramahan Bung Hatta khusus, melalui senyum kecilnya yang cerah.

Sumber: Ny. Moenadji Soerjohadikoesoemo, Pribadi Manusia Hatta, Seri 3, Yayasan Hatta, Juli 2002

Melamar Dengan Bahasa Jawa.doc

Melamar Dengan Bahasa Jawa.ppt

Melamar Dengan Bahasa Jawa.ps

Leave a Reply